Petunjuk
: Buatlah Editorial berdasarkan
sajian gambar yang tersedia. Anda boleh memilih gambar yang disukai yang
memberikan inspirasi dalam penulisan. Gambar itu memberikan dorongan kepada
anda untuk menemukan masalah yang ada didalamnya. Jadikan masalah itu dalam
tulisan editorial. Buatlah judul editorial yang sesuai dengan kupasan,
lengkapilah dengan data secukupnya serta kemukakan argumen yang mendukungnya.
(alamat blog: http://wisata-foto.blogspot.com) Sajian berbagai tulisan, kutipan sebagai bahan komunikasi. Dihimpun oleh Agus Ahmad Hidayat-
Rabu, 25 September 2019
Editorial - Tajuk Rencana
Editorial
Tulisan yang ada di koran atau majalah yang merupakan pendapat redaksi tersebut terhadap masalah yang ada di masyarakat, yang masalah itu bisa berupa hal faktual, fenomenal, atau kontroversial yang ditulis secara ilmiah- eksposisi (ekspositoris) yang menjelaskan, mengklarifikasi yang paragrafnya dikembangkan berupa contoh, definisi, perbandingan, yang strukturnya dimulai dengan kalimat tesis diikuti argumentasi dan diakhiri dengan penegasan. Nama lain editorial adalah tajuk rencana.contoh editorial
Kado Tahun Baru dari Pertamina
Pertamina mengirim kado tahun baru yang pahit kepada masyarakat. Menaikkan harga elpiji tabung 12 kg lebih dari 50 persen. Akibatnya sampai di tingkat konsumen hargnya menjadi Rp 125.000,00 hingga 123.000,00. Bahkan di lokasi yang relatih jauh dari pangkalan mencapai Rp 150.000,00.
Sungguh kenaikan harga itu merupakan kado yang tidak simpatik tidak bijak dan tidak logis. Masyarakat konsumen menjadi terkaget kaget, karena kenaikan tanpa didahului sosialisasi. Pertamina memutuskan secara sepihak seraya mengiringinya dengan alasan yang terkesan logis. Merugi Rp 22 triliun selam 6 tahun sebagi dampak kenaikan harga di pasar internasional serta melemahnya nilai tukar ruoiah terhadap dolar AS.
contoh berita
Disertasi doktor Abdul Aziz
tentang konsep 'Milk al-Yamin' sebagai keabsahan hubungan seksual non-marital
atau di luar pernikahan menjadi kontroversi. Rektor Universitas Islam Negeri
(UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Yudian Wahyudi menilai, isi disertasi
Abdul Aziz tidak cocok diterapkan di Indonesia.
"Tidak cocok untuk di
Indonesia, khususnya umat Islam atau bangsa Indonesia secara keseluruhan,"
kata Yudian Wahyudi di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Dikutip dari
Antara, Selasa (3/9)
Hal itu disampaikan Yudian,
untuk meluruskan kontroversi yang muncul terkait disertasi mahasiswa Program
Doktor UIN Sunan Kalijaga, Adul Aziz yang berjudul "Konsep Milk Al-Yamin:
Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital".
Menurut Yudian, dewan
penguji meluluskan disertasi Abdul Aziz dengan nilai sangat memuaskan bukan
berarti serta merta sepakat konsep 'Milk Al-Yamin' diterapkan di Indonesia.
Meski demikian, Abdul Aziz
sebagai peneliti dinilai objektif dalam mengkaji dan mengkritisi pendapat dari
intelektual muslim asal Suriah Muhammad Syahrur, baik dari segi linguistik
maupun pendekatan gender.
Jika ingin diberlakukan,
pandangan Syahrur harus ditambah akad nikah, wali, saksi dan mahar.
Konsekuensinya, kata-kata Syahrur "jika masyarakat menerima", maka
harus mendapatkan legitimasi dari ijmak.
"Dalam konteks
Indonesia dibuat usulan melalui MUI kemudian dikirim ke DPR, agar disahkan jadi
Undang-Undang. Tanpa proses ini tidak dapat diberlakukan di Indonesia,"
kata dia.
Salah satu penguji
disertasi Abdul Aziz, Prof Euis Nurlaila mengatakan disertasi itu merupakan
kajian ilmiah atas pemikiran Syahrur. Abdul Aziz memahami bahwa konsep 'Milk
Al-Yamin' hubungan seksual di luar pernikahan diperbolehkan dalam Islam.
Dalam disertasinya, Abdul
menekankan bahwa Syahrur mengembangkan konsep ini untuk diterapkan di masa
sekarang dalam beberapa bentuk pernikahan atau tepatnya hubungan seksual
seperti nikah misyar, nikah pertemanan atau lainnya.
"Tujuan Syahrur dalam
pemahaman penulis (Abdul Aziz) adalah untuk melindungi institusi perkawinan
yang diagungkan Syariat Islam untuk menjadi keluarga yang sakinah, bahagia dan
damai," kata dia.
Sementara itu, Alimatul
Qibtiyah, penguji disertasi Abdul Aziz lainnya, menilai pemikiran Syahrur
mengakui konsep 'Milk Al-Yamin' problematis terutama jika dilihat dari
perspektif kesetaraan gender.
Perspektif yang digunakan Syahrur,
menurut dia, lebih menekankan kriteria perempuan yang boleh dinikahi secara
non-marital (nikah hanya untuk kepuasan seksual).
"Tidak melihat dampak
yang ditimbulkan terhadap istri pertama (istri yang ada di rumah), kesehatan
reproduksi, hak-hak anak, dan hak-hak perempuan dari pernikahan
non-marital," kata dia.
Promotor disertasi Abdul
Aziz, Prof Khoirudin Nasution menjelaskan dalam disertasi yang ditulis Abdul
Aziz, konsep Milk Al Yamin yang dicetuskan oleh Muhammad Syahrur mencoba
mengontekstualisasikan dalam kehidupan kontemporer sekarang dengan beberapa
perkawinan yang bertujuan memenuhi kebutuhan biologis yakni nikah al-mut'ah,
nikah al-muhallil, nikah al-'irfi, nikah al-misfar, nikah friend, serta nikah
al-musakanah.
