Jumat, 22 Maret 2019

Lomba Adu Kerbau - Politik tradisional mengajarkan strategi berlomba mengalahkan musuh




Menang kerbau
 - cerita rakyat - 

Apa yang kuinginkan, sebetulnya, hanyalah seperti yang ayah ceritakan; sebuah dunia yang tenteram, suatu kehidupan yang sentosa. Tak ada perang, tiada tentara. Suatu kerajaan, suatu pemerintahan, atau mungkin lebih tepat suatu organisasi yang hanya memikirkan kesejahteraan bersama, menghilangkan sebutan bangsawan atau rakyat biasa dan yang membedakan antara yang satu dengan yang lain hanyalah peran masing masing dalam kebersamaan.
Tapi aku bukanlah raja.
Dan kakaku bukanlah sutan balun.
Bagaimanapun telah berubahnya sutan marajo, Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa besar di majapahit. Sebagai seorang yang pernah memegang jabatan panglima perang, logikanya tak bisa dilepaskan dari tentara, dan senjata. Maka , ‘kau bermimpi, Dinda. Tak ada kerajaan tanpa angkatan perang,’ katanya ketika suatu hari aku menyampaikan apa yang ada dalam pikiranku.
‘aku tak bermimpi, kakanda. Bila perang dihilangkan dari bahasa, orang pun takkan mengerti cara melakukannya, pernahkah kanda dengar suatu daerah yang tak memiliki kata dusta dalam bahasanyha? Itu karena mereka memang tak pernah melakukan dusta.”
“Untuk dusta mungkin saja. Tapi untuk perang tidak akan, Dinda. Sebelum orang lain mendahului kita, akan lebih menguntungkan kalau kita mendahului mereka.”
“Tapi logika itu bukankah bisa dibalik, kakanda? Jika kita tak menyerang orang lain, orang lain pun tak punya alasan menyerang kita.”
“orang akan membuat alasan. Selalu orang akan membuat alasan. Beribu ribu alasan, adinda.”
Begitulah. Tapi kusadari, ini fasal yang sama sekali berbeda dari tarik balas. Dan akan jauh lebih sulit. Berselisihnya dunia antara diriku dengan Aditiawarman atau Sutan Marajo Basa adalah penyebab utama. Kondisi seperti ini, diperlihatkan oleh sejarah, hanya bisa dipecahkan dengan masuk ke dunia pertama untuk kemudian membawanya ke dunia kedua. Tapi, akan mampukah aku? Karena itu sama artinya dengan lebih dulu masuk ke dunia kakakku. Sejarah penaklukan itu.
Hanya ayahku cati bilang pandai yang bisa mengerti.
Hanya ... Hanya ibuku bundo kanduang yang mapu memahami.
Setiap memandang bundo, setiap memandang adikku puti jamilan, setiap memandang perempuan, perempuan mana saja di belahan dunia mana pun, aku selalu melihat kekuasaan memporak porandakan mereka. Di daerah taklukan juga di daerah kemenangan. Di daerah taklukan menjelma jeritan, di daaerah kemenangan menjelma hiburan. Tak lebih dari benda, legitimasi dari apa yang orang laki laki sebut keperkasaan.
***

