Selasa, 22 April 2025

Tafsir surat Al Insan - petikan ketiga - menolak teori Darwin

 

catatan awal

Ayat yang mencela manusia yang masih meragukan bahwa penciptaan tidak dilakukan berdasarkan perencanaan yang baik. Diperlihatkan bagaimana semuanya dilakukan melalui fase-fase atau masa-masa, yang teratur dan didasarkan pada perencanaan yang bijak. Penciptaan dilakukan bukan tanpa tujuan, dan mengarah pada kesempurnaan.

Ternyata hukum evolusi yang dikembangkan para peneliti di Eropa telah dijelaskan secara sangat rinci oleh Al-Qur’an pada 1400 tahun sebelumnya. Dijelaskan oleh Al-Qur’an bahwa manusia tidak diciptakan secara mendadak dan dalam bentuk dan rupa sebagaimana kita saat ini. Allah tidak membuat model dari tanah liat dan “meniupkan” kehidupan ke dalamnya untuk menjadi manusia pertama di muka bumi. Manusia mencapai tahap seperti saat ini setelah melalui proses beberapa masa perubahan.


Uraian

Tafsir Surah Al Insan Ayat 1 Part 1 menguraikan proses kejadian manusia dari yang tidak ada menjadi ada. Tesuai dengan nama Surahnya yang memiliki arti manusia Tafsir Surah Al Insan Ayat 1 Part 1 ini merupakan salah satu ayat evolusi, evolusi sendiri merupakan istilah dari kajian dan penelitian ilmuwan Eropa, namun ternyata Alquran telah lebih dahulu menjelaskan teori Evolusi ini 1400 tahun yang lalu.  


Ayat 1

Ayat pertama ini menegaskan tentang proses kejadian manusia dari tidak ada menjadi ada, pada saat manusia belum berwujud sama sekali. Disebutkan bahwa manusia berasal dari tanah yang tidak dikenal dan tidak disebut-sebut sebelumnya. Apa dan bagaimana jenis tanah itu tidak dikenal sama sekali. Kemudian Allah meniupkan roh kepadanya, sehingga jadilah dia makhluk yang bernyawa.

Ayat di atas dapat diinterpretasikan sebagai salah satu bagian yang menceritakan evolusi manusia. Uraian sepenuhnya mengenai hal ini dapat dilihat di bawah ini.

Pada abad-19, Charles Darwin mengemukakan teori bahwa jenis manusia ada di muka bumi melalui suatu proses panjang evolusi. Mereka tidak langsung ada sebagaimana dinyatakan pada banyak kitab suci. Dia menyatakan bahwa waktu yang diperlukan untuk proses evolusi, yang berujung pada terbentuknya manusia, kemungkinan besar memerlukan waktu jutaan tahun. Hal kedua yang dikemukakan oleh teori Darwin adalah bahwa manusia berkembang dari binatang.

Pada permulaan adanya kehidupan, demikian dinyatakan oleh teori ini, bentuk kehidupan yang ada adalah binatang-binatang tingkat rendah. Dengan berjalannya waktu, muncul binatang-binatang tingkat tinggi dan berukuran lebih besar. Dengan tidak sengaja, dari salah satu binatang berkembang menjadi manusia. Hal demikian ini dibuktikannya dengan adanya sederet bukti dari tengkorak hewan yang secara runut mengarah ke tengkorak manusia saat ini. Bukti lain juga dikemukakan dari perkembangan bentuk embrio. Dalam perkembangannya, embrio manusia berubah-ubah bentuk. Dimulai dari mirip bentuk embrio ikan, kelinci, dan jenis binatang lainnya, dan berakhir berbentuk manusia. Dari temuan terakhir ini, kemudian disimpulkan bahwa evolusi panjang manusia berasal dari bintang tingkat rendah.

Point kedua dari teori Darwin adalah bahwa manusia dan kera datang dari satu moyang yang sudah punah saat ini. Moyang yang punah ini disebutnya sebagai “missing link”, rantai yang hilang. Haekel, seorang peneliti setelah masa Darwin, berpendapat bahwa binatang yang menjadi “missing link” adalah yang disebut Lypotilu. Apabila binatang ini atau sisa-sisa dari binatang ini dapat ditemukan, maka teka-teki mengenai evolusi manusia dapat dijelaskan dengan lebih baik. Para pemikir yang mempercayai teori ini menganggap bahwa gorila dan simpanse ada pada jalur evolusi manusia. Peneliti lain yang bernama Huxley mempunyai pemikiran yang sedikit berbeda. Ia menyimpulkan bahwa garis manusia dapat saja terjadi jauh sebelum munculnya jenis-jenis kera. Jadi, manusia dan kera tidak pernah berhubungan.

Penelitian yang lebih kemudian yang dilakukan oleh Prof. Jones dan Prof. Osborne, cenderung untuk menyimpulkan bahwa walaupun manusia ada melalui proses evolusi, namun prosesnya sudah terpisah dari binatang lainnya di masa yang lebih jauh. Dan dari saat itu, manusia berevolusi pada garisnya sendiri, tanpa bercampur dengan evolusi binatang lainnya. Dengan kata lain, manusia bukanlah cabang dari binatang lain, katakanlah kera, sebagaimana dipercaya oleh Darwin.

Para ahli arkeologi dan antropologi menemukan bahwa peradaban manusia terjadi melalui jalur yang terbagi secara jelas. Pada zaman batu, manusia pertama kali melangkah masuk ke daerah budaya dan kemasyarakatan. Sejak masa itu, manusia melakukan evolusi dalam mempertahankan hidup sebagai “binatang yang lemah”.

