Kamis, 03 Oktober 2024

Sederhana dalam Beribadah

 


Sederhana dalam Beribadah


Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, Imam al-Nawawi membuat sebuah bab khusus berjudul Al-Iqtishad fi al-Ibadah, sederhana dalam beribadah. Melalui ayat-ayat dan hadis-hadis yang disitirnya, Imam al-Nawawi secara eksplisit menegaskan bahwa dalam beribadah seorang muslim dianjurkan untuk sederhana dan proporsional, bekerja sesuai ritme, sehingga ibadah yang dilaksanakan mampu berlangsung maksimal dan khidmat.


Terdapat 2 ayat dan 11 hadis yang dikutip oleh Imam al-Nawawi dalam bab tersebut yang diambil dari berbagai kitab induk hadis.


Dua ayat yang dinukil oleh Imam al-Nawawi dalam bab ini adalah surat Thaha ayat 1 dan surat surat al-Baqoroh ayat 185, masing-masing memiliki terjemahan sebagai berikut,


مَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لِتَشْقٰٓى ۙ


 “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.”


يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ


“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”


Melalui dua ayat tersebut, Imam al-Nawawi hendak menegaskan bahwa beragama perlu dilaksanakan dengan maksimal, namun ia tidak mesti menjadikan susah orang yang melaksanakannya.


Melengkapi maksud ayat di atas, dicantumkan berikutnya hadis-hadis yang bersinggungan dengan tema terkait. Di antaranya adalah sabda Rasulullah Saw,


“Suatu Ketika datang sekelompok orang menuju rumah isteri-isteri Nabi, mereka menanyakan perihal ibadah Nabi Saw. Tatakla mereka diberitahukan soal ibadah Nabi, mereka menilai hal tersebut sebagai sedikit. Dan seorang dari mereka berkata, “Di mana posisi kita dibanding Nabi Saw? Sedangkan beliau adalah sosok yang telah diampuni dosa yang telah lampau dan yang akan datang!


Kemudian berkata salah seorang dari mereka, “Saya akan shalat sepanjang malam penuh tanpa jeda!” yang lain berkata, “Saya akan puasa selama setahun penuh tanpa berbuka!” yang lain berkata, “Saya akan menjahui perempuan dan tidak akan menikah selamanya!” Kemudian datang Rasulullah Saw dan berkata kepada mereka, “Kalian yang ngomong seperti tadi? Demi Allah Adapun saya adalah orang paling takut di antara kalian kepada Allah Swt dan saya adalah yang paling bertakwa di antara kalian, akan tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan saya tidur, dan saya menikahi perempuan. Barangsiapa yang benci akan sunnahku maka ia bukan bagian dariku.” (HR. Bukhari).


Segenap sahabat yang menginginkan ibadah tanpa henti tersebut ditegur oleh Rasulullah Saw langsung agar tetap stabil dalam beribadah, tidak memaksa diri sehingga melalaikan yang lain. Hal ini tentu merupakan salah satu upaya Nabi menjelaskan bahwa syariat Islam tetap berjalan sesuai dengan koridor yang ditentukan, dan bahwa koridor tersebut telah disesuaikan dengan kadar kemampuan kita sebagai manusia yang memiliki berbagai kesibukan kehidupan, sehingga ia tidak memberatkan. Bayangkan jika Rasulullah membenarkan seseorang tersebut untuk berpuasa selama setahun tanpa berbuka sedangkan badannya perlu diasup makanan, untuk shalat sepanjang malam tanpa tidur sedangkan besoknya ia berkewajiban mencari nafkah, untuk tidak menikah selamanya sedangkan pengadaan keturunan manusia harus terus berlanjut?


Hadis lain adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu juhayfah Wahb ibn Abdullah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Saw mempersaudarakan Salman al-Farisi dengan Abu al-Darda’. Suatu ketika Salman mengunjungi Abu al-Darda’, ia mendapati bahwa Umm al-Darda’ berpakaian ala kadarnya (tidak bersolek). Kemudian ia berkata, “Ada apa denganmu?” Ia menjawab, “Saudaramu Abu al-Darda’ tidak ada minat terhadap dunia.”


Kemudian datang Abu al-Darda’, membuatkan untuk Salman seporsi makanan, kemudian ia berkata, “Makanlah, wahai Salman, sesungguhnya saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sampai kamu juga ikut makan,” maka kemudian ia ikut makan. Tatkala tiba malam, Abu al-Darda’ bangun (hendak melaksanakan shalat malam), kemudian Salman berkata, “Tidurlah” Kemudian ia tidur. Kemudian Abu al-Darda’ hendak bangun lagi (dengan niat yang sama, yakni melaksanakan shalat malam), kemudian Salman berkata padanya, “Tidurlah”


Kemudian, tatkala tiba akhir malam, Salman berkata kepada Abu al-Darda’, “Sekarang bangunlah,” maka keduanya menunaikan shalat malam bersama. Kemudian Salman berkata kepada Abu al-Darda’, “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliku hak atasmu, keluargamu memiliki hak atasmu, maka tunaikanlah setiap hak tersebut pada tempatnya” Kemudian datang Rasulullah Saw dan ia menceritakan hal tersebut kepada Nabi, Nabi bersabda, “Telah benar Salman.”


Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di atas menjelaskan posisi Nabi yang membenarkan Salman melarang saudaran Abu al-Darda’ untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, jika dengan hal tersebut malah akan memudaratkannya. Hal ini sebagaimana disimpulkan oleh Mustafa Said al-Khan dari hadis tersebut perihal kebolehan pelarangan pelaksanaan ibadah-ibadah mustahabb (yang dianjurkan, sunnah) jika hal tersebut berdampak pada penghilangan hak-hak yang seharusnya ditunaikan.


Ibadah yang kita lakukan seyogyanya dilaksanakan dengan khidmat dan sesuai dengan kadar kondisi dan kemampuan kita. Selain dituntut mengerjakan hal-hal yang wajib, kita juga sangat dianjurkan melakukan ibadah-ibadah sunnah sebagai pelengkap ibadah wajib kita. Kendati demikian, kita tetap perlu menakar diri agar ibadah yang kita lakukan tidak membuat kita bosan, kita perlu menjaga ritme ibadah kita agar senantiasa terasa khidmat, dan kita perlu berhati-hati agar tidak menjadi golongan yang berlebihan dalam beribadah. (ditulis ulang oleh agus ahmad hidayat)

Selasa, 01 Oktober 2024

Lima hal yang aku berharap tidak melihatnya pada umatku

 DOSA PENYEBAB BENCANA

 

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:


" يا معشر المهاجرين خصال خمس إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ : لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. َلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ .وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا .وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ .وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ".


”Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya-:                                                                                                                                                                                                                                                           

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               1. Tidaklah nampak zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya

 

2. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka. 


3. Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.


4. Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.


5. Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Qur’an) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad shahih)."


Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2/1332 no 4019), Abu Nu’aim (8/333), al-Hakim (no. 8623) dan Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)


Hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang mulia ini disebutkan oleh al-Hafizh al-Munziri rahimahullah dalam kitabnya at-Targhib wa at-Tarhib dalam bab Peringatan dari Mengurangi Takaran dan Timbangan. Sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: 


“Maksudnya ada lima sifat atau perbuatan yang jika kalian terjatuh ke dalamnya, niscaya akan datang azab dan siksaan dari sisi Allah di dunia disebabkan kelima perbuatan tersebut. Kelima hal ini wajib bagi setiap orang untuk menjauhinya. Dan wajib bagi mereka untuk mencermati dan merenungi hadits ini dan hadits-hadits yang lain dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, supaya mereka mengetahui penyakit-penyakit yang ada di ummat ini, supaya mereka tahu kenapa kaum Muslimin sekarang terhina di hadapan orang kafir, kenapa orang kafir bisa menghinakan kaum Muslimin di berbagai tempat? Maka sebenarnya kesalahannya ada pada diri diri kita sendiri, diri kaum Muslimin sendiri, perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'alaini: 


”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS. Asy-Syuraa: 30)

 

Jadi karena perbuatan yang dilakukan oleh kedua tangan manusia, Allah Subhanahu wa Ta'ala menimpakan musibah kepada mereka, baik yang dirasakan di dunia maupun di akhirat.

 

1. Zina Tersebar dan Dilakukan Secara Terang-Terangan

                                                                                                                                                                      Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

 

 لم تظهر الفاحشة في قوم قط حتى يعلنوا بها إلا فشا فيهم الطاعون والأوجاع التي لم تكن قد مضت في أسلافهم الذين مضوا 

 

”Tidaklah nampak zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.”

 

Bencana dan musibah ini menimpa manusia, maka jika mereka melakukan kemaksiatan ini maka akan datang musibah yang lain di belakang itu, yaitu musibah-musibah dan penyakit. 


Musibah ini adalah perbuatan keji (yaitu zina), apabila ia telah nampak di tengah-tengah manusia dan tersebar, maka mereka pantas mendapatkan wabah penyakit yang belum pernah terbesit dalam pikiran mereka dan sama sekali belum pernah mereka lihat sebelumnya.

 

Maka mereka tidak malu lagi untuk berbuat kemaksiatan, mereka tidak peduli kalau aktivitas haram mereka dilihat orang, dan bahkan sebagian mereka bangga kalau telah melakukan hal tersebut. Kita lihat seorang laki-laki berjalan bersama wanita yang bukan mahramnya, di jalan-jalan, di pantai, mal-mal dan lain-lain. Mereka melakukan apa saja yang mereka suka dari berbagai macam perbuatan maksiat tanpa ada rasa bersalah, dan tidak ada satu pun yang mengingkari dan mencegah perbuatan mereka. 


Bahkan yang sangat disayangkan pemerintah di sebagian negeri-negeri Islam mendorong dan membuat undang-undang yang membolehkan zina.

 

Mereka melarang para pemuda untuk menikah dini, mereka memberikan persepsi yang buruk bagi pernikahan dini. 


