Rabu, 15 Mei 2019

Membaca kisah Jan Pieterszoon Coen


Versi lain kematian Gubernur Jenderal VOC pertama, Jan Pieterszoon Coen.

MAKAM bermarmer merah muda terpuruk di tengah makam-makam kecil. Beringin raksasa melindunginya dari matahari dan hujan. Helaian daun kering dan batu-batu hitam memenuhi bagian tengah tempat peristirahatan terakhir itu. Warga Desa Keramat, Tapos (perbatasan Bogor-Depok) mengenalnya sebagai makam Nyimas Utari Sanjaya Ningrum.

“Sebenarnya nama beliau adalah Nyimas Utari Sandijayaningsih,” ujar Ustad Sukandi (42 tahun), tokoh masyarakat Desa Keramat.

Sukandi mendengar kisah dari orang-orang tua di Desa Keramat bahwa Nyimas Utari merupakan agen intelijen Kerajaan Mataram. Sultan Agung Hanyokrokusumo menugaskan dia untuk membunuh Gubernur Jenderal VOC pertama, Jan Pieterszoon Coen dalam penyerangan kedua Mataram ke Batavia.
“Tugas itu berhasil dia jalani. Leher Coen berhasil dipenggalnya dengan golok Aceh,” ungkapnya.
Keterangan Sukandi dibenarkan Ki Herman Janutama. Sembari mengutip Babad Jawa, sejarawan asal Yogyakarta itu menyebut bahwa pemenggalan kepala Coen merupakan misi rahasia yang sudah lama direncanakan dengan melibatkan grup intelijen Mataram, Dom Sumuruping Mbanyu (Jarum yang Dimasukan Air).

“Orang sekarang mungkin akan kaget kalau dikatakan militer Mataram memilik kesatuan telik sandi sendiri, tapi bagi kami yang akrab dengan manuskrip-manuskrip tua dan cerita-cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, hal ini tidak aneh,” ujar Ki Herman.

Infiltrasi telik sandi Mataram ke Batavia sudah dirancang sejak 1627. Dengan mengerahkan orang-orang Tumenggung Kertiwongso dari Tegal, komandan kelompok intel Mataram Raden Bagus Wonoboyo membangun basis di wilayah bantaran Kali Sunter di daerah Tapos. Untuk melengkapi kerja-kerja rahasia tersebut, Wonoboyo mengirimkan putrinya yang memiliki kemampuan telik sandi mumpuni, Nyimas Utari, untuk bergabung dengan agen telik sandi asal Samudera Pasai, Mahmuddin.
“Dia memiliki nama sandi: Wong Agung Aceh. Dia kemudian menikahi Nyimas Utari,” kata Ki Herman.

Dari Aceh, kedua agen intelijen itu memasuki benteng VOC di Batavia dengan kamuflase sebagai pebisnis. Mereka memiliki kapal dagang yang disewa VOC untuk mengangkut meriam dari Madagaskar. Mereka lantas dipercaya Coen sebagai mitra bisnis VOC. Begitu dekatnya, hingga mereka memiliki akses ke kastil dan bergaul dengan Eva Ment, isteri Coen, dan anak-anaknya.
Pada 1629, balatentara Mataram menyerbu Batavia. Di tengah kekacauan dan kepanikan, Nyimas Utari membunuh Eva dan anak-anaknya dengan racun lewat minuman. Mahmuddin berhasil menyelinap ke ruangan Coen dan membunuhnya.
“Guna bukti kesuksesan misi mereka ke Sultan Agung, Nyimas Utari dengan menggunakan golok kepunyaan Mahmuddin memenggal kepala Coen,” ujar Ki Herman.

Sambil membawa kepala Coen, Mahmuddin dan Nyimas Utari diloloskan pasukan penyelundup Mataram dari dalam benteng VOC. Namun, saat pelarian tersebut mereka dihujani tembakan meriam yang menewaskan Nyimas Utari. Mahmuddin membopong jasad istrinya hingga wilayah Desa Keramat, tempat dia dimakamkan.