Tapi, rupanya, aku tak perlu masuk ke dunia Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa. Hanya karena seekor kerbau.
Pada masa itu, bersamaan dengan tumbuhnya Pagaruyung, di utara juga muncul sebuah kerajaan yang karena lokasinya baik cepat menjadi besar. Orang orang menyebutnya Pasei, atau kadang kadang samudera Pasei. Dan hari itu, muncullah tiga orang utusanna ke Pagaruyung membawa sepucuk surat dari yang dipertuan di Pasei.
Setelah membacanya, wajah kakakku menegang.
“apa sinya, kanda?”Tanyaku.
Perang
Perang kenapa harus berperang aku mendadak ingat kuntu punya hubunga dengan Pasei. Apakah alasannya. Bukan mereka kitalah yang punya alasan.
Kita. Aku tak mengerti, kakanda. Boleh kubaca apa yang tertulis di sana.
Kakaku sutan marajo basa menyerahkan surat itu kepadaku.  Setelah membacanya aku jadi tersenyum. Dan kataku, kenapa ini kanda jadikan alasan. Kalau mereka hanya ingin mengadu kerbau, tidakkah sebaiknya kita layani.
Dengan kerajaan sebagai taruhannya. Jangan gila, adinda.
Nah, kalu kanda tak setuju ya, tolak saja. Kenapa harus berperang.
Ini penghinaan, adinda. Mereka pikir, apakah Pagaruyung tak punya angkata perang?
Tapi bisa juga sebaliknya, kakanda. Karena mereka tahu bahwa Pagaruyung kuat angkatan perangnya, mereka gunakan akal untuk menundukkan kita.
Akal. Kakakku tertawa. Mereka pikir, apa itu akal. Beraninya mereka menawar Pagaruyung hanya dengan sepotong akal.
Justru itu, kanda. Kita harus tunjukkan bahwa kita lebih berakal daripada mereka.
Adinda. Yang kita pertaruhkan, ingat, adalah kerajaan Pagaruyung.
Apakah kanda takut kita akan kalah.
Kakakku terdiam. Kubayangkan apa yang ia pikir. Tentulah ia ragu. Mengadu kerbau, dan kerajaan taruhannya. Kalau orang Pasei itu kalah, apakah mereka takkan menyesal menyerahkan kerajaannyha. Hanya karena seekor kerbau. Dan kalau kemudian ternyata Pagaruyung yang kalah?
“akan kita taklukkan mereka, kakanda,” lanjutku. “Kita buktikan bahwa kita tak hanya punya angkatan perang yang kuat, tapi juga memiliki binatang ternak yang terlatih. Lagi pula, kanda, dengan hanya mengadu kerbau, kita telah menghemat banyak biaya. Dan yang lebih penting, telah menyelamatkan banyak nyawa.”
Lama kakakku berpikir. Tentulah ia masih ragu. “Dinda,” katanya. “Kenapa kau begitu yakin bahwa kita akan menang? Punyakah kau suatu rahasia, suatu taktik, untuk mengalahkan orang orang Pasei itu?”
“Tentu saja.” Aku tersenyum. Dan katakku segera pada pengawal, “Kita terima tantangan itu. Katakan kepada mereka.”
“Tunggu dulu, adinda. Kau harus sebutkan padaku, rahasia itu.”
“Kerbau binatang yang tak tahan berjalan jauh, kakanda. Ia butih istirahat yang lama untuk memulihkan tenaga. Dan selama itu, ia takkan punya nafsu bertarung.”
Kakaku kembali terdiam. Beberapa saat kemudian ia mengangguk anggukkan kepala. Jadi, katanya, pertarungan itu kita lakukan pada kesempatan pertama? Sesegera?”
“Ya,” kataku. Dan kepada pengawal, “Katakan pada si utusan itu, kita tunggu mereka di sini,” lalu kusebutkan waktunya. Lebih cepat dari jangka tempuh yang kuperkirakan. Masih kutambah, jika mereka kalah, katakan kepada mereka, mereka tak perlu menyerahkan Pasei.”
Adinda. Kakakku terkejut mendengar kalimatku yang terkhir.