Seolah-olah masalah rumah tangga yang ada adalah disebabkan oleh nikah dini, padahal kalau kita lihat orang-orang yang nikah di usia “matang” pun banyak yang mengalami permasalahan rumah tangga. 


Mereka lebih menganjurkan pacaran walaupun dalam waktu yang lama dari pada menikah. Padahal hal itu adalah salah satu sarana menuju perzinaan, dan juga penyebab tersebarnya penyakit kelamin yang menular. 


Dan penyakit-penyakit tersebut adalah bentukl teguran Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.

 

Dan hendaknya kita pun ikut andil dalam mencegah dan menanggulangi tersebarnya perzinaan dan sarana-sarananya, karena musibah-musibah yang ditimbulkan dari perbuatan zina juga bisa menimpa orang yang tidak melakukannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

”Dan takutlah kalilan pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kalian.”(QS. Al-Anfaal: 25)

 

Maka musibah tidak hanya menimpa pelaku-pelaku zina itu saja, namun ia akan menimpa semuanya, baik pelaku maupun bukan.  


2. Mengurangi Takaran dan Timbangan


Sabda beliau shallallohu 'alaihi wasallam:

  

 ولم ينقص المكيال والميزان إلا أخذوا بالسنين، وشدة المؤنة، وجور السلطان 

 

”Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.

 

Maksudnya adalah mereka ditimpa kekeringan dan paceklik, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala menahan hujan dari mereka (Dia tidak menurunkan hujan untuk mereka), dan jika bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan maka Allah akan mengirimkan musibah kepada mereka berupa serangga, ulat dan hama penyakit lain yang merusak tanaman. 


Dan jika tanaman itu berbuah maka buahnya tidak ada rasa manis dan segar. Betapa banyak petani yang melakukan kecurangan mendapati buah-buahannya tidak memiliki rasa.

 

Dan disebutkan di dalamnya hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

 

 لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة كانوا من أخبث الناس كيلاً

 

”Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang ke Madinah, mereka (penduduk Madinah) adalah termasuk orang yang paling curang dalam takaran.”

 

Maksudnya, penduduk Madinah dan kaum Anshar radhiyallahu 'anhum sebelum datangnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ke Madinah, dahulu mereka sudah terbiasa dengan bertansaksi dalam jual beli. 


Dan mereka adalah manusia yang paling curang dalam takaran, atau termasuk di antara manusia yang paling curang dalam takaran. 


Yakni, mereka curang dalam masalah takaran dan timbangan, dan mereka menguranginya dalam masalah itu. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah, Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan beberapa ayat al-Qur’an. Dan di antara ayat yang turun adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

 

 وَيْلُ  لِلْمُطَفِّفِينَ  الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ  وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ  

 

”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)

 

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun membacakannya di hadapan mereka. Maka setelah itu mereka (penduduk Madinah dan kaum Anshar) menjadi orang yang paling baik/bagus dalam masalah timbangan dan takaran. 


Ini adalah makna hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan al-Baihaqi rahimahumullah dalam Syu’abul Iman dan yang lainnya. Dan hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)

 

Jadi karena kecurangan mereka terhadap sesamanya, maka Allah menghukum mereka dengan adanya kekeringan dan paceklik, kehidupan yang susah, kebutuhan yang semakin bertambah, harga barang-barang yang semakin naik dan ditambah lagi dengan kezahaliman penguasa terhadap mereka. 


Oleh sebab itu kalau kita ingin lepas dari berbagai macam musibah di atas maka kuncinya adalah kejujuran ketika menakar dan menimbang dan berlaku adil dalam berjual beli.

 

3. Enggan Membayar Zakat

 

Sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: 


وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

 

”Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari merekai (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.”

 

Jika manusia menahan zakat mereka, tidak mau menunaikannya, dan membuat siasat (tipu muslihat) supaya bisa lepas dari kewajiban zakat, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menahan dan tidak menurunkan hujan kepada mereka. 


Seandainya tidak karena keberadaan binatang-binatang niscya Allah tidak akan menurunkan hujan kepada manusia, karena manusia tidak berhak mendapatkan hujan tersebut. 


Ini tentunya sesuai dengan sebuah kaidah bahwasanya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya.

 

4. Melanggar Perjanjian


وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

 

” Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki."

 

5. Akibat Berhukum Dengan Selain Al-Qur’an dan As-Sunnah


Sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam:

 

 وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

 

”Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Qur’an) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.”

 

Maksudnya, jika mereka tidak berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengambil kebaikan dari Kitab Allah dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka. Maka jikalau mereka meninggalkan al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga mereka berhukum dengan selain yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Allah akan menjadikan sebagian mereka musuh bagi sebagian yang lain, karena urusan mereka semata-mata hanyalah seputar dunia. Lalu Allah cabut kebaikan dari hati-hati mereka, dan akhirnya datanglah siksa dari Rabb semesta Alam. 