Kepala Coen diambil oleh Wonoboyo. Secara estafet, kepala itu dibawa lewat jalur Pantai Utara oleh tentara Mataram di bawah komandan Tumenggung Surotani. Sultan Agung memerintahkan untuk menanam kepala itu di baris ke-716 tangga menuju makam raja-raja Jawa di Imogiri.

“Hingga kini, para peziarah yang paham cerita ini akan melangsungkan ritual pengutukan terhadap jiwa Coen dengan cara menginjak-injak tangga ke-716 seraya mengeluarkan sumpah serapah dari mulut mereka,” ujar Ki Herman.
Kendati kematian Coen terkesan mendadak, namun secara resmi kalangan sejarawan Belanda meyakini kematiannya karena penyakit kolera. Menurut H.J. De Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram, pada 17 September 1629, Coen masih terlihat segar bugar saat memeriksa kesiapsiagaan tentaranya untuk mempertahankan Batavia.

“Pada 20 September malam dia mendadak jatuh sakit dan sekitar jam satu malam dia meninggal dunia,” tulis De Graaf.

Dalam Kisah Betawi Tempo Doeloe: Robin Hood Betawi, sejarawan Alwi Shahab mengutip versi Belanda yang menyebut jasad Coen kemudian dimakamkan di Balai Kota (kini Museum Sejarah DKI di Taman Fatahillah) dan kemudian dipindahkan ke De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Tua Belanda yang kini menjadi Museum Wayang). Namun, sejarawan Sugiman MD dalam Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi, meragukan bahwa makam itu berisi jasad Coen.
Terlebih menurut arkeolog Chandrian Attahiyyat, para arkeolog Belanda memastikan bahwa di makam itu tidak ditemukan jasad berupa tulang belulang saat mereka melakukan penggalian pada 1939. Supaya komprehensif, seharusnya penggalian pun dilakukan di Imogiri.

Membaca Puisi karya Amir Hamzah

Bahan bacaan puisi:


Amir  Hamzah

PADAMU JUA

Habis kikis
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu - bukan giliranku
Matahari - bukan kawanku.





















HANYA SATU

Timbul niat dalam kalbumu:
Terban hujan, ungkai badai
Terendam karam
Runtuh ripuk tamanmu rampak

Manusia kecil lintang pukang
Lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh redam terbelam
Dalam gagap gempita guruh
Kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi

Terapung naik jung bertudung
Tempat berteduh nuh kekasihmu
Bebas lepas lelang lapang
Ditengah gelisah, swara sentosa
                               
Bersemayam sempana di jemala gembala
Juriat jelita bapaku iberahim
Keturunan intan dua cahaya
Pancaran putera berlainan bonda.

Kini kami bertikai pangkai
Diantara dua, mana mutiara
Jauhari ahli lalai menilai
Lengah langsung melewat abad

Aduh kekasihku
Padaku semua tiada berguna
Hanya satu kutunggu hasrat
Merasa dikau dekat rapat
Serupa musa dipuncak tursina.


Membaca Puisi, menemukan makna dalam puisi


Sutardji Calzoum Bachri


TAPI

aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah !

Oleh :Sutardji Calzoum Bachri
"Memahami Puisi, 1995"

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu janun
batu bisu

kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji ?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh
dengan seribu perawan hati tak jatuh
dengan seribu sibuk sepi tak mati
dengan seribu beringin ingin tak teduh.
Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai
mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai
mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai
mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai.
Kau tahu
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu

kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji ?





Amir Hamzah

DOA
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik,
setelah menghalaukan panas terik.

Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung
rasa menayang pikir, membawa angan kebawah kursimu.

Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap-malam menyirak kelopak.

Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan
cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!


