Penyiapan Kota Madinah untuk menjadi tujuan hijrah
“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan beriman sebelum
(kedatangan) mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada
mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada
(kaum Muhajirin), dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri
meskipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka
itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesiapan Madinah sebagai destinasi hijrah berupa kesiapan
geografis dan ekonomi, juga kesiapan spiritual dan sosial masyarakatnya. Kaum Anshar
memiliki keimanan yang mendalam dan semangat ukhuwah yang tinggi, yang menjadi fondasi
kokoh bagi lahirnya masyarakat Islam yang solid.
Rasulullah saw. pun menegaskan keutamaan Madinah dalam banyak sabda beliau, di
antaranya:
“Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke lubangnya.”
(Bukhari dan Muslim)
Hadits ini tidak sedang mengumpamakan iman dengan ular, tapi menggambarkan kembalinya
iman ke Madinah seperti kembalinya ular ke lubangnya saat merasa terancam. Ia juga
menggambarkan bahwa Madinah selain tempat hijrah secara historis, juga simbol pusat
keimanan dan tempat yang selalu menjadi rujukan kebangkitan spiritual umat Islam.
Dengan demikian, persiapan Kota Madinah sebagai destinasi hijrah merupakan bagian dari
takdir ilahi yang penuh hikmah. Melalui kombinasi kesiapan sosial kaum Anshar, keimanan
yang mendalam, dan bimbingan langsung dari Rasulullah saw., Madinah menjadi prototipe
masyarakat Islam yang pertama, tempat lahirnya syariat, pemerintahan islami, dan peradaban
yang berasaskan tauhid.
Bai'at ‘Aqabah I
Pada musim haji tahun ke-11 kenabian, sebagaimana yang biasa beliau lakukan setiap musim,
Rasulullah saw. mengajak orang-orang untuk masuk Islam. Namun, pada musim ini, beliau
mengubah pendekatannya dalam mengajak kabilah-kabilah. Telah disebutkan sebelumnya
bahwa Rasulullah saw. berada di bawah suaka Al-Muth'im bin 'Adi dari Bani Naufal, seorang
musyrik. Rasulullah saw. mengetahui bahwa Al-Muth’im memiliki kekuatan yang terbatas, dan
bahwa rekan-rekannya adalah para pemimpin musyrikin di Mekah, yang tidak akan
membiarkannya membela Rasulullah saw. terlalu lama. Oleh karena itu, Rasulullah saw. harus
mencari pengganti Al-Muth'im bin 'Adi.
Musim haji berikutnya pada tahun ke-12 kenabian, Rasulullah saw., duduk bersama dua belas
Muslim yang datang dari Yatsrib, sepuluh dari Khazraj dan dua dari Aus, dan memulai
negosiasi dengan mereka. Negosiasi ini kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Baiat Aqabah
I, karena lokasi kejadiannya adalah Aqabah, dan disebut Baiat I karena ada baiat berikutnya
setahun kemudian.
Rasulullah saw., membuat kesepakatan dengan kaum Muslim utusan Yatsrib ini, tetapi beliau
tidak meminta dukungan dan bantuan mereka seperti yang beliau minta dari Bani Syaiban,
Bani Amir, atau yang lainnya. Sebab beliau mengetahui bahwa keputusan tidak berada di
tangan mereka di Yatsrib, dan beliau tidak ingin membebani mereka melebihi kemampuan.
Pada saat yang sama, beliau juga mentarbiyah mereka agar kelak siap memikul tugas dan misi
dakwah tersebut. Lebih dari itu, beliau ingin meningkatkan jumlah umat Islam di Yatsrib,
hingga mencapai jumlah yang signifikan yang akan memungkinkan mereka untuk memikul
tanggung jawab membela Islam di masa yang akan datang.
Syeikh Shafiyurrahman Al-Mubarak Fury dalam kitab sirahnya “Ar-Rahiq Al-Makhtum”
mengatakan:
Telah disebutkan bahwa enam orang dari Yatsrib masuk Islam pada musim haji tahun ke-11
kenabian, dan mereka berjanji kepada Rasulullah saw. untuk menyampaikan risalahnya
kepada kaum mereka. Hasilnya, pada musim haji berikutnya (tahun ke-12 kenabian), atau
bulan Juli 621, datanglah dua belas orang, lima orang di antaranya adalah orang yang telah
bertemu Rasulullah saw. tahun sebelumnya, sepuluh orang dari Khazraj sisanya dari Aus.