Fenomena fanatisme terhadap kelompok begitu kentara

 Keislamanmu, Bukan Kelompokmu



Slogan _Nahnu muslim qabla kulli syai'_ (Kita adalah muslim sebelum menjadi apa pun), nampaknya perlu diperkuat 


Fenomena fanatisme terhadap kelompok, golongan, organisasi, perkumpulan, majelis, guru, begitu kentara apalagi di dunia medsos


Sangat telanjang perilaku para fanatikus bahwa kebanggaan dan kecintaan mereka kepada hal-hal itu lebih besar daripada kebanggaan dan kecintaan kepada Islamnya


Bergabung kepada sebuah komunitas lalu bangga dan cinta kepadanya, karena di dalamnya ada banyak kebaikan dan manfaat, pada prinsipnya tidaklah mengapa. Boleh-boleh saja, bahkan sangat bagus jika diniatkan sebagai kendaraan untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.  Allah Ta'ala berfirman:


وتعاونوا على البر والتقوى


_Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan._ (QS. Al Maidah: 2) 


Sayangnya, tidak sedikit yang tergelincir dalam fanatisme dan cinta buta kepada kelompok, golongan, atau guru, walau bisa jadi mereka tidak menyadarinya. 


Mereka senang dan kegirangan jika kelompok lain atau Ustadz lain tergelincir, dan mereka akan ikut membuka aibnya. Sebaliknya mereka akan tutupi kebaikan dan manfaat yang muncul dari ustadz dan kelompok lainnya. 


Kesadaran untuk husnuzhan menghilang jika yang membuat kesalahan adalah kelompok lain, justru mereka senang jika kelompok lain salah, tapi mereka mengajak husnuzhan jika yang buat kesalahan adalah kelompoknya sendiri. 


Ada pun jika kelompoknya berbuat kebaikan maka akan digembar-gemborkan, tapi jika melakukan kesalahan bahkan penyimpangan, justru dibela habis habisan. 


Jika ada kebenaran datangnya dari kelompok atau ustadz lain mereka tetap menolaknya, bahkan mendengar pun tidak sudi. Mereka anggap kebenaran hanya ada pada kelompoknya saja atau gurunya, selainnya pasti salah. Kultus tingkat paling mengerikan. 


Itulah salah satu potret fanatisme, di antara potret-potret yang lainnya. Mirip yang digambarkan dalam Al-Quran:


كُلُّ حِزْبِ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ


_Setiap kelompok membangga-banggakan apa-apa yang ada pada mereka._ (QS. Al Mu'minun: 53) 


Sungguh, keislaman kita yang menyelamatkan dunia dan akhirat kita. Islam yang lapang dan lurus (hanifiyah samhah) dan membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin), menjadi nampak sempit oleh sikap fanatisme kelompok sebagian umatnya. 


Allah Ta'ala sudah menamakan kita sebagai "muslimun", maka berhentilah di situ, dan berbangga dan berbahagialah dengannya. Jangan sempitkan kelapangan Islam dengan fanatisme jahiliyah .. 


Allah Ta'ala berfirman:


هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ... 


_Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. *Sejak dahulu, Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian kaum muslimin...*_ (QS. Al-Hajj: 78) 


Kamis, 26 September 2024

Terlarang, berhubungan dengan jin

 Tidak boleh berhubungan dengan Jin


Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat & informasi yang shahih) dari Rasulullah saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.

Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.

Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.

Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt berfirman:

Makna “dari jenismu sendiri’ adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan.

Beberapa Informasi tentang  Jin dari Al-Quran & Hadits

a.  Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia

Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin, sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.

b.  Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan

Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka berkembang biak.

c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin

Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.

d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.

Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka.

Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا. رواه مسلم

Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada mereka sedikit pun. (Muslim)

Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).

Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.

Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah swt.

Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah.

Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:

Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi”. (Shad (38): 35).

Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na’udzu billah.








Selasa, 17 September 2024

Bersyukur

 SYUKUR


Iman Santoso, Lc.


Allah Ta’ala berfirman: 


فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ 


_“Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”_ (QS An-Naml 40 ) 


Itulah nabi Sulaiman as, seorang rasul dan raja.  Mendapatkan puncak keni’matan dunia dengan ditundukkannya mahluk Allah padanya, beliau bersyukur kepada Allah. Pada sisi yang berlawanan saat Qarun mendapatkan karunia harta yang sangat banyak, dia berkata, “ Sesungguhnya harta kekayaan ini, tidak lain kecuali  dari hasil kehebatan ilmuku” (QS Al-Qashash 78). 

Dua kisah yang bertolak belakang menghasilkan akhir kesudahan yang berbeda. Nabi Sulaiman as mendapatkan karunia di dunia dan akhirat, sedangkan Qarun, harta yang diberikan Allah padanya di dunia menyebabkannya  diadzab Allah di dunia dan akhirat karena kekufurannya akan ni’mat Allah. 


Demikianlah bahwa fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan tersebut. _Golongan pertama_, manusia yang mendapatkan ni’mat Allah dan mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan _golongan kedua_, manusia yang mendapatkan banyak ni’mat lalu mereka kufur atas ni’mat tersebut.