Nikah-nikah sejenis itu,
menurut dia, umum dilakukan orang-orang Eropa, termasuk Rusia, di mana Syahrur
hidup lama. Secara hermeneutika konteks inilah yang menginspirasi pandangan
Syahrur.
"Jenis-jenis nikah ini
telah ada dalam tradisi Muslim dengan hukum kontraversial. Ada ulama yang
membolehkan, dan ada Muslim yang mengamalkan. Sebaliknya ada ulama yang
mengharamkan," kata Khoirudin.
Khoirudin mengatakan dalam
konsepnya, Syahrur ingin menyampaikan pesan agar masyarakat tidak begitu
mudahnya menyebut atau menuduh orang berzina. Sebab syarat pembuktian zina
sesuai Kitab Suci Alquran sangat ketat dan harus disaksikan empat orang saksi.
"Syahrur ingin
mengubah hukum zina yang didasarkan pada sentimen pribadi (politik), bukan atas
pembuktian," kata dia.
Sayangnya, lanjut Khoirudin,
dalam abstrak disertasi Abdul Aziz tidak menulis kritik tersebut. Abdul, kata
dia, justru menyebut konsep Syahrur ini sebagai teori baru dan dapat dijadikan
justifikasi keabsahan hubungan seksual non-marital.
"Kalimat terakhir ini
juga menjadi bagian dari keberatan tim penguji promosi. Selanjutnya, tim
meminta Abdul Aziz menyempurnakan abstrak untuk disesuaikan dengan isi
disertasi," kata dia.
Sementara itu, saat
dimintai konfirmasi Abdul Aziz yang juga dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta
menjelaskan bahwa latar belakang disertasi itu ditulis antara lain untuk
merespons fenomena kriminalisasi hubungan seksual non-marital, yang dicontohkan
dalam kasus perajaman di aceh karena zina pada 1999.
Contoh lainnya, di Ambon di
mana anggota laskar jihad dihukum mati karena dianggap zina. Demikian pula
dibanyak tempat di luar negeri seperti di Nigeria. Semua itu merupakan fenomena
yang berangkat dari menstigma hubungan seksual di luar nikah.
Senin, 26 Agustus 2019
Membedakan Teks Cerita Sejarah dan Teks Sejarah
Cermatilah teks berikut! Temukan ciri khas pada kedua teks itu!
Apa perbedaan teks cerita sejarah dan teks sejarah ?
Teks 1
Sebelas November 1785, keluarga kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berbahagia. Hamengku Buwono III (HB-III), hari itu, mempunyai anak pertama yang dinamai Antawirya. Konon Hamengkubuwono I (HB-I) sangat tertarik pada cicitnya itu. Ia, katanya, akan melebihi kebesarannya. Ia akan memusnahkan Belanda. Antawirya dibesarkan di Tegalrejo dalam asuhan Ratu Ageng, istri HB-I. Di sana ia belajar mengaji Quran dan nilai-nilai Islam. Tegalrejo juga memungkinkannya untuk lebih dekat dengan rakyat. Spiritualitasnya makin terasah dengan kesukaannya berkhalwat atau menyepi di bukit-bukit dan gua sekitarnya.
Hal demikian membuat Antawirya semakin tak menikmati bila berada di kraton yang mewah, dan bahkan sering mengadakan acara-acara model Barat. Termasuk dengan pesta mabuknya. Kabarnya, Antawirya hanya "sowan" ayahnya dua kali dalam setahun. Yakni saat Idul Fitri dan 'Gerebeg Maulid".
Antawirya kemudian bergelar Pangeran Diponegoro. Ia tumbuh sebagai seorang yang sangat disegani. Ayahnya hendak memilihnya sebagai putra mahkota. Ia menolak. Ia tak dapat menikmati tinggal di istana. Ia malah menyarankan ayahnya agar memilih Djarot, adiknya, sebagai putra mahkota. Ia hanya akan mendampingi Djarot kelak.
Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda.
Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo. Saran-saran Diponegoro tak digubris.
Teks 2
Ontowiryo, anak laki sepuluh tahun nan cakep ini- yang dikenal rakyat sekitar Tegalrejo sebagai Seh Ngabdulrohim dan kelak terkenal antero Nusantara sebagai Pangeran Diponegori-berlaki-lari keder di pematang sawah Mantra, setelah menyeberangi Kali Winongo, menuju ke puri tempat tinggal nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri Sultan Hamengku Buwono I yang biasa disebut Sultan Swargi.
Dari kejauhan Ratu Ageng yang mengasuh Ontowiryo sejak bayi, sudah melihat cucu-cicitnya berlari-lari begitu. Dalam caranya berlari, sang nenek menyimpulkan, bahwa ada hal istimewa yang pasti akan diperkatakan oleh cucunya itu.
Setiba di rumah, Ontowiryo mengempas badan, ndeprok, terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuh. Dan melihat itu, Ratu Ageng tertawa, juga merengut, merasa lucu.
Kata Ratu Ageng,"Kamu kenapa,Wir? Kailmu mana?Kok Kamu terbirit-birit seperti baru melihat setan.”
"Memang," sahut Ontowiryo bersemangat untuk meyakinkan nenek buyutnya."Aku memang baru melihat setan,Nek."
Ratu Ageng tertawa. Dalam hatinya berlangsung rasa maklum, bahwa anak-anak seusia Ontowiryo yang baru berusia sepuluh tahun pada 1795 ini, lumrah dibayang-bayangi oleh berbagai fantasi. Oleh karena itu berkata dia mencandai cucunya,"O ya?Kamu melihat setan ya?"
Ontowiryo merasa diremehkan. Katanya tawar namun tetap bersemangat untuk meyakinkan,"Kok Nenek tidak percaya?"
"Tidak," sangkal Ratu Ageng untuk menyenangkan hati Ontowiryo. Dan, kencati begitu, Ratu Ageng menggurauinya. "Tapi setannya seperti apa? Gundul apa gondrong, Wir?"