Rabu, 03 April 2019

Wow Singkatan Apa Lagi, Aku Tak Mengerti



Maraknya singkatan dan akronim yang ada dalam masyarakat menimbulkan keresahan musisi kota Bandung – Grup Bimbo dengan personal Sam, Iin Parlina, Jaka, mereka menciptakan lagu yang liriknya berisi gurauan yang menyindir singkatan menjadikan orang kebingungan karena singkatan bukan menambah praktis dalam berbahasa namun memberikan kebingungan karena muncul makna ganda atau ambigu. Misalnya pada kalimat  “Balon aleg dipolisikan karena memiliki ijasah aspal”.
Singkatan balon, aleg, aspal yang dikiranya pembaca memahami padahal justru membingungkan karena tidak komunikatif.



Sekarang zaman sedang demam singkat
Di jalan motor mobil adu cepat
Manusia mau kaya cara kilat
Remaja dalam bercinta pun hebat

Jangan coba cari kamusnya
Jangan pula cari aturannya
Jangan tanya ahli bahasa
Jangan pula mencari asalnya

Es-a-em  samsudin anak manja
i-par  iin parlina
ja-ka  jawatan kereta api
el-vis  elvi sukaesih
as-na-wi  asli cina betawi
let-jen  letnan  jaenudin

sehari terjadi satu singkatan
setahun tiga ratus enam lima
maksudnya jadi singkat tapi padat
yang blo’on dan bingung pun meningkat

mungkinkah ini sebab sakit jiwa
mungkinkah ini tuntutan zaman
meskipun banyak orang pada bingung
tapi hal ini terus berlangsung

u-es-a  usaha solo asli
pe-ran-cis  perapatan ciamis
us-tra-li  urusan tradisi bali
ja-si-nga   jakarta  singapura
re-ma-ko  remaja  kolot
pen-de-kar  pendek dan kekar
pe-es-be  persatuan sepak bola  bogor
pe-es-be  pusat susu bandung
de-es-be  dan saya bingung






Langkah berikutnya: a)Hitunglah berapa suku kata tiap baris pada  bait pertama lagu  itu! b)Adakah kata yang diulang-ulang pada teks lagu itu, kata apa itu, dan pada bait ke berapakah?  c) Apa isi pokok lagu itu? d) Berilah tanggapanmu berkaitan dengan banyaknya singkatan dalam penggunaan bahasa Indonesia!

Selesai, selamat belajar.

Jumat, 22 Maret 2019

Lomba Adu Kerbau - Politik tradisional mengajarkan strategi berlomba mengalahkan musuh




Menang kerbau
 - cerita rakyat - 

Apa yang kuinginkan, sebetulnya, hanyalah seperti yang ayah ceritakan; sebuah dunia yang tenteram, suatu kehidupan yang sentosa. Tak ada perang, tiada tentara. Suatu kerajaan, suatu pemerintahan, atau mungkin lebih tepat suatu organisasi yang hanya memikirkan kesejahteraan bersama, menghilangkan sebutan bangsawan atau rakyat biasa dan yang membedakan antara yang satu dengan yang lain hanyalah peran masing masing dalam kebersamaan.
Tapi aku bukanlah raja.
Dan kakaku bukanlah sutan balun.
Bagaimanapun telah berubahnya sutan marajo, Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa besar di majapahit. Sebagai seorang yang pernah memegang jabatan panglima perang, logikanya tak bisa dilepaskan dari tentara, dan senjata. Maka , ‘kau bermimpi, Dinda. Tak ada kerajaan tanpa angkatan perang,’ katanya ketika suatu hari aku menyampaikan apa yang ada dalam pikiranku.
‘aku tak bermimpi, kakanda. Bila perang dihilangkan dari bahasa, orang pun takkan mengerti cara melakukannya, pernahkah kanda dengar suatu daerah yang tak memiliki kata dusta dalam bahasanyha? Itu karena mereka memang tak pernah melakukan dusta.”
“Untuk dusta mungkin saja. Tapi untuk perang tidak akan, Dinda. Sebelum orang lain mendahului kita, akan lebih menguntungkan kalau kita mendahului mereka.”
“Tapi logika itu bukankah bisa dibalik, kakanda? Jika kita tak menyerang orang lain, orang lain pun tak punya alasan menyerang kita.”
“orang akan membuat alasan. Selalu orang akan membuat alasan. Beribu ribu alasan, adinda.”
Begitulah. Tapi kusadari, ini fasal yang sama sekali berbeda dari tarik balas. Dan akan jauh lebih sulit. Berselisihnya dunia antara diriku dengan Aditiawarman atau Sutan Marajo Basa adalah penyebab utama. Kondisi seperti ini, diperlihatkan oleh sejarah, hanya bisa dipecahkan dengan masuk ke dunia pertama untuk kemudian membawanya ke dunia kedua. Tapi, akan mampukah aku? Karena itu sama artinya dengan lebih dulu masuk ke dunia kakakku. Sejarah penaklukan itu.
Hanya ayahku cati bilang pandai yang bisa mengerti.
Hanya ... Hanya ibuku bundo kanduang yang mapu memahami.
Setiap memandang bundo, setiap memandang adikku puti jamilan, setiap memandang perempuan, perempuan mana saja di belahan dunia mana pun, aku selalu melihat kekuasaan memporak porandakan mereka. Di daerah taklukan juga di daerah kemenangan. Di daerah taklukan menjelma jeritan, di daaerah kemenangan menjelma hiburan. Tak lebih dari benda, legitimasi dari apa yang orang laki laki sebut keperkasaan.
***