Karena tidak memiliki kekuatan, cakar, dan taring yang kuat sebagaimana binatang lain, manusia menggunakan batu sebagai alat mempertahankan diri dan kegunaan lainnya. Kemudian datang zaman perunggu, dimana manusia mulai menggunakan bahan metal untuk membuat peralatan. Zaman ini diikuti oleh zaman besi. Dari berbagai situs yang ditemukan para arkeologi disimpulkan bahwa berbagai zaman dari kehidupan manusia dilakukan dengan perubahan budaya dari satu masa ke masa lainnya.


Di dalam Al-Qur’an, ada satu ayat yang berkaitan erat dengan penciptaan manusia yang bertahap, yaitu:

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًاۚ  ١٣  وَقَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا   ١٤  اَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللّٰهُ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۙ  ١٥  وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا   ١٦  وَاللّٰهُ اَنْۢبَتَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ نَبَاتًاۙ  ١٧  ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَيُخْرِجُكُمْ اِخْرَاجًا   ١٨  وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ بِسَاطًاۙ  ١٩  لِّتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا ࣖ   ٢٠

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian). Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas. (Nuh/71: 13-20)

Ayat di atas mencela manusia yang masih meragukan bahwa penciptaan tidak dilakukan berdasarkan perencanaan yang baik. Diperlihatkan bagaimana semuanya dilakukan melalui fase-fase atau masa-masa, yang teratur dan didasarkan pada perencanaan yang bijak. Penciptaan dilakukan bukan tanpa tujuan, dan mengarah pada kesempurnaan.

Ternyata hukum evolusi yang dikembangkan para peneliti di Eropa telah dijelaskan secara sangat rinci oleh Al-Qur’an pada 1400 tahun sebelumnya. Dijelaskan oleh Al-Qur’an bahwa manusia tidak diciptakan secara mendadak dan dalam bentuk dan rupa sebagaimana kita saat ini. Allah tidak membuat model dari tanah liat dan “meniupkan” kehidupan ke dalamnya untuk menjadi manusia pertama di muka bumi. Manusia mencapai tahap seperti saat ini setelah melalui proses beberapa masa perubahan.

Tafsir surat Al Insan ayat 1 - 4 - petikan kedua

 

Tentang  proses kejadian manusia 

Surat yang mengemukakan tentang proses kejadian manusia dari sebelum ia belum dapat disebutkan bentuknya. 

Dalam ayat tersebut juga diterangkan bahwa manusia tercipta dari setetes mani yang kemudian ia dikaruniai pendengaran dan penglihatan sebab kelak Allah SWT akan mengujinya dengan perintah dan larangan. 

Maka setelah datangnya karunia dan ujian tersebut manusia akan terbagi menjadi dua golongan, yakni mereka yang bersyukur dan mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, dan mereka yang mendurhakai-Nya.

Secara umum isi surat Al Insan ayat 1-4 dapat dimaknai sebagai pengingat bagi umat manusia bahwasanya Allah SWT telah memberikan penjelasan tentang petunjuk-petunjuknya guna menjalani kehidupan di dunia, yakni dengan memanfaatkan penglihatan dan pendengaran di jalan yang lurus agar kita senantiasa bersyukur serta senantiasa menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya agar tidak digolongkan sebagai kaum yang kafir.

Berikut adalah bacaan surat Al Insan ayat 1-4 yang dapat dimaknai umat muslim sebagai petunjuk untuk senantiasa berada di jalan yang lurus sebagaimana petunjuk atau panduan dari Allah SWT:


هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِنْسَانِ حِيْنٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْـًٔا مَّذْكُوْرًا

hal atā 'alal-insāni ḥīnum minad-dahri lam yakun syai`am mażkụrā

Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Informasi penting disajikan secara kronologis

innā khalaqnal-insāna min nuṭfatin amsyājin nabtalīhi fa ja'alnāhu samī'an baṣīrā

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

اِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّاِمَّا كَفُوْرًا

innā hadaināhus-sabīla immā syākiraw wa immā kafụrā

Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.


اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَلٰسِلَا۟ وَاَغْلٰلًا وَّسَعِيْرًا

innā a'tadnā lil-kāfirīna salāsila wa aglālaw wa sa'īrā

Sungguh, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala.

Selain menerangkan tentang proses kejadian manusia dan kehidupannya, surat Al Insan juga berisi penjelasan bahwasanya kelak dihari kiamat nanti setiap perbuatan manusia di dunia akan dipertanggungjawabkan. 

Oleh karena itu, firman Allah tersebut dapat menjadi pengingat agar umat manusia selalu menaati segala perintah dan menjauhi laranganya sehingga hidupnya dapat selamat di dunia dan di akhirat.

tafsir surat al insan-petikan 1

Surat Al Insan

Manusia dalam ayat ini tidak menunjukkan satu orang, melainkan berlaku umum yaitu seluruh manusia. Oleh karenanya firman Allah Subhanahu wa ta’ala ini seakan-akan mengatakan “Wahai manusia, bukankah telah datang suatu zaman dimana kalian tidak ada dan tidak disebut-sebut”. Intinya adalah jika kita berbicara 100 atau ribuan tahun yang lalu, maka kita ini adalah sesuatu yang tidak ada dan bahkan tidak disebut-sebut.


Intinya adalah ayat ini bisa merujuk kepada Nabi Adam ‘alaihissalam dan bisa pula berlaku untuk seluruh manusia. Artinya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan bahwasanya agar Nabi Adam ‘alaihissalam atau manusia seluruhnya itu tahu diri serta tidak sombong dan angkuh. Dan juga agar manusia itu ingat bahwasanya ada yang menciptakan mereka yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala.