Merasa terus dicandai. Ontowiryo pun berkata gregetan, "Aku bersungguh-sungguh, Nek."
"Ya, ya, Nenek tahu," kata Ratu Ageng.
Ontowiryo makin serius. "Sungguh, Nek. Aku melihat setan di seberang sungai sana."
Kegiatan
Tunjukkan/temukan kata atau kelompok kata yang menunjukkan hal yang lampau?
Teks manakah yang menggunakan kalimat langsung? Bisakah menemukan ciri kalimat langsung?
Adakah dialog pada teks itu? lebih banya pada teks 1 ataukah teks2; manakah yang teks cerita sejarah dan manakah yang teks sejarah?
Bisakah membedakan dan memberi contoh kata kerja tindakan dan kata kerja keinginan atau cita-cita?
Adakah hal yang dirasakan secara emosional pada teks itu? berikan contoh dengan mengutip kalimat yang menunjukkan hal yang dirasakan!
Berikan contoh kata penunjuk waktu pada teks tersebut!
Apa perbedaan teks cerita sejarah dan teks sejarah ?
Teks 1
Sebelas November 1785, keluarga kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berbahagia. Hamengku Buwono III (HB-III), hari itu, mempunyai anak pertama yang dinamai Antawirya. Konon Hamengkubuwono I (HB-I) sangat tertarik pada cicitnya itu. Ia, katanya, akan melebihi kebesarannya. Ia akan memusnahkan Belanda. Antawirya dibesarkan di Tegalrejo dalam asuhan Ratu Ageng, istri HB-I. Di sana ia belajar mengaji Quran dan nilai-nilai Islam. Tegalrejo juga memungkinkannya untuk lebih dekat dengan rakyat. Spiritualitasnya makin terasah dengan kesukaannya berkhalwat atau menyepi di bukit-bukit dan gua sekitarnya.
Hal demikian membuat Antawirya semakin tak menikmati bila berada di kraton yang mewah, dan bahkan sering mengadakan acara-acara model Barat. Termasuk dengan pesta mabuknya. Kabarnya, Antawirya hanya "sowan" ayahnya dua kali dalam setahun. Yakni saat Idul Fitri dan 'Gerebeg Maulid".
Antawirya kemudian bergelar Pangeran Diponegoro. Ia tumbuh sebagai seorang yang sangat disegani. Ayahnya hendak memilihnya sebagai putra mahkota. Ia menolak. Ia tak dapat menikmati tinggal di istana. Ia malah menyarankan ayahnya agar memilih Djarot, adiknya, sebagai putra mahkota. Ia hanya akan mendampingi Djarot kelak.
Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda.
Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo. Saran-saran Diponegoro tak digubris.
Teks 2
Ontowiryo, anak laki sepuluh tahun nan cakep ini- yang dikenal rakyat sekitar Tegalrejo sebagai Seh Ngabdulrohim dan kelak terkenal antero Nusantara sebagai Pangeran Diponegori-berlaki-lari keder di pematang sawah Mantra, setelah menyeberangi Kali Winongo, menuju ke puri tempat tinggal nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri Sultan Hamengku Buwono I yang biasa disebut Sultan Swargi.
Dari kejauhan Ratu Ageng yang mengasuh Ontowiryo sejak bayi, sudah melihat cucu-cicitnya berlari-lari begitu. Dalam caranya berlari, sang nenek menyimpulkan, bahwa ada hal istimewa yang pasti akan diperkatakan oleh cucunya itu.
Setiba di rumah, Ontowiryo mengempas badan, ndeprok, terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuh. Dan melihat itu, Ratu Ageng tertawa, juga merengut, merasa lucu.
Kata Ratu Ageng,"Kamu kenapa,Wir? Kailmu mana?Kok Kamu terbirit-birit seperti baru melihat setan.”
"Memang," sahut Ontowiryo bersemangat untuk meyakinkan nenek buyutnya."Aku memang baru melihat setan,Nek."
Ratu Ageng tertawa. Dalam hatinya berlangsung rasa maklum, bahwa anak-anak seusia Ontowiryo yang baru berusia sepuluh tahun pada 1795 ini, lumrah dibayang-bayangi oleh berbagai fantasi. Oleh karena itu berkata dia mencandai cucunya,"O ya?Kamu melihat setan ya?"
Ontowiryo merasa diremehkan. Katanya tawar namun tetap bersemangat untuk meyakinkan,"Kok Nenek tidak percaya?"
"Tidak," sangkal Ratu Ageng untuk menyenangkan hati Ontowiryo. Dan, kencati begitu, Ratu Ageng menggurauinya. "Tapi setannya seperti apa? Gundul apa gondrong, Wir?"
Merasa terus dicandai. Ontowiryo pun berkata gregetan, "Aku bersungguh-sungguh, Nek."
"Ya, ya, Nenek tahu," kata Ratu Ageng.
Ontowiryo makin serius. "Sungguh, Nek. Aku melihat setan di seberang sungai sana."
Kegiatan
Tunjukkan/temukan kata atau kelompok kata yang menunjukkan hal yang lampau?
Teks manakah yang menggunakan kalimat langsung? Bisakah menemukan ciri kalimat langsung?
Adakah dialog pada teks itu? lebih banya pada teks 1 ataukah teks2; manakah yang teks cerita sejarah dan manakah yang teks sejarah?
Bisakah membedakan dan memberi contoh kata kerja tindakan dan kata kerja keinginan atau cita-cita?
Adakah hal yang dirasakan secara emosional pada teks itu? berikan contoh dengan mengutip kalimat yang menunjukkan hal yang dirasakan!
Berikan contoh kata penunjuk waktu pada teks tersebut!
Cermati teks di bawah ini. Adakah ciri kebahasaan teks cerita sejarah pada teks di bawah ini? Tunjukkan hal itu!