Tapi, rupanya, aku tak perlu masuk ke dunia Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa. Hanya karena seekor kerbau.
Pada masa itu, bersamaan dengan tumbuhnya Pagaruyung, di utara juga muncul sebuah kerajaan yang karena lokasinya baik cepat menjadi besar. Orang orang menyebutnya Pasei, atau kadang kadang samudera Pasei. Dan hari itu, muncullah tiga orang utusanna ke Pagaruyung membawa sepucuk surat dari yang dipertuan di Pasei.
Setelah membacanya, wajah kakakku menegang.
“apa sinya, kanda?”Tanyaku.
Perang
Perang kenapa harus berperang aku mendadak ingat kuntu punya hubunga dengan Pasei. Apakah alasannya. Bukan mereka kitalah yang punya alasan.
Kita. Aku tak mengerti, kakanda. Boleh kubaca apa yang tertulis di sana.
Kakaku sutan marajo basa menyerahkan surat itu kepadaku.  Setelah membacanya aku jadi tersenyum. Dan kataku, kenapa ini kanda jadikan alasan. Kalau mereka hanya ingin mengadu kerbau, tidakkah sebaiknya kita layani.
Dengan kerajaan sebagai taruhannya. Jangan gila, adinda.
Nah, kalu kanda tak setuju ya, tolak saja. Kenapa harus berperang.
Ini penghinaan, adinda. Mereka pikir, apakah Pagaruyung tak punya angkata perang?
Tapi bisa juga sebaliknya, kakanda. Karena mereka tahu bahwa Pagaruyung kuat angkatan perangnya, mereka gunakan akal untuk menundukkan kita.
Akal. Kakakku tertawa. Mereka pikir, apa itu akal. Beraninya mereka menawar Pagaruyung hanya dengan sepotong akal.
Justru itu, kanda. Kita harus tunjukkan bahwa kita lebih berakal daripada mereka.
Adinda. Yang kita pertaruhkan, ingat, adalah kerajaan Pagaruyung.
Apakah kanda takut kita akan kalah.
Kakakku terdiam. Kubayangkan apa yang ia pikir. Tentulah ia ragu. Mengadu kerbau, dan kerajaan taruhannya. Kalau orang Pasei itu kalah, apakah mereka takkan menyesal menyerahkan kerajaannyha. Hanya karena seekor kerbau. Dan kalau kemudian ternyata Pagaruyung yang kalah?
“akan kita taklukkan mereka, kakanda,” lanjutku. “Kita buktikan bahwa kita tak hanya punya angkatan perang yang kuat, tapi juga memiliki binatang ternak yang terlatih. Lagi pula, kanda, dengan hanya mengadu kerbau, kita telah menghemat banyak biaya. Dan yang lebih penting, telah menyelamatkan banyak nyawa.”
Lama kakakku berpikir. Tentulah ia masih ragu. “Dinda,” katanya. “Kenapa kau begitu yakin bahwa kita akan menang? Punyakah kau suatu rahasia, suatu taktik, untuk mengalahkan orang orang Pasei itu?”
“Tentu saja.” Aku tersenyum. Dan katakku segera pada pengawal, “Kita terima tantangan itu. Katakan kepada mereka.”
“Tunggu dulu, adinda. Kau harus sebutkan padaku, rahasia itu.”
“Kerbau binatang yang tak tahan berjalan jauh, kakanda. Ia butih istirahat yang lama untuk memulihkan tenaga. Dan selama itu, ia takkan punya nafsu bertarung.”
Kakaku kembali terdiam. Beberapa saat kemudian ia mengangguk anggukkan kepala. Jadi, katanya, pertarungan itu kita lakukan pada kesempatan pertama? Sesegera?”
“Ya,” kataku. Dan kepada pengawal, “Katakan pada si utusan itu, kita tunggu mereka di sini,” lalu kusebutkan waktunya. Lebih cepat dari jangka tempuh yang kuperkirakan. Masih kutambah, jika mereka kalah, katakan kepada mereka, mereka tak perlu menyerahkan Pasei.”
Adinda. Kakakku terkejut mendengar kalimatku yang terkhir.
