Kamis, 19 Februari 2026

Juragan Dapur - tulisan Ghufran Aziz di Lampung

 Kue Keranjang Dan SPPG



Saat saya kecil, pas sebelah rumah kami tinggal adalah keluarga keturunan Tionghoa yang biasa kami sapa dengan panggilan Babah Sam Qiun. Entah nama aslinya siapa. Masih dalam satu deretan juga ada beberapa keluarga keturunan yang membuka toko. Oleh karena itu bila menjelang tahun baru Imlek, kami selalu mendapat kiriman kue keranjang dari mereka. Saat itu kita tidak menyebutnya Imlek (tahun baru) tetapi dengan istilah lain yaitu Kuo Nien (Hokian) yang lidah kita melafalkannya "konyen atau konyan. Dalam bahasa Mandarin, Guo Nien. Berasal dari guo yang berarti melawati dan nien yang artinya tahun.


Kue keranjang dalam bahasa Mandarin disebut Nian Gao dan dalam bahasa Hokkian disebut Ni-kwee; artinya kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali pada masa menjelang tahun baru Imlek. Di Indonesia disebut kue keranjang karena dibuat dalam wadah seperti keranjang bolong.

Kue keranjang sering disebut juga dengan "dodol cina" karena bahan dasarnya memang seperti dodol yaitu tepung, ketan, air dan gula.

Sehingga bila berdasarkan bahan pembuatannya, maka kue keranjang itu ya halal. Untuk lainnya, proses dan lainnya, bagaimana hukumnya itu bukan kapasitas dan kewenangan saya.


Konon, pada awalnya kue ini dibuat sebagai persembahan bagi Dewa Dapur atau Dewa Tungku (Cau Kun Kong) agar dewa Cau Kun Kong membuat laporan yang menyenangkan, misalnya tidak melaporkan adanya sedikit tilepan keuangan dapur, kepada raja Surga (Giok Hong Siang Te).


Dikemudian hari kue keranjang yang  berbentuk bulat silnder dimaknai sebagai melambangkan kelimpahan dan harapan untuk keberuntungan yang terus bertumbuh di tahun baru. Juga sebagai harapan agar keluarga selalu bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.


Masyarakat Tionghoa masih menggunakan sistem kalender bulan untuk menentukan hari tradisinya dan hari hari baik untuk menentukan hari pernikahan. Tetapi mereka juga menerima kalender baru (Masehi) yang berdasarkan matahari. Oleh karena itu kalender Tionghoa merupakan kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari.


Hari hari tradisi seperti Imlek, Cap Gomeh dan Cheng beng atau Qing ming ditentukan melalui penanggalan Lunar atau bulan.


Sejak pemerintah Gus Dur mengakui agama Kong Hu Chu sebagai agama resmi yang diakui melalui Kepres no 6 tahun 2000, masyarakat Tionghoa di Indonesia lebih semarak dalam merayakan Tahun Baru Imlek seperti hari ini.


Entah mengapa, Konyen-an tahun ini kok saya teringat dengan ribuan dapur MBG, yang disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Giszi disingkat SPPG.

Ini bermula dari melihat kritik mahasiswa UGM (asli) yang dalam demo-nya ada spanduk plesetan MBG= Maling Berkedok Gizi.


Ini mengingatkan tentang bagaimana dulu para juru dapur China dimasa kuno membuat kue keranjang untuk jamuan alias menyuap dewa dapur agar membuat laporan kepada Giok Hong Siang Te alias si Raja Surga bahwa dapur keluarga bangsawan atau istana kerajaan tertentu hasil auditnya bagus, wts/wtp.

Karena sejak dahulu penangung jawab dapur dimasa China kuno sudah terbiasa melakukan praktek korupsi dan mark up untuk mencari selisih harga. Misalnya tertulis harga satuan (porsi) 15 yuan padahal dalam prakteknya hanya 10 yuan. Sehingga ada selisih harga 5 yuan. Agar juru dapur tetap aman maka dia perlu menyisihkan 1 yuan untuk aparat dewa dapu dan 1 yuan lagi jatah preman, ditambah dengan satu bingkisan kue keranjang untuk menyuap (mungkin semacam sesajen) untuk Dewa Dapur.


Nah, karena semua pihak yang berkepentingan sudah mendapatkan bagiannya, maka setiap pergantian tahun, laporan akhir tahunnya klir bukan kliru.

Para juru dapur itu sangat faham bahwa penilepan anggaran yang dilakukan sendirian dan hanya untuk sendiri akan mudah terdeteksi. Maka kuncinya adalah berbagi, meskipun tidak harus bagito (bagi roto) cukup dengan berbagi secara proporsional. Sesuai dengan tupoksi, tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Kalau kata teman saya yang anak Kebon Pisang, dibagi dengan cara: sire-kite, sire-kite

Tidak ada komentar:

Posting Komentar