 Kata هَلْ merupakan kata istifhamiyah (kata tanya), sehingga jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maka akan menjadi ‘apakah’ atau ‘bukankah’. Akan tetapi jika Allah Subhanahu wa ta’ala yang mengajukan pertanyaan, bukankah Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengetahui jawabannya? Oleh karenanya disebutkan oleh Ahli Bahasa Al-Farra’ bahwa kalimat istifham di dalam Alquran hanya bisa bermakna dua, yaitu bisa sebagai penekanan (taqriri) atau bisa sebagai pengingkaran (ingkari) ([1]), dan kata istifham dengan dua makna ini banyak kita jumpai di dalam Alquran.


Yang benar dalam ayat ini adalah kata هَلْ di sini berfungsi untuk menekankan, sehingga maknanya menjadi قد (sungguh). Sehingga seakan-akan Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan “Sungguh, telah datang kepada manusia suatu zaman di mana mereka bukanlah sesuatu yang disebut” ([2]).


Adapun kata الْإِنْسَانِ dalam ayat ini, ada dua pendapat dikalangan para ahli tafsir,


Pendapat pertama mengatakan bahwa ال (Alif lam) dalam kata الْإِنْسَانِ adalah ال العهدية (Alif Lam Al-‘Ahdiyah) yang menunjukkan kepada manusia yang telah ditentukan yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam([3]). Maka sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat ini berbicara tentang Nabi Adam ‘alaihissalam. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala melalui ayat ini mengingatkan kita tentang nenek moyang manusia yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam.


Nabi Adam ‘alaihissalam termasuk dari makhluk terakhir diciptakan. Oleh karenanya dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ


“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian.”([4])


Dari hadits ini, secara urutan zaman penciptaan, Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan terakhir oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan kita dapati sebelum Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan, Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan bumi dan langit beserta isinya terlebih dahulu.


Maka dengan ayat ini seakan-akan Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan “Bukankah telah datang suatu zaman Wahai Adam, yang alam semesta telah ada sebelum engkau diciptakan jutaan tahun lamanya tanpa ada manusia”. Artinya Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa tanpa manusia pun alam semesta ini akan tetap berjalan. Maka di sini Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan bahwa telah ada suatu zaman di mana Nabi Adam ‘alaihissalam bukanlah sesuatu yang ada dan tidak pula disebutkan([5]), sehingga ini menunjukkan ketiadaan yang sempurna.


Akan tetapi sebagian Ahli Tafsir berpendapat bahwa maksud Allah ada masa dimana Nabi Adam telah ada namun tidak memiliki nilai sama sekali. Mereka mengemukakan pendapat ini berdasarkan maksud dari kata شَيْئًا مَذْكُورًا “sesuatu yang dapat disebut” sehingga dipahami bahwa Adam sudah sudah ada namun belum disebut-sebut, yaitu belum bernilai yaitu ketika Adam masih berupa jasad dari tanah belum ditiupkan ruh padanya.


Pendapat kedua mengatakan bahwa ال (Alif Lam) dalam kata الْإِنْسَانِ merupakan ال للإستغراق (Alif Lam Lil-Istighraq) yang menunjukkan keumuman, yaitu seluruh manusia([6]). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain,


وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ


“Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr 1-3)



Senin, 23 Desember 2024

MERAWAT API PERJUANGAN

Mengapa Kita Harus Terus Berjuang di Jalan Dakwah


“Sesungguhnya Allah akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

(QS. Al-Hajj: 40)


Dakwah bukan sekadar aktivitas rutin atau tugas mingguan yang harus kita tuntaskan. Ia adalah panggilan jiwa, amanah suci, dan warisan para nabi. Jalan ini terjal, penuh kerikil tajam, bahkan seringkali terasa sepi dan sunyi. Namun, di balik semua itu, jalan dakwah adalah jalan yang paling mulia, paling berharga, dan paling penuh dengan keberkahan.

1. Dakwah: Bukan Tentang Hasil, Tapi Tentang Kesungguhan

Sering kali kita bertanya: “Mengapa hasilnya tidak sesuai harapan? Mengapa orang-orang tidak merespon dengan baik?” Tapi ingatlah, dakwah bukan tentang hasil, melainkan tentang proses, tentang kesungguhan kita menanam benih kebaikan.

Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah selama 950 tahun dengan pengikut yang bisa dihitung dengan jari. Tapi apakah beliau berhenti? Tidak. Karena keberhasilan dalam dakwah diukur dari kesetiaan kita pada misi, bukan dari banyaknya pengikut atau besarnya tepuk tangan.

“Dan tidak ada yang disuruh kepada kami kecuali untuk menyampaikan dengan jelas.” (QS. Yasin: 17)


2. Jalan Panjang yang Memerlukan Kekuatan Hati

Dakwah membutuhkan keteguhan hati dan kekuatan jiwa. Setiap kita yang melangkah di jalan ini harus menyadari bahwa rintangan adalah bagian dari paket perjuangan.

Ketika semangat mulai redup, ingatlah:

• Dakwah ini bukan tentang kita. Ini tentang menyampaikan risalah Allah ke seluruh penjuru bumi.

• Dakwah ini bukan sekadar tugas. Ini adalah kehormatan yang Allah titipkan pada kita.

• Dakwah ini bukan tentang kemenangan pribadi. Ini tentang menjadi bagian dari barisan yang Allah ridhai.

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

3. Jangan Biarkan Rantai Ini Terputus di Tangan Kita

Almarhum KH. Rahmat Abdullah pernah berpesan:

“Ya Allah, jangan jadikan kami pengkhianat dengan memutus rantai dakwah (rekrutmen), karena dakwah ini akan mati ketika rekrutmen tidak berjalan.”

Setiap kita adalah mata rantai dalam perjuangan ini. Jika kita berhenti, rantai itu bisa terputus. Jika kita diam, api perjuangan akan padam. Maka, pastikan kita menjadi mata rantai yang kuat, bukan yang rapuh dan mudah patah.

Rekrutmen dan regenerasi kader adalah nyawa dakwah. Jangan hanya berdiri sendiri. Ajaklah orang lain bergabung. Dakwah tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh segelintir orang.

