Lakukan perbincangan terhadap teman yang telah membaca novel
Ronggeng Dukuh Paruk. Majukan pertanyaan dengan bebas dan terbuka.
Sehingga berbagai masalah: budaya masyarakat, keyakinan setempat, bahasa yang digunakan, dan semua
hal yang ada dalam novel, kemudian kaitkan dengan masalah kekinian yang ada seperti tanggapan masyarakat modern terhadap kesakralan makam orang tertentu, penggunaan mantra untuk mencapai sesuatu, penghargaan terhadap musik/budaya lokal, dan lain-lain.
Contoh Perbincangan selepas baca novel
A: Buku apa yang sedang kau baca?
B: Biasa, novel
A: Tampaknya asyik benar menikmati bacaan itu, ada yang istimewa?
B: hem, ada sih. Istimewa, unik, lucu, dan menggelitik..
A: Apa maksud lucu dan menggelitik?
B: Ssst, sini kubisiki! Ada acara 'buka kelambu'! Kau tahu itu? He he he!
A: Entah, aku tak tahu maksudmu.
B: Itulah yang buat penasaran.
A: Lalu yang lucu, apa?
B: Coba tebak, bagaimana akal anak kampung saat sulit mencabut singkong? Saat kemarau, tanah keras dan singkong susah dicabut. Apa akal anak-anak kampung untuk mencabut singkong?
A: Ya ambil linggis atau cangkullah!
B: Inilah lucu dan unik, baca di novel ini!
(alamat blog: http://wisata-foto.blogspot.com) Sajian berbagai tulisan, kutipan sebagai bahan komunikasi. Dihimpun oleh Agus Ahmad Hidayat-
Selasa, 05 Maret 2013
Rabu, 06 Februari 2013
Rencana perubahan kurikulum 2013
Rencana
perubahan kurikulum 2013 yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud), mengundang penolakan dari berbagai pihak. Salah
satunya dari Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI). Mereka menolak rencana
penghapusan beberapa mata pelajaran, seperti bahasa daerah.
Menanggapi isu penghapusan bahasa daerah dari kurikulum tersebut, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, meluruskan bahwa bahasa
daerah tidak akan dihapuskan dari kurikulum. Menurutnya, di kolom kurikulum
jelas tercantum budaya seni, budaya daerah, dan prakarya. Karena bahasa daerah
merupakan budaya daerah, jadi tetap terbuka untuk dimasukkan ke dalan
kurikulum.
"Di dalam seni dan budaya kita berikan empat pilihan, bisa juga memasukkan
bahasa daerah dan itu bisa jadi bagian dari muatan lokal. Ya itu dipersilahkan
kepada pihak daerah atau sekolah masing-masing untuk menentukkannya," ujar
Nuh usai acara serah terima aset Politeknik Tanah Laut dan Universitas 19
November Kolaka, di Gedung A Kemendikbud, Kamis (3/1/2013).
Nuh menjelaskan, guru-guru yang menolak tersebut mungkin belum mengerti jelas
mengenai perubahan kurikulum tersebut.
"Mungkin belum jelas saja. Jangankan guru, yang lain juga akan demo kalau
tidak jelas," imbuhnya.
Selain itu, mendikbud menambahkan, tidak benar jika pemerintah menghapuskan
bahasa daerah dari kurikulum. Justru bahasa daerah yang menjadi salah satu
kearifan lokal harus diperkuat dan dilestarikan. Mengenai isu penghapusan
IPA-IPS dan bahasa daerah dari kurikulum, keputusannya akan diumumkan dalam
waktu dekat.
"Publik tidak usah khawatir, dalam satu atau dua hari ini kami akan
meluruskan hal tersebut (penghapusan beberapa mata pelajaran), dan hasilnya
akan disampaikan kepada publik," tutur Nuh.