Maafkan aku, kakanda. Seluruh daging, seluruh darah ini, kurelakah bagi Pagaruyung. Kerajaan kita sudah demikian luas, kakanda, akan sukar bagi kita untuk mengurusnya. Rakyat tentulah akan terlantar.
Berangkat pulanglah si utusan. Kembali ke Pasei, menyampaikan jawaban dari Pagaruyung.
***
Kabar itu pun menyebar. Kabar yang tentu saja lebih menggemparkan daripadi peristiwa pengadilan diriku. Penduduk terjauh dari Pagaruyung, kulihat, bahkan ikut berdatangan ke ibu negeri. Penduduk dari Muara Batanghari, dari Muara Sungai Rokan, dari Indrapura, sampai dari Barus di utara, telah hadir di Pagaruyung malahan beberapa hari sebelum waktu yang ditetapkan.
Lokasi di mana kerbau itu akan berlaga, sebuah padang rumput yang cukup luas, telah pula kami bangun sedemikian rupa. Dibutuhkan beribu ribu batang bambu untuk membuat pagar, dinding pembatas, tangga tangga dan bangku agar rakyat bisa dengan teratur menyaksikan tanpa harus berdesakan. Di sebelah utara, arah keluar Pagaruyung, kami buatkan pula semacam tribun untuk yang dipertuan di Pasei dan para pengawalnya. Suatu hal yang kuharap akan mengesankan. Aku bahkan ingin Pagaruyung terlihat sepeti tuan rumah yang tengah menyambut tamunya dengan ramah lalu menyuguhkan sebuah tontonan untuk sama dinikmati dalam keriangan. Di gelanggang itu tak kubiarkan ada kesan pertarungan, apalgi kesan bahwa kerajaan tengah dipertaruhkan. Tak ada tentara atau prajurit atau apa pun namanya yang lalu lalang berkeluaran, bahkan juga nanti pada  hari perlagaan karena memang begitulah yang kuinginkan.
Tapi, apakah memang sesuai dengan apa yang kuperhitungkan?
Ternyata tidak.
Ketika rombongan yang dipertuan di Pasei muncul memasuki Pagaruyung, kami tercengang dan kaget. Betapa tidak. Ternyata kerbau mereka tidaklah ditarik atau dihela oleh beberapa orang berkuda seperti yang kubayangkan. Melainkan berada dalam kandang kayu kokoh yang ditating dan dibawa  oeleh empat ekor gajah. Dan penampilannya demikian kekar dan gempal dan juga ganas, dan tampaknya tengah amat marah.
Dibandingkan dengan kerbau yang kami punya, jelaslah kerbau orang orang Pasei itu unggul segalanya. Ketika kandang itu diturunkan, si kerbau malah menyeruduk nyeruduk, emgnantamkan tanduknya yang besar mencuat dan menerjang nerjang ke seluruh penjuru kandang. Kakakku jadi gelisah.
Apa akal kita, adinda. Cemas sekali suara Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa.
Aku tak bisa dengan segera menjawab. Bagaimanapun ini mamang di luar perkiraanku. Dan bagimanapun pula walau dipanggul oleh empat ekor gajah, takkan mungkin kerbau itu tak merasa capek dan lelah. Pastilah orang orang Pasei itu telah memberikan sesuatu kepada kerbaunya sehingga si kerbau berada dalam kondisi yang demikian rupa.
Mereka telah menggunakan akalnya, kanda, kataku. Tentulah kerbau mereka telah diberi semacam obat perangsang atau entah apa.
Jadi?
Akan kita pergunakan cara yang sama. Kalau aturan mereka membolehkan hal hal yang tak lahiriah dipunyao oleh seekor kerbau, kenapa kita tidak?
Sudah kautemukan caranya?
Aku butuh waktu, kanda. Untuk sementara kita perlakukan mereka layaknya benar benar tamu. Kita persilakan mereka istirahat. Takkan mencurigakan. Mereka atentulah lelah.