4. Berjuang dengan Kapasitas Terbaik Kita

Setiap kita memiliki peran masing-masing:

• Pengusaha: Bangun ekonomi umat dan dukung dakwah dengan finansial yang kokoh.

• Politisi: Perjuangkan nilai-nilai Islam dalam kebijakan publik.

• Pendidik: Cetak generasi muslim yang berilmu dan berakhlak mulia.

• Relawan Sosial: Jadilah tangan yang memberi, membantu, dan melayani umat.

Apapun posisi kita, berikan yang terbaik. Tidak ada peran yang kecil dalam dakwah, selama dilakukan dengan keikhlasan dan kesungguhan.

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”(HR. Bukhari & Muslim)


5. Tetaplah Bergerak, Walau Perlahan

Ada saatnya kita merasa lelah, kecewa, atau merasa usaha kita sia-sia. Tapi ingat, dakwah bukan sprint, melainkan maraton yang panjang. Jika lelah, istirahatlah sejenak, tetapi jangan berhenti. Jika semangat meredup, carilah teman seperjuangan yang dapat menyemangati.

• Jaga hati tetap ikhlas.

• Perbarui niat setiap hari.

• Ingat bahwa Allah melihat setiap langkah kecil kita.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)


6. Dakwah Adalah Jalan yang Pasti Berujung pada Kemenangan


Sejarah telah membuktikan bahwa perjuangan yang tulus dan konsisten selalu berbuah manis. Bahkan jika kita tidak sempat melihat hasilnya di dunia ini, yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap tetes keringat dan doa yang kita panjatkan.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(QS. Muhammad: 7)


7. Doa: Kekuatan Terbesar dalam Dakwah

Jangan pernah remehkan kekuatan doa. Di tengah kesibukan kita berdakwah, jangan lupa untuk terus memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah.

“Ya Allah, kuatkan langkah kami di jalan-Mu. Jangan biarkan kami menjadi mata rantai yang memutus dakwah ini. Jadikan kami bagian dari barisan yang Engkau ridai, hingga kami bertemu dengan-Mu dalam keadaan tersenyum penuh kemenangan.”

Penutup: Teruslah Bergerak, Teruslah Berjuang

Saudaraku, mari kita lanjutkan perjalanan ini dengan penuh keyakinan. Tidak peduli seberapa kecil kontribusi kita, setiap langkah di jalan dakwah adalah investasi abadi di sisi Allah. Kita bukan pejuang pertama di jalan ini, dan kita juga bukan yang terakhir.

Tetaplah berjalan, tetaplah merekrut, tetaplah bergerak! Karena dakwah bukan hanya tentang siapa yang memulai, tetapi siapa yang akan menyelesaikan perjuangan ini.

“Kita bukan siapa-siapa, tapi kita dipilih Allah untuk berada di jalan ini. Maka jangan sia-siakan kehormatan ini!”

SS

Minggu, 15 Desember 2024

Ayah bunda menjagaku

 Bagaimana Umi dan Abi Menjagaku (dari kejamnya dunia)


Oleh : Farah Qonita (putri Ust Abd Aziz Abdur Rouf Lc)

meleleh dalam nikmat Allah yang tak terkira; kini  tengah belajar menjadi calon ibunda yang juga berdakwah


Seorang gadis kecil memandangi jendela rumah dengan kesal. Menanti umi dan abinya yang tak kunjung pulang. Seraya membatin, "Dakwah mulu, kalo aku gede, aku gak mau dakwah-dakwahan!" 

Abi sibuk mengisi kajian, mengajarkan Al-Quran dari satu daerah, kota, bahkan keluar pulau. Umi juga sibuk mengisi kajian ibu-ibu, dari rumah ke rumah. 

Hari ini, anak perempuan itu sudah besar. Ia yang baru satu tahun menikah, sedang belajar tentang "Membangun keluarga dakwah". Sebuah nasihat seorang gurunda begitu menghujam hatinya. 

"Jika kita menjadi orang tua yang salih, yang taat, yang bermanfaat untuk umat, maka Allah yang akan langsung menjaga dan mendidik anak-anak kita. Tolong agama Allah, Allah akan menolong kita." 

Lihat Nabi Musa, rasanya tak mungkin, seorang anak yang dihanyutkan ke sungai demi menghindari pembunuhan raja tirani, dibesarkan oleh Firaun dalam pusat kedzoliman, bisa menjadi seorang Nabi yang menyeru, menyampaikan risalah. Bersebab seorang ibunda salihah yang taat sehingga Allah langsung yang menjaga dan mendidik Nabi Musa. 

Lihat Nabi Yusuf, rasanya tidak mungkin, seorang anak yang dibenci saudara-saudaranya, dibuang ke sumur, dijadikan budak, digoda ratu untuk berzina, hingga dipenjara, bisa menjadi seorang Nabi yang salih dan cerdas. 

Bersebab seorang ayah yang salih, taat, ialah seorang Nabi Yakub. Sehingga Allah langsung yang menjaga dan mendidik Nabi Yusuf. 

Lihat Maryam binti Imran, seorang bayi yang terlahir yatim. Harusnya ia hanya dibesarkan  ibunda. Namun, karena kesalihan orang tuanya, Imran dan Hanah, Allah kirimkan seorang Nabi Zakaria untuk mendidik dan mengasuhnya hingga menjadi seorang perempuan terbaik sepanjang zaman. 

Lihat seorang anak yatim yang Allah kisahkan di Surat Al-Kahfi. Bersebab seorang ayah yang salih, Allah sampai kirimkan Nabi Musa dan Nabi Khidr untuk perbaiki rumahnya yang hampir rubuh. Kelak di bawah tanahnya terpendam harta warisan untuk sang anak yatim bertumbuh. 