Mereka menemui Rasulullah saw. di Aqabah, Mina, dan membai'at beliau sesuai dengan
bai'atunnisa (baiat tanpa poin jihad) sebagaimana diriwayatakan Al-Bukhari dari Ubadah bin
Ash-Shamit ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Marilah, berbaiatlah kepadaku bahwa kalian tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu
pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak mengarang fitnah
yang kalian ada-adakan di antara kalian, dan tidak mendurhakaiku dalam kebenaran.
Barangsiapa di antara kalian memenuhi janjinya, maka pahalanya di sisi Allah, dan
barangsiapa yang mengerjakan salah satu dari itu dan dihukum karenanya di dunia, maka itu
adalah penebus (kafarat) baginya. Barangsiapa yang mengerjakan salah satu dari itu dan Allah
menutupinya, maka urusannya terserah kepada Allah. Jika Dia menghendaki, Dia akan
menghukumnya, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya.”
Mengutus Mush’ab bin Umair ra. untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk Madinah
Nabi saw. mengutus Mush’ab ra. ke Yatsrib. Ia berperan sebagai duta besar, tetapi pada
kenyataannya, perannya jauh lebih tinggi daripada duta besar biasa yang menyampaikan
pesan kepada dan dari Nabi saw. Ia menjalankan peran-peran yang penting:
- Mengajarkan Islam kepada umat Islam di Yatsrib.
- Menjadi teladan Islam dan panutan bagi masyarakat.
- Merekrut sebanyak mungkin penduduk setempat ke dalam Islam, sehingga
perlindungan negara ke depannya bergantung pada rakyatnya sendiri.
- Mempersiapkan Yatsrib secara psikologis untuk menerima umat Islam dari Mekah,
Habasyah, atau dari mana pun di dunia.
- Mempelajari situasi militer, keamanan, dan ekonomi Yatsrib, karena kota itu akan
menjadi tempat tujuan banyak sekali muhajirin.
Tugasnya sangat besar, karena melibatkan perencanaan untuk membangun sebuah negara
baru yang berdaulat penuh, dan siapa pun yang dipilih harus memenuhi syarat untuk tugas
tersebut.
Peran duta besar untuk Madinah
Rasulullah saw. memilih Mush’ab ra. sebagai duta besar untuk Madinah. Dipilihnya beliau di
antara para sahabat lainnya, antara lain karena Mush’ab ra. memiliki banyak kompetensi yang
memungkinkannya mengemban tugas penting ini.
Pertama:
Mush’ab ra. adalah salah satu sahabat yang paling berpengetahuan. Ia menghafal semua yang
diturunkan dalam Al-Qur'an. Ia adalah salah satu orang pertama yang masuk Islam dan
memperjuangkan Islam sejak awal. Ia mengetahui kapan ayat-ayat Al-Qur'an diturunkan,
maknanya, dan penafsiran Nabi saw. terhadap ayat-ayat tersebut. Oleh karena itu, inti ilmu
sangatlah penting, terutama karena jarak antara Mekah dan Yatsrib (500) kilometer, dan tidak
ada kesempatan untuk bertanya kepada Nabi saw., dan tidak ada sumber ilmu selain Mush’ab
ra.
Kedua:
Mush’ab ra. dikenal memiliki kebijaksanaan, kecerdasan, ketenangan, kesabaran, dan
keterbukaan. Ini adalah kualifikasi penting bagi setiap pendakwah. Mush’ab ra. adalah orang
yang lembut, tenang, dan rendah hati, dengan kecerdasan yang luar biasa; dengan kata lain,
ia adalah seorang pendakwah yang ideal.