Sabtu, 04 Agustus 2012
Masih sajakah kita tunda melakukan kebaikan? Membaca cerpen "Wangon Jatilawang" karya Ahmad Tohari
Jangan salah membaca judul di atas! Judul itu Membaca dengan Hati, bukan Membaca dalam Hati. Kata penghubungnya kata "dengan" bukan "dalam". Artinya bagaimana kita mampu mengalirkan bacaan cerita itu hingga ke dalam hati kita. Seberapa besar hati yang kita miliki mampu bergetar dengan sentuhan cerita. Karena cerita ini bukan sekedar cerita yang menghibur, melainkan cerita yang mengandung pembelajaran pada diri manusia yang pada dasarnya manusia memiliki jiwa bersih.
Cerita yang disajikan ini karya Ahmad Tohari, pengarang besar yang pernah menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, Kubah, atau bagi siswa SMP telah mengenalnya dengan cerpen yang berjudul Senyum Karyamin.
Pada bulan puasa ini, yang bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, ada baiknya kita sucikan hati, kita tingkatkan kepedulian, kita ubah sikap kita dalam menempatkan orang yang memiliki kekurangan secara fisik atau kekurangan secara sosial.
Mari kita baca cerita itu.
Wangon Jatilawang
1
Wajah dua tamuku mendadak berubah ketika Sulam masuk. Mereka makin bingung melihat Sulam terus melangkah dan berdiri tepat di sisiku. Kedua tamuku yang masing-masing memakai baju lengan panjang serta sepatu bagus itu, tentu tak mengenal Sulam. Namun siapa saja yang tinggal di antara Wangon dan Jatilawang pasti mengenal dia. Sepanjang ruas jalan raya kelas dua itu nama Sulam sangat terkenal.
“Pak,” kata Sulam tanpa ekspresi apapun.
“Ya” jawabku, “ nasi atau uang?”
Sulam diam. Diperlihatkannya padaku ujung celananya yang kuyup. Celana yang kedodoran itu nyangkut di perutnya dengan ikatan tali plastik. Kaosnya ada gambar yang sangat cabul di bagian punggung. Ah, pasti anak-anak nakal telah mempermainkan Sulam.
“Nasi atau uang?” ulangku
“Aku sudah punya uang,” jawab Sulam sambil membuka tangannya. Ada kepingan logam putih di sana. Tetapi tangan itu pucat dan gemetar. Maka aku bangkit meninggalkan kedua tamuku yang duduk membisu. Sepiring nasi dan segelas teh kuberikan Sulam. Dia duduk di lantai, tepat di samping kursiku. Kedua tamuku yang masing-masing memakai baju lengan panjang dan sepatu bagus itu tetap diam.
Selesai makan, Sulam mengangkat sendiri piring dan gelasnya, lalu masuk ke dalam. Anak-anakku tak ada yang merasa takut kepadanya. Mereka sudah kenal siapa dia. Dan tanpa sepatah kata pun, Sulam keluar. Pastilah dia akan meneruskan perjalanannya ke pasar Jatilawang. Kedua tamuku menghembuskan napas panjang-panjang. Kukira salah seorang di antara mereka ingin bertanya tentang siapa dan mengapa lelaki kerdil berkepala seperti buah salak itu. Tetapi aku hanya tersenyum. Kukira itulah jawaban yang paling aman. Toh kedua tamuku yang masing-masing berbaju lengan panjang dan sepatu bagus itu sudah bisa menduga sendiri siapa dia, siapa Sulam. Bahkan aku lagi-lagi hanya tersenyum ketika salah seorang tamuku bertanya apakah Sulam sering mampir ke rumahku seperti tadi.
“Yang penting sampean berdua tidak tersinggung karena aku menerima tamu yang kotor dan kurang sopan tadi, bukan?”
Kedua tamuku saling berpandangan dan tersenyum janggal.kukira mereka agak terkejut dengan pertanyaanku.
“Maaf, Mas. Aku merasa perlu bertanya demikian karena aku mempunyai banyak pengalaman dengan tamu yang kotor tadi.”