Golongan pertama yaitu para nabi, shidiqqin, syuhada dan shalihin ( QS 4: 69-70). Golongan kedua mereka inilah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Fir’aun, Qarun, Abu Lahab, Abu Jahal dan para pengikut mereka dari masa ke masa.  Orang yang bersyukur akan mendapat tambahan ni'mat dan puncaknya, meraih puncak ni'mat di surga. Sebaliknya bagi orang yang kufur, maka akan mendapatkan adzab, puncaknya adzab di neraka. 


وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد


_Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”_ (QS Ibrahim: 7 )


Sedangkan secara kolektif kemasyarakatan, syukur akan menghasilkan kesejahteraan, kedamaian dan kufur akan menyebabkan; kesempitan, kegersangan dan kesusahan. Allah berfirman:


وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ 


_“ Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan ( dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”_ (QS An Nahl 112)


NI’MAT ALLAH


Sejatinya ni’mat Allah itu sangat banyak dan tidak terhitung. Sungguh betapa zhalimnya manusia, bergelimangan dengan ni’mat Allah tetapi tidak bersyukur kepada-Nya (QS 14: 34). Ni’mat yang Allah berikan kepada manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah)  dan batin (baatinah) serta gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam keni’matan itu dan mengingatkan kepada manusia agar bersyukur terhadap  ni’mat tersebut, dengan menyebutkan ayat secara  berulang-ulang sebanyak 31 kali, “ Maka ni’mat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan ?” 


Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha Pemurah, Ar-Rahmaan. Urutan ni’mat yang disebutkan dalam surat Ar-Rahman adalah, ni’mat Al-Qur’an; ni’mat penciptaan manusia dan ni’mat kemampuan  berbicara atau orasi, ni’mat menulis atau literasi. Selanjutnya banyak ni’mat lain disebutkan dalam surat ini,  “ Maka ni’mat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan ?”


Secara umum ni’mat yang Allah berikan kepada manusia terbagi menjadi tiga, ni’mat Pedoman Hidup _(Manhajul Hayah)_, ni’mat Sarana Kehidupan _(Wasailul Hayah)_ dan Ni’mat Kemenangan _(gabungan antara Manhajul Hayah dan Wasailul Hayah)_


_Pedoman Hidup (Manhajul Hayah)_


Ni’mat pedoman hidup  yaitu;  ni’mat Iman, ni’mat Islam dan ni’mat  al-Qur’an.  Ni’mat ini lebih besar dari seluruh harta dunia dan seisinya. Ni’mat ini mengantarkan orang-orang beriman dapat menjalani hidupnya dengan lurus, penuh kejelasan dan terang benderang. Mereka mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram. 


Al-Qur’an banyak sekali membuat perumpamaan orang yang tidak menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, diantaranya digambarkan seperti binatang secara umum dan  binatang tertentu secara khusus, seperti; anjing, keledai, kera dan babi (QS, 7: 176, 62:5, 8: 55, 5:60). Diumpamakan juga seperti orang yang berjalan dengan kepala (67: 22), buta dan tuli (5:71), jatuh dari langit dan disambar burung (22: 31) kayu yang tersandar (63:4 ) dan lainnya.  


_Sarana Hidup ( Wasailul Hayah)_


Dalam surat An-Nahl ayat 78, ada ni’mat yang lain yang harus disyukuri manusia, “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.


Cobalah renungkan ! Bagaimana jika manusia hidup di dunia dalam kondisi buta, maka dia tidak dapat melihat. Seluruh yang ada dihadapannya adalah sama. Tidak dapat melihat keindahan warna-warni dan tidak dapat melihat keindahan alam semesta. Coba sekali lagi renungkan ! Bagaimana jadinya jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta dan tuli. Maka dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan coba sekali lagi renungkan ! Jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta, tuli dan gila. Maka hidupnya dihabiskan di rumah sakit, menjadi beban yang lainnya. Demikianlah ni’mat penglihatan, pendengaran dan akal. Demikianlah ni’mat sarana kehidupan yang lain seperti bumi dengan segala isinya dll. 


_Pertolongan (An-Nashr)_


Ada satu bentuk keni’matan lagi yang akan Allah berikan kepada orang-orang beriman disebabkan mereka  komitmen dengan manhaj Allah dan berdakwah untuk menegakkan sistem Islam, yaitu  pertolongan Allah, “ Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad 7).


Pertolongan Allah itu sangat banyak bentuknya, diantaranya perlindungan dan tempat menetap (al-iwaa), dukungan Allah sehingga menjadi kuat (ta’yiid), rizki yang baik-baik, kemenangan (al-fath), kekuasaan (al-istikhlaaf), pengokohan agama (tamkinud-din) dan berbagai macam bentuk pertolongan Allah yang lain (QS Al-Anfaal  26, as-Shaaf 10-13 dan An-Nuur 55). 


Segala bentuk keni’matan tersebut baik yang zhahir, bathin, maupun gabungan antara keduanya haruslah direspon dengan syukur secara optimal. 