Gedung inilah bekas kamar yang dihuni pejuang kemerdekaan. Dahulu bangunan ini dijadikan penjara namun kini digunakan menyimpan arsip negara. Pemerintah mulai membangun bagian penting di dalamnya, agar generasi muda dapat merasakan betapa sulit untuk mencapai kemerdekaan. Suasa ketegaran pejuang yang menyatu dengan kesabaran dapat dibangkitkan melalui gedung ini. Pendahulu kita berkata, "Cintai pahlawah, hargai jasa mereka."
Gedung inilah bekas kamar yang dihuni pejuang kemerdekaan. Dahulu bangunan ini dijadikan penjara namun kini digunakan menyimpan arsip negara. Pemerintah mulai membangun bagian penting di dalamnya, agar generasi muda dapat merasakan betapa sulit untuk mencapai kemerdekaan. Suasa ketegaran pejuang yang menyatu dengan kesabaran dapat dibangkitkan melalui gedung ini. Pendahulu kita berkata, "Cintai pahlawah, hargai jasa mereka."
Struktur Cerita Sejarah
Struktur Cerita Sejarah
Cerita sejarah memiliki struktur yang sama dengan karya cerita yang lain, seperti plot atau alur novel, cerpen. Pada umumnya dimulai dengan pengenalan/orientasi dan diakhiri dengan penyelesaian.
Novel sejarah termasuk genre teks cerita ulang. Novel sejarah juga mempunyai struktur teks yang sama dengan struktur novel lainnya, yaitu 1)orientasi, 2)pengungkapan peristiwa, 3)menuju konflik, 4)puncak konflik, 5)penyelesaian, 6)koda
1 Pengenalan Situasi Cerita, Exposition, Orientasi
2 Pengungkapan Peristiwa
3 Menuju Konflik, Rising Action
4 Puncak Konflik, Turning Point, Komplikasi
5 Penyelesaian, Evaluasi, Resolusi
6 Koda
Penjelasan
1 Pengenalan Situasi Cerita, Exposition, Orientasi : pengarang mengenalkan, waktu tempat, peristiwa,tokoh, hubungan antartokoh
2 Pengungkapan Peristiwa: Disajikan peristiwa awal yang menimbulkan masalah/pertentangan
3 Menuju Konflik, Rising Action: Terjadi peningkatan kehebohan, keterlibatan situasi yang menyebabkan kesulitan tokoh
4 Puncak Konflik, Turning Point, Komplikasi: Ini bagian cerita yang paling besar atau mendebarkan, bisa ada perubahan nasib beberapa tokoh atau, berhasil / gagal menyelesaikan masalah
5 Penyelesaian, Evaluasi, Resolusi: Penjelasan atau penilaian tentang sikap, nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Wujud akhir dari kondisi itu.
6 Koda : Komentar keseluruhan isi cerita yang fungsinya sebagai penutup.
Cerita sejarah memiliki struktur yang sama dengan karya cerita yang lain, seperti plot atau alur novel, cerpen. Pada umumnya dimulai dengan pengenalan/orientasi dan diakhiri dengan penyelesaian.
Novel sejarah termasuk genre teks cerita ulang. Novel sejarah juga mempunyai struktur teks yang sama dengan struktur novel lainnya, yaitu 1)orientasi, 2)pengungkapan peristiwa, 3)menuju konflik, 4)puncak konflik, 5)penyelesaian, 6)koda
1 Pengenalan Situasi Cerita, Exposition, Orientasi
2 Pengungkapan Peristiwa
3 Menuju Konflik, Rising Action
4 Puncak Konflik, Turning Point, Komplikasi
5 Penyelesaian, Evaluasi, Resolusi
6 Koda
Penjelasan
1 Pengenalan Situasi Cerita, Exposition, Orientasi : pengarang mengenalkan, waktu tempat, peristiwa,tokoh, hubungan antartokoh
2 Pengungkapan Peristiwa: Disajikan peristiwa awal yang menimbulkan masalah/pertentangan
3 Menuju Konflik, Rising Action: Terjadi peningkatan kehebohan, keterlibatan situasi yang menyebabkan kesulitan tokoh
4 Puncak Konflik, Turning Point, Komplikasi: Ini bagian cerita yang paling besar atau mendebarkan, bisa ada perubahan nasib beberapa tokoh atau, berhasil / gagal menyelesaikan masalah
5 Penyelesaian, Evaluasi, Resolusi: Penjelasan atau penilaian tentang sikap, nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Wujud akhir dari kondisi itu.
6 Koda : Komentar keseluruhan isi cerita yang fungsinya sebagai penutup.
Pahlawan cerpen karya Mohtar Lubis berlatar peristiwa Permesta
Cerita Sejarah
Membaca cerita pendek berlatar kesejarahan
Pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara menginspirasi Mohtar Lubis untuk menulis cerpen berjudul Pahlawan
Bagian 1
Sewaktu aku masih dalam tahanan rezim Soekarno di Rumah Tahanan Militer di Jalan Budi Utomo, Jakarta, telah kudengar namanya dan cerita kepahlawanannya. Mayor Lintang, seorang komandan pasukan Permesta yang gagah berani, seorang pemimpin perang gerilya yang licin dan mahir. Ceritanya saya dengar dari beberapa anggota Permesta yang ditahan di Rumah Tahanan Militer. Mereka mengatakan, setelah pasukan pasukan pusat mendarat di Minahasa, dan pasukan-pasukan Permesta mengundurkan diri ke pegunungan, Mayor Lintang membawa pasukannya ke daerah di sekeliling danau.