Dan sepanjang hari itu sampai siangnya aku memeras pikiran dan tak keluar keluar dari kamar. Barulah setelah hari beranjak sore kudapakan jalan keluarnya dan segera kutemui Baginda Aryawangsa Mauliawarmadewa.
Bagaimana, adinda. Sambut kakaku. Bersamanya telah berkumpul para pemuka dan pembesar istana. Juga ayahku cati bilang pandai.
Sudah kutemukan, kanda
Apa yang akan kaulakukan. Bagaimanakah caranya
Kubutuhkan seorang pandai besi yang benar benar ahli.
O, kalau itu, adinda jelas kita punya. Seluruh senjata angkatan perang dari dialah ketajamannya. Aku panggilkan ia menghadap?
Tak usah, kanda. Biarkan aku sendiri yang ke tempatnya, nanti, lanjutku, selain pandai besi, aku juga butuh beberapa tenaga; mencari seekor anak kerbau yang masih menyusu dengan rakusnya.
Semua yang hadir mengerutkan dahi. ‘seekor ... Anak kerbau?”
“Ya, kakanda. Seekor anak kerbau yang belum berpisah dari induknya. Masih menyusu tapi sudah tumbuh bakal tanduknya.”
Hanya seekor, adinda?
Sebaiknya beberapa ada. Biar nanti kita bisa memilihnya.
Kuperintahkan segera, kata baginda. Masih adakah keperluan lainnya?
“Sudah cukup, Kanda.”
Setelah memberi perintah untuk mencarikan apa apa yang kuperlu, tak sabar kakaku mendekatkan wajahnya.
“Ceritakan segera, tentang kau punya rencana.”
***
Dan memang, tak ada yang mempertanyakan kenapa adu kerbau belum mulai juga. Pihak tamu, yang dipertuan di Pasei bersama rombongan, malah merasa amat senang. Betapa tidak? Selama dua hari di Pagaruyung, mereka diperlakukan lebih dari yang mereka harapkan. Bahkan mereka tak percaya; orang Pagaruyung ternyata amat ramah dan tentulah sangat berbeda dari yang mereka dengar.
Pada hari ketiga barulah diumumkan, bahwa besoknya diselenggarakan aduan. Maka pada sepanjang sore hari ketiga sampai malamnya kusaksikan rakyata telah berebutan ke arena. Mereka mencari tempat duduk, bahkan ada yang hanya tempat tegak, karena amat ramainya. Dan di tempat masing masing itu mereka tak mau lagi beranjak, sampai hari berikutnya.
Agak siang, masing masing raja telah berada pada tempatnya.
Tak ada teriakan perang, tiada ayunan senjata. Hanya suara terompet.
Tiupan pertama pun menggema, panjang dan lama. Itu adalah tanda masing masing pihak sudah harus menyiapkan kerbaunya. Tak lama sesudahnya, terdengar tiupan kedua, pendek dan terturut turut, pertanda kerbau sudah haru dibawa ke pinggir arena.
Karena mungkin memang sudah lama disiapkan, kerbau yang dipertuan di Pasei tampil lebih dulu. Seekor kerbau yang sungguh luar biasa. Untuk mempertahnkan gerak dan geliatnya, ada sepuluh prajurit yang berkutetan menjaga. Hidungnya mendengus dengus dan mulutnya berbusa. Dan tanduknya yang besar mencuat, berkilat kilat, selalu direndeng rendengkannya. Apakah yanga telah mereka berikan pada kerbau itu?
Kubayangkan bahwa diam diam tentulah rakyat sudah meramal kerbau orang asing itu akan mengalahkan kerbau baginda mereka Sri Maharaja Diraja. Aku yakin, tak seorang pun di antara mereka, rakyat Pagaruyung, pernah melihat kerbau sebesar dan seberingas itu di malayapura. Apalagi mereka tahu bahwa Baginda Sri Maharaja Diraja tak pernah tertarik kepada, jangankan memelihara, seekor pun hewan selain kuda.