Ketiga:
Mush’ab ra. berasal dari kalangan elit Mekah, tepatnya Bani Abd al-Dar, yang memegang kunci
Ka'bah dan mewarisinya dari nenek moyang mereka. Ini bukan berarti Islam datang untuk
membeda-bedakan orang-orang berdasar garis keturunan, melainkan Rasulullah saw.
memperhatikan kondisi penduduk Yatsrib dan tidak ingin menguji mereka dengan berat. Kirakira bagaimana jadinya mereka jika seorang pria sederhana dan lemah, seorang budak atau
sekutu, datang kepada mereka? Mereka mungkin tidak mendengarkannya sama sekali, tetapi
Mush’ab ra. adalah salah satu sahabat paling mulia dari segi garis keturunan.
Keempat:
Mush’ab ra. akan menjadi teladan terbaik bagi orang-orang kaya yang ingin memeluk agama
ini, tetapi ragu-ragu karena harta atau uang mereka. Mush’ab ra. memberikan contoh nyata
tentang seorang pria yang mampu merelakan hartanya demi dakwah Islam. Demikian pula,
kaum miskin akan yakin bahwa agama tidak membedakan antara si kaya dan si miskin.
Kelima:
Pengutusan Mush’ab ra. ke Yatsrib akan menjadi pengumuman yang jelas bagi penduduk
Yatsrib, Makkah, dan lainnya bahwa agama ini bukanlah pemberontakan kaum miskin
terhadap kaum kaya. Inilah duta besar Islam yang kaya raya, kemudian merelakan hartanya
untuk menjadi seorang Muslim, meskipun ia menjadi miskin. Ini berarti bahwa dakwah Islam
tidak muncul karena alasan ekonomi, seperti yang diklaim banyak orang.
Keenam:
Duta besar yang tinggal terpisah di Yatsrib ini yang berjarak sekitar 500 kilometer dari
Rasulullah saw., bisa saja tergoda oleh kehidupan dunia, kenyamanan, dan kemewahan di
sekelilingnya. Kita sering melihat sebagian orang yang semula bersemangat seperti api, namun
ketika dunia ditawarkan kepada mereka, mereka goyah dan menyimpang dari jalan. Tetapi
Mush’ab ra. tidak demikian. Ia berhasil melewati ujian berat dari ibunya sendiri. Jika ia mampu
menolak godaan dunia yang datang melalui ibunya, maka ia tentu lebih mampu menolaknya
bila datang dari pihak lain.
Ketujuh:
Mush’ab ra. telah membuktikan kemampuannya menghadapi godaan kepemimpinan. Ia
berasal dari Bani ‘Abd ad-Dar, sebuah kabilah terhormat di Quraisy, dan ia memiliki posisi yang
menjanjikan untuk memegang kepemimpinan di Mekah. Seandainya ia menginginkan
kekuasaan, ia cukup tetap dalam kemusyrikan dan tidak perlu memeluk Islam. Namun
Mush’ab memilih keimanan dan meninggalkan peluang kepemimpinan demi kebenaran,
sehingga terbukti bahwa agama baginya jauh lebih berharga daripada kedudukan.
Kedelapan:
Mush’ab bin ‘Umair ra. termasuk di antara para muhajirin yang berhijrah ke Habasyah pada
hijrah pertama dan kedua. Kita tidak mengetahui secara pasti kapan ia kembali dari hijrah
kedua, namun kemungkinan besar Rasulullah saw. memanggilnya untuk menjalankan misi
penting ini. Tidak diragukan lagi bahwa pengalaman hijrah ke Habasyah telah memberinya
wawasan luas dalam berinteraksi dengan masyarakat asing serta memahami adat dan tradisi
yang berbeda.
Kesembilan:
Hijrah ke Habasyah telah melatih Mush’ab ra. untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan
berpisah dari keluarga serta orang-orang yang dicintainya. Lamanya misi dakwah di Yatsrib
saat itu tidak diketahui apakah akan berlangsung satu tahun, dua tahun, atau bahkan lebih.
Namun mereka yang mampu bertahan dalam hijrah yang panjang seperti di Habasyah tentu
lebih siap menanggung tugas hijrah dan dakwah ini pula.
Kesepuluh:
Mush’ab bin ‘Umair ra. ketika menjalankan tugas ini berusia sekitar 35 tahun, usia yang sangat
ideal untuk misi dakwah tersebut. Ia bukan lagi pemuda yang mudah terburu-buru dan
gegabah, tetapi juga belum menjadi orang tua yang mungkin terhalang oleh kelemahan fisik.