Di sana dia berhasil bertahan hampir dua tahun, dan tiap kali pasukan pusat mencoba masuk senantiasa terpukul mundur kembali oleh Mayor Lintang. Ada keistimewaan pasukan Mayor Lintang, cerita mereka pada saya, yaitu pasukan wanitanya. Terdiri dari putri berumur antara 18 hingga 25 tahun. Dan mereka benar-benar ikut berperang, bukan untuk jadi mainan pasukan lelaki. Aduh, jangan coba-coba main dengan mereka, pasti akan dihantam oleh komandan mereka, Letnan Nita. Aduh, galaknya bukan main, tidak takut pada siapa juga. Pandai menembak dengan pistol, senapan, main sangkur, bisa berkelahi dengan tangan kosong, malah dia lebih tahan jalan atau berlari, naik turun gunung daripada prajurit lelaki. Dan herannya dia tetap perempuan, menggairahkan, tetapi jangan coba-coba. Sudah banyak teman-teman yang coba-coba kena tempeleng dan tendangannya. Dia juga menjaga anak buahnya amat kuatnya. Pendeknya pasukan wanita itu tidak ada yang berani ganggu. Sekali waktu ada anak baru datang, dan mencoba mengganggu anak buahnya. Terus saja Letnan Nita menariknya dan tidak ada ampun Nita menendang anunya dengan sepatu raidernya. Anak itu jatuh pingsan. Dan mereka tertawa teringat pada kejadian yang begitu lucu di mata mereka.
Seandainya Mayor tidak tewas tertembak dalam satu pertempuran menghadang pasukan pusat, belum tentu seluruh Minahasa dapat direbut oleh pasukan pusat, kata mereka. Wah, kalau Pak Lintang memang jago Pak, hebat sekali. Pahlawan!
Cerita ini kudengar di tahun 60-an, dan kemudian aku dipindahkan ke berbagai tempat tahanan lain, lalu pecah pemberontakan Gestapu/PKI yang gagal, dan kami tahanan politik rezim Soekarno dibebaskan, dan aku penuh kesibukan baru, sering bekerja ke luar negeri, dan cerita kepahlawanan Mayor Lintang hilang dari ingatanku.
Bagian 2
Sejak semula perempuan muda itu memang suka datang main tenis di lapangan tenis tempat kami main, dan saya merasa senang padanya. Sikapnya baik. Orangnya periang, suka lelucon dan tertawa. Dia nyaris cantik, tetapi garis bibirnya yang terlalu lurus memberikan semacam kekerasan pada wajahnya, yang hanya hilang dan membuat muka menarik, jika dia teresenyum atau tertawa. Akan tetapi jika wajahnya biasa, maka garis bibirnya mengubah wajahnya. Seakan ada dua orang dalam dirinya dengan pribadi yang saling berlainan. Yang satu keras, pendiam, sedang yang sebuah lagi lembut, periang, bergairah, matanya coklat tua, bundar dan besar, giginya putih dan kuat. Dan dia main tenis agresif seperti laki laki. Biasanya, dia tidak bertahan, tetapi menyerang senantiasa. Dia tidak menunggu bola, tetapi menyerang bola yang datang padanya, mengayunkan tangannya jauh ke belakang, dan memukul bola dengan tenaga ketika mengayunkan raketnya dalam pukulan drive tangan kenannya. Pukulan backhandnya juga menyerang, dipukulnya dengan keras dan tajam. Dia selalu bergerak di lapangan, seakan dia kelebihan tenaga , yang harus dipergunakan dan dikeluarkannya, kalau tidak dapat meledak dalam dirinya sendiri.
Aku senang main dengan dia, baik sebagai lawan maupun partnernya. Jika main dalam mixed double, tak ada pasangan lain dapat mengalahkan kami. Karena aku juga punya gaya main seperti dia. Lebih senang menyerang daripada bertahan, dan memukul bola dengan penuh tenaga. Dia kurang suka main volley, dan karena itu aku yang menjaga di depan jaring jika kami berpasangan, dan dia menjaga lapangan di belakang.
Beberapa bulan sejak dia ikut main dengan club kami, dia datang teratur, dan hubungan kami hanya sebagai sesama anggola club, dan senang main bersama. Baru perlahan-lahan dia mulai berbicara tentang dirinya. Yang pertama diceritakannya padaku adalah, bahwa dia keponakan kawan saya. Seorang kawan yang amat akrab dengan saya telah lama sekali.
“Aduh, Tina,” kataku, “mengapa tak kaukatakan dari semula. Saya berani bertaruh dari semula kau sudah tahu siapa aku.”
“Tentu saja,” katanya, “Waktu aku di SMA sudah harus baca buku Bapak.”
“Mengapa tidak mengatakan padaku kau ponakan dia?”
“Ah, malu, nanti Bapak menyangka saya mau dekat-dekat, minta diaku.”
“Saya senang kalau kau merasa dekat dengan saya. Pamanmu itu sudah sama seperti saudara saya. Nah, mulai sekarang jangan malu-malu atau segan-segan lagi,ya.”
Sejak itu dia jadi lebih dekat. Mulai mau menceritakan berbagai pengalamannya. Umpamanya dia menceritakan kurang senang dengan Aziz, anggota club tenis kami, orang muda, telah kawin, dan selalu ingin tiap main, dia dan partnernya harus menang. Diajuga menganggap dirinya seorang lelaki yang jantan, dan tak seorang wanita pun tua atau muda yang dapat menolaknya, jika dia mau mereka. “Aku gemas melihatnya, congkak benar dengan kelelakiannya”, kata Tina. “Dia sudah coba-coba memegang aku, memeluk bahuku. Sekali, pura—ura bercanda. Aku kesal, eh, muak melihat kelakuannya.”
“Kau mau aku bicara dengan dia, memberinya sedikit nasihat?” tanyaku.
“Ah, tak usahlah, biar aku sendiri yang menelesaikannya,” katanya.
cermati dua bagian teks di atas
Tulislah di mana terjadinya peristiwa itu?
Siapa saja pelaku yang terlibat dalam cerita itu?
Kapankah peristiwa itu terjadi?
Membaca cerita pendek berlatar kesejarahan
Pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara menginspirasi Mohtar Lubis untuk menulis cerpen berjudul Pahlawan
Bagian 1
Sewaktu aku masih dalam tahanan rezim Soekarno di Rumah Tahanan Militer di Jalan Budi Utomo, Jakarta, telah kudengar namanya dan cerita kepahlawanannya. Mayor Lintang, seorang komandan pasukan Permesta yang gagah berani, seorang pemimpin perang gerilya yang licin dan mahir. Ceritanya saya dengar dari beberapa anggota Permesta yang ditahan di Rumah Tahanan Militer. Mereka mengatakan, setelah pasukan pasukan pusat mendarat di Minahasa, dan pasukan-pasukan Permesta mengundurkan diri ke pegunungan, Mayor Lintang membawa pasukannya ke daerah di sekeliling danau.
