Senin, 19 Agustus 2024

Renungan memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan Indonesia

 KEMERDEKAAN*  

 

Tahun ini rakyat dan bangsa Indonesia  kembali merayakan hari kemerdekaan  yang ke 79.  


Perlu diingat kembali, bahwa perjuangan rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Para pahlawan Indonesia harus melalui serangkaian perang dan pertumpahan darah untuk dapat meraihnya. 


Sebelum merdeka pun Indonesia harus mengalami penjajahan dari dua bangsa berbeda yaitu Belanda dan Jepang. 


Masa sulit itu yang membuat rakyat Indonesia bersatu untuk mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan. 


Setelah  peperangan dan derita yang terjadi di berbagai daerah akhirnya bangsa Indonesia dapat meraih udara segar kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.


Kemerdekaan hakikatnya adalah rahmat Allah kepada bangsa ini. Dalam pembukaan UUD 1945 tegas dinyatakan, 


” Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya kehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan kemerdekaannya”.


Dengan kemerdekaan, bangsa Indonesia telah keluar dari belenggu penjajahan yang menzalimi. 


Sekian lama bangsa ini ditindas, diperbudak dan dijarah sumber-sumber kekayaannya. 


Berapa sudah pengorbanan telah diberikan oleh para leluhur bangsa ini jauh sebelum kemerdekaan. 


Saat-saat mana berbagai pahlawan daerah dari Aceh hingga ke Sulawesi. Dari Cut Nya Dien, Cut Mutia, Sultan Iskandar Muda, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, Pattimura, RA Kartini, Dewi Sartika. 


Kemudian perjuangan secara nasional dengan para pahlawan seperti  Haji Samanhudi, HOS Cokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, Ir. Sukarno, Wachid Hasyim, Muh Yamin, Haji Agus Salim, Bung Hatta, Kasman Singodimejo, dan masih banyak lagi yang  lainya. 


Kemerdekaan ini hakikatnya adalah  Allah Ta’ala telah menyelamatkan bangsa ini dari bencana yang sangat dahsyat selama sekian kurun waktu yang lama. Firman Allah Ta’ala: 


قُلِ ٱللَّهُ يُنَجِّيكُم مِّنْهَا وَمِن كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنتُمْ تُشْرِكُونَ


“Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya." (Al-An’aam:  64)

 

Kemerdekaan dari kata merdeka yang berarti bebas dari penghambaan dan eksplotasi sesama manusia akibat dijajah bangsa lain. 


Penjajahan  sering disebut dengan kolonialisme atau pengambilan harta suatu wilayah baik dengan cara paksa atau halus.  


Seperti Romawi,  meluaskan wilayahnya ke berbagai daerah dan negara lain yang kaya karena Romawi harus menghidupi gaya hedonistnya penguasa Roma. Atau negara Eropa di abad pertengahan yang hingga sampai saat ini masih 'menjajah' Afrika dan Asia. 


Di abad 18, Inggris  memiskinkan negara kaya yang memberikan kontribusi 27- 30% ekonomi dunia yang bernama India, disedot kekayaan India dalam 200 tahun dan pada saat merdeka di 1947 hanya tersisa bagi India 3% dari kekayaan dunia. 


Inggris mendapatkan hasil penjarahan terhadap India senilai 45 ribu triliun dollar. 


Begitu pula, Nusantara disedot oleh Belanda yang mana salah satunya membuat Rotterdam menjadi  wilayah perdagangan rempah dunia. 


Lalu ada Amsterdam  sebagai pusat dagang yang bernilai 20 ribu triliun dolar kekayaan Indonesia, jika dihitung sekarang atau senilai 100 kali APBN Indonesia. 


Setelah merdeka kekayaan Indonesia disedot oleh Amerika selama 40 tahun dan China selama 10 tahun terakhir ini. Kira-kira besarnya berapa  ya?


Akibat penjajahan dan kolonialisme ini jelaslah  siapa yang semakin makmur dan kaya, dan siapa yang makin miskin dan terjerembab dalam jurang penderiataan.  

 

Ada tiga dimensi kemerdekaan itu yaitu secara vertikal, horizaontal dan kolektif:


1. Secara vertikal, adalah kemerdekaan  seorang manusia yang terlahir sebagai manusia yang merdeka,  memperoleh kebebasan dalam beribadah kepada Tuhan yang diyakininya dan menjalankan ritual peribadahannya  tanpa merasa takut terintimidasi dan terancam keselamatannya. 


Dua hal inilah yang menjadi  dasar dan pondasi kemerdekaan ini.  


Syariat Islam melarang menghancurkan gereja dan rumah peribadatan agama lain tanpa alasan yang benar kecuali  mereka yang memerangi kaum muslimin dan menjadikan tempat ibadahnya  sebagai markas perang mereka. Allah berfirman: 


ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﺩَﻓْﻊُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﺑِﺒَﻌْﺾٍ ﻟَﻬُﺪِّﻣَﺖْ ﺻَﻮَﺍﻣِﻊُ ﻭَﺑِﻴَﻊٌ ﻭَﺻَﻠَﻮَﺍﺕٌ ﻭَﻣَﺴَﺎﺟِﺪُ ﻳُﺬْﻛَﺮُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ


“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” (Al-Hajj :40)


Dikisahkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra melarang pasukannya menghancurkan gereja dan tempat peribadatan non-muslim dan menuliskan surat yang isinya yang berisi larangan untuk menghancurkan gereja, biara Yahudi dan rumah peribadatan Majusi. 


Hal ini juga sejalan dengan apa yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khattab ra tatkala menguasai masjid Aqsa di Jerusalem, Palestina. Beliau tidak menghancurkan gereja dan sinagog tetapi beliau menjamin kebebasan beragama mereka sebagai bentuk keadilan Islam.


2. Secara horizontal, adalah kemerdekaan yang ditandai dengan adanya penghargaan antar sesama manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama tanpa melihat perbedaan latar belakang, suku dan agama. 


Penghargaan dan pemuliaan ajaran Islam terhadap harkat dan martabat manusia sama sebagaimana Allah telah memuliakan keturunan anak-anak Adam. 


Dalam konteks ini ada hubungan persaudaraan yang bersifat kemanusiaan secara umum karena hidup dalam  satu bumi atau satu negeri yang sama. 


Manusia tidak bisa melepaskan diri dari ikatan interpersonal antara sesama manusia walaupun berbeda dari segi keyakinan, agama dan budaya. 


Keharusan untuk saling menghormati meskipun berbeda difirmankan  Allah Ta’ala:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُم عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujuraat: 13)


Dalam sejarahnya, kaum muslimin melakukan perluasan wilayah bukan untuk meng-aneksi satu negeri dan menguras habis isi kekayaannya. Namun untuk misi dakwah dan memperkenalkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. 


Peperangan terjadi karena misi ini dihalangi dan diperangi oleh kekuatan setara militer sebuah negara. 


Ketika kaum muslimin menang mereka memberikan perlindungan kepada penduduk wilayah yang tidak mau masuk Islam dan diberlakukan dengan kemuliaan sebagai manusia. 


Banyak yang  masuk Islam  karena merasakan kebaikan dan kemuliaan akhlak para pejuang Islam. Saat pasukan Islam tidak lagi mampu  memberikan perlindungan kepada mereka  jizyahpun dikembalikan. 


Demikan pula, Islam masuk ke Nusantara ini bukanlah dengan cara kekerasan, peperangan apalagi penjajahan. 


Islam datang dan menyebar ke seluruh wilayah di bumi Indonesia ini dengan jalan damai dan akultursi budaya yang lembut melalui perdagangan, pernikahan, pendidikan, seni budaya dan pengobatan Islam tradisional. 


3. Secara kolektif,  adalah kemerdekaan yang ditandai dengan  adanya keserasian dalam aspek keadilan dan kesejahteraan secara bersama-sama. 


Atau keadaan di mana masyarakat  mencapai kesejahteraan bersama yang memungkinkan setiap individu dalam masyarakat hidup dengan layak dan bahagia. 


Dasar pijakannya adalah keadilan dalam hukum,  pemerataan ekonomi dan kesejahteraan.

 

Kemerdekaan kolektif ini realitasnya masih jauh dari kenyataan. Ibarat jauhnya panggang dari api. 


Kesejahteraan bersama yang sama-sama sejahtera belum ada. Yang ada adalah keadaan dimana segelintir  orang-orang yang sedikit menguasai sumber-sumber kekayaan dan kesejahteraan. Terjadi stratifikasi kekayaan yang amat besar. 


Di Amerika ada 50 orang kaya yang kekayaannya itu bernilai 20 ribu kali kebanyakan masyarakat umumnya. 


Sementara di negeri kita tercinta ini, Indonesia yang telah merdeka selama 79 tahun, stratifikasi kekayaannya adalah  40 orang kaya bernilai 60 ribu kali kebanyakan masyarakat.


Mengapa ini terjadi? Sebab utamanya adalah sistem politik dan kekuasaan dipegang dan dikendalikan oleh segelintir orang yang berorientasi pada mempertahankan dan meningkatkan kekayaan pribadi. Bukan untuk kesejaheraan masyarakat umum. 


Inilah oligarki yang merupakan antitesa terhadap kemerdekaan kolektf.  


Menurut Aristoteles, oligarki adalah kelompok tertentu yang menguasai dan mengendalikan konsentrasi besar sumber daya material yang  digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekayaan pribadi dan posisi sosial ekslusifnya. Bertujuan demi kepentingan diri sendiri dan menjadikan keadilan tidak ada nilainya.  


Dalam sistem ini penentuan kepemilikan terhadap kekuasaan ditentukan oleh seberapa besar intensitas kekayaan. Sehingga mereka yang memiliki itensitas kekayaan rendah tidak memiliki jalur masuk terhadap praktek kekuasaan. 


Di sepanjang sejarahnya, para oligark merasa bahwa kekayaan itu memberikan kekuasaan sekaligus mendatangkan ancaman.


Merasa terancam inilah yang menjadi dasar untuk melakukan berbagai upaya mempertahankan kekayaannya. 


Kelompok oligarki juga menjalankan politiknya yang disebut dengan politik oligarki  dengan membangun  kekuasaan  melalui kewenangan proxy para elit politik yang  dikuasainya. 


Oligarki sangat mahir dalam membangun aliansi  politik  dengan sistem apapun, baik itu otoratirianisme maupun demokrasi. 


Politik oligarki hanya melahirkan kesengsaraan dan penderitaan bagi kebanyakan masyarakat. 


Dalam masalah ekonomi, gap antara yang kaya dan miskin semakin melebar. Monopoli,  kartel dan mafia.  


Tidak ada keadilan dan terjadi diskriminasi dalam  masalah hukum. 


Sistem ini hanya membawa mushibah bagi bangsa dan negara karena berakibat pada  ketidakadilan hukum dan mafia peradilan, tindak kejahatan yang tersembunyi atau terang-terangan, mengandalkan kedudukan, kekuasaan dan jabatan, korupsi, kolusi dan nepotisme, politik dinasti, kerusakan moral dan lingkungan,  dan lain sebagainya. 


Firman Allah Ta’ala:


وَكَانَ فِى ٱلْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ


 “Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (An-Naml: 48)

 

Islam mengajarkan kepada umatnya agar kesejahteraan dan kekayaan itu diputar tidak hanya pada segelintir orang-orang yang kaya saja. Namun juga harus dirasakan oleh orang kebanyakan masyarakat keseluruhannya. 


Allah Ta’ala berfirman: 


مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ


 “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)


Kesenjangan sosial yang terjadi dimana kekayaan dan kesejahteraan dikuasai oleh segelintir orang saja, sementara mayoritas masyarakat hidup dalam penderitaan karena diterpa oleh kemiskinan yang seakan tiada batas,  membuat satu komunitas masyarakat menjadi tidak sehat. 


Akan  muncul kecemburuan dan kebencian sosial, rawan kejahatan, meningkatnya perilaku kriminal, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dan aparat penegak hukum. 


Ketika rasa putus asa sudah menjadi perasaan kolektif satu masyarakat, maka akan mudah terjadi anarki dan kerusuhan sosial. 


Kondisi ini tentu saja tidak diinginkan oleh siapapun juga. 


Karena itulah Islam mendorong untuk melakukan distribusi kekayaan dan sumber-sumber kesejahteran dengan keadilan dan pemerataan, hal mana ini sesungguhnya sudah tertuang dalam sila yang kelima dari Pancasila:


 “Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.”

 

Ke depannya, kita berharap kondisi bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi  di masa yang akan datang. Dimana keadilan  dan kesejahteraan dapat terealisir secara nyata dan dini'mati oleh segenap rakyat. 


Munculnya pemimpin yang mempunyai perhatian dan empati kepada rakyat dan masyarakatnya. Memimpin dengan penuh kepedulian, kasih sayang dan  perhatian hingga tercipta kebahagiaan bersama. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur adalah sesuatu yang konkrit bukan khayalan semata. Insya Allah. 

Kemerdekaan; tinjauan beberapa dalil al Quran

 KEMERDEKAAN


Kemerdekaan itu :

1. Hak Setiap Manusia

2. Nikmat dari Allah SWT

3. Patut di Syukuri

4. Berkah & Rahmat dari Allah SWT

5. Pertolongan dari Allah SWT


Tokoh-tokoh pemimpin bangsa Indonesia telah berjuang baik tenaga maupun nyawa untuk menyelamatkan rakyat & bangsa Indonesia dari para Penjajah dan semuanya ini adalah atas Pertolongan dari Allah SWT


Kisah Raja Fir'aun menyiksa Bani Israel, dan sampai meninggalkan negara mesir dan Allah SWT telah menyelamatkan Bani Israel dari kekejaman Fir'aun dg mengutus Nabi Musa as.


Kemudian Bani Israel menjadi penguasa dari Timur sampai Barat dan berubah menjadi Syirik, Kafir, Munafik dll, kemudian Allah SWT pergantikan penguasaannya (Baitul Maqdis) kepada umat Islam 


Agama Islam membenci Perbudakan, ribuan tahun terjadi perbudakan diseluruh jasirah Arab, secara perlahan-lahan Agama Islam membebaskan & menghapuskan Perbudakan ini


*Jika Melanggar Sumpah, maka sebagai Muslimin, harus :*

1. Memberikan Makan 10 orang miskin

2. Memberikan Pakaian 10 orang miskin

3. Membebaskan Budak


*Nikmat yg sangat Agung & Besar adalah :*

1. Nikmat AMAN

2. Sehat Badannya

3. Mempunyai Makan & Minuman yg cukup

4. Keluar dari rasa Takut (ini lebih dari makan & minuman)

5. Tentram, Tenang & Damai dalam Hidupnya

6. Tidak ada Rasa Takut kecuali kepada Allah SWT

Jika Nikmat-Nikmat tsb *TIDAK di-SYUKURI* maka akan *HILANG* sehingga kita tidak bisa Menikmatinya lagi


*QS Al-Imran : 151*

"Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu. Dan tempat kembali mereka ialah neraka. Dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim."


*Menysukuri Kenikmatan Kemerdekaan itu :*

1. Harus Tepat & Benar

2. Mencintai Negara, Bangsa & Tanah Airnya (sebagai Tabiat yg Baik)

3. Bebas dari Hawa Nafsu (kecondongan Jiwa Kita kepada Nafsu, hal ini menjadi Faktor Penghalang yg paling besar utk bisa Masuk Surga-NYA Allah SWT)

4. Lepas dari ke-SYIRIKAN (sumber Ketakutan & Kemunafikan)

5. Tunduk & Patuh kepada Allah SWT (Perintah & Larang2an-NYA)

6. Tidak meng-Hambakan kepada Makhluk tapi HANYA kepada Allah SWT (inilah Makna/Arti dari Kemerdekaan itu)


*QS Al-Hadid : 20*

"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."

Berkaca pada sejarah Perbudakan di Amerika

 BUDAK RUMAHAN DAN BUDAK LADANG! 

 

Oleh: Adham Syarqawi


Pada masa perbudakan di Amerika dahulu kala, budak terbagi menjadi dua kelompok:


Budak rumahan dan budak ladang!

Budak ladang diperlakukan seperti binatang. Hanya menjadi makhluk yang membajak, menabur, dan memanen tanaman, tanpa hak apa pun, tanpa rasa hormat, tanpa hari libur, dan tanpa pengobatan!


Mereka bahkan dicambuk pada keteledoran pertama. Tuannya mungkin akan memotong salah satu jari mereka, karena hasil panen tidak sebanyak yang diharapkannya!


Adapun budak rumahan, mereka menganggap diri mereka anggota kelas budak mewah! Mereka memakan sisa makanan majikannya, mengenakan pakaian usang, melayani di rumah, dan memandang budak ladang mempunyai status lebih rendah daripada mereka!


Setiap kali para budak ladang berkumpul untuk membebaskan diri, para budak rumahan menyampaikan berita mereka kepada majikan mereka, sehingga dengan cepat menjatuhkan hukuman paling keras kepada mereka!

 

Jika Anda merenungkan hal di atas, Anda akan melihat fakta berikut:


1. Yang pertama melawan revolusi para budak bukanlah para majikan, melainkan para budak yang menganggap bahwa hak istimewa mereka bergantung pada kelangsungan hidup para majikan!


2. Beberapa budak menganggap mereka tidak terikat, hanya karena tali yang mengikat mereka lebih panjang dari tali yang digunakan untuk mengikat orang lain!


3. Jika seseorang lama berada dalam perbudakan, maka

dia menganggap perbudakan baik-baik saja, puas dengannya, dan menganggap setiap orang yang menuntut kebebasan sebagai pengkhianat!


4. Sebagian orang membenci mereka yang mencoba untuk bebas merdeka, karena jauh di lubuk hati mereka tidak mampu untuk bebas merdeka. Mereka terbiasa bergantung, sedangkan kebebasan menghilangkan ketergantungan ini. Siapa yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam belenggu maka fitrahnya rusak dalam menyikapi kebebasan. Karena itu mereka tidak memihak tuan karena dia tuan. Tidak pula menentang budak karena mereka budak. Hanya saja mereka takut tanggung jawab!

 

Kemudian, jika Anda merenungkan situasi kita saat ini, Anda akan menemukan bahwa kita hidup dalam dua perbudakan; budak ladang dan budak rumahan!


Jika Anda melamar pekerjaan dan mengeluh tentang pengangguran,

bukan tuan yang merespons Anda, tetapi budak rumahan!  Mereka menuduhmu membenci negaramu.


Jika Anda menuntut keadilan sosial, mereka akan menuduh Anda melakukan penghasutan!


Jika Anda bertanya kepada seorang narapidana mengapa dia dipenjara, mereka akan menuduh Anda mendapat dukungan dari luar negeri!


Jika kalian bertanya kepada para budak yang memakai sorban: Mengapa kalian mencela setiap orang yang berbuat zalim, meskipun mereka berada di Kutub Utara, dan menutup mata terhadap orang zalim yang salah satu dari kalian berada sangat dekat dengannya, maka Anda berarti orang luar!


Jika kalian bertanya kepada mereka, bukankah mengingkari penumpahan darah umat Islam lebih baik daripada mengingkari pemendekan pakaian? Mereka menuduhmu antek!


Mereka akan menganggap penguasa sebagai Tuhan yang mereka sembah selain Allah, bahkan jika Anda mengkritik sebuah kalimat dalam pidato presiden, mereka akan bangkit serempak melawan Anda, seolah-olah Anda merobohkan Masjid Al-Aqsa!


Anda tidak berhak bertanya siapa yang menginginkan kemenangan atau mati syahid, bagaimana salah satu dari keduanya akan datang jika Anda tidak berperang?!


Bagaimana orang yang meletakkan senjatanya sejak lama akan menang?!


Persamaan kemenangan atau kekalahan mengharuskan Anda berperang! Selama Anda telah meletakkan senjata, Anda benar-benar keluar dari persamaan!


Bagaimana mungkin seseorang akan mati syahid, menurut syariah, padahal dia membubarkan kelompok perlawanan, mengejar mereka, dan menangkap mereka, karena sang revolusioner tua sudah terbangun dari tidurnya di suatu siang dan malam dan mendapati dirinya sebagai pegawai bagi penjajahnya?!


Bagaimana Anda akan melawan secara damai pasukan yang mengebom Anda dengan pesawat? Kemana arah perdamaian selain hidup di bawah karpet pendudukan?!


Meskipun semua ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang logis dan mendasar, Anda tidak perlu bertanya. Mereka akan muncul di hadapan Anda sama seperti orang-orang Jahiliyah dahulu seraya berkata: Siapakah orang yang mencela tuhan-tuhan kami ini?! 


Sebabnya karena Anda telah menyinggung inti perbudakan mereka!


Pencuri membenci orang jujur ​​karena mengingatkan kekurangannya.


Pelaku dosa membenci orang yang taat karena hal itu menempatkannya dalam konflik dengan dirinya sendiri, sehingga membuatnya merasa kecil!


Setiap orang merdeka yang memberontak di belahan dunia mana pun pasti ditentang oleh semua budak rumahan! Sebagian mereka hanya tahu bagaimana menjadi budak yang patuh dan tunduk! 

Hormat bendera. Bermasalahkah?

 Masalah penghormatan kepada bendera para ulama berselisih pendapat, sebagaimana rincian sbb:


Pertama, pihak yang melarang*


Mereka menganggap ini adalah bid'ah, _tasyabbuh bil kuffar_ (menyerupai orang kafir). Pendapat ini dianut oleh para ulama Arab Saudi di Lajnah Daimah-nya.


Berikut ini fatwanya:


لا تجوز تحية العلم، بل هي بدعة محدثة، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: « من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد »  رواه البخاري ومسلم


_Tidak boleh menghormati bendera, bahkan itu adalah bid’ah, dan nabi ﷺ telah bersabda: “Barang siapa yang mengada-ada hal yang baru dalam urusan kami ini maka itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)._ (Fatwa No. 5963)


Dalam fatwa yang lain, _Al Lajnah Ad Daimah_ menganggap penghormatan bendera adalah _tasyabbuh bil kuffar_ (menyerupai orang kafir). Berikut ini fawanya:


لا يجوز تحية العلم، ويجب الحكم بشريعة الإسلام والتحاكم إليها، ولا يجوز للمسلم أن يحيي الزعماء أو الرؤساء تحية الأعاجم، لما ورد من النهي عن التشبه بهم، ولما في ذلك من الغلو في تعظيمهم.


_Tidak boleh penghormatan kepada bendera, dan wajib berhukum dengan syaria Islam dan menerapkan hukum kepadanya, dan tidak boleh bagi seornag muslim menghornati para pemimpin dgn cara penghormatan orang ‘ajam (non Arab), sebab adanya larangan untuk menyerupai mereka, dan juga didalamnya ada bentuk melampaui batas dalam menghormati mereka._ (fatwa No. 6894)


Atau fatwa lainnya yang lebih lengkap:


لا يجوز للمسلم القيام إعظاماً لأي علم وطني ، أو سلام وطني ، بل هو من البدع المنكرة التي لم تكن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا في عهد خلفائه الراشدين رضي الله عنهم ، وهي منافية لكمال التوحيد الواجب ، وإخلاص التعظيم لله وحده ، وذريعة إلى الشرك ، وفيها مشابهة للكفار ، وتقليد لهم في عادتهم القبيحة ، ومجاراة لهم في غلوهم في رؤسائهم ومراسيمهم ، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن مشابهتهم أو التشبه بهم .


_Seorang muslim tidak boleh berdiri untuk menghormati bendera atau salam kebangsaan. Itu adalah bid’ah yg  munkar yang tidak ada pada masa Nabi.ﷺ  masa Khalifah yang empat. Itu dapat menghilangkan kesempurnaan tauhid yang wajib dan kemurnian  dalam menganggungkan Allah satu-satunya, memunculkan syirik dan menyerupai orang kafir serta meniru mereka dalam tradisinya yang jelek dan berlebihan dalam menghormati penguasa. Padahal Rasulullah sudah melarang meniru dan menyerupai orang kafir_.(Fatwa no. 2123)


Sdgkan, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani _Rahimahullah_ mengatakan:


هذه -لا شك- من التقاليد الأوروبية الكافرة، وقد نهينا عن تقليدهم بمناهي عامة وخاصة، ولا يجوز لأي دولة مسلمة حقاً أن تتبنى شيئاً من تقاليد الكفار


_Hal ini - tidak ragu lagi-  termasuk bentuk taklid kepada budaya Eropa yang kafir. Kita telah dilarang mengikuti mereka baik dengan larangan umum dan khusus, maka tidak dibolehkan bagi negera muslim mana pun untuk meniru orang-orang kafir_. (Al Ajwibah Al Albaniyah 'alal As'ilah Al Kuwaitiyah,   Hal. 1-2)


*📌 Kedua. Pihak yang membolehkan*


Mereka mengkritik pihak pertama. Menurut golongan ini, penghormatan bendera bukanlah masalah ibadah, dan tidak pantas dikatakan bid'ah. Ini adalah masalah adat duniawi yang hukum asalnya adalah mubah. Serta bukan pula penyerupaan kepada orang kafir, sebab menghormati simbol negara tidaklah terlarang secara syariat. 


Mufti Mesir, Syaikh  Syauqi Ibrahim Abdul Karim 'Allam _Hafizhahullah_ mengatakan:


لا مانع شرعًا من تحية العلم والوقوف للسلام الوطني؛ فكِلاهُما تعبير عن الحب لرمز الوطن وعلامته وشعاره


_Tidak terlarang secara syariat penghormatan bendera dan berdiri untuk salam kenegaraaan. Keduanya merupakan ungkapan rasa cinta kepada simbol tanah air dan syiar-syiarnya ..._


Beliau juga berkata:


ولا يمكن القول بأن هذا من التعظيم المحرم؛ لأن التعظيم الممنوع هو ما كان على وجه عبادة المعظَّم، كما لا يمكن القول بأنه من التشبه بغير المسلمين المنهي عنه شرعًا؛ فالتشبه إنما يحرم فيما يتعلق بعقائدهم وخصوصياتهم الدينية إذا قصد المسلمُ بها التشبه.


_Tidak mungkin ini dikatakan sebagai penghormatan yang diharamkan, sebab penghormatan yang dilarang itu adalah pengagungan dlm konteks ibadah, sebagaimana tidak mungkin juga disebut menyerupai non muslim yang telah dilarang oleh syariat, sebab tasyabbuh (penyerupaan) itu diharamkan dalam hal kaitannya dengan aqidah mereka, ciri khusus mereka yang duniawi, jika seorang muslim melakukannya memang bermaksud untuk menyerupai._ (Lihat: http://www.dar-alifta.org/AR/ViewFatwa.aspx?ID=11069)


Begitu pula fatwa dr _Lajnah Al Fatwa Darul Ifta Al Mishriyah,_ mereka mengoreksi pihak yang mengatakan bahwa ta'zhim (pengagungan, pemuliaan) hanya hak Allah semata, dan menganggapnya ini pendapat yang batil ..


Penghormatan bendera sudah ada di masa Nabi ﷺ  dan  para Sahabatnya. Dalam perang Mu'tah Nabi ﷺ mengangkat Ja'far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahah, sebagai pemimpin pasukan dan pemegang bendera. Di masa itu tegaknya bendera merupakan tanda kejayaan dan kemenangan sebuah pasukan perang, oleh karena itu mereka sangat menjaganya  .. zaman ini cara penghormatan tidak sama karena sudah berubahnya zaman.


Di akhir fatwa, tertulis:


فإن تحية العلم المعهودة أو الوقوف للسلام الوطني أمران جائزان لا كراهة فيهما ولا حرمة كما شغَّب به مَن لا علمَ له، فإذا كان ذلك في المحافل العامة التي يُعَدُّ فيها القيام بذلك علامة على الاحترام وتركه مشعرًا بترك الاحترام: فإن الوقوف يتأكَّد؛ فيتعيَّن فعلُه حينئذٍ؛ دفعًا لأسباب النفرة والشقاق، واستعمالا لحسن الأدب ومكارم الأخلاق.


_Penghormatan bendera dan salam kenegaraan adalah dua hal yang dibolehkan, tidak makruh dan tidak pula haram, sebagaimana pandangan picik orang yang tidak memiliki ilmu._


_Jika hal itu dilakukan dalam proses umum yang dianggap bahwa berdiri adalah bagian dr penghormatan dan  meninggalkannya bernilai tidak hormat, maka berdiri saat itu ditekankan. Sebagai pencegah dari sebab munculnya perpecahan, dan dalam rangka memakai adab yang baik dan akhlak yang mulia._ (Selesai)


Syaikh 'Athiyah  Saqr Rahimahullah mengatakan:


فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد في وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله


_Menghormati bendera dengan lagu atau isyarat tangan, dalam situasi khusus itu menunjukkan loyalitas pada tanah air, bersatu di bawah kepemimpinannya, dan komitmen untuk mendukungnya. Sikap ini bukan termasuk dalam pengertian menyembah  kepada bendera itu. Penghormatan bendera bukanlah shalat atau dzikir sampai-sampai ada yang bilang: "itu bid’ah atau ibadah pada selain Allah."_


Nah, pendapat kedua ini dianut oleh mayoritas umat Islam dan ulamanya saat ini.. sebab memang masalah hormat bendera bukan ibadah, bukan pula tasyabbuh bil kuffar, dan secara umum ada dasar dalam sejarah Islam. 


Hanya saja, jika ini dikaitkan dgn upacara bendera, maka mesti diperhatikan: jangan sampai ikhtilat, jangan pula tata cara doa  meniru orang kafir dgn diiringi musik dan bernyanyi (mengheningkan cipta), tidak boleh memunculkan rasa Nasionalisme sempit seraya mendeskreditkan bendera tauhid.

Kamis, 15 Agustus 2024

Mencintai Negeri Tempat Tinggal

Cinta Tanah Air 


(judul asli tulisan: Mencintai Tanah Air Itu Syar'i)


Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu bercerita:


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا

قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ زَادَ الْحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ حُمَيْدٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ جُدُرَاتِ تَابَعَهُ الْحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ


_"Rasulullah ﷺ  bila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, *Beliau mempercepat jalan unta Beliau dan bila menunggang hewan lain Beliau memacunya".*_


Abu 'Abdullah Al Bukhariy berkata: Al Harits bin 'Umair dari Humaid: _"Beliau memacunya karena kecintaannya (kepada Madinah)."_


Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Isma'il dari Humaid dari Anas berkata,  _"…. Beliau melihat dinding-dinding kota Madinah …."_  Hadits ini diikuti pula oleh Al Harits bin 'Umair. *(HR. Bukhari no. 1802)*


Salah satu pelajaran dari hadits di atas, seperti yang dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah adalah sebagai berikut:


وَفِي الْحَدِيث دَلَالَة عَلَى فَضْل الْمَدِينَة ، وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبّ الْوَطَن وَالْحَنِين إِلَيْهِ


_Dalam hadits ini terdapat petunjuk tentang keutamaan kota Madinah dan disyariatkannya CINTA TANAH AIR dan KERINDUAN kepadanya._ *(Fathul Bari, 6/6)*


Ada pun hadits _Hubbul Wathan Minal Iman_ (cinta tanah air sebagian dari iman), bukanlah hujjah (dalil) dalam hal ini, sebab para imam hadits menyatakan itu sebagai hadits palsu dan tidak ada dasarnya, seperti  As Suyuthi,  As Sakhawi,  Al 'Ajluni, Ash Shaghani, dll.


Sementara hadits _Shahih Bukhari_ di atas sudah cukup menjadi hujjah, bahwa mencintai tanah air adalah hal yang syar'i dan manusiawi.


Imam Ibnu Rajab al Hambali berkata:


ﻟﻤﺎ ﺧﻠﻖ ﺁﺩﻡ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼﻡ ﺃﺳﻜﻦ ﻫﻮ ﻭﺯﻭﺟﺘﻪ اﻟﺠﻨﺔ، ﺛﻢ ﺃﻫﺒﻄﺎ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻭﻋﺪا ﺑﺎﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻴﻬﺎ، ﻭﺻﺎﻟﺢ ﺫﺭﻳﺘﻬﻤﺎ، ﻓﺎﻟﻤﺆﻣﻦ ﺃﺑﺪا ﻳﺤﻦ ﺇﻟﻰ ﻭﻃﻨﻪ اﻷﻭﻝ، ﻭﺣﺐ اﻟﻮﻃﻦ ﻣﻦ اﻹﻳﻤﺎﻥ


_Ketika Adam 'Alaihissalam diciptakan, dia dan istrinya tinggal di surga, lalu mereka turun ke dunia dan dijanjikan kembali lagi ke surga, dan memperbaiki keturunan mereka. Maka seorang mukmin selamanya akan rindu dengan tanah airnya yang pertama, dan cinta tanah air sebagian dari iman._ (Jaami' al 'Ulum wal Hikam, 2/379)


dikutip dan ditulils ulang oleh agus ahmad hidayat

Istiqamah dalam dakwah

 Shalat berjamaah; Dakwah berjamaah; Istiqamah pada keduanya


Istiqamah itu artinya berdiri dengan tegak dan lurus.  Berdiri  bertumpu pada kaki, tidak duduk atau berbaring. Juga harus tegak agar tidak bungkuk dan lurus agar tidak bengkok.


Dalam Al-Quran, di hari yang agung (yaumun 'azhimun) manusia akan berdiri menghadap Allah Rabbul alamin dalam keadaan berdiri di atas kedua kakinya:


أَلَا يَظُنُّ أُوْلَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبۡعُوثُونَ لِيَوۡمٍ عَظِيمٍ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ


“Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar (Kiamat),  (yaitu) hari (ketika) manusia bangkit (berdiri) menghadap Tuhan seluruh alam?’ (QS. Al-Muthaffifin: 4-6)


Dalam shalat berjamaah ada  kamat. Berasal dari bahasa Arab iqomah. Mengalami akulturasi ke-Indonesia-an  sehingga menjadi kamat atau ikamat. 


Kamat adalah seruan kepada jamaah untuk segera berdiri menunaikan shalat. Lantunannya lebih cepat  dan  monoton. Seruan  ditujukan untuk mereka yang sudah hadir di dalam masjid. 


Seruan ntuk mereka yang masih di luar masjid disebut adzan. Lantunannya lebih panjang dan variatif  karena dimaksudkan agar orang-orang segera mendatangi masjid.


Setelah kamat dikumandangkan,  jamaah pun berdiri. 


Imam  mengatur  jamaah agar  barisannya rapat dan rapih,  supaya jamaah berdiri tegak  lurus. 


Shalat dengan shaf yang seperti ini enak dipandang dan lebih khusyu’. Mengapa? Karena tiada celah untuk  syetan masuk mengganggu.  


Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW Bersabda:


‌رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ.


“Rapatkan shaf kalian, tempelkan shaf kalian, berdekatlah kalian (antara shaf pertama dan kedua itu berdekatan), dan sejajarkan dengan leher kalian, Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan, masuk dari celah celah shaf, seolah olah anak kambing hitam yang kecil.”  (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)


Jamaah  yang berdiri namun tidak tegak lurus dan rapat itu sama saja  dengan membukakan pintu bagi musuh dan mempersilakan kepadanya untuk melancarkan serangannya. 


Akibatnya kekhusyu’an shalat terganggu. Kadang terjadi seseorang yang shalat namun lupa  jumlah rakaat yang telah dikerjakannya. 


Hal ini juga bisa terjadi pada imam yang memimpin shalat. 


Khusyu’ adalah ruhnya sholat. Syetan tidak mampu menghalangi seseorang yang sudah berdiri shalat, namun ia mampu menghancurkan ruhnya.  


Karena itulah Allah tidak memuji semua orang yang sholat, akan tetapi hanya memuji mereka yang khusyuk dalam sholatnya:


قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ


“Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al Mukminun: 1-2)


Fokus, konsistensi dan kesadaran penuh dalam shalat itu menentukan kualitas dan ganjarannya. Tidak ada yang sempurna miah bil miah. Pasti ada kekurangan. 


Dari ‘Ammar bin Yasir ra , ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: 


إنَّ الرَّجلَ لينصَرِفُ وما كُتِبَ لَهُ إلَّا عُشرُ صلاتِهِ تُسعُها ثُمنُها سُبعُها سُدسُها خُمسُها رُبعُها ثُلثُها نِصفُها


“Ada yang selesai dari shalatnya, tetapi ia hanya mendapatkan sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan separuhnya.” (HR. Abu Daud,  An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thahawi).


Namun demikian, shalat berjamaah tetap mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan shalat sendirian. 


Shalat berjamah lebih utama dan bernilai 27 kali kelipatannya. Selain  itu juga lebih  terjaga ketimbang sendirian.  


Ilustrasi seperti di atas tidak jauh berbeda ketika bicara tentang dakwah dalam konteks berjamaah. 


Para ma’mum (kader) nya juga dituntut untuk istiqamah, berdiri tegak lurus. Jangan bengkok, apalagi bikin shalat berjamaah dalam satu masjid yang sama. 


Hal yang umumnya sering terjadi disaat seorang sedang melaksanan shalat adalah masuknya obyek duniawi ke dalam pikirannya. 


Sebabnya, karena serangan syetan atau memang dirinya adalah termasuk mereka yang disebut sebagai pecinta dunia (muhibbud dunya). 


Hal ini juga dapat terjadi dalam barisan dakwah berjamaah.  Karena itulah yang harus diperhatikan adalah menjaga konsistensi dalam niat dan motivasi.


Janganlah ketika peluang dunia menjadi terbuka, akhirnya menjadi orang yang lupa. 


Kalo dalam shalat berjamaah, makmum yang tidak rapih dalam shaf, tidak berdiri tegak lurus dan rapat bersama dengan yang makmum lainnya, maka  sesungguhnya ia telah membuka celah bagi syetan untuk masuk dan menggangu. 


Dalam dakwah berjamaah juga demikian halnya. Orang yang berubah niat dan motivasinya karena semata mengejar dunia dan kesenangannya, sesungguhnya ia telah menjadikan jalan dakwahnya sebagai jalan yang bengkok. Firman Allah Ta’ala:   

 

  ٱلَّذِینَ یَسۡتَحِبُّونَ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا عَلَى ٱلۡـَٔاخِرَةِ وَیَصُدُّونَ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِ وَیَبۡغُونَهَا عِوَجًاۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ فِی ضَلَـٰلِۭ بَعِیدࣲ }


“(Yaitu orang-orang) kedudukannya sebagai sifat (yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi) manusia (dari jalan Allah) yaitu agama Islam (dan menginginkan supaya ia) jalan Allah tersebut (bengkok) tidak lurus. (Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh) yakni sesat dari jalan yang hak dan benar. (QS.  Ibrahim: 3)

Dalam shalat yang membuyarkan kekhusyu’an adalah masuknya obyek-obyek duniawi ke dalamnya. 

Demikian pula  dengan dakwah berjamaah. Tujuan dunia itu dapat merobek kesatuan dakwah berjamaah.

diketik ulang oleh agus ahmad hidayat

Selasa, 13 Agustus 2024

Tidak Ragu dengan Langkah PKS - Agustus 2024

 Nasihat untuk diri dan saudaraku anggota PKS

-catatan: dokumen agus ahmad hidayat- dari tulisan IronMan-Malawi

Agak lama saya tidak menulis lagi tentang PKS, Alhamdulillah bisa menyapa saudara saudara saya anggota PKS melalui tulisan kali ini.


Ada anggota UPA yang bertanya melalui WA ke saya "Ustad, bagaimana sikap kita jika seandainya PKS tidak jadi mencalonkan Pak ARB sebagai Gubernur Jakarta?" Pertanyaan yang saat ini sedang viral di media sosial dan di tengah masyarakat Indonesia. Saya katakan "Ya ndak papa, keputusan politik itu bagian dari strategi dan cara dalam berdakwah pada lingkup pemerintahan dan negara. Dan itu perkara yang mutaghayyirat (perkara yang boleh berubah seiring dengan tuntutan dakwah). Bukan perkara yang Tsawabit (perkara yang tidak boleh berubah dalam dakwah). Karenanya lebih jauh terkait dengan dinamika politik saat ini, khususnya terkait Pilkada Jakarta, saya menyampaikan nasihat kepada antum semua para anggota PKS, khususnya adalah anggota UPA yang saya bina dan saya bimbing.


*Pertama,* Tujuan akhir kita melakukan amal dakwah termasuk dalam aspek politik ini adalah untuk mendapatkan keridha an dan kasih sayang Alloh SWT bukan yang lain. Jangan sampai tujuan itu hilang dan berganti dengan kemurkaan Alloh SWT karena prasangka prasangka buruk kita kepada qiyadah dan saudara saudara kita yang lain. Karena ketidak tauan kita atas apa yang sedang terjadi dan sedang dilakukan oleh para qiyadah kita untuk membesarkan kontribusi dakwah kita pada bangsa dan negara ini, yang dengan ringan lisan dan mulut ini berkata mengikuti nafsu dan amarah kita "ternyata PKS sama saja dan seterusnya". Saya katakan jangan. *Biasa saja.*


*Kedua,* kita sudah masuk dalam rumah yang tepat. Kita mendapatkan banyak kebaikan, keberkahan dan kemuliaan dalam hidup kita bersama dengan jamaah ini, bersama Partai ini melalui halaqoh halaqohnya, pembinaan pembinaannya bukan hanya untuk diri kita tapi juga untuk keluarga kita. Kita perlahan menjadi pribadi pribadi muslim yang semakin baik, aqidah, ibadah, akhlak, nasionalisme, profesionalisme dana kepedulian kita akan sesama terpupuk bersama Partai ini. Alloh SWT memberikan banyak sekali nikmat melalui wasilah Partai ini. Apa iya kita akan dikalahkan dengan bisikan syaiton dan hawa nafsu kita kemudian akan kita tinggalkan keberkahan ini. Hanya gegara keputusan politik yang mutaghayyirat itu. *Biasa saja.*


*Ketiga,* jika kita memahami bahwa bergabung sebagai anggota PKS ini sebagai sebuah cara kita menjadi pejuang kebaikan, maka perjuangan itu menuntut disiplin diri, menuntut ketaatan kepada pimpinan baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Dalam kondisi senang ataupun terpaksa. Dan ini adalag kenikmatan yang lain. Percayalah keputusan qiyadah qiyadah kita yang tentunya lebih baik dalam ruhiyah, aqidah, ibadah mereka, secara berjamaah insya Alloh akan lebih baik dibandingkan dengan keputusan diri kita yang solat tahajud juga masih jarang jarang, tilawah alquran juga masih malas malasan. Inilah keberkahan berjamaah, yang ketaatan itu akan menjadi ujiam dalam keberkahaan didalamnya. Karenanya terhadap keputusan qiyadah dalam aspek tatacara dakwah politik apapun, *biasa saja.*


*Keempat,* Kalau menurut pendapat pribadi saya, pribadi ya. Dan ya mestinya sah sah saja to menyampaikan pandangan pribadi terkait dengan situasi politik saat ini khususnya hubungan antara PKS dan Pak ARB. Bisa jadi memang Pak ARB tidak menghendaki bergabung ke PKS karena takut di cap sebagai Politikus dengan identitas ke Islaman yang kental. Atau bisa jadi memang ada sebuah konspirasi besar agar jangan sampai PKS menjadi Wakil Gubernur Jakarta. Jangan sampai PKS mendapat kesempatan memimpin Jakarta atau Indonesia. Saya pribadi dalam aspek keputusan politik para pemimpin PKS ini baru akan mempertanyakan benar atau salahnya keputusan politik itu adalah ketika PKS itu sudah meniliki kursi lebih dari 20 persen dan kemudian keputusan politiknya "aneh". Baru akan saya tanyakan "bener pora ini keputusan pimpinan PKS". Tapi kalau suara saja belum ada 10 persen, sumberdana dan sumberdaya media juga ndak ada, tantangan dan tekanan politiknya kita tidak pernah tau diatas sana, maka berhusnudzon terhadap keputusan pemimpin jamaah ini insya Alloh tetap menjadi pilihan terbaik bagi kita. *Biasa saja.*


*Kelima,* Perkara yang kita bahas ini kan perkara "seandainya" to, belum terjadi. Bisa jadi suatu saat PJS dan Pak ARB akan bekerja sama dalam pemilu, pilpres atau pilkada karena Pak ARB bergabung dengan PKS atau Partai yang lain sehingga koalisinya akan menjadi lebih dari 20 persen. Bisa jadi kan, kalaupun tidak di tahun 2024 bisa jadi di tahun 2029 dan seterusnya. Namanya juga keputusan politik. Kita berhusnudzon saja keputusan PKS dan Pak ARB adalah yang terbaik nantinya untuk bangsa dan negara ini. *Biasa saja.*


"Terus apa yang harus kita lakukan Ustad?" Kita teruskan kebiasaan kita untuk berjuang bersama PKS ini karena satu satunya cara perjuangan dalam aspek politik di Indonesia saat ini yang paling efektif bagi kita selaku warga negara adalah melalui partai politik. Dan insya Alloh ini amal solih. Kita maksimalkan perjuangan kita untuk kebaikan bangsa dan negara kita.


Kepada saudara saudara saya yang kurang atau tidak sependapat dengan tulisan saya, saya sampaikan mari kita kedepa kan husnudzon di hati hati kita, di pikiran pikiran kita dan dalam amal amal kita. Apapun ketetapan Alloh SWT nantinya terkait dengan PKS dan Pak ARB insya Alloh sama sama untuk kebaikan Bangsa dan Negara kita. 


Semoga Alloh SWT senantiasa mengampuni kita dan memberikan keberkahan dalam setiap amal kita.


Saya mencintai antum semua karena Alloh SWT


Melawi, Kalbar,12 agustus 2024,ironman-pks