Usia itu memberinya keseimbangan antara ketegasan, kedewasaan, dan kekuatan untuk
memikul tanggung jawab besar.
Metode Mush’ab ra. berdakwah di Madinah
Kaum Anshar kembali ke Yatsrib, ditemani oleh sahabat dan panutan yang terhormat, Mush’ab
ra. Mereka mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan terorganisir di Yatsrib. Tahun itu, Yatsrib
benar-benar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, berlumuran darah akibat konflik antara
Aus dan Khazraj. Mush’ab ra. menginap di rumah As’ad bin Zurarah ra. yang berasal dari suku
Khazraj.
Usia As’ad ra. saat itu belum mencapai tiga puluh tahun, namun ia termasuk salah satu
sahabat yang paling bijaksana. Ia mengenal seluruh penduduk Madinah dan memiliki
hubungan baik dengan banyak di antara mereka. Hanya saja, ia tidak memiliki keluasan ilmu
sebagaimana Mush’ab ra.
Sebaliknya, Mush’ab ra. memiliki pengetahuan yang mendalam, tetapi ia tidak mengenal siapa
pun di Madinah. Karena itu, As’ad ra. selalu menemani Mush’ab ra., membawanya ke berbagai
tempat di Yatsrib: dari rumah ke rumah, majelis ke majelis, hingga setiap jalan yang mereka
lewati.
Ia memperkenalkan Mush’ab kepada siapa pun yang mereka temui, dan setelah itu Mush’ab
ra. mulai menyampaikan Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Demikianlah cara
mereka berdakwah. Tanpa As’ad ra., Mush’ab ra. tidak akan mampu menjangkau masyarakat
Yatsrib; dan tanpa Mush’ab ra., As’ad ra. tidak akan mampu memperkenalkan mereka kepada
keindahan dan kebenaran Islam.
Masuk Islamnya Usaid bin Hudhair ra. dan Sa’ad bin Mu’az ra
Masuk Islamnya Usaid bin Hudhair ra. dan Sa’ad bin Mu’adz ra. melalui dakwah Mush’ab ra.
merupakan salah satu peristiwa paling indah dan menakjubkan dalam perjalanan dakwah
Mush’ab ra. dan As’ad ra. Peristiwa yang sangat agung itu terjadi ketika kedua pemimpin besar
Bani ‘Abd al-Asyhal—dari suku Aus, yang berbeda dengan suku As’ad ra.—mengundang
mereka berdua. Dengan izin Allah, dakwah Mush’ab ra. menyentuh hati mereka, dan
keislaman dua tokoh ini menjadi titik perubahan besar bagi masyarakat Madinah.
As’ad ra. membawa Mush’ab ra. ke sebuah kebun milik suku Aus dan mengumpulkan sebanyak
mungkin orang dari kalangan mereka. Di sana, Mush’ab ra. mulai membacakan Al-Qur’an
kepada mereka. Orang-orang yang hadir pada saat itu seluruhnya berasal dari suku Aus,
dengan para pemimpin mereka, Usaid bin Hudhair ra. dan Sa’ad bin Mu’az ra., yang saat itu
masih berada dalam kemusyrikan. Ketika Sa’ad bin Mu’az ra. mendengar keberadaan Mush’ab
ra. dan As’ad ra. di kebun tersebut, ia sangat marah dan berniat mendatangi mereka secara
langsung. Namun karena As’ad bin Zurarah ra. adalah sepupu dari ibu Sa’ad bin Mu’az ra., ia
menahan diri agar tidak turun langsung.
Sa’ad bin Mu’az ra. berkata kepada Usaid bin Hudhair ra., “Pergilah menemui dua orang itu
yang datang untuk mempengaruhi orang-orang lemah kita. Tegur mereka dan larang mereka
mendatangi perkampungan kita. As’ad bin Zurarah ra. adalah sepupu dari pihak ibu saya, dan
kalau bukan karena itu, sayalah yang akan datang sendiri.” Kemudian Usaid ra. mengambil
tombaknya dan berangkat menuju mereka. Ketika As’ad ra. melihat Usaid datang dari
kejauhan, ia tidak merasa takut. Ia justru berkata kepada Mush’ab ra. dengan penuh
perhatian, “Itu adalah pemimpin kaumnya yang sedang datang menemui kalian.”