2
Lalu aku mendongeng. Suatu hari, lepas magrib, Sulam datang. Kebetulan, aku sedang menyelenggarakan kenduri. Gerimis yang sejak lama turun, membuat Sulam basah kuyup. Aku merasa tak bisa berbuat lain kecuali menyilakan Sulam masuk, meski aku melihat tamuku jadi agak masam wajahnya. Setelah kutukar pakaiannya, Sulam kuajak menikmati kenduri. Dia kubawa ke tempat persis di sampingku. Orang-orang yang semula duduk di dekatku menjauh, menjauh. Dan kenduriku malam itu berakhir tanpa keakraban. Para tamu pulang hanya dengan ucapan basa basi. Wajah mereka jelas berbicara bahwa mereka merasa tersinggung karena Sulam kuajak duduk di antara mereka. Semuanya lebih jelas ketika aku beberapa minggu kemudian menyelenggarakan kenduri lagi. Ternyata hanya beberapa orang yang datang memenuhi undanganku.
Kedua tamuku yang berbaju lengan panjang dan bersepatu bagus itu mengangguk angguk. Kukira keduanya merasa heran. Tetapi aku tak tahu, apakah mereka heran terhadapku atau terhadap orang-orang kenduri yang tersinggung oleh kedatangan Sulam itu. Atau terhadap kedua-duanya aku dan orang-orang kenduri itu. Dan kepalang dua orang muda itu sudah terheran heran, maka lebih baik kuteruskan dongengku. Bahwa emakku sendiri suatu ketika marah karena mendapati Sulam menginap di rumahku.
“Yah, bagaimana lagi, Mak. Hari hujan dan Sulam mampir berteduh. Karena sampai malam hujan tak reda, maka Sulam kusuruh menginap di sini.”
“Lhah! kamu seperti tak tahu. Rumah siapa saja yang sering disinggahi orang semacam Sulam, bisa apes. Tak ada wibawa dan rejeki jadi tidak mau datang. Lihat tetanggamu itu; tamunya gagah-gagah, bagus-bagus. Tamumu malah si Sulam.”
“Bila hari tak hujan, Sulam pun tak mau menginap di sini Mak.”
“Memang rumahnya kan pasar Wangon dan pasar Jatilawang, bukan rumahmu ini, kamu saja yang bodoh.”
Mendengar dongeng itu kedua tamuku yang berbaju lengan panjang dan bersepatu bagus tersenyum. Kali ini senyumnya lepas. Kukira mereka membenarkan sikap emakku terhadap Sulam, entahlah. Sementara itu, aku teringat Sulam yang saat ini pasti dalam perjalanan menuju pasar Jatilawang. Kubayangkan, langkahnya yang pendek-pendek sambil menyeret ujung celana yang basah dan kedodoran. Bila perutnya tidak kelaparan, Sulam selalu berjalan sambil rengeng-rengeng. Tak pernah jelas tembang apa yang didendangkannya. Kadang dalam perjalanan antara Wangon dan Jatilawang Sulam pintar meniru gaya penyiar tv meski suara yang keluar dari mulutnya hampir tak punya makna apa pun. Dan ketika kedua tamuku yang bagus-bagus itu minta diri, kukira mereka akan mencapai Sulam sebelum pasar Jatilawang. Namun aku merasa ragu, apakah mereka mempunyai cukup perhatian untuk mengenali Sulam kembali.
Wangon dan Jatilawang adalah dua kota kecamatan. Jarak keduanya tujuh kilometer atau lebih. Setiap hari Sulam berjalan menempuh tujuh kilometer itu pulang pergi; pagi ke Wangon, sore ke Jatilawang atau sebaliknya. Tak peduli panas atau dingin. Kata banyak orang, Sulam hanya singgah dan berteduh di rumahku. Tetapi aku tak percaya akan cerita demikian, karena rasanya terlalu berlebih-lebihan. Kukira tidak semua orang yang tinggal antara Wangon dan Jatilawang tidak suka bersahabat dengan Sulam.