Cara Bersyukur


Bersyukur harus memenuhi  tiga unsur, i'tiraf (pengakuan hati); lisan (memuji Allah dengan mengucapkan tahmid) dan anggota badan dengan mentaati perintah Allah dan meninggalkan larangannya, atau bertaqwa. Allah berfirman: 


وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 


_Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur. (QS Ali-Imran 123)._


Jumat, 13 September 2024

Ada Lima kewajiban muslim

 

Mendengar, satu di antara kewajibam muslim

Iman Santoso, Lc.

وعن الْحَارِثَ الْأَشْعَرِيَّ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أنه قال: «آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ الله أَمَرَنِي بِهِنَّ: السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ، وَالْجِهَادُ، وَالْهِجْرَةُ وَالْجَمَاعَةُ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قِيدَ شِبْرٍ؛ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ إِلَّا أَنْ يَرْجِعَ، وَمَنْ ادَّعَى دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ، فَإِنَّهُ مِنْ جُثَا جَهَنَّمَ»، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ الله وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ؟، قَالَ: «وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ؛ فَادْعُوا بِدَعْوَى الله الَّذِي سَمَّاكُمْ الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ الله»، رواه أحمد، والترمذي، وقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Al-Harits Al-Asyari ra dari Nabi saw bersabda, "Saya perintahkan pada kalian dengan lima hal, dimana Allah memerintahkanku dengannya; mendengar, taat, jihad, hijrah dan jamaah. Sesungguhnya siapa yang meninggalkan jamaah satu jengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam di lehernya, kecuali ia kembali. Siapa yang menyeru dengan seruan jahiliyyah, maka dia bagian dari bangkai jahannam. Berkata seseorang, "Ya Rasulullah saw, walaupun ia sholat dan puasa ? Rasul saw bersabda," Walaupun ia sholat dan puasa, maka serulah dengan seruan Allah yang telah menamakan dirimu muslimin mukminin hamba-hamba Allah" (HR Ahmad dan At-Tirmidzi dan berkata, hadits ini hasan shahih).

Hadits Rasul saw ini merupakan petunjuk, panduan dan pedoman hidup bagi setiap muslim. Pada saat Rasul saw masih hidup hadits ini pelaksanaannya sangat jelas, demikian juga saat  pemerintahan Islam di masa Khulafur Rasyidin, bahkan di masa Bani Umayyah sampai  khilafah Turki Utsmani.  

Namun, setelah khilafah Turki Utsmani jatuh,  umat Islam terpecah ke dalam berbagai negara bangsa, mayoritasnya negara sekuler, maka umat Islam kehilangan kekuatan, kepemimpinan dan jamaah yang menyatukan mereka. Bahkan, Palestina, tanah waqaf Islam, juga jatuh ke tangan penjajah, sampai sekarang. 

Sehingga  5 kewajiban ini sangat penting untuk dilaksanakan setiap muslim, yaitu; mendengar, taat, jihad, hijrah dan jamaah. Hadits riwayat Ahmad menyebutkan urutannya, jamaah dahulu, baru mendengar, taat, hijrah dan jihad. 

1. Mendengar (As-Sam'u)

Maksudnya adalah menerima, disebutkan dalam kitab 'Aridhotul Ahwadzi, yang dimaksud mendengar disini bukan menangkap secara fisik, tetapi al-qabul atau menerima,  termasuk menerima arahan  pimpinan Islam yang bukan maksiat. Inilah dasar dari agama dan prinsip dalam kebaikan.

2. Taat 

Langkah kedua adalah taat, yang merupakan buah dari sikap menerima. Lawan taat adalah maksiat atau menyimpang yang mencakup semua dosa, besar dan kecil serta berbagai macam kesalahan. 

Berkata Al-Mubarokfuri dalam syarh At-Tirmidzi, mendengar (menerima) dan taat kepada pemimpin pada sesuatu yang bukan kemaksiatan. 

Mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlaq adapun mendengar dan taat pada ulul amri dari orang beriman dan  pemimpin Islam bersifat muqoyyad atau terbatas pada sesuatu  yang bukan maksiat. 

3. Jihad. 

 Jihad adalah mengerahkan segala potensi untuk menegakkan kalimat Allah.  Jihad fisabilillah  dilakukan dengan segala bentuknya, baik dengan harta maupun jiwa. Dalam banyak ayat dan hadits jihad, khususnya perang dilakukan atas perintah pemimpin dan tidak dapat dilakukan sendiri. 

4. Hijrah. 

Hijrah secara umum terbagi dua, hijrah makaniyah (tempat) dan hijrah ma'nawiyah (nilai). Hijrah nilai adalah kewajiban bagi setiap muslim, kapan saja dan dimana saja. Rasulullah saw bersabda:

 «المهاجر من هجر ما نهى الله عنه»؛ 
"Muhajir adalah orang yang hijrah (meninggalkan) dari apa yang dilarang Allah" (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan hijrah tempat, seperti hijrah dari negeri kafir ke negeri muslim, atau negeri zhalim ke negeri adil dilakukan sesuai arahan pemimpin Islam, sebagaimana Rasul saw memerintahkan sahabatnya berhijrah ke Habasyah, hijrah berikutnya  ke Madinah. 
 