Mush’ab ra. berkata kepada As’ad ra., “Jika ia bersedia duduk, aku akan berbicara dengannya.”
Tidak lama kemudian Usaid ra. datang dan berdiri dengan sikap siap menyerang. Ia berkata
dengan nada keras, “Apa yang membawa kalian ke sini untuk menyesatkan orang-orang lemah
kami? Tinggalkan tempat ini jika kalian masih ingin hidup.” Ucapannya kasar dan penuh
provokasi, namun hati Mush’ab ra. tetap lapang. Dengan tenang ia menjawab, “Sudikah
engkau duduk sejenak dan mendengarkan apa yang kami sampaikan? Jika engkau
menerimanya, itu lebih baik. Namun jika engkau tidak menyukainya, kami akan berhenti dan
tidak melakukan sesuatu yang engkau benci.” Usaid bin Hudhair ra. menjawab, “Baiklah,” lalu
ia duduk setelah menancapkan tombaknya ke tanah.
Mush’ab ra. kemudian mulai menjelaskan tentang Islam dan membacakan ayat-ayat AlQur’an. Untaian wahyu itu segera menyentuh hati dan pikiran Usaid bin Hudhair ra., hingga
raut wajahnya berubah total. Amarah yang tadi membara hilang seketika, berganti ketenangan
dan kedamaian yang tampak jelas. Ia begitu tersentuh hingga As’ad bin Zurarah ra. berkata,
“Demi Allah, kami sudah melihat tanda-tanda Islam di wajahnya sebelum ia mengucapkannya,
karena pancaran cahaya dan kegembiraannya.”
Usaid ra. berkata, “Alangkah indah dan menakjubkannya kata-kata ini.” Lalu, dengan penuh
ketulusan, ia bertanya sesuatu yang sangat mengejutkan, “Apa yang harus aku lakukan jika aku
ingin masuk ke dalam agama ini?”
Padahal, ia datang dengan kemarahan dan kesiapan untuk berperang. Namun dalam hitungan
menit, begitu mendengar beberapa ayat Al-Qur’an, ia meninggalkan keyakinan lamanya dan
terbuka sepenuhnya kepada kebenaran.
Pada mulanya, Usaid ra. datang untuk mengusir mereka, sebab As’ad ra. berasal dari Khazraj
sementara Mush’ab ra. bukan penduduk Madinah sama sekali. Namun ketika ayat-ayat AlQur’an dibacakan kepadanya, wahyu itu turun ke dalam hatinya seperti kesejukan yang
menenteramkan. Kata-kata Allah benar-benar mengubah hidup dan keyakinannya, hingga ia
segera ingin memeluk Islam. Mush’ab ra. kemudian mengajarinya empat hal yang harus
dilakukan: mandi, mensucikan pakaian, mengucapkan syahadat dengan benar bahwa tiada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, serta menunaikan salat dua rakaat.
Maka ia pun bangkit, mandi, mensucikan pakaiannya, mengucapkan dua kalimat syahadat,
lalu salat dua rakaat. Dengan itu, Usaid ra. resmi menjadi seorang Muslim. Dalam tempo yang
sangat singkat, ia berpindah dari kekafiran menuju iman, dan seketika merasakan manisnya
Islam. Keindahan iman yang baru ia rasakan itu ingin segera ia sampaikan kepada orang-orang
yang dicintainya. Ia bukan hanya menjadi seorang Muslim, tetapi langsung berubah menjadi
seorang pendakwah yang mengajak orang lain kepada kebenaran.
Saat itu Usaid ra. langsung teringat kepada Sa’ad bin Mu’adz ra. Ia berkata, “Ada seorang lakilaki di belakangku. Jika ia mengikutimu, maka tidak seorang pun dari kaumnya akan tertinggal.
Aku akan membawanya kepadamu.” Usaid ra. pun pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz dan
menyampaikan apa yang terjadi. Ketika Sa’ad melihatnya dari kejauhan, dengan
kecerdasannya ia segera berkata, “Demi Allah, Usaid datang kepadamu dengan wajah yang
berbeda dari wajah saat ia pergi.”