Perempuan itu kini termenung lama. Mengingat masa bertumbuhnya yang penuh keajaiban. Saat remaja, jauh dari orang tua, betapa sering ia mangkir dari pengajian, menginginkan kebebasan, melanggar batas-batas yang mengekang. 

Namun, sesering itu juga tangan Allah bekerja. Entah ada saja cara-Nya, Allah gagalkan keinginan nakalnya, Allah dekatkan ia pada gurunda luar biasa, kawan-kawan solehah, lingkungan baik, hingga mengecap aktivitas dakwah! Hal yang dulu ia benci. Aduhai, untuk pertama kalinya perempuan itu mengisi kajian di forum kemuslimahan dengan suara bergetar. Ia demam panggung! 

Mengingatnya ia terkekeh, betapa bodohnya kalau mengira semua kebaikan itu ia dapatkan karena kesolehannya sendiri. Nol besar! Ternyata, bersebab aktivitas dakwah orang tuanya (yang sering ia kesalkan dulu), menjadi sebab derasnya petunjuk dan pertolongan Allah dalam hidupannya. 

Ia meleleh dalam nikmat Allah yang tak terkira. Kini, ia tengah belajar menjadi calon ibunda yang juga berdakwah. Semoga ikhtiarnya kelak membuat Allah berkenan menjaga buah hatinya. 

Rabu, 04 Desember 2024

Penyimpangan Dakwah

 Kenalilah penyimpangan dakwah

Dakwah mengajak pada jalan yang lurus, jalan yang jelas kepada kebenaran sesuai petunjuk Allah swt. Namun karena kelemahan manusia atau kesengajaan karena dorongan nafsu, dakwah yang berupa ajakan bisa menyimpang. 

Banyak bentuk penyimpangan dari prinsip dakwah. Ada yang jelas, ada pula yang tersembunyi dan samar-samar. Penyimpangan dapat berbentuk penyimpangan tujuan (ghayah), sasaran (ahdaf), sekitar jamaah dan komitmen (iltizam), pemahaman (fahm), sarana (wasilah), langkah (khiththah)

1. Penyimpangan Tujuan (Ghayah)

Penyimpangan tujuan termasuk salah satu penyelewengan paling berbahaya yang harus dihindari. Tujuan dakwah, semata-mata karena Allah. Dakwah yang bertujuan selain Allah, atau menyertai tujuan-tujuan lain, seperti tujuan dalam bentuk kepentingan pribadi selain tujuan kepada Allah, adalah suatu penyimpangan.


Setiap penyimpangan tujuan, meskipun ringan atau kecil, tetap akan menyebabkan amal tersebut tertolak. Allah tidak menghendaki sekutu dan tidak menerima amal, kecuali yang ikhlas karena-Nya. Karena itu, mengikhlaskan niat karena Allah dan membersihkan dari segala noda, menjadi persoalan mendasar dalam jalan dakwah ini. Dakwah memerlukan pelurusan niat dan pemantapan yang terus menerus. Jiwa manusia sering dipengaruhi hawa nafsu. Syaithan dapat menyusup ke aliran darah manusia, berusaha merusak ibadah, jihad, juga membatalkan amal dan pahala seseorang.


Bahaya Penyakit Hati


Riya’, ghurur (lupa diri), sombong, ego-centris dan gila popularitas, sebenarnya justru meruntuhkan popularitasnya sendiri. Memburu tujuan duniawi; seperti jabatan, kehormatan, kekayaan atau kekuasaan serta hal-hal duniawi lainnya yang tidak berharga. Ke semuanya merupakan contoh penyakit hati yang menyebabkan manusia menyimpang dari tujuan.

Penyakit hati merupakan penyakit paling berbahaya. Lebih berbahaya ketimbang penyakit jasmani yang pengaruhnya hanya terhadap jasad, yang fana sebatas kehidupan dunia. la (penyakit hati) dapat merusak niat seta membatalkan amal.


Setiap manusia mengidap penyakit hati. Tetapi, orang beriman selalu melawan dan menundukkan dengan kekuatan iman, takwa dan muraqabah akan Rabb-nya. Dengan pembaruan niat, mengutamakan yang ada di sisi Allah ketimbang semua kemewahan dunia. la yakin balasan Allah lebih baik dan kekal.


Penyakit hati memang sulit dilawan dan dibersihkan. Sebab, di sana terjadi perebutan pengaruh dan pertarungan, antara dorongan kebaikan dan kejahatan.


Antara mujahadah (perlawanan) terhadap nafsu dalam rangka membersihkan diri dan mendekatkannya kepada Allah dengan tarikan dunia yang bersifat nafsu jasmaniyah dan kemewahan dunia. Allah berfirman:

“Sungguh telah menang orang yang membersihkan nafsunya, dan celakalah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10)


“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami. Pasti Kami akan menunjukkan kepada mereka berbagai jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-Ankabut: 69)


Penyimpangan tujuan tidak harus berarti mengarahkan secara total kepada tujuan-tujuan duniawi; berpaling secara total dari Allah, sedikit saja di dalam hati, itu sudah termasuk penyimpangan. Akibatnya, membatalkan amal dan mengeluarkannya dari batasan ikhlas karena Allah.


Penyimpangan tujuan sangat berbahaya. Karena niat berada di hati, sehingga sulit diketahui, walaupun, sudah terjadi. Kecuali, sesudah ekses penyimpangan yang tidak dapat ditutupi lagi. Kemudian merusak jamaah, atau paling tidak berpengaruh buruk. Terutama, jika yang bersangkutan mempunyai posisi menentukan. Akhirnya, mereka harus dikeluarkan dari barisan (shaf). Kecuali jika mereka taubat dengan membersihkan hati dan mengikhlaskan diri kepada Allah.