Telah sejak tadu aku berada di antara mereka, di tengah rakyat Pagaruyung. Alangkah gaduh. Dari kerbau yang dipertuan di Pasei, mata mereka beralih mencari kerbau Baginda Sri Maharaja Diraja. Alangkah kagetnya orang orang, dan tak percaya, bahkan ada yang mengerjap ngerjapkan atau menggosok gosok mata, begitu menyaksikan para pengawal baginda di seberang yang lain menuntun seekor kerbau kecil- tak lebih dari seekor anak kerbau – memasuki lapangan.
Benar-benar seekor anak kerbau! Hanya saja, kerbau itu lebih punya tanduk dibanding karebau kerbau seumurnya. Tanduk? Seperti bukan tanduk. Kilauya lain ditimpa cahaya. Besi? Ya dua potong besi yang mencuat menyerupai tanduk. Dan kerbau kecil itu, akan kerbau itu, demi melihat ada seekor kerbau di seberang yang lain ia segera meronta ronta seraya melenguh lenguh serupa memanggil induknya.
Saat orang masih terheran heran, tercengang cengang terdengar gema terompet ketiga, pendek berturut turut kemudian ditutup oleh suatu tiupan yang panjang. Itulah tanda bahwa kerbau sudah harus diadu.
Sisi di seberang yang satu, pihak yang dipertuan di Pasei masih juga terbengong bengon belum bereaksi atas aba aba. Satu dua orang malah masih celingukan mencari cari kalau kalau lanan dari kerbau mereka kerbau lain dan bukan kerbau kecil itu. Tapi tak ada.
Sisi di seberang yang lain, kubu Pagaruyung, segera melepaskan kerbau mereka sesaat setelah tiupan terompet terkahir. Dan kerbau kecil itu, anak kerbau itu, serta merta melompat menuju kerbau yang dipertuan di Pasei.
Walau ragu-ragu, para prajurit yang dipertuan di Pasei melelpaskan juga kerbau mereka. Kerbau besar itu serta merta menghambur, melompat mendengus dengus dan berputar putar sejenak mencari sasaran, tapi mendadak tertegun ketika melihat seekor anak kerbau melompat seperti riang ke arahnya.
Tak ada pertarungan. Tak ada perlagaan. Yang orang orang saksikan kemudian, kerbau kecil itu menyeruduk ke selangkangan si kerbau besar layaknya seekor anak kerbau kehausan ingin menyusu pada induknya.
Kerbau yang dipertuan di Pasei belum juga menyadari. Tapi ketika anak kerbau Baginda Sri Maharaja Diraja menyeruduk nyeruduk bagai kesetanan karena tak menemukan semacam ambing di sana, barulah kerbau besar itu terlompat lompat. Kesakitan.
Berkali kali besi runcing yang dibentuk menyerupai tanduk itu menusuk perut kerbau yang dipertuan Pasei. Berkali kali kerbau besar terlompat lompat melengguh lenguh berlainan kian kemari. Tapi, ke mana pun kerbau besar itu lari berusaha menghindarkan diri, selalu saja disusul dan diseruduk oleh kerbau Baginda Sri Maharaja Diraja. Tak ayal, kerbau besar itu pun roboh. Berkelejotan.
Beberapa saat orang orang masih kelihatan terpana.
Tak ada yang cukup sadar bahwa segalnya telah selesai.
Lalu, entah dari sisi mana yang memulai, riuh tepuk tanan dan tempik sorak tiba tiba meledak seperti hendak merengkah angkasa. “Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja! Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja! Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja! Hidup Baginda Sri Maharaja Diraja!
Pada sebuah tempat, di tengah tengah lonjakan rakyat, aku tersenyum lega. Anak kerbau yang kupisahkan menyusu selama tiga hari, tentulah amat haus dan lapara.
Pada bagian lain, di tengah lampiasan kemenangan para pemuka dan pembesar Pagaruyung, kakakku tampak celingukan. Mancari cari diriku.