Di sana dia berhasil bertahan hampir dua tahun, dan tiap kali pasukan pusat mencoba masuk senantiasa terpukul mundur kembali oleh Mayor Lintang. Ada keistimewaan pasukan Mayor Lintang, cerita mereka pada saya, yaitu pasukan wanitanya. Terdiri dari putri berumur antara 18 hingga 25 tahun. Dan mereka benar-benar ikut berperang, bukan untuk jadi mainan pasukan lelaki. Aduh, jangan coba-coba main dengan mereka, pasti akan dihantam oleh komandan mereka, Letnan Nita. Aduh, galaknya bukan main, tidak takut pada siapa juga. Pandai menembak dengan pistol, senapan, main sangkur, bisa berkelahi dengan tangan kosong, malah dia lebih tahan jalan atau berlari, naik turun gunung daripada prajurit lelaki. Dan herannya dia tetap perempuan, menggairahkan, tetapi jangan coba-coba. Sudah banyak teman-teman yang coba-coba kena tempeleng dan tendangannya. Dia juga menjaga anak buahnya amat kuatnya. Pendeknya pasukan wanita itu tidak ada yang berani ganggu. Sekali waktu ada anak baru datang, dan mencoba mengganggu anak buahnya. Terus saja Letnan Nita menariknya dan tidak ada ampun Nita menendang anunya dengan sepatu raidernya. Anak itu jatuh pingsan. Dan mereka tertawa teringat pada kejadian yang begitu lucu di mata mereka.
Seandainya Mayor tidak tewas tertembak dalam satu pertempuran menghadang pasukan pusat, belum tentu seluruh Minahasa dapat direbut oleh pasukan pusat, kata mereka. Wah, kalau Pak Lintang memang jago Pak, hebat sekali. Pahlawan!
Cerita ini kudengar di tahun 60-an, dan kemudian aku dipindahkan ke berbagai tempat tahanan lain, lalu pecah pemberontakan Gestapu/PKI yang gagal, dan kami tahanan politik rezim Soekarno dibebaskan, dan aku penuh kesibukan baru, sering bekerja ke luar negeri, dan cerita kepahlawanan Mayor Lintang hilang dari ingatanku.
Bagian 2
Sejak semula perempuan muda itu memang suka datang main tenis di lapangan tenis tempat kami main, dan saya merasa senang padanya. Sikapnya baik. Orangnya periang, suka lelucon dan tertawa. Dia nyaris cantik, tetapi garis bibirnya yang terlalu lurus memberikan semacam kekerasan pada wajahnya, yang hanya hilang dan membuat muka menarik, jika dia teresenyum atau tertawa. Akan tetapi jika wajahnya biasa, maka garis bibirnya mengubah wajahnya. Seakan ada dua orang dalam dirinya dengan pribadi yang saling berlainan. Yang satu keras, pendiam, sedang yang sebuah lagi lembut, periang, bergairah, matanya coklat tua, bundar dan besar, giginya putih dan kuat. Dan dia main tenis agresif seperti laki laki. Biasanya, dia tidak bertahan, tetapi menyerang senantiasa. Dia tidak menunggu bola, tetapi menyerang bola yang datang padanya, mengayunkan tangannya jauh ke belakang, dan memukul bola dengan tenaga ketika mengayunkan raketnya dalam pukulan drive tangan kenannya. Pukulan backhandnya juga menyerang, dipukulnya dengan keras dan tajam. Dia selalu bergerak di lapangan, seakan dia kelebihan tenaga , yang harus dipergunakan dan dikeluarkannya, kalau tidak dapat meledak dalam dirinya sendiri.
Aku senang main dengan dia, baik sebagai lawan maupun partnernya. Jika main dalam mixed double, tak ada pasangan lain dapat mengalahkan kami. Karena aku juga punya gaya main seperti dia. Lebih senang menyerang daripada bertahan, dan memukul bola dengan penuh tenaga. Dia kurang suka main volley, dan karena itu aku yang menjaga di depan jaring jika kami berpasangan, dan dia menjaga lapangan di belakang.
Beberapa bulan sejak dia ikut main dengan club kami, dia datang teratur, dan hubungan kami hanya sebagai sesama anggola club, dan senang main bersama. Baru perlahan-lahan dia mulai berbicara tentang dirinya. Yang pertama diceritakannya padaku adalah, bahwa dia keponakan kawan saya. Seorang kawan yang amat akrab dengan saya telah lama sekali.
“Aduh, Tina,” kataku, “mengapa tak kaukatakan dari semula. Saya berani bertaruh dari semula kau sudah tahu siapa aku.”
“Tentu saja,” katanya, “Waktu aku di SMA sudah harus baca buku Bapak.”
“Mengapa tidak mengatakan padaku kau ponakan dia?”
“Ah, malu, nanti Bapak menyangka saya mau dekat-dekat, minta diaku.”
“Saya senang kalau kau merasa dekat dengan saya. Pamanmu itu sudah sama seperti saudara saya. Nah, mulai sekarang jangan malu-malu atau segan-segan lagi,ya.”
Sejak itu dia jadi lebih dekat. Mulai mau menceritakan berbagai pengalamannya. Umpamanya dia menceritakan kurang senang dengan Aziz, anggota club tenis kami, orang muda, telah kawin, dan selalu ingin tiap main, dia dan partnernya harus menang. Diajuga menganggap dirinya seorang lelaki yang jantan, dan tak seorang wanita pun tua atau muda yang dapat menolaknya, jika dia mau mereka. “Aku gemas melihatnya, congkak benar dengan kelelakiannya”, kata Tina. “Dia sudah coba-coba memegang aku, memeluk bahuku. Sekali, pura—ura bercanda. Aku kesal, eh, muak melihat kelakuannya.”