Ketentuan Allah kepada kaum Mukminin, dalam berdakwah harus bebas dari segala kebusukan. Barang siapa berniat baik, Allah menjadikannya sebagai pengembang dakwah. Barang siapa menyimpan kebusukan di hatinya, Allah tidak akan menyerahkan dakwah ini kepadanya. Untuk membedakan antara haq dan bathil guna menyusun shaf yang bersih, menjadi sunnatullah diperlukan ujian dan cobaan, sebagaimana firman Allah:


“Alif Laam Miim. Apakah manusia menyangka bahwa setelah mereka mengucapkan; ‘Kami telah beriman’, mereka akan dibiarkan tanpa diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, agar Allah membuktikan siapa yang benar dan siapa yang berdusta”. (Al- Ankabut: 1-3)


Urgensi Keikhlasan


Karena keikhlasan dan segala akibatnya merupakan masalah mendasar, maka ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi banyak membicarakannya, misalnya:


“Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan aku diperintah agar menjadi orang pertama yang menyerahkan diri.” (Az-Zumar: 11-12)

“Katakanlah, hanya kepada Allah aku menyembah dengan mengikhlaskan ibadahku kepada-Nya”. (Az-Zumar: 14)


“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Rabb sekalian alam, tanpa menyekutukan-Nya, demikian itu diperintahkan kepadaku.”


“Ingatlah, hanya kepada Allahlah pengabdian yang ikhlas itu”. (Az-Zumar: 3)


“Dan mereka tidak diperintahkan melainkan mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, dengan menjauhi kesesatan”. (Al-Bayyinah: 5)


“Sesungguhnya semua amal itu akan diterima sesuai dengan niatnya”. (Bukhari dan Muslim)

“Dari Abu Hurairah RA ia berkata; Rasulullah SAW telah bersabda, ‘sesungguhnya Allah tidak menilai penampilan atau bentukmu, tetap Allah menilai hatimu’”. (HR. Muslim)


“Dan dari Abu Musa Abdullah bin Qays al-‘Asy’ari RA ia berkata, ‘Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena ingin dikatakan berani, fanatisme golongan, dan riya’. Manakah yang bernilai sabilillah? Rasulullah menjawab, ‘Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah bisa ditegakkan maka sesungguhnya ia telah berperang di

jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Demikian pentingnya keikhlasan dalam berdakwah; sehingga, Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna menjadikannya salah satu rukun baiat yang ke-10. Semua orang wajib komitmen dengannya. Menepati dan menjaganya dari segala bentuk noda, agar tidak melanggar baiatnya.


Menurut Hasan Al-Banna, pengertian ikhlas, ialah menunjukkan semua ucapan, amal dan jihadnya hanya kepada Allah semata. Karena mencari ridha dan kebaikan pahala-Nya, tanpa mengharapkan keuntungan, popularitas, kehormatan, reputasi, kemajuan atau keterbelakangan. Dengan keikhlasan ini  seseorang akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah. Bukan pengawal kepentingan dan keberuntungan.

Firman Allah:


“Katakanlah Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Rabb sekalian alam, tanpa menyekutukan-Nya, demikianlah aku diperintahkan.” (An-An’am: 162-163)

Menepati janji kepada Allah dengan tanpa mengganti dan menggeser niat sampai ajal tiba, merupakan salah satu kewajiban seorang prajurit dakwah. Sehingga orang tersebut masuk dalam golongan yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:


“Dan di antara orang-orang yang beriman adalah yang menepati janjinya kepada Allah, maka di antara mereka ada yang telah syahid, dan ada yang masih menunggu-tunggu, tanpa mengubah janji mereka sedikit pun. Supaya Allah membalas orang-orang yang munafiq jika Ia menghendaki atau mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Ahzab: 23-24)


Macam-macam Penyimpangan


Kta harus waspada dalam menjalani cobaan berat berupa kesengsaraan dan malapetaka. Kita tidak boleh beranggapan telah lulus dari ujian. Padahal tidak tertutup kemungkinan akan gagal menghadapi cobaan lain. Misalnya cobaan keduniaan dengan segala kemewahan yang memesona. Karena hal itu menjadi kebiasaan musuh-musuh Allah dalam memerangi para prajurit dakwah.


Selain menguji dengan penderitaan juga membujuk dengan kemenangan dunia, kedudukan, dan segala macam fasilitas. Dengan itu, banyak orang tertipu dengan termakan oleh bujuk rayu mereka. Celakanya, orang-orang yang tertipu ini selalu mengatasnamakan amal Islami, dan berdalih untuk kepentingan Islam. Padahal mereka pembohong besar.


Jika kehidupan Rasulullah diukur dengan materi, maka beliau benar-benar orang yang sangat berkekurang

Jika kehidupan Rasulullah diukur dengan materi, maka beliau benar-benar orang yang sangat berkekurangan. Tidak sulit bagi beliau kalau mau menjadi orang yang paling mewah sekalipun. Beliau tidak suka hal itu. Rasulullah SAW lebih suka memberikan teladan kepada kita dalam zuhud dan enggan dengan kemewahan dunia, serta keutamaan yang ada di sisi Allah. Dunia, bukan negeri abadi dan bukan tempat kenikmatan. Apalagi kemewahan itu sering kali membawa kesengsaraan dan kehinaan.


Mari, Rasulullah kita jadikan sebagai pemimpin dan panutan dalam mengemban amanah dakwah ini. Meneladaninya, serta lebih berhati-hati terhadap fitnah dunia.


Kisah para tukang sihir di dalam AI-Quran; yang imannya dapat mengubah dan meluruskan neraca dirinya, dapat kita ambil sebagai pelajaran. Di siang hari mereka datang bertujuan menjilat Fir’aun untuk memperoleh harta dan kedudukan. Namun, tiba-tiba mereka menjadi beriman (kepada Allah). Sehingga intimidasi berupa penyiksaan sadis dari Fir’aun, mereka hadapi dengan tidak gentar.

