Rabu, 26 Agustus 2026

Belajar Sabar dan Syukur dari Nabi Saw (1)

 Belajar Sabar dan Syukur dari Nabi Saw (1).



Suatu hari sahabat Sa'ad bin Abi Waqash ra bertanya kepada Nabi Muhammad Saw tentang siapa yang paling berat ujian hidupnya?

Nabi Saw menjawab:

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu yang semisal dengan mereka (berdasarkan tingkat keutamaannya)." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).


Dalam Sirah Nabawiyah kita  mendapati bagaimana beratnya ujian nabi Saw dalam menyebarkan atau mendakwahkan Islam, terutama di sepuluh atau sebelas tahun pertama kenabian. 

Nabi Saw diuji dengan berbagai tuduhan dan caci maki sebagai tukang sihir, pendusta, pemecah belah persatuan, radikal dan lain lain. Tetapi Nabi Saw tetap diam.

Nabi dan para sahabatpun pernah dikucilkan, diboikot secara ekonomi dan sosial selama 3 tahun. Tetapi nabi juga diam.

Bahkan ketika beliau melakukan jaulah dakwah sambil berjalan kaki sejauh 100 km ke Thaif yang berakhir dengan penolakan, hinaan dan sambitan demi sambitan, bukan sambutan, Beliau juga diam. Bahkan berdoa agar mereka suatu saat nanti diberi hidayah dan memeluk Islam.


Ketika sahabat Habab bin al Art, setelah siuman dari pingsannya karena disiksa oleh kafir Quraisy dan berkata, ya Rasulullah apakah engkau (Nabi) tidak berdoa (minta tolong) kepada Allah?

Nabi Saw justru menjawab dengan menceritakan bagaimana orang orang yang beriman dahulu menghadapi siksaan para penguasa...

Mengapa kamu tidak bersabar?


Nabi mengajarkan pada kondisi saat itu yang terbaik adalah bersabar. Bukan tindakan emosional seperti misalnya: akan saya lawan, akan saya lawan!


Dalam momentum peringatan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal alangkah baiknya kita merenungkan dan mengambil teladan dari bagaimana kesabaran beliau Saw.


Sebagaimana hadits diatas, yang bisa kita fahami, bahwa tidak ada orang yang ujian hidupnya dan kesabarannya melebihi para nabi terutama beliau, Nabi Saw.


Dari perjalanan dakwah Nabi Saw kita belajar bahwa sabar itu bukan diam menunggu datangnya perubahan sambil mengelus dada.

Sabar bukan berarti menyerah dan pasrah. Sabar adalah sebuah tindakan aktif untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan terus berusaha melakukan hal yang benar sesuai aturan agama.


Secara bahasa, sabar artinya menahan atau mencegah. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sifat keluh kesah, menahan lisan dari perkataan yang buruk, dan menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak baik saat menghadapi ujian sambil secara aktif mencari solusi jalan keluar.


Mempelajari dan meneladani kesabaran Nabi Saw sangat penting. Karena beliau adalah masternya. Beliau tidak hanya memberikan ujaran atau nasihat tetapi juga contoh praktek nya.


Sabar sangat penting. Karenanya kata "sabar" dan bentuk derivasinya (kata turunan) menurut penghitungan sebagian besar ulama dan kitab rujukan seperti Al-Mu'jam al-Mufahras, disebutkan sebanyak 102 hingga 104 kali di dalam Al-Qur'an.


Keajaiban yang menakjubkan orang mukmin juga disebabkan karena adanya sifat dan sikap sabar dalam dirinya, selain syukur. Sabdanya Saw:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka hal itu baik baginya."

(Hr.  Muslim)


Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dan Imam Al-Ghazali membagi sabar dalam tiga bentuk:

1. Sabar dalam Ketaatan kepada Allah (As-Shabr 'ala Tha'ah)

Yaitu konsisten dan istiqamah menjalankan perintah Allah SWT meskipun terasa berat bagi jiwa, raga, atau harta.


2. Sabar dalam Menjauhi Kemaksiatan (As-Shabr 'anil Ma'shiyah).

Menahan diri dari godaan perbuatan dosa atau hal yang diharamkan, meskipun ada kesempatan dan keinginan untuk melakukannya.


3. Sabar dalam Menghadapi Takdir atau Musibah (As-Shabr 'ala al-Bala').

Tabah, ikhlas, dan tidak berkeluh kesah secara berlebihan kepada makhluk saat menghadapi ketetapan Allah yang tidak menyenangkan.


Berhenti atau pensiun dari dakwah karena ujian tua, sakit, atau kesulitan ekonomi adalah bentuk ketidak sabaran. 

Dalam berbagai ujian, Nabi Saw menunjukkan bahwa sabar itu tidak ada batasnya.

Tetapi tingkat kualitas keimanan kitalah yang pada akhirnya membatasi kesabaran.


Abdullah bin Mas'ud ra pernah berkata bahwa iman itu terbagi menjadi dua bagian; separuhnya adalah sabar dan separuhnya lagi adalah syukur.


Selain belajar sabar, dari perjalanan hidup nabi Saw kita juga bisa belajar tentang syukur. Karena sabar dan syukur hakikatnya bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Karena perjalanan hidup tidak selalu berisi kesulitan tetapi juga ada sisi bahagianya.


Jadi belajarlah untuk tidak gampang curhat, terutama dimedsos, seolah olah kita paling menderita. Padahal jauh dari ujian nabi dan para orang shaleh.

Setidaknya seperti yang dikatakan Yuni Shara dalam lagu "Sepi" nya:


"Ada saatnya ku bicara

Bila hatiku telah bulat

Sepanjang ku bisa atasi semua

Aku tetap diam..."


Wallahu a'lam bi shawab, Allahul musta'an...

(Gaf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar