Senin, 19 Februari 2024

doa shalat tarawih

 

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Nasionalisme dan Integrasi Bangsa

 Nasionalisme dan Integrasi Bangsa


Nasionalisme itu penting.

Sejarah berdirinya RI memandang penting nasionalisme ini,  terbukti dalam usulan butir dasar negara disertakan di dalamnya.  Mohammad Yamin mengajukan secara lisan 29 Mei 1945: 1)Peri kebangsaan 2)Peri kemanusiaan 3)peri ketuhanan 4)peri kerakyatan 5)kesejahteraan rakyat. Lalu yang diajukan secara tertulis 1 ketuhananyang maha esa 2 kebangsaan persatuan indonesia 3 rasa kemanusiaan yang adil dan beradab 4 kerakyatan yang dipimpin oeh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawartan perwakilan 5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.  Usulan lisan diletakkan pada nomor satu, usulan tertulis diletakkan pada nomor dua yang telah menyatu kedua hal : kebangsaan persatuan indonesia. Keberadaan Bangsa dan persatuan bangsa sangat penting.


Makna nasionalisme

Nasionalisme dapat diartikan –pertama- suatu 1)paham yang menganggap kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi yang disertakan kepada Negara/kebangsaan (nation state); kedua- 2)sikap mental dan tingkah laku individu maupun masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas dan pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negara. Di  sini kebangsaan memiliki konsekuensi  atas tanggung jawab terhadapnya. Inilah yang menjadi ukuran nasionalisme sejati. Artinya nasionalisme bisa dilihat dari sikap jiwa dalam pembelaan terhadap negara dan bangsa, bukan dilihat dari profil fisik/jasmani seseorang. Dalam dunia sastra ada pengarang Mohtar Lubis menulis cerita pendek berjudul Gelas yang pecah ; bercerita keturunan Tionghoa yang cinta tanah air Indonesia.

Nasionlisme sangat diperlukan dalam kelangsungan suatu negara, dengan harapan memunculkan rasa persatuan di dalam negara tersebut. 

Problema; mengapa nasionalisme menjadi pudar? Bagaimana mengatasinya?

Bagaimana dengan kondisi sekarang pada zaman serba teknologi .

Faktor luar: globalisasi memengaruhi tatanan dan budaya

Faktor dalam: lemahnya daya tahan, daya tangkal, kemampuan selektif

Nasionalisme sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara karena merupakan wujud kecintaan dan kehormatan terhadap bangsa sendiri. 


Diperlukan sekali upaya-upaya untuk meningkatkan semangat nasionalisme pada generasi muda terutama pelajar Indonesia sebagai penerus bangsa ini. Cara  yang dapat dilakukan dalam meningkatkan rasa nasionalisme: Sadar terhadap sejarah bangsa. Satu di antara alasan mengapa ‘tidak mau memindahkan ibukota negara – Jakarta – sejarah berdirinya Indonesia akan hilang, Jakarta  dipilih sebagai pengganti kata Betawi atau Batavia, Jakarta dari Jayakarta, Fatahilah, Faletehan.  Melalui 1)pendidikan pembelajaran sekolah, ini formal,  Selain itu juga dapat dilakukan dengan 2)pembiasaan-pembiasaan menyanyikan lagu nasional, penghormatan bendera merah putih, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, budaya pakaian, tarian yang semua dikaitkan dengan sejarah. Kalau ditelusuri akan ada kaitan peristiwa dengan penguatan kebangsaan,  tari Saudati – Aceh, perayaan Sekaten – Yogyakarta,  Tatakota bekas kerajaan Islam: alun alun, masjid, gedung kabupaten.

selesai


Pemabuk, Pemburu Syahid

 Pemabuk, Pemburu Syahid 

Sebagai sahabat nabi namanya tidak populer. Bukan saja karena dia baru masuk Islam setelah futuh mekah, tepatnya setelah perang Hunain, dia juga tidak meriwayatkan hadits, bahkan reputasinya dikenal sebagai pemabuk. Dialah Abu Mihjan Al- Tsaqafi. Nama yang terdengar tidak familiar 

Beliau merupakan sahabat nabi Saw yang tidak bisa meninggalkan khamr, dari saat masih jahiliah hingga setelah masuk Islam. Dari masa Rasulullah hingga Khalifah Abu Bakar berlanjut ke masa kekhalifahan Umar bin Khattab, namanya selalu menjadi langganan  hukum cambuk karena meminum khamr.

Tetapi soal pengorbanan dan  keberanian, Abu Mihjan tidak perlu diragukan lagi, sejak masuk Islam dia tidak pernah absen dalam setiap peperangan. Keberanian dan cita cita syahidnya menjadikan dia seorang ksatria yang pilih tanding, gagah berani dan ditakuti. Hingga kehadirannya di medan pertempuran merupakan mimpi buruk bagi musuhnya.

Menjelang perang Qadisiyah, dia kedapat mabuk lagi. Karena sudah keseringan diberikan hukuman cambuk maka Khalifah Umar menambah dengan hukuman pengasingan. Tentu saja dia merasa sedih, bukan karena dihukum, tetapi karena tidak bisa turut serta dalam perang Qadisiyah yang juga baru diberangkatkan dibawah pimpinan Sa'ad bin Abi Waqas, ra.

Kuatnya keinginan untuk turut berjihad mendorong Abu Mihjan mencari cara untuk kabur dari perjalanan ke pengasingan. Akhirnya dia berhasil kabur dan menyusul pasukan muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash ke medan tempur Qadisiyah. Sesampainya di Qadisiyah, Abu Mihjan pun langsung menemui Sa’ad bin Abi Waqash dan meminta izin untuk ikut berperang dan dia pun diizinkan.

Pada saat itu Sa’ad bin Waqash sendiri tidak bisa turun ke medan tempur secara langsung karena sedang sakit bisulan hampir di sekujur tubuhnya dan hanya bisa memberikan komando kepada pasukan dari sebuah menara. Dan dari tempat ketinggian ini panglima Sa'ad bisa melakukan pemantauan dan memberikan arahan kepada pasukan kaum muslimin sesuai dengan pergerakan musuhnya.

Saat awal perang dimulai, jalannya pertempuran berlangsung tidak seimbang. Disamping njomlangnya  jumlah pasukan, 36. 000: 130.000, pasukan Persia juga dilengkapi dengan pasukan gajah yang membuat kuda dan onta pasukan muslimin takut dan tidak berani maju.

Setelah berlarut dalam pertempuran yang sengit, kedua belah pihak menarik mundur pasukannya untuk beristirahat dan mengatur ulang strategi. Di saat inilah godaan khamr menghampiri diri Abu Mihjan, karena tak kuasa menahan keinginan yang sudah nyandu tersebut, maka iapun meminumnya.

Mengetahui hal itu, Sa’ad bin Abi Waqash pun menyuruh agar Abu Mihjan di kurung dan tidak diperkenankan ikut berperang. Di dalam kurungannya itu pun ia menyesali perbuatannya, sehingga untuk menutupi kesedihannya dua bersyair:

Sedih menyelimuti hatiku,

karena aku terbelenggu di balik jeruji besi,

Bila engkau melepaskan besi yang membelenggu diriku ini,

Niscaya akan aku raih syahid dalam perang,

Dulu diriku kaya akan harta dan kawan,

Namun kini mereka meninggalkan ku sebatang kara,

Tubuhku kering karena sengatan matahari,

Kuperbaiki timbangan yang rusak,

Hanya ampunan Allah yang kuharapkan,

Syairnya itupun didengar oleh istri Sa’ad bin Waqqash. Abu Mihjan pun memohon agar istri Sa’ad bin Waqash itu mau melepaskan dirinya agar bisa ikut berperang bersama pasukan muslim dan dia berjanji jika tidak mendapatkan mati syahid di medan perang, maka ia akan kembali lagi ke dalam kurungannya tersebut.

Mendengar kesungguhan dan kesedihan Abu Mihjan, ditambah dengan kondisi pasukan kaum muslimin yang sedang terdesak, maka istri Sa'ad melepas belenggu nya dan meminjamkan Balqa', kuda hitam milik panglima. Kemudian setelah menutup kepala dan wajahnya sehingga tinggal matanya yang kelihatan, doa memacu kudanya ke medan perang. 

Kemunculannya tidak dikenali. Tetapi terlihat jelas tidak ada rasa takut sedikitpun dari orang itu. Seluruh mata kaum muslimin yang ada di medan perang itupun memandangnya dengan penuh kagum dan bertanya-tanya, siapakah orang tersebut. Dia adalah Abu Mihjan Al-Tsaqafi, ksatria pemabuk pengejar syahid.

Sa’ad bin Waqqash yang melihat hal itu pun sangat senang karena datangnya bantuan, walaupun hanya satu orang saja, namun kekuatannya sebanding dengan seribu orang. Sa’ad bin Waqash pun bergumam, “Jika Abu Mihjan tidak ada di dalam jeruji kurungannya, maka aku sangat yakin bahwa orang itu adalah dia, dan apabila Balqa’ tidak ada di kandangnya, maka aku sangat yakin bahwa kuda yang ditungganginya itu adalah Balqa’. “

Barisan musuh pun mulai kocar-kacir, dan memacu kembali semangat untuk menggempur habis-habisan pasukan Persia. Hingga akhirnya pimpinan pasukan Persia panglima Rustum berhasil dibunuh oleh seorang prajurit muslim, Hilal bin Ullafah.

Ajaibnya, setelah perang Qadisiyah ini kebiasaan minum arak Abu Mihjan pun berhenti. Padahal Sa'ad bin Abi Waqash sempat berpikir, bila Abu Mihjan minum lagi akan dibiarkan...

Kasus seperti ini, pertolongan Allah melalui orang fajir, ahli maksiat sudah pernah didawuhkan nabi. Nabi Saw pun bersabda, “Berdirilah wahai fulan (yakni Bilal), serukanlah: Tidak akan masuk surga melainkan seorang mukmin. Allah mungkin saja menolong agama ini melalui laki-laki fajir (ahli maksiat).” 

(HR. Bukhari dan Muslim).

Kasus ini mungkin terjadi ketika orang orang shalih dan yang sudah berjanji setia (berbaiat) tidak serius dalam berjuang. Sedang leyeh-leyeh menikmati gemerlapnya dunia, sehingga tidak sur'atul istijabah tapi otw, oke tunggu wae.

Wallahua'lam bi shawab


Senin, 20 November 2023

Tadabbur surat Yasin ayat 1 sampai 12

 komitmen hidup bersama dakwah

Tadabbur surat Yasin ayat 1-12


Dakwah adalah warisan para nabi. Menjadi da'i adalah sebuah perintah yang harus dikomitmeni dengan kesabaran sekaligus kemuliaan dan kehormatan yang diberikan oleh Alloh SWT yang harus diraih dengan semangat.

Memposisikan diri sebagai da'i sebelum yang lainnya adalah hal pertama yang harus dilakukan, sebagaimana Rasululloh Saw juga diposisikan sebagai Rasul sebelum posisi² yang lainnya.  Alloh SWT menegaskannya dalam surat Yasin 1-12.


Da'i adalah da'i apapun respon orang yang didakwahi, predikat ini tidak boleh berubah dan diubah meskipun dakwah tidak disambut dengan baik baik saja. Karena itu memposisikan diri sebagai da'i dan tetap menjadi da'i sampai kapanpun adalah sebuah bukti komitmen bahwa dakwah adalah perintah dan hukum yang sudah ditetapkan Alloh kepada kita yang harus disabari.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ [القلم : 48]

"Maka bersabarlah terhadap hukum Tuhanmu ( perintah dakwah) dan janganlah kamu seperti orang yang (berada dalam perut) ikan paus ( nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam kondisi marah" (Al qolam: 48)


Da'i harus tetap dalam posisinya, meskipun kondisi tidak berubah baik, tetap pada keburukannya, kegelapannya dan ksesatannya. atau kondisi menjadi sangat baik, makmur, sejahtera, nyaman, menyenangkan bahkan cenderung melalaikan karena saking nyamannya.


بسم الله الرحمن الرحيم

يس [يس : 1]

(Yaa siin)

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ [يس : 2]

(Demi Alquran yang penuh hikmah) yang padat dengan hikmah-hikmah, susunan kata-katanya amat mengagumkan dan makna-maknanya sangat indah lagi memukau، serta sempurna dan tidak bisa dicampuri kebathilan dari arah manapun.


Setelah dimulai dengan huruf muqoththo'ah diawal surat surat ini disambung dengan sumpah yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan Al Qur'an sebagai kalamulloh yang menjadi pedoman dan panduan bagi para utusan Alloh dan para da'i pewaris dakwah.

إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ [يس : 3]

(Sesungguhnya kamu) hai Muhammad adalah benar benar (salah seorang dari rasul-rasul.).

عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [يس : 4]

(Yang berada di atas) (jalan yang lurus)


Ayat ini menegaskan kedudukan dan tugas nabi Muhammad Saw Dengan pedoman dan panduan Al Qur'an bahwa beliau adalah utusan Alloh yang tak pernah berubah statusnya sampai kapanpun. Maka para da'i pewaris dakwahnya harus sama, mereka adalah da'i sebelum yang lainnya, tidak pernah berubah status dan posisi itu apapun kondisinya dan kapanpun waktunya

تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ [يس : 5]

(Sebagai wahyu yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Penyayang) kepada makhluk-Nya.

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ [يس : 6]

(Agar kamu memberi peringatan) dengan Alquran itu (kepada kaum) (yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan) mereka belum pernah diberi peringatan karena hidup di zaman fatrah atau zaman kekosongan nabi dan rasul (karena itu mereka) yakni kaum itu (dalam keadaan lalai) lalai dari iman dan petunjuk.

Atau bermakna kaum yang bapak bapak mereka juga diberi peringatan yang semisal dan mereka tidak menerima petunjuk /peringatan itu dan mereka lalai. ( tafsir jalalain, Ibnu Katsir, Al qurtubi)


لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [يس : 7]

"(Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan) yakni ketentuan Allah telah pasti (terhadap kebanyakan mereka) yakni azab-Nya telah pasti atas mereka (karena mereka tidak beriman) kebanyakan dari mereka tidak beriman"

Ayat 6 dan ayat 7  menjelaskan kepada kita tentang sikap penentang dakwah. Orang2 terdahulu yang pernah didakwahi para nabi juga banyak yang tidak tidak mau menerima dakwah, tidak mau beriman terhadap Islam. Meskipun demikian hal itu tidak merubah sikap para nabi sebagai pembawa dakwah, mereka tetap dengan sabar berdakwah tanpa putus asa dan bersedih hati, karena mereka memahami bahwa dakwah adalah tugas dan penghormatan dari Alloh yang harus dikerjakan sampai waktu hidup berakhir. Sikap menentang, memusuhi dan tidak mau beriman adalah hal biasa dihadapi dalam dakwah. Maka seorang da'i tidak perlu bersedih apalagi putus asa.

Ketentuan Alloh pasti berlaku terhadap para penentang dakwah bahwa mereka akan di siksa. Hal ini juga mengisyaratkan adanya pertolongan Alloh kepada para da'i.


إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ [يس : 8]

(Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka) tangan mereka disatukan dengan leher mereka dalam satu belenggu, karena pengertian lafal Al-Ghillu ialah mengikatkan kedua tangan ke leher (lalu tangan mereka) yaitu tangan-tangan mereka diangkat dan disatukan (ke dagu) mereka, lafal Adzqaan bentuk jamak dari lafal Dzaqanun yaitu tempat tumbuh janggut (maka karena itu mereka tertengadah) kepala mereka terangkat dan tidak dapat ditundukkan. Ini merupakan tamtsil, yang dimaksud ialah mereka tidak mau taat untuk beriman, dan mereka sama sekali tidak mau menundukkan kepalanya dalam arti kata tidak mau beriman.


وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ [يس : 9]

(Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding) lafal Saddan dalam dua tempat tadi boleh dibaca Suddan (dan Kami tutup -mata- mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.) Ini merupakan tamtsil yang menggambarkan tertutupnya jalan iman bagi mereka.


وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ [يس : 10]

(Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka) dapat dibaca Tahqiq dan dapat pula dibaca Tas-hil (ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.)


Ayat 8, 9, dan 10 menguatkan ayat 6 dan 7 bahwa para penentang dakwah yg tidak mau beriman memang sudah dijadikan tertutup dari pintu hidayah, tertutup matanya untuk bisa melihat cahaya kebenaran, dan itu tidak perlu membuat para da'i resah karena tugas dai hanyalah menyampaikan selebihnya adalah hak Alloh untuk menjadikan manusia beriman atau tidak.


إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ [يس : 11]

(Sesungguhnya Kamu hanya dapat memperingati) yakni akan dapat mengambil manfaat dari peringatanmu (orang yang mau mengikuti peringatan) petunjuk Alquran (dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun Dia tidak melihat-Nya) yakni ia tetap takut kepada-Nya sekalipun ia tidak melihat-Nya. (Maka berilah ia kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia) yaitu mendapat surga.


Yang menerima dakwah itu kriterianya jelas, dan selebihnya tidak beriman.

Mereka yang mau menerima adalah yang mengikuti peringatan Al Qur'an dan punya rasa takut kepada Alloh  yang telah memberi peringatan karena kasih sayang Nya meski dalam keadaan sendiri tanpa ada yang mengawasi dan meskipun mereka tidak melihat Alloh SWT.

orang² yang takut kepada Alloh dan mengikuti peringatan akan mendapat ampunan dan pahala yang mulia dari Alloh SWT.


إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ [يس : 12]

(Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati) yakni menghidupkannya kembali (dan Kami menuliskan) di Lohmahfuz (apa yang telah mereka kerjakan) selama hidup di dunia berupa kebaikan dan keburukan, lalu Kami membalasnya kepada mereka (dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan) hal-hal yang dijadikan panutan dari perbuatan mereka sesudah mereka tiada (serta segala sesuatu) dinashabkannya lafal Kulla oleh pengaruh Fiil atau kata kerja yang menjelaskannya, yaitu kalimat berikutnya (Kami catat) Kami kumpulkan satu persatu secara mendetail (di dalam kitab induk yang nyata) yaitu di Lohmahfuz.


Alloh maha tahu dan melihat setiap amal dan prosesnya. Para malaikat mencatat dengan sangat detail dalam lembaran yang sangat jelas setiap yang kita kerjakan bahkan setiap efek amal kita yang baik atau yang buruk.

Tidak dibiarkan sedikitpun prestasi atau pelanggaran tanpa balasan, tidak hanya Didunia tapi juga di kehidupan setelah mati.

Alloh hidupkan kembali kita dari kematian untuk mendapatkan itu semua. 


Rabu, 01 November 2023

Menyiapkan Calon Pemimpin Nasional

 Bagaimana menilai kualitas seorang pemimpin?

Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI sebagai lembaga resmi negara yang menyiapkan calon pemimpin nasional, sesungguhnya telah menawarkan sebuah cara menilai kualitas dan kapasitas kepemimpinan. Sebagaimana diketahui, salah satu fungsi Lemhannas RI adalah mendidik, menyiapkan kader dan memantapkan pimpinan tingkat nasional melalui berbagai kegiatan seperti program pendidikan, penyiapan materi pendidikan, operasional pendidikan dan pembinaan peserta dan alumni serta evaluasi.

Lemhannas RI telah mengkristalkan kualitas kepemimpinan dalam bentuk Indeks Kepemimpinan Nasional Indonesia (IKNI), yang bisa digunakan sebagai acuan dalam menyiapkan pemimpin dan menjadi kriteria dalam memilih calon pemimpin. Indeks ini memuat sejumlah kriteria kepemimpinan, yang meliputi aspek moralitas dan akuntabilitas kepemimpinan.

Nilai-nilai atau parameter moralitas dan akuntabilitas kepemimpinan nasional Indonesia, dalam IKNI tersebut, diperinci atas dasar 4 (empat) macam kategori yaitu:

Pertama, Indeks Moralitas dan Akuntabilitas Individual

a.Taqwa kepada Tuhan YME dan berwawasan Iptek (imtaq dan iptek); 

b.Memiliki etika dan nilai-nilai personal yang jelas (tentang adil-tidak adil; baik-buruk; dan sebagainya);

c.Memiliki kondisi kesehatan prima baik jasmaniah maupun  rohaniah;

d.Memiliki nilai kejujuran dan integritas yang tinggi termasuk integritas dan kejujuran intelektual yang selalu berusaha menyampaikan  kebenaran dan bukan pembenaran;

e.Dapat dipercaya, memiliki kecakapan dan kemampuan serta berani secara terukur;

f.Memiliki tingkat kecerdasan yang memadai dan berpendidikan yang cukup, sehingga mampu dan yakin untuk berpikir strategis dalam pengambilan keputusan;

g.Mampu menyampaikan pemikiran-pemikirannya secara jernih dan mampu memperdebatkannya secara elegan dengan orang lain dan menghormati pendapat yang berbeda;

h.Kualitas penampilan yang menonjol dalam kampanye dan pidato;

i.Dapat memadukan secara serasi hard and soft power. Hard power bersifat koersif (mengutamakan paksaan), ancaman terhadap perilaku orang dan soft power yang bersifat tidak langsung dengan pendekatan budaya dan ideologis, dengan mendayagunakan daya tarik, kooptasi dan komunikasi baik dalam kehidupan nasional maupun internasional;

j.Memiliki keluarga yang harmonis;

k.Selalu bersikap merendahkan diri dan santun.


Kedua, Indeks Moralitas dan  Akuntabilitas Sosial


a.Mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara baik dengan lingkungan sekitarnya, dalam rangka penyerapan aspirasi;

b.Dapat membangun simpati dan dapat diterima oleh masyarakat yang dipimpinnya;

c.Selalu bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya;

d.Professional atas dasar ekspertis, rasa tanggung jawab sosial dan kebersamaan atas dasar kode etik yang berlaku;

e.Dapat membangun solidaritas dan menumbuhkan harapan baru untuk kemajuan yang lebih baik;

f.Memiliki semangat dan kemampuan untuk men-ciptakan kader;

g.Kehadirannya selalu lebih bersifat fungsional dari semata-mata simbolik;

h.Mampu menggali karakter kepemimpinan yang bersumber dari nilai-nilai agama dan budaya atau kapital sosial bangsa Indonesia;

i.Kedudukannnya yang menonjol dalam survei akseptabilitas;

j.Tingkat dukungan lintas partai/golongan dalam rangka membangun kualisi yang signifikan.


Ketiga, Indeks Moralitas dan Akuntabilitas Institusional

a.Selalu taat pada konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku;

b.Bersifat transparan, akuntabel, dan responsif;

c.Setia pada Ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika;

d.Konsisten terhadap cita-cita dan tujuan nasional yang berwawasan nusantara, dan sadar terhadap konsep ketahanan nasional, atas dasar pemikiran yang sistemik dan komprehensif-integral;

e.Selalu peduli dan menghormati nilai-nilai dasar demokrasi;

f.Tidak berpikir dan bertindak feodalistik (hubungan patron-klien dengan rakyat);

g.Selalu sadar terhadap dinamika politik bangsa serta menjunjung tinggi supremasi hukum dan HAM (termasuk kesetaraan gender);

h.Imaginative dan visioner dengan konsep dan pemikiran baru.

i.Mampu meningkatkan kinerja dalam kondisi krisis dan kritis dengan keputusan yang tegas dan tepat waktu serta konsisten;

j.Rekam jejak yang positif pada jabatan politik sebelumnya;

k.Mampu mengembangkan keunggulan pribadi untuk melakukan terobosan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga dalam kondisi krisis dan kritis;

l.Mampu berpikir transformasional dengan visi yang jelas;

m.Mampu memberikan inspirasi, stimulasi, dan selalu  membangun serta mengarahkan subsistem kepemimpinan yang mendukungnya.


Keempat, Indeks Moralitas dan Akuntabilitas Global

a.Memiliki wawasan regional dan global dengan semangat membangun kepemimpinan bersama;

b.Selalu menjaga semangat kemitraan dengan meng-hormati keragaman budaya;

c.Pemahaman dan konsistensi wawasannya dalam politik luar negeri yang bebas aktif;

d.Memiliki karakter negarawan yang karya dan kepribadiannya dihormati oleh negara lain;

e.Mampu meningkatkan kedudukan Indonesia di mata internasional dengan tidak mengorbankan jatidiri nasional dalam menghadapi proses globalisasi;

f.Memiliki kesadaran terhadap bahaya keamanan yang komprehensif, baik bahaya tradisional yang membahayakan negara maupun bahaya non-tradisional yang membahayakan umat manusia.

IKNI; Indeks Kepemimpinan Nasional  Indonesia

Demikianlah upaya Lemhannas RI dalam menjaga kebaikan dan kekokohan kepemimpinan melalui pemunculan IKNI . Sayang sekali, IKNI belum menjadi rujukan banyak pihak dalam menyiapkan dan memunculkan kepemimpinan. 


Dalam proses pilkada langsung, kepemimpinan adalah pasar bebas yang terikat oleh hukum-hukum pasar yang praktis dan pragmatis. Tidak terikat oleh hukum nilai yang bertanggung jawab.  Maka lahilrlah para pemimpin yang baru sebentar menjabat kekuasaan sudah tersandung perkara. Setelah mendapatkan banyak kepala daerah bermasalah, kita ramai ramai mencaci, padahal kita pula yang memilih dan mengangkatnya.


sumber : Cahyadi Takariawan

-ditulis ulang dengan penataan paragraf - agus ahmad hidayat-




Jumat, 20 Oktober 2023

SUAMI ISTRI JANGAN TAMAK

 SUAMI ISTRI HARUS BERSIKAP QANAAH, JANGAN TAMAK

Oleh: Ustadzah Dr. Aan Rohanah, Lc.,  M.Ag.