5. Jamaah. 

Abu Ishak As-Syatibi dalam kitabnya Al-I'tisham menyebutkan makna jamaah ada 5, yaitu: 
1. As-Sawadul Azham (mayoritas umat Islam) 
2. Jamaah para ulama mujtahidun. 
3. Khusus para sahabat Nabi saw. 
4. Jamaah ahlul Islam. 
5. Jamaatul muslimin. 

Jika kita melihat realitas sekarang, maka 5 kewajiban ini saling terkait, ketika Rasulullah saw hidup, maka yang dimaksud mendengar, taat, hijrah, jihad dan  jamaah, semua terkait Rasul saw. Mendengar dan taat pada Rasul saw, hijrah dan jihad bersama Rasul saw dan sesuai dengan perintahnya.  Begitu juga jamaah berarti jamaah Rasul saw. 

Demikian juga setelah Rasul saw wafat dan pemimpin Islam berpindah ke Khulafaur Rasyidin selanjutnya para pemimpin Islam  dari Bani Umayyah sampai Turki Utsmani, maka mereka adalah representasi jamaatul muslimin dan kelima kewajiban di atas dapat dilaksanakan dengan baik. 

Setelah Turki Utsmani jatuh sampai sekarang, maka kelima kewajiban tersebut seolah kehilangan legalitas dan otoritasnya. Sehingga kewajiban utama yang mendesak bagi umat Islam yaitu bahwa mereka harus berjamaah atau mengikuti jamaah atau bergabung dalam jamaah, dimana disitu ada pemimpinnya, umat Islam  mendengar dan taat, hijrah dan bergabung ke dalam jamaah tersebut. Dan jihad fi sabilillah dapat ditegakkan melalui jamaah tersebut. 

Demikianlah bahwa hadits di atas menekankan pentingnya berjamaah, dan tidak keluar dari jamaah, bahkan siapa yang keluar dari jamaah seperti telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya. Hadits juga mengingatkan bagi setiap muslim untuk tidak menyeru dengan seruan Jahiliyah, seperti asobiyah, kebanggan terhadap aturan, prilaku dan tardisi yang bertentangan dengan Islam. 

Kehidupan Istri Rasulullah dan pernik kehidupan berkeluarga

 Melihat Keluarga Rasulullah

Siti Khadijah merupakan istri yang paling dicintai Nabi Muhammad. Bahkan, selama 25 tahun pernikahan mereka, Rasulullah tidak

pernah menikah dengan perempuan lain. Nabi Muhammad baru menikah lagi setelah Siti Khadijah meninggal pada hari kesebelas Ramadan tahun ke-10 kenabian, atau sekitar tahun 619 Masehi di Mekah sebelum hijrah.


Kemudian Rasulullah Saw menikah dengan Saudah ra dan setelah itu menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq. Aisyah merupakan satu-satunya istri Nabi Muhammad yang masih gadis, sementara yang lain berstatus janda. Dalam sebuah riwayat, Aisyah

pernah mengungkapkan bahwa alasan pernikahannya dengan Nabi Muhammad berawal dari mimpi nabi Muhammad  didatangi Jibril yang membawa secarik kain sutra dengan gambar Aisyah. Mimpi tersebut datang sebanyak tiga kali berturut-turut, yang menjadi salah satu alasan Nabi memutuskan untuk menikahi Aisyah. Rasulullah Saw bersabda:

"Aku melihatmu (Aisyah) dalam mimpiku selama tiga malam. Malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih. Malaikat itu berkata, 'Ini adalah istrimu'. Lalu kusingkapkan penutup wajahmu, ternyata itu adalah dirimu. Aku bergumam, 'Seandainya mimpi ini datangnya dari Allah, pasti akan menjadikannya nyata'."(HR. Bukhari dan Muslim)


Aisyah hidup bersama Nabi Muhammad SAW kurang lebih sembilan tahun—hingga Nabi wafat. Mereka mengarungi bahtera rumah

tangga dengan penuh keridhaan dan kasih sayang.  Aisyah memiliki kedudukan dan keistimewaan tersendiri di hati Nabi. Ia juga

begitu dicintai Nabi sehingga sebagian sahabat menyebutnya dengan ‘kekasih Rasulullah’. 

Pada suatu kesempatan,  Aisyah pernah bertanya perihal bagaimana cinta Nabikepadanya. Beliau menjawab, cintanya kepada Aisyah itu seperti 'simpul tali' yang tidak pernah berubah. Atas hal itu, Nabi Muhammad meminta kepada para sahabatnya agar juga mencintai Aisyah dan tidak menyakitinya. 


Aisyah dan Nabi Muhammad kerap kali bermanja-manjaan, baik melalui ucapan maupun tindakan.  Nabi seringkali memanggil Aisyah dengan panggilan sayang seperti Humaira—isim tasghir, bentuk kata yang

bermakna sesuatu yang mungil untuk memanjakan dan menunjukkan kecintaan.