Maafkan aku, kakanda. Seluruh daging, seluruh darah ini, kurelakah bagi Pagaruyung. Kerajaan kita sudah demikian luas, kakanda, akan sukar bagi kita untuk mengurusnya. Rakyat tentulah akan terlantar.
Berangkat pulanglah si utusan. Kembali ke Pasei, menyampaikan jawaban dari Pagaruyung.
***
Kabar itu pun menyebar. Kabar yang tentu saja lebih menggemparkan daripadi peristiwa pengadilan diriku. Penduduk terjauh dari Pagaruyung, kulihat, bahkan ikut berdatangan ke ibu negeri. Penduduk dari Muara Batanghari, dari Muara Sungai Rokan, dari Indrapura, sampai dari Barus di utara, telah hadir di Pagaruyung malahan beberapa hari sebelum waktu yang ditetapkan.
Lokasi di mana kerbau itu akan berlaga, sebuah padang rumput yang cukup luas, telah pula kami bangun sedemikian rupa. Dibutuhkan beribu ribu batang bambu untuk membuat pagar, dinding pembatas, tangga tangga dan bangku agar rakyat bisa dengan teratur menyaksikan tanpa harus berdesakan. Di sebelah utara, arah keluar Pagaruyung, kami buatkan pula semacam tribun untuk yang dipertuan di Pasei dan para pengawalnya. Suatu hal yang kuharap akan mengesankan. Aku bahkan ingin Pagaruyung terlihat sepeti tuan rumah yang tengah menyambut tamunya dengan ramah lalu menyuguhkan sebuah tontonan untuk sama dinikmati dalam keriangan. Di gelanggang itu tak kubiarkan ada kesan pertarungan, apalgi kesan bahwa kerajaan tengah dipertaruhkan. Tak ada tentara atau prajurit atau apa pun namanya yang lalu lalang berkeluaran, bahkan juga nanti pada  hari perlagaan karena memang begitulah yang kuinginkan.
Tapi, apakah memang sesuai dengan apa yang kuperhitungkan?
Ternyata tidak.
Ketika rombongan yang dipertuan di Pasei muncul memasuki Pagaruyung, kami tercengang dan kaget. Betapa tidak. Ternyata kerbau mereka tidaklah ditarik atau dihela oleh beberapa orang berkuda seperti yang kubayangkan. Melainkan berada dalam kandang kayu kokoh yang ditating dan dibawa  oeleh empat ekor gajah. Dan penampilannya demikian kekar dan gempal dan juga ganas, dan tampaknya tengah amat marah.
Dibandingkan dengan kerbau yang kami punya, jelaslah kerbau orang orang Pasei itu unggul segalanya. Ketika kandang itu diturunkan, si kerbau malah menyeruduk nyeruduk, emgnantamkan tanduknya yang besar mencuat dan menerjang nerjang ke seluruh penjuru kandang. Kakakku jadi gelisah.
Apa akal kita, adinda. Cemas sekali suara Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa.
Aku tak bisa dengan segera menjawab. Bagaimanapun ini mamang di luar perkiraanku. Dan bagimanapun pula walau dipanggul oleh empat ekor gajah, takkan mungkin kerbau itu tak merasa capek dan lelah. Pastilah orang orang Pasei itu telah memberikan sesuatu kepada kerbaunya sehingga si kerbau berada dalam kondisi yang demikian rupa.
Mereka telah menggunakan akalnya, kanda, kataku. Tentulah kerbau mereka telah diberi semacam obat perangsang atau entah apa.
Jadi?
Akan kita pergunakan cara yang sama. Kalau aturan mereka membolehkan hal hal yang tak lahiriah dipunyao oleh seekor kerbau, kenapa kita tidak?
Sudah kautemukan caranya?
Aku butuh waktu, kanda. Untuk sementara kita perlakukan mereka layaknya benar benar tamu. Kita persilakan mereka istirahat. Takkan mencurigakan. Mereka atentulah lelah.