Seorang istri saat diberi nafkah oleh suami harus bersikap qanaah yaitu merasa cukup atas nikmat yang diberi oleh Allah. Ia harus merasa nafkah tersebut sudah cukup, sebab pada dasarnya ia sudah dilimpahkan nikmat berkecukupan saat ia bisa tinggal di rumah dengan aman, berbadan sehat dan sehari-harinya ada makanan yang ia bisa konsumsi. 

Begitupun suami bersikap qanaah atas pelayanan dari istri yang shalihah, sehingga mereka masing-masing tidak menuntut lebih dari kemampuan pasangannya.

Suami dan istri akan merasa beruntung dan bahagia jika memiliki pasangan yang shalih/shalihah dan bersikap qanaah, sehingga tidak bersikap tamak dan  tidak berambisi untuk melakukan hal-hal yang terlarang. Karena dengan sikap qanaah itu,  suami dan istri bisa menerima apapun ketetapan Allah  dengan lapang dada, syukur dan gembira. Rasulullah bersabda : 

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah ).

Suami dan istri yang bersikap qanaah di tengah banyak keterbatasan akan tetap merasa tenang, tidak galau dan tidak setres. Karena mereka yakin akan ada keberuntungan dan keberkahan yang diberi oleh Allah dibalik keterbatasan tersebut. Rasulullah bersabda : 

“Sungguh beruntung orang yang berislam, memperoleh kecukupan rezeki dan dianugerahi sifat qana’ah atas segala pemberian” (Hasan. HR. Tirmidzi).


Jadi sebetulnya sumber kecukupan itu bukan seberapa besar bilangannya tapi seberapa kuat iman dan Islam  yang ada di dalam jiwanya. Rasulullah bersabda : 


 ”Kaya itu  bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah ). 

Karena itu, setiap suami istri yang bersikap qanaah bisa saling membahagiakan pasangan, sehingga mereka selalu bersikap ridha atas ketetapan Allah dan yakin bahwa ketetapan Allah itulah yang terbaik bagi mereka dan keluarganya.


Suami istri yang bersikap qanaah akan bisa menjaga kepribadiannya yang suci, mampu menjaga lisannya dan bersikap santun kepada pasangannya. Karena itu, mereka akan sering berdoa sebagaimana doa Rasulullah SAW :

"Ya Allah, aku minta kepada-Mu petunjuk, takwa, kesucian diri dan kecukupan" ( HR. Muslim ).





Senin, 09 Oktober 2023

Malam Sekaten


 

Malam Sekaten

cerita pendek karya Hamka

1

Gung telah berbunyi bertalu talu di halman Mesjid Agung. Manusia telah berduyun duyun keluar dari rumahnya masing masing, bagai anai anai bubus, berkumpul ke alun alun.

Perayaan Sekaten itu tidak dapat lagi dipisahkan dari adat istiadat penduduk Solo dan Yogya, terambil dari kalimat Syahadatain, yaitu dua kalimat Syahadat. Perayaan itu berasal dari zaman dahulu, pada masa wali wali menyiarkan agama Islam di tanah Jawa. Diadakannya Sekaten untuk mendengarkan pengakuan orang orang yang baru pindah dari agama Hindu Majapahit kepada agama baru, agama Islam yang mulai tertegak di dalam kerajaan Demak terus ke Mataram

2

Malam Sekaten itu bertepatan dengan maulud Nabi Muhammad saw. Waktu itulah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Yogyakarta keluar dari dalam keraton menuju ke Mesjid Agung, hendak mendengarkan para kiai yang dikepalai oleh kepala penghulu istana membaca kisah Maulud Nabi dengan nyanyian merdu, percampuran kesenian Arab, Hindu, dan Jawa. Bila Baginda telah masuk, maka berbunyilah meriam, alamat Sekaten telah dimulai. Di belakang Baginda berjalan prajurit prajurit istana dengan pakaian yang indah indah; berbaris dengan tertibnya. Ada yang memikul tombak, ada yang membawa payung kebesaran dan bendera yang aneka warna. Di dekat Baginda kelihatan prajurit pilihan, yaitu prajurit Daengan ban Bugisan, turunan serdadu serdadu Mengkasar dan Bugis yang telah jadi penjaga istana lebih dari seratus tahun lamanya, sampai kepada anak cucunya.

-bersambung-