Ditulis ulang oleh Agus Ahmad Hidayat, guru SMAN 2 Kotabumi Lampung Utara, bersumber dari Bab 7 Menang Kerbau halaman 38-47 buku Tambo sebuah Pertemuan  ditulish oleh  Gus TF Sakai, penerbit Grasindo, Jakarta 2000



Rabu, 21 November 2018

Pengertian Verba Pewarta


    Verba Pewarta adalah kata yang dipergunakan untuk mengindikasikan suatu percakapan. Verba pewarta merupakan salah satu ciri kaidah kebahasaan teks berita, karena di dalam teks berita terdapat keterangan, verba pewarta dan verba transitif sebagai ciri kaidah kebahasaan nya.

Kata kerja pewarta mempunyai sifat mewartakan, contoh nya seperti mengatakan, memaparkan, menjelaskan, memberitakan, dan sejenisnya. Intinya sifat dari kata kerja ini yaitu memberitahu kepada orang lain, umumnya masyarakat luas.
Contoh Verba Pewarta

Untuk mempermudah penjelasan mengenai kata kerja pewarta yang digunakan dalam teks berita, kami menyertakan contohnya dengan kata dan kalimatnya, berikut ini:
Kata: Mengatakan
Kalimat: Dalam pidato Presiden Jokowi yang disiarkan melalui televisi, beliau mengatakan bahwa akan menurunkan harga bahan bakar minyak secepatnya. Sehingga rakyat tidak terlalu di bebani oleh harga bbm yang mahal.

Kata: Memaparkan
Kalimat: Presiden juga memaparkan perkembangan Indonesia yang saat ini sudah siap menghadapi tantangan dan persaingan.

Kata: Memberitakan
Kalimat: Ketika terjadi gerhana matahari 9 Maret 2016 di internet banyak sekali situs web yang memberitakan tentang proses terjadi gerhana matahari.



Jumat, 09 November 2018

Puisi karya Mansur Samin - Penyair Angkatan 66

 PERNYATAAN

Sebab terlalu lama meminta
tangan terkulai bagai dikoyak
sebab terlalu lama pasrah pada

derita
kesetiaan diinjak

Demi amanat dan beban rakyat
kami nyatakan ke seluruh dunia
telah bangkit di tanah air
sebuah aksi perlawanan

terhadap kepalsuan dan kebohongan
yang bersarang dalam kekuasaan
orang-orang pemimpin gadungan


Maka ini pagi
dengan resmi
kamu mulai
aksi demonstrasi

Pernyataan ini
disahkan di Jakarta
kami
Mahasiswa Indonesia

Kamis, 19 Juli 2018

Editorial

Editorial adalah tulisan yang disajikan pada majalah yang mengangkat masalah tertentu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Ketika awal tahun ajaran baru, banyak media menyoroti bagaimana sekolah menerima siswa baru, ketika harga minyak naik koran pun menulis masalah kenaikan harga bahan bakar minyak tersebut dengan respon masyarakat yang terkena dampaknya. Berikut ini dikutip editorial sebagai bahan penunjang bacaan. Bacalah dengan cermat!

Teks 1
Teks  editorial Lampung Post  30 Juni 2014 Tajuk

Mafia Narkoba dari Bui
Sosialisasi bahaya narkotika dan obat obatan berbahaya sudah kurang gencar. Narkoba tidak hanya merusak generasi, tetapi juga berdampak menghancurkan kemanusiaan. 
Dunia menyatakan perang terhadap narkoba. Di Indonesia, pada 2002 pemerintah membentuk badan narkotika nasional, lembaga nonkementrian yang bertugas mencegah serta memberantas penyalahgunaan dan peredaran psikotropika.
Pembentukan BNN jelas menunjukkan keberpihakan pemerintah pada pemberantasan dan perang terhadap peredaran narkoba di tanah air. Memang, komitmen kuat itu harus ditempuh melalui jalan berliku. Sejak dibentuk 12 tahun silam, BNN telah menorehkan sejumlah prestasi. Namun, kinerja BNN belum mampu mengikuti laju pertumbuhan konsumsi dan peredaran narkoba.
Data yang dirilis BNN dan UI tiga tahun yang lalu, nilai transaksi narkoba di negeri ini mencapai Rp 42,8 trilyun per tahun. Tingginya nilai transaksi narkoba membuat banyak pihak tergiur dan ingin masuk ke bisnis terlarang tersebut. Tidak kurang pula, narapidana yang sedang mendekam di dalam lembaga pemasyarakatan turut terlibat dalam mata rantai peredaran narkotika.
Itulah yang terjadi ketika satuan reserse narkoba polresta bandar lampung mengungkap jaringan peredaran narkoba yang melibatkan napi LP narkotika di Way Huy, Lampung Selatan pekan lalu.
Polisi menciduk dua warga Bandar Lampung sebagai kurir narkoba dan transaksi tersebut dikendalikan oleh seorang napi di LP Way Huy. Dari mereka , petugas menyita sabu-sabu sebanyak 13 paket seberat 25 gram atau senilai Rp 37,5 juta.
Transaksi narkoba tidak hanya dikendalikan dari tengah tengah permukiman penduduk, tetapi juga dari balik jeruji besi, dari balik ruang pembatasan kebebasan.  Bahkan, orang orang rantai yang sedang menjalani hukuman pun bisa mengatur jual beli narkoba di luar sana.