“Kau mau aku bicara dengan dia, memberinya sedikit nasihat?” tanyaku.
“Ah, tak usahlah, biar aku sendiri yang menelesaikannya,” katanya.
cermati dua bagian teks di atas
Tulislah di mana terjadinya peristiwa itu?
Siapa saja pelaku yang terlibat dalam cerita itu?
Kapankah peristiwa itu terjadi?
Kamis, 15 Agustus 2019
Sejarah Perang Diponegoro
Perang Diponegoro (tahun 1825 - 1830)
Sebelas November 1785, keluarga kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berbahagia. Hamengku Buwono III (HB-III), hari itu, mempunyai anak pertama yang dinamai Antawirya. Konon Hamengkubuwono I (HB-I) sangat tertarik pada cicitnya itu. Ia, -katanya-, akan melebihi kebesarannya. Ia akan memusnahkan Belanda.
Antawirya dibesarkan di Tegalrejo dalam asuhan Ratu Ageng, istri HB-I. Di sana ia belajar mengaji Quran dan nilai-nilai Islam. Tegalrejo juga memungkinkannya untuk lebih dekat dengan rakyat. Spiritualitasnya makin terasah dengan kesukaannya berkhalwat atau menyepi di bukit-bukit dan gua sekitarnya. Hal demikian membuat Antawirya semakin tak menikmati bila berada di kraton yang
mewah, dan bahkan sering mengadakan acara-acara model Barat. Termasuk dengan pesta mabuknya. Kabarnya, Antawirya hanya "sowan" ayahnya dua kali dalam setahun. Yakni saat Idul Fitri dan "Gerebeg Maulid".
Antawirya kemudian bergelar Pangeran Diponegoro. Ia tumbuh sebagai seorang yang sangat disegani. Ayahnya hendak memilihnya sebagai putra mahkota. Ia menolak. Ia tak dapat menikmati tinggal di istana. Ia malah menyarankan ayahnya agar memilih Djarot, adiknya, sebagai putra mahkota. Ia hanya akan mendampingi Djarot kelak.
Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda. Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo.
Saran-saran Diponegoro tak digubris. Danurejo dan Residen Yogya A.H. Smissaert malah berencana membuat jalan raya melewati tanah Diponegoro di Tegalrejo. Tanpa pemberitahuan, mereka mematok-matok tanah tersebut. Para pengikut Diponegoro mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan Danurejo IV mengepung Tegalrejo. Diponegoro telah mengungsikan warga setempat ke bukit-bukit Selarong. Di sana, ia juga mengorganisasikan pasukan. Pertempuran pun pecah.
Upaya damai dicoba dirintis. Belanda dan Danurejo mengutus Pangeran Mangkubumi -keluarga kraton yang masih dihormati Diponegoro. Namun, setelah berdialog, Mangkubumi justru memutuskan bergabung dengan Diponegoro. Gubernur Jenderal van der Capellen memperkuat pasukannya di Yogya. Namun 200 orang tentara itu, termasuk komandannya Kapten Kumsius, tewas di Logorok, Utara Yogya, atas terjangan pasukan Diponegoro di bawah komando Mulyosentiko.
Dalam pertikaian ini, dua kraton Surakarta -Paku Buwono dan Mangkunegoro berpihak pada Belanda. Pasukan pimpinan Tumenggung Surorejo dapat menghancurkan pasukan bantuan Mangkunegoro. Di Magelang, pasukan Haji Usman, Haji Abdul Kadir mengalahkan tentara Belanda dan Tumenggung Danuningrat. Danuningrat tewas di pertempuran itu.
Di Menoreh, Diponegoro sendiri memimpin pertempuran yang menewaskan banyak tentara Belanda dan Bupati Ario Sumodilogo. Markas Prambanan diduduki. Meriam-meriam Belanda berhasil dirampas. Di daerah Bojonegoro-Pati-Rembang, pihak Belanda ditaklukkan pasukan rakyat Sukowati
pimpinan Kartodirjo. Pertahanan Belanda di Madiun dihancurkan pasukan Pangerang Serang dan pangeran Syukur. Belanda kemudian mendatangkan pasukan Jenderal van Geen yang terkenal kejam di Sulawesi Selatan.
Dalam pertempuran di Dekso, SentotAlibasyah menewaskan hampir semua pasukan itu. Van Geen, Kolonel Cochius serta Pangeran Murdoningrat dan Pangeran Panular lolos. Murdoningrat dan Panular kembali menyerang Diponegoro. Kali ini bersama Letnan Habert. Di Lengkong, mereka bentrok. Habert tewas di tangan Diponegoro sendiri. Pasukan Surakarta yang sepakat melawan Diponegoro dihancurkan di Delanggu. Benteng Gowok yang dipimpin Kolonel Le Baron, jatuh dalam serbuan 15-16 Oktober 1826. Diponegoro tertembak di kaki dan dada dalam pertempuran itu. Pasukan Sentot Alibasyah yang tinggal selangkah merebut kraton Surakarta dimintanya mundur. Tujuan perang, kata Diponegoro, adalah melawan Belanda dan bukan bertempur sesama warga.
Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829.
Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam."
De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.
Pergolakan rakyat pimpinan Diponegoro telah menewaskan 80 ribu pasukan di pihak Belanda -baik warga Jawa maupun Belanda dan telah menguras keuangan kolonial. Hal demikian mendorong Belanda untuk memaksakan program tanam paksa yang melahirkan banyak pemberontakan baru dari kalangan ulama. Di Jawa, para pengikut Diponegoro seperti Pangeran Ario Renggo terus melancarkan perlawanan meskipun secara terbatas. (selesai)
Jumat, 02 Agustus 2019
Pramoedya Ananta Toer - Penulis produktif berlatar sejarah revolusi
Novel karya Pramoedya Ananta Toer menghantam tradisi Jawa yang feodalis
Sebut saja nama Pramoedya Ananta Toer, maka kontroversi akan lahir dengan sendirinya. Pram, demikian ia akrab disapa, memang pribadi yang bersegi-segi. Sejumlah kecaman dan segudang pujian, sejumlah kekesalan dan sejumlah keharuan, kehalusan dan kekeraskepalaan. Banyak suara berbeda, pendapat beragam, dialamatkan kepadanya. Namun satu hal adalah tidak mungkin menghadirkan sejarah sastra Indonesia tanpa menyertakan namanya.
Kemunculannya dalam khasanah sastra Indonesia ditandai oleh cerpen-cerpen dan novel-novelnya. Ketika ia kemudian menerbitkan novel "Keluarga Gerilya", tidak bisa tidak namanya tercantum dalam daftar sastrawan Indonesia terkemuka pada era revolusi kemerdekaan. Dalam rrevolusi kemerdekaan itu pula Pramoedya terlibat aktif bukan hanya sebagai pengarang, melainkan pula sebagai serdadu. Ia kemudian dijebloskan Belanda ke dalam tahanan. Novel Keluarga Gerilya lahir dari pengalamannya menjalani tahanan Belanda. Kelak di kemudian hari ia akan bertemu kembali dengan penjara. Namun, bukan penjara penjajah Belanda melainkan penjara negara Republik Indonesia. Di penjara ini pula kelak lahir novel-novelnya yang menggegerkan, yakni Bumi Manusia.
Novel-novel sejarah karya Pramoedya sebagai novelis sejarah terbesar di Indonesia, karena hingga kini tak banyak sastrawan Indonesia yang menulis novel dengan latar sejarah sebanyak dan seintensif Pramoedya. Pada gilirannya merupakan tantangan bagi ilmu sejarah dan kegiatan penelitian sejarah di Indonesia yang hingga kini belum menemukan hasil sekukuh dan semantap novel novel Pramoedya. Sejarah Indonesia sebagai fakta dan sebagai cerita masih merupakan wilayah yang belum dibuka untuk dipercakapkan dengan kritis dan sungguh-sungguh. Bahasa Indonesia Pramoedya masih terasa kemelayu-melayuan. Namun mengherankan, dengan bahasa Indonesia yang tidak semodern Chairil Anwar, Pramoedya dapat menulis novel tak putus-putus demikian banyaknya dengan tetap memikat dan mencuri hati pembaca.
Bagi kaum muda, Pramoedya bisa dijadikan teladan dalam produktivitas dan api kreativitas yang tak kunjung padam dihantam berbagai prahara. Lewat berbagai tokoh cerpen dan novel-novelnya, kita berhadapan juga dengan tokoh-tokoh yang tak putus dirundung malang, dihantam cobaan, digerus angin sejarah dan kekuasaan, namun selalu tegak bertahan bahkan beberapa di antara mereka dijemput kematian. Dalam kenyataan, sebagian besar tokohnya menyanyikan kecintaaan terhadap negerinya walaupun tak putus-putusnya bertepuk sebelah tangan. -Agus R Sarjono-
Sebut saja nama Pramoedya Ananta Toer, maka kontroversi akan lahir dengan sendirinya. Pram, demikian ia akrab disapa, memang pribadi yang bersegi-segi. Sejumlah kecaman dan segudang pujian, sejumlah kekesalan dan sejumlah keharuan, kehalusan dan kekeraskepalaan. Banyak suara berbeda, pendapat beragam, dialamatkan kepadanya. Namun satu hal adalah tidak mungkin menghadirkan sejarah sastra Indonesia tanpa menyertakan namanya.
Kemunculannya dalam khasanah sastra Indonesia ditandai oleh cerpen-cerpen dan novel-novelnya. Ketika ia kemudian menerbitkan novel "Keluarga Gerilya", tidak bisa tidak namanya tercantum dalam daftar sastrawan Indonesia terkemuka pada era revolusi kemerdekaan. Dalam rrevolusi kemerdekaan itu pula Pramoedya terlibat aktif bukan hanya sebagai pengarang, melainkan pula sebagai serdadu. Ia kemudian dijebloskan Belanda ke dalam tahanan. Novel Keluarga Gerilya lahir dari pengalamannya menjalani tahanan Belanda. Kelak di kemudian hari ia akan bertemu kembali dengan penjara. Namun, bukan penjara penjajah Belanda melainkan penjara negara Republik Indonesia. Di penjara ini pula kelak lahir novel-novelnya yang menggegerkan, yakni Bumi Manusia.
Novel-novel sejarah karya Pramoedya sebagai novelis sejarah terbesar di Indonesia, karena hingga kini tak banyak sastrawan Indonesia yang menulis novel dengan latar sejarah sebanyak dan seintensif Pramoedya. Pada gilirannya merupakan tantangan bagi ilmu sejarah dan kegiatan penelitian sejarah di Indonesia yang hingga kini belum menemukan hasil sekukuh dan semantap novel novel Pramoedya. Sejarah Indonesia sebagai fakta dan sebagai cerita masih merupakan wilayah yang belum dibuka untuk dipercakapkan dengan kritis dan sungguh-sungguh. Bahasa Indonesia Pramoedya masih terasa kemelayu-melayuan. Namun mengherankan, dengan bahasa Indonesia yang tidak semodern Chairil Anwar, Pramoedya dapat menulis novel tak putus-putus demikian banyaknya dengan tetap memikat dan mencuri hati pembaca.
Bagi kaum muda, Pramoedya bisa dijadikan teladan dalam produktivitas dan api kreativitas yang tak kunjung padam dihantam berbagai prahara. Lewat berbagai tokoh cerpen dan novel-novelnya, kita berhadapan juga dengan tokoh-tokoh yang tak putus dirundung malang, dihantam cobaan, digerus angin sejarah dan kekuasaan, namun selalu tegak bertahan bahkan beberapa di antara mereka dijemput kematian. Dalam kenyataan, sebagian besar tokohnya menyanyikan kecintaaan terhadap negerinya walaupun tak putus-putusnya bertepuk sebelah tangan. -Agus R Sarjono-
Langganan:
Postingan (Atom)