Firman Allah:


“Mereka (para penyihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” (Thaha: 72-73)


Demikianlah, neraca kebenaran menjadi lurus kembali. Jika sikap para tukang sihir Firaun saja telah beriman seperti itu. Maka pantaskah bagi orang yang sedang lama orientasi hidupnya secara tulus dipersembahkan karena Allah?


Penyakit hati lainnya, ialah bila seseorang merasa dirinya lebih berpengalaman; la merasa lebih cerdas, lebih baik analisisnya terhadap setiap persoalan. la merasa lebih pintar tentang seluk-beluk politik dan cara melakukan perlawanan terhadap para musuh ketimbang orang lain. la merasa lebih super ketimbang orang lain. Menghina (meremehkan) peran orang lain. Meskipun ia orang yang banyak berjasa dalam dakwah.

Mereka itu, kalau mewujudkan suatu kebaikan dalam dakwah akan mengatakan, keberhasilan itu karena kemampuan dan kejeniusannya semata. la lupa akan karunia Allah, pertolongan dan taufiq-Nya. Padahal, tanpa karunia Allah, tidak akan terwujud suatu kebaikan. Hal ini, mengingatkan kita kepada sikap Qarun yang mengatakan:


“Aku peroleh ini semua adalah karena kepandaianku semata”. (Al-Qashas: 78)


Kami merasakan bahwa penyakit “ego sentris” juga dapat merusak dakwah. Mereka yang mengidap penyakit ini lebih suka mencari orang untuk menjadi pengikutnya sendiri daripada untuk menjadi pengikut jamaah. Hanya manusia-manusia setipe yang mau mendekatinya.


Kita hendaknya tidak mengikatkan diri dengan orang yang punya tipe tersebut. Meskipun, mereka itu mempunyai kedudukan dan kelebihan. Karena, itu merupakan sikap ular. Sedang ular sangat sulit dikendalikan bisanya.


Ketahuilah, orang yang berpenyakit semacam itu tidak pernah mau mengaku dirinya berpenyakit. Kemungkinan, karena ketidaktahuannya atas keberhasilan tipu daya iblis kepadanya. Akibatnya, penyakitnya semakin parah. Kita berkewajiban menyadarkan orang lain yang tidak mengikutinya. Orang-orang tersebut kadang-kadang membenarkan sikap ambisi pribadinya, dengan dalih kemaslahatan dakwah atau umat; bukan untuk kepentingan pribadi. Misalnya, keikutsertaannya dalam satu pemerintahan thaghut (pemerintahan yang tidak menjalankan hukum Islam), semata-mata untuk kepentingan Islam. Ia menganggap perbuatannya itu sebagai taktik dakwah. Bahkan ia menuduh orang lain terlalu picik dalam menilai kemaslahatan dakwah. Seandainya di situ ada nilai kemaslahatan, apakah hanya dirinya saja yang berhak menilai?


Perlu diketahui, keberadaan mereka yang berwatak semacam itu dalam shaf setelah tidak mau diperbaiki lebih membahayakan ketimbang melakukan pembersihan shaf. Maka, tidak dapat diterima sikap sebagian orang yang dengan niat baik mentolerir mereka. Karena khawatir terjadi perpecahan dan takut kehilangan potensi mereka. Akhirnya dengan keberadaan mereka dalam shaf tidak hanya mereka yang dinilai menyimpang, tetapi shaf (barisan) tersebut juga menyimpang. Pembahasan masalah penyimpangan tujuan ini kita akhiri dengan mengutip kata-kata Syahid Sayyid Quthb:


“Satu demi satu anggota jamaah diserang kerontokan. Mereka akan gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar. Kemudian musuh menggenggam salah satu ranting pohon tersebut disertai anggapan, dengan tercabutnya ranting pohon tersebut akan dapat menghancurkan seluruh pohon itu, sehingga apabila telah tiba saatnya dan ranting pun dicabut, maka keluarlah dari genggamannya seperti kayu kering, tidak mati dan tidak pula hidup, sedangkan pohon tersebut tetap utuh seperti semula.”

Referensi: Syaikh Mushthafa Masyhur, Fiqih Dakwah, Jakarta, Al-I’tishom Cahaya Umat, 2000

arsip agus ahmad hidayat

Anakku ! Kau harus seperti aku!

 Bijakkah memaksakan kehendak (orang tua) pada (masa depan) anak?


Engkau harus seperti aku !

Bagaimana menata menyiapkan keinginan dengan jeli dan cerdas.

Setiap kita berada pada zaman yang berbeda, sampai ada pernyataan; persiapkan anakmu karena mereka akan berada pada zaman yang berbeda denganmu. Suasana, keadaan, fasilitas dan berbagai hal yang ada pada lingkungan kita, tidaklah sama. Dulu mungkin jalanan belum semulus sekarang, listrik tidak semudah sekarang, bahkan alat komunikasi jauh berbeda. Apakah tuntutan kita masih sama? Rasanya hanyalah seloroh atau satire saja jika mengatakan; “enak zamanku to?”

Sebuah kisah yang saya dengar dari mantan tentara. Dia bercita-cita agar anaknya mengikuti kehendak ayahnya. Dia menyuruh anaknya melamar dan tes sebagai calon prajurit. Sudah berkali kali mencoba belum berhasil. Bahkan selama usianya memungkinkan untuk peluang tes calon prajurit sang ayah menyuruh anaknya ikut. Terucap dari mulut sang ayah “kalau kau tidak diterima, tidak perlu pulang ke rumah” . Mungkin maksud sang ayah berucap seperti itu agar motivasinya membara, dan mendorong kesungguhan si anak,  namun sang ayah salah mengukur kemampuan anak dengan target standar diterimanya seorang calon prajurit. “dia harus seperti aku, dia kuat harus sekuat aku” terpikirkankah jika itu termasuk memaksakan? Dalam bahasa umum hal ini tidak bijaksana, dalam bahasa agama disebut dholim.