Teks 2
Pahlawan

Siapakah pahlawan menurutmu? Apakah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan Republik Indonesia itulah yang disebut pahlawan? Mengapa kita kenal pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan buruh, pahlawan pers? Atas dasar apa mereka mengelompokkan pahlawan seperti itu? Bolehkan kita mengatakan orang yang berjasa pada kita lalu kita sebut dia pahlawan?
Marilah kita baca dan pelajari cerita pendek berjudul "Pahlawan" karya Mohtar Lubis, dan puisi berjudul "Ibu" yang ditulis oleh penyair Madura D.Zawawi Imron.
Dengan membaca dua karya sastra ini, kita bisa mengetahui sikap seorang sastrawan terhadap sesuatu, sikap sastrawan terhadap situasi saat itu sebagai tanggapan atau respons yang diberikan sebagai seorang seniman.

Perhatikan petikan lengkap puisi "Ibu" karya D.Zawawi Imron.

Ibu
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air air matamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempat kuberlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang akan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku

1966
Karya  D Zawawi  Imron
kumpulan puisi bantalku ombak selimutku angin halaman 20-21 pada judul Ibu

Novel sejarah - Cerita sejarah

 Bacalah bagian awal novel berjudul  Kubah  karya  Ahmad  Tohari

Angin yang menembus sela sela kerimbunan beringin di pojok alun alun itu menimbulkan suara mendesau. Sebutir buah beringin runtuh dan menimpa pundak Karman. Satu lagi jatuh di dekat kaki kirinya. Karman yang sedang larut dalam kenangan ketika terbuang di Pulau B, tersadar. Ia mendengar riuh suara burung yang makin ramai. Burung burung berebut tempat yang paling baik untuk tidur sampai menjelang fajar esok pagi. Kota kabupaten itu pun sedang bersiap memasuki suasana malam. Lampu lampu jalan menyala serentak. Karman bangkit. Namun hanya termangu, bingung. “oh, rupanya aku terlalu lama duduk di tempat ini,” keluhnya.
Tanpa tujuan yang jelas, Karman kemudian melangkahkan kaki, berjalan ke arah selatan. Dipojok alun alun sebelah sana ia kembali berhenti gamang. Namun akhirnya ia bergerak lagi, membelok ke Barat. Dan sekali lagi kebimbangan mengepungnya ketika Karman sampai di pojok yang ketiga. Maka ia hanya mengikuti pembawaan kaki dan berbelok lalu melangkah ke utara. Karman melihat ada pedagang makanan. Tiba tiba perutnya terasa sangat lapar.
Karman mengeluarkan uang kumal untuk membeli sebuah ketupat dan segera memakannya sambil jongkok. Setelah meminta segelas teh  yang langsung diminumnya, Karman melangkah sepembawa kaki ke Timur. Maka lengkap sudah; tanpa tujuan tertentu Karman telah sempurna mengelilingi alun alun kabupaten. Bahkan karena tetap tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan, Karman menurutkan kedua kakinya mengelilingi alun alun buat kali kedua. Dan kali ini Karman berpapasan dengan serombongan anak anak besar kecil. Mereka berkopiah dan berkain sarung, lucu menawan, dan berjalan hiruk pikuk. Tanpa kesadaran penuh, Karman berbalik mengikuti rombongan anak anak itu. Anak anak terus berhamburan menuju serambi mesjid besar kabupaten. Tetapi Karman mendadak berhenti, gagap. Termangu. Dua tiga orang yang hendak sembahyang melewatinya tanpa peduli. Namun akhirnya seorang lelaki tua sambil berjalan menepuk pundak Karman. “Mari, Pak, sudah hampir ikamah!”Dan seperti ada sesuatu yang mendorongnya, Karman ikut melangkah memasuki halaman mesjid.
Pukul tujuh malam Karman keluar. Ada setitik rasa lega dalam hatinya karena ia telah berhimpun dengan orang banyak ketika salat berjamaah. Memang, orang orang itu tak satu pun mengenalnya dan mereka tak mengajaknya bicara. Mereka hanya menawarkan jabat tangan dan senyum!  ”Mereka tidak tahu siapa aku,” renung Karman. “tetapi cukuplah; senyum adalah tanda keramahan yang sangat berharga bagiku. Terima kasih, oh, terima kasih.” Dan tanpa terasa air mata Karman meleleh.