Dan sepanjang hari itu sampai siangnya aku memeras pikiran dan tak keluar keluar dari kamar. Barulah setelah hari beranjak sore kudapakan jalan keluarnya dan segera kutemui Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa.
Bagaimana, adinda. Sambut kakaku. Bersamanya telah berkumpul para pemuka dan pembesar istana. Juga ayahku cati bilang pandai.
Sudah kutemukan, kanda
Apa yang akan kaulakukan. Bagaimanakah caranya
Kubutuhkan seorang pandai besi yang benar benar ahli.
O, kalau itu, adinda jelas kita punya. Seluruh senjata angkatan perang dari dialah ketajamannya. Aku panggilkan ia menghadap?
Tak usah, kanda. Biarkan aku sendiri yang ke tempatnya, nanti, lanjutku, selain pandai besi, aku juga butuh beberapa tenaga; mencari seekor anak kerbau yang masih menyusu dengan rakusnya.
Semua yang hadir mengerutkan dahi. ‘seekor ... Anak kerbau?”
“Ya, kakanda. Seekor anak kerbau yang belum berpisah dari induknya. Masih menyusu tapi sudah tumbuh bakal tanduknya.”
Hanya seekor, adinda?
Sebaiknya beberapa ada. Biar nanti kita bisa memilihnya.
Kuperintahkan segera, kata baginda. Masih adakah keperluan lainnya?
“Sudah cukup, Kanda.”
Setelah memberi perintah untuk mencarikan apa apa yang kuperlu, tak sabar kakaku mendekatkan wajahnya.
“Ceritakan segera, tentang kau punya rencana.”
***
Dan memang, tak ada yang mempertanyakan kenapa adu kerbau belum mulai juga. Pihak tamu, yang dipertuan di Pasei bersama rombongan, malah merasa amat senang. Betapa tidak? Selama dua hari di Pagaruyung, mereka diperlakukan lebih dari yang mereka harapkan. Bahkan mereka tak percaya; orang Pagaruyung ternyata amat ramah dan tentulah sangat berbeda dari yang mereka dengar.
Pada hari ketiga barulah diumumkan, bahwa besoknya diselenggarakan aduan. Maka pada sepanjang sore hari ketiga sampai malamnya kusaksikan rakyata telah berebutan ke arena. Mereka mencari tempat duduk, bahkan ada yang hanya tempat tegak, karena amat ramainya. Dan di tempat masing masing itu mereka tak mau lagi beranjak, sampai hari berikutnya.
Agak siang, masing masing raja telah berada pada tempatnya.
Tak ada teriakan perang, tiada ayunan senjata. Hanya suara terompet.
Tiupan pertama pun menggema, panjang dan lama. Itu adalah tanda masing masing pihak sudah harus menyiapkan kerbaunya. Tak lama sesudahnya, terdengar tiupan kedua, pendek dan terturut turut, pertanda kerbau sudah haru dibawa ke pinggir arena.
Karena mungkin memang sudah lama disiapkan, kerbau yang dipertuan di Pasei tampil lebih dulu. Seekor kerbau yang sungguh luar biasa. Untuk mempertahnkan gerak dan geliatnya, ada sepuluh prajurit yang berkutetan menjaga. Hidungnya mendengus dengus dan mulutnya berbusa. Dan tanduknya yang besar mencuat, berkilat kilat, selalu direndeng rendengkannya. Apakah yanga telah mereka berikan pada kerbau itu?
Kubayangkan bahwa diam diam tentulah rakyat sudah meramal kerbau orang asing itu akan mengalahkan kerbau baginda mereka Sri Maharaja Diraja. Aku yakin, tak seorang pun di antara mereka, rakyat Pagaruyung, pernah melihat kerbau sebesar dan seberingas itu di malayapura. Apalagi mereka tahu bahwa Baginda Sri Maharaja Diraja tak pernah tertarik kepada, jangankan memelihara, seekor pun hewan selain kuda.