Humairah berasal dari kata hamra yang berarti putih kemerah-merahan. Nabi terkadang juga menyapa Aisyah dengan ‘Aisy’, dengan gaya bahasa tarkhim—membuang huruf terakhir untuk menunjukkan kemanjaan dan kesayangan. Ketika istrinya tersebut marah, Nabi mencubit hidungnya dan memanggilnya dengan Uways (panggilan kecil Aisyah).("Kemesraan Nabi Bersama Istri; Adib al- Kamdani, 2007),


Dalam suatu hadits riwayat Bukhari, Muslim,dan Ibnu Hibban, Sayyidah Aisyah mengaku pernah mandi junub bersama dengan Nabi.

Jadi tangan mereka bergantian mengambil air dari satu bejana. Nabi juga pernah mencium Aisyah padahal keduanya tengah berpuasa di

siang hari bulan Ramadhan.  Aisyah juga sering diajak Nabi Muhammad bermain-main. Teman-temannya didatangkan ke rumah untuk

bermain bersama. Digendong Nabi di atas punggungnya ketika  menonton pentas tari yang dimainkan Bani Arfadah pada hari raya.


Meski demikian, kehidupan rumah tangga Aisyah dan Nabi Muhammad juga mengalami gelombang persoalan. Tidak romantis terus-

terusan dan berjalan tanpa masalah. Karena cemburu, hoaks, hingga persoalan ekonomi menjadi bumbu rumah tangga mereka berdua. 


Rumah tangga nabi Saw dan Aisyah pernah bergejolak saat kaum munafik dan para bazer melontarkan tuduhan palsu, haditsul ifki,

tentang Aisyah dan sahabat Shafwan sekembalinya dari perang bani Musthalik.

Tuduhan hoax ini sempat viral di Madinah yang kemudian menyebabkan Rasulullah Saw gelisah dan memulangkan Aisyah kerumah orangtuanya. Bukan karena beliau Saw tidak percaya dengan kesucian Aisyah, tetapi karena kuatnya berita gosip. Berita yang digosok

tambah sip. Sampai kemudian Allah membantahnya melalui wahyu dalam surat An Nur: 11-20 tentang bersihnya Aisyah serta pentingnya  tabayun dan tidak mudah terprovokasi oleh berita dari orang orang

munafik yang KTP muslim tapi sesungguhnya membenci Islam.


Sebagai "kekasih kesayangan nabi", Aisyah menegaskan bahwa dirinya tidak pernah cemburu dengan istri-istri Nabi yang lainnya,

kecuali  Khadijah, cinta pertama dan istri pertama beliau Saw yang sudah wafat.

Kalaupun ada, kadang Aisyah cemburu kepada Zainab binti Jahsy, istri dan sekaligus sepupu nabi.  Zainab dinikahi karena perintah Allah dalam Al Ahzab ayat 37.  Menurut Aisyah, Zainab adalah istri nabi yang kecantikannya setara dengannya.


Di sisi lain,  Aisyah menjadi pusat kecemburuan istri-istri Nabi yang lainnya. Bagaimana tidak,para sahabat sering kali memberi Nabi hadiahketika beliau berada di rumah Aisyah.

Sementara ketika di rumah istrinya yang lain,tidak. Atas hal itu, Ummu Salamah—yang mewakili ummul mukminin lainnya—mengadu

kepada Nabi. Ia minta kepada Nabi agar memerintahkan orang-orang tidak hanya memberi hadiah ketika beliau berada di rumah

Aisyah saja, tetapi juga ketika di rumah istrinya yang lain. Menaggapi itu nabi Saw bersabda:"Hai Ummu Salamah, janganlah engkau sakiti aku dalam urusan Aisyah. Sebab, demi Allah,

tidak ada wahyu yang turun kepadaku saat akuberada dalam selimut seorang istri di antara kalian kecuali dia." 


Suatu riwayat menyebutkan bahwa nabi pernah bermunajat kepada Allah perihal istri istrinya:

Ya Allah sesungguhnya apa yang aku miliki telah aku berikan secara adil, tetapi masalah hati, ia adalah milik Mu...


Maksudnya adalah kepada para istrinya, Rasulullah Saw telah membagi secara adil tentang waktu kunjungan, perhatian, perlindungan dan nafkah. Tapi rasa cinta yang lebih besar kepada Aisyah adalah kehendak Allah, yang nabi tidak mampu membagi rata.

Namun begitu bukan berarti beliau tidak mencintai istrinya yang lain. 

Rasulullah SAW pernah bersabda: "Aku diberi rizki berupa rasa cinta kepada istriku"  (HR Muslim).


Karena itu, nabi tidak pernah KDRT kepada istri istrinya. "Aisyah ra. pernah bertutur: Suamiku tidak pernah memukul istrinya meskipun hanya sekali." (HR Nasa'i).


Wallahua'lam bi shawab 

(Ghufron Azis Fuadi)