Bagaimana Ahmad Tohari menggambarkan suasana pada petikan novel Kubah?
Bisakah kamu menebak, kota atau tempat manakah yang disebut kota B?
Kaitan apakah dengan peristiwa sejarah yang kamu ketahui pada novel Kubah ini?

Buatlah ringkasan isi novel Kubah!
Buatlah tulisan yang mengenalkan tokoh a)Ahmad Tohari  b)Mohtar Lubis

Surat Lamaran

Surat Lamaran
Surat lamaran adalah surat yang dikirim oleh seseorang kepada lembaga yang memberikan kesempatan bekerja atau kesempatan belajar dengan ketentuan atau persyaratan ditetapkan oleh lembaga yang bersangkutan.
Surat lamaran ditulis (tangan atau diketik) ditujukan kepada bagian yang menangani yang memuat kota dan tanggal penulisan surat, alamat yang dituju, pernyataan melamar, data pelamar, lampiran yang disertakan pada surat itu,  tanda tangan serta nama pelamar.
Informasi adanya lowongan pekerjaan atau kesempatan belajar dapat diperoleh pada media massa koran,majalah atau informasi di dunia maya (internet), berdasarkan informasi ini pelamar menyebutkan pada bagian pertama surat lamarannya.

Contoh surat lamaran

Lampung Utara, 10 Oktober 2016
Hal        : Lamaran pekerjaan
Lampiran    : Satu berkas

Yth.  Bagian Personalia PT Sinar Laut
Jalan Kartini 31  Rawalaut
Bandar Lampung

Dengan hormat,
Berdasarkan iklan harian Lampung Post edisi 2 Oktober 2016 yang menyebutkan bahwa PT Sinar Laut memerlukan tenaga teknisi mesin fotokopi, maka saya:
 nama    :  Alimudin Syahputra;
tempat dan tanggal lahir    :  Medan, 21 Februari 1999;
alamat    :  Dusun II Umbul Tempel  Desa Sawojajar Kecamatan Kotabumi Utara Kabupaten Lampung Utara;

mengajukan lamaran sebagai tenaga teknisi mesin fotokopi pada perusahaan yang Tuan pimpin.

Sebagai bahan pertimbangan bersama surat ini saya lampirkan:
1)fotokopi surat tanda taman belajar SLTA;
2)fotokopi sertifikat pendidikan teknisi mesin cetak Media Print;
3)surat keterangan catatan kepolisian;
4)surat keterangan kesehatan dari Puskesmas;
5)surat keterangan tenaga kerja dari dinas sosial.

Demikian surat lamaran saya sampaikan dan terima kasih atas pertimbangan Tuan.

Hormat saya

Alimudin Syahputra



Apa makna surat lamaran?
Tulislah sistematika surat lamaran!
Bagaimana kalimat pembuka surat lamaran yang baik itu?
Apa saja lampiran yang disertakan pada surat lamaran?

Berdasarkan Iklan berikut ini, buatlah surat lamaran!
Universitas Negeri Lampung mengundang tamatan SMA tahun ini untuk dididik selama 3 tahun atas biaya negara. Program studi diploma 3 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah Lampung. Persyaratan: WNI, bertempat tinggal di provinsi Lampung, usia maksimal 22 tahun. Surat lamaran ditujukan kepada Biro Bea Siswa Pembantu Rektor III Unila paling lambat 4 pekan setelah dimuatnya iklan di Lampung Pos edisi hari ini.