Telah sejak tadu aku berada di antara mereka, di tengah rakyat Pagaruyung. Alangkah gaduh. Dari kerbau yang dipertuan di Pasei, mata mereka beralih mencari kerbau Baginda Sri Maharaja Diraja. Alangkah kagetnya orang orang, dan tak percaya, bahkan ada yang mengerjap ngerjapkan atau menggosok gosok mata, begitu menyaksikan para pengawal baginda di seberang yang lain menuntun seekor kerbau kecil- tak lebih dari seekor anak kerbau – memasuki lapangan.
Benar-benar seekor anak kerbau! Hanya saja, kerbau itu lebih punya tanduk dibanding karebau kerbau seumurnya. Tanduk? Seperti bukan tanduk. Kilauya lain ditimpa cahaya. Besi? Ya dua potong besi yang mencuat menyerupai tanduk. Dan kerbau kecil itu, akan kerbau itu, demi melihat ada seekor kerbau di seberang yang lain ia segera meronta ronta seraya melenguh lenguh serupa memanggil induknya.
Saat orang masih terheran heran, tercengang cengang terdengar gema terompet ketiga, pendek berturut turut kemudian ditutup oleh suatu tiupan yang panjang. Itulah tanda bahwa kerbau sudah harus diadu.
Sisi di seberang yang satu, pihak yang dipertuan di Pasei masih juga terbengong bengon belum bereaksi atas aba aba. Satu dua orang malah masih celingukan mencari cari kalau kalau lanan dari kerbau mereka kerbau lain dan bukan kerbau kecil itu. Tapi tak ada.
Sisi di seberang yang lain, kubu Pagaruyung, segera melepaskan kerbau mereka sesaat setelah tiupan terompet terkahir. Dan kerbau kecil itu, anak kerbau itu, serta merta melompat menuju kerbau yang dipertuan di Pasei.
Walau ragu-ragu, para prajurit yang dipertuan di Pasei melelpaskan juga kerbau mereka. Kerbau besar itu serta merta menghambur, melompat mendengus dengus dan berputar putar sejenak mencari sasaran, tapi mendadak tertegun ketika melihat seekor anak kerbau melompat seperti riang ke arahnya.
Tak ada pertarungan. Tak ada perlagaan. Yang orang orang saksikan kemudian, kerbau kecil itu menyeruduk ke selangkangan si kerbau besar layaknya seekor anak kerbau kehausan ingin menyusu pada induknya.
Kerbau yang dipertuan di Pasei belum juga menyadari. Tapi ketika anak kerbau Baginda Sri Maharaja Diraja menyeruduk nyeruduk bagai kesetanan karena tak menemukan semacam ambing di sana, barulah kerbau besar itu terlompat lompat. Kesakitan.
Berkali kali besi runcing yang dibentuk menyerupai tanduk itu menusuk perut kerbau yang dipertuan Pasei. Berkali kali kerbau besar terlompat lompat melengguh lenguh berlainan kian kemari. Tapi, ke mana pun kerbau besar itu lari berusaha menghindarkan diri, selalu saja disusul dan diseruduk oleh kerbau Baginda Sri Maharaja Diraja. Tak ayal, kerbau besar itu pun roboh. Berkelejotan.
Beberapa saat orang orang masih kelihatan terpana.
Tak ada yang cukup sadar bahwa segalnya telah selesai.
Lalu, entah dari sisi mana yang memulai, riuh tepuk tanan dan tempik sorak tiba tiba meledak seperti hendak merengkah angkasa. “Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja! Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja! Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja! Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja!
Pada sebuah tempat, di tengah tengah lonjakan rakyat, aku tersenyum lega. Anak kerbau yang kupisahkan menyusu selama tiga hari, tentulah amat haus dan lapara.
Pada bagian lain, di tengah lampiasan kemenangan para pemuka dan pembesar Pagaruyung, kakakku tampak celingukan. Mancari cari diriku.