Sa’ad benar dalam pengamatannya. Usaid telah berangkat dalam keadaan kafir, tetapi kembali
dengan wajah seorang mukmin yang memancarkan cahaya keimanan. Betapa berbedanya
mereka berdua.
Sa’ad ra. berkata kepada Usaid ra., “Apa yang terjadi padamu?” Usaid ra., yang saat itu belum
mengetahui hukum larangan berbohong dalam Islam, berniat mengarahkan Sa’ad agar mau
menemui Mush’ab ra. Ia pun mengarang alasan dan berkata, “Demi Allah, aku tidak melihat
sesuatu yang salah pada mereka. Aku melarang mereka, tetapi mereka berkata, ‘Kami akan
melakukan apa pun yang kau inginkan.’ Lalu aku mendengar bahwa Bani Haritsah hendak
mendatangi As’ad bin Zurarah ra. untuk membunuhnya, karena mereka tahu ia adalah
sepupumu, dan mereka ingin mempermalukanmu.”
Mendengar itu, Sa’ad bin Mu’adz ra. segera mengambil tombaknya dan pergi menemui
mereka. Namun ketika ia tiba, ia tidak mendapati Bani Haritsah ataupun siapa pun di sana. Ia
hanya melihat Mush’ab ra. dan As’ad ra. duduk dengan tenang. Saat itu ia menyadari bahwa
Usaid ra. sengaja membuat alasan agar dirinya datang dan mendengarkan. Ia pun tidak dapat
menghindar, sehingga ia duduk bersama mereka dengan niat awal untuk mengusir mereka.
Namun apa yang dialami Usaid ra., dialami pula oleh Sa’ad ra. Ketika Mush’ab ra. membacakan
Al-Qur’an, hatinya pun luluh, wajahnya berubah, dan ia merasakan kedamaian yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya hingga akhirnya Sa’ad bin Mu’adz ra. juga memeluk Islam.
Sa’ad bin Muaz ra. mendakwahi kaumnya untuk masuk Islam
Sa’ad ra. kemudian pergi menemui kaumnya. Ketika mereka melihatnya datang, mereka
berkata, “Demi Allah, ia kembali dengan wajah yang berbeda dari ketika ia pergi.” Wajahnya
memancarkan ketenangan dan aura keimanan setelah masuk Islam.
Saat berdiri di hadapan kaumnya, ia berkata, “Wahai Bani ‘Abdul-Asyhal, kalian tahu
bagaimana kedudukanku di tengah kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin
kami, orang yang paling teguh pendapatnya, dan yang paling layak menjadi pelindung serta
pembimbing kami.”
Sa’ad ra. berkata, “Demi Allah, pembicaraan laki-laki dan perempuan di antara kalian
diharamkan bagiku hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Maka tidak ada seorang pun, baik laki-laki maupun perempuan, yang tetap dalam kekafiran
kecuali satu orang, yaitu Al-Usairim. Ia menunda keislamannya hingga perang Uhud. Pada hari
itu, ia masuk Islam, maju berperang, dan gugur sebagai syahid tanpa pernah sujud sekali pun.
Nabi saw. bersabda tentangnya:“Ia melakukan amal yang sedikit, tetapi memperoleh pahala yang besar.”
Setelah itu, Mush’ab ra. terus berdakwah hingga hampir tidak ada satu rumah pun dari
kalangan Anshar kecuali dihuni oleh laki-laki dan perempuan Muslim. Pengecualian hanya
rumah-rumah Bani Umayyah bin Zaid, Khatmah, dan Wa’il, di antara mereka adalah penyair
Qais bin Al-Aslat. Mereka tetap menolak karena mengikuti Qais bin Al-Aslat, dan baru
menerima Islam pada perang Khandaq, tahun kelima Hijriah.
Menjelang musim haji berikutnya, tahun ketiga belas kenabian, Mush’ab bin ‘Umair ra.
kembali ke Mekah membawa kabar gembira kepada Rasulullah saw.: kabar tersebarnya Islam
di Yatsrib, kekuatan suku-sukunya, serta kesiapan mereka untuk menerima Islam dan
membela Rasulullah saw.