Di sisi lain, ada anak ustadz yang dipesantrenkan dengan target menghapalkan quran 30 juz. Rasanya tidak berat untuk ukuran si ustadz. Setelah beberapa bulan mondok, lalu si anak melarikan diri, pergi tanpa izin pihak pondok. Mereka mencari tahu, mengapa mereka tidak betah di pondok. Setelah ditelusuri ternyata kemampuan yang dimiliki si anak tidak sesuai dengan target sang ayahnya-yang notabene seorang ustadz. Aku ustadz, aku kuat menghapal, anakku pun mestinya bisa seperti aku. Perlulah dikoreksi dalam mengukur dan memprediksi daya rekam daya nalar seorang anak.

Mungkin banyak contoh yang kita lihat, ada anak anak terlantar tidak ‘belajar’ tidak kuliah, tidak mondok karena daya tuntutan terlalu tinggi sementara banyak orang tidak menyadari kemampuan tiap orang berbeda.

Sudahkah kita berpikir bijak? Sudahkah kita melihat sekitar, Sudahkah kita memahami anak anak kita dengan baik?

Setiap kita sebagai orang tua pasti memiliki cita-cita, cita cita yang baik, menyiapkan masa depan yang lurus dan bahagia dalam kehidupannya. Namun perlu disadari, hal ini ada hal pokok dan ada hal yang cabang. Akidah dan pemikiran harus sama seiring dengan keluarga, namun sarana, metode, lembaga merupakan hal yang alternatif, bisa dipilih dan disiapkan konsekuensinya. Berkaitan dengan biaya, lokasi, intensitas komunikasi langsung. Ini merupakan pelatihan penyiapan generasi.

Apakah kita sukses atau gagal dalah hal ini?

 

 

 

Berikut kita ikuti butir butir renungan agar kita bijak menyikapi dalam pola asuh anak sebagai penerus generasi kita.

Ketika anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan idealisme atau harapan orang tua; Menuntut kehendak yang berlebihan, Memperbandingkan sosial, Perbandingan Sosial, Tidak memahami tahapan perkembangan anak, Trauma – luka pengasuhan masa kecil (sang orang tua), Budaya perfectionisme – serba sempurna

Dampak hubungan; Rasa Bersalah yang Mendalam: Orang tua merasa tidak layak atau tidak cukup baik, yang membuat mereka menarik diri secara emosional dari anak. Penolakan Emosional: Ketika anak tidak memenuhi harapan, orang tua mungkin secara tidak sadar menunjukkan rasa kecewa, yang bisa dirasakan oleh anak.Tekanan pada Anak: Anak merasakan tekanan untuk memenuhi harapan orang tua, yang dapat menyebabkan stres, pemberontakan, atau bahkan hubungan yang renggang.

 Mengatasi Perasaan Gagal

Menerima Perbedaan: Sadarilah bahwa setiap anak unik dan memiliki jalan hidup serta potensi mereka sendiri. Tidak semua hal bisa dikontrol oleh orang tua.

Redefinisi Kesuksesan: Ubah definisi kesuksesan dari pencapaian eksternal (seperti nilai akademik atau karier) menjadi hal-hal yang lebih dalam, seperti kebahagiaan, kebaikan hati, dan karakter yang baik.

Belajar tentang Tahapan Perkembangan Anak: Pemahaman tentang tahapan perkembangan anak akan membantu orang tua menyesuaikan harapan dengan kemampuan dan kebutuhan anak.

Memaafkan Diri Sendiri: Orang tua perlu menyadari bahwa mereka tidak sempurna, dan itu tidak apa-apa. Fokus pada perbaikan hubungan daripada menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi.

Komunikasi yang Empatik: Bangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak. Dengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, dan sampaikan perasaan Anda dengan jujur tetapi tetap menghargai.

Strategi untuk Membangun Kedekatan

Fokus pada Kelebihan Anak: Alih-alih melihat kekurangan anak, fokuslah pada potensi dan kelebihan mereka. Dukung apa yang mereka minati dan sukai.

Berbagi Waktu Berkualitas: Habiskan waktu bersama anak tanpa mengungkit kegagalan atau kekurangan mereka. Jadikan momen itu sebagai waktu untuk mempererat hubungan.

Hargai Proses, Bukan Hanya Hasil: Dorong anak untuk terus mencoba dan belajar, daripada hanya menilai hasil akhir yang mereka capai.

Ciptakan Lingkungan Aman Emosional: Jadilah tempat yang aman bagi anak untuk berbagi cerita, kegagalan, atau kekhawatiran mereka tanpa takut dihakimi.

Belajar Bersama: Tunjukkan bahwa orang tua juga manusia yang terus belajar. Ini akan membantu anak melihat bahwa kesalahan adalah bagian dari proses pertumbuhan.

1)Anak Adalah Amanah,Mereka adalah amanah dari Tuhan yang tumbuh dengan karakteristik unik.2)Kesuksesan Tidak Selalu Berwujud Pencapaian: 3)Anak yang bahagia, sehat, dan memiliki moral yang baik adalah keberhasilan besar yang sering kali tidak terlihat.4)Perubahan Dimulai dari Orang Tua: Anak akan merespons perubahan positif dari orang tua. Ketika Anda lebih menerima diri sendiri dan mereka, hubungan akan tumbuh dengan lebih kuat.5)Doa dan Usaha: Setelah melakukan yang terbaik, serahkan hasilnya kepada Tuhan. Setiap anak memiliki perjalanan dan takdir yang unik.


terinspirasi atas keluhan orang tua

 Agus Ahmad Hidayat