Ditulis ulang oleh Agus Ahmad Hidayat, guru SMAN 2 Kotabumi Lampung Utara, bersumber dari Bab 7 Menang Kerbau halaman 38-47 buku Tambo sebuah Pertemuan  ditulish oleh  Gus TF Sakai, penerbit Grasindo, Jakarta 2000



Rabu, 21 November 2018

Pengertian Verba Pewarta


    Verba Pewarta adalah kata yang dipergunakan untuk mengindikasikan suatu percakapan. Verba pewarta merupakan salah satu ciri kaidah kebahasaan teks berita, karena di dalam teks berita terdapat keterangan, verba pewarta dan verba transitif sebagai ciri kaidah kebahasaan nya.

Kata kerja pewarta mempunyai sifat mewartakan, contoh nya seperti mengatakan, memaparkan, menjelaskan, memberitakan, dan sejenisnya. Intinya sifat dari kata kerja ini yaitu memberitahu kepada orang lain, umumnya masyarakat luas.
Contoh Verba Pewarta

Untuk mempermudah penjelasan mengenai kata kerja pewarta yang digunakan dalam teks berita, kami menyertakan contohnya dengan kata dan kalimatnya, berikut ini:
Kata: Mengatakan
Kalimat: Dalam pidato Presiden Jokowi yang disiarkan melalui televisi, beliau mengatakan bahwa akan menurunkan harga bahan bakar minyak secepatnya. Sehingga rakyat tidak terlalu di bebani oleh harga bbm yang mahal.

Kata: Memaparkan
Kalimat: Presiden juga memaparkan perkembangan Indonesia yang saat ini sudah siap menghadapi tantangan dan persaingan.

Kata: Memberitakan
Kalimat: Ketika terjadi gerhana matahari 9 Maret 2016 di internet banyak sekali situs web yang memberitakan tentang proses terjadi gerhana matahari.



Jumat, 09 November 2018

Puisi karya Mansur Samin - Penyair Angkatan 66

 PERNYATAAN

Sebab terlalu lama meminta
tangan terkulai bagai dikoyak
sebab terlalu lama pasrah pada

derita
kesetiaan diinjak

Demi amanat dan beban rakyat
kami nyatakan ke seluruh dunia
telah bangkit di tanah air
sebuah aksi perlawanan

terhadap kepalsuan dan kebohongan
yang bersarang dalam kekuasaan
orang-orang pemimpin gadungan


Maka ini pagi
dengan resmi
kamu mulai
aksi demonstrasi

Pernyataan ini
disahkan di Jakarta
kami
Mahasiswa Indonesia