3
Memasuki bulan puasa, Sulam tetap singgah ke rumahku setiap pagi. Tetapi sikapnya berubah. Dia kelihatan malu ketika menyantap nasi yang kuberikan. Setiap kali dalam kesempatan berbeda Sulam selalu berkata:
“Pak, wong gemblung boleh tidak puasa kan?”
“Ya, kamu boleh tidak berpuasa. Anaku yang masih kecil juga tidak berpuasa.”
“Tapi aku bukan anak kecil, Pak. Aku wong gemblung,” kata Sulam serius.
“Ah, siapa yang mengatakan kamu demikian?”
“Wong gemblung boleh tidak puasa, kan?”
“Nanti dulu; siapa yang mengatakan kamu wong gemblung?”
Sulam tidak menjawab. Kemampuan nalarnya kukira, sangat terbatas. Dan inilah rupanya yang menyebabkan semua orang yang tinggal di antara Wangon dan Jatilawang mengatakan Sulam wong gemblung. Kukira mereka memang tidak mempunyai istilah lain. Dan sebutan itu menempel pada Sulam sejak dia masih anak-anak. Dulu Sulam tinggal secara tetap dengan emaknya dalam sebuah rumah kecil di Jatilawang. Emak Sulam yang sama-sama menderita keterbelakagan mental, meninggal dan rumah kecil itu punah tak lama kemudian. Sulam yang sebatangkara lalu menjadi anak pasar Jatilawang dan pasar Wangon.
4
Dekat hari Lebaran, pagi-pagi sekali, Sulam sudah berada di rumahku. Aku tak melihat kedatangannya, dan tiba-tiba saja dia sudah duduk di ruang makan. Wajahnya kelihatan bimbang. Nasi dan sekeping uang yang kuletakkan di atas meja di depannya, tidak segera menarik perhatiannya. Ketika kutanya mengapa demikian, Sulam malah balik bertanya;
“Sudah hampir Lebaran, ya Pak?”
“Ya, empat atau lima hari lagi. Kenapa?”
Sulam menunduk. Terbengong-bengong sehingga muncul semua tanda keterbelakangannya.
“Mestinya Lebaran ditunda sampai emak pulang.”
“Hus! Lebaran tidak boleh ditunda. Nanti semua orang marah.”
“Tetapi emak belum pulang. Dia sedang pergi ke kota membeli baju.”
“Oh, aku tahu sekarang. Kamu tak usah menunggu emakmu. Nanti aku yang memberimu baju.”
Sulam mengangkat muka lalu tersenyum aneh. Nasi di depannya dimakan dengan lahap, sementara aku pergi ke belakang mengurus ayam. Kukira aku cukup lama di kandang ayam; tapi ketika aku masuk kembali ke rumah. Sulam masih duduk di ruang makan.
“Sudah hampir lebaran, ya Pak?”
“Oh iya. Kamu nanti akan memakai baju yang baik. Tetapi aku tidak menyerahkan baju itu kepadamu sekarang. Nanti saja, tepat pada hari lebaran kamu pagi-pagi kemari.”
“Di pasar Wangon dan Jatilawang orang-orang sudah membeli baju baru.”
“Ya, tetapi untukmu, nanti saja. Aku tidak bohong. Bila baju itu kuberikan sekarang, wah repot. Kamu pasti akan mengotorinya dengan lumpur sebelum Lebaran tiba?”
“Aku kan wong gemblung, Pak.”
“Nanti dulu, aku tidak berkata demikian.”
Aku ingin berkata lebih banyak. Namun Sulam melangkah pergi. Wajahnya murung. Aku mengikutinya sampai ke pintu halaman. Dari belakang kuperhatikan langkahnya yang pendek-pendek, menyeret-nyeret ujung celananya yang kombor dan kelewat panjang, celana pemberian orang. Mobil-mobil masih menyalakan lampu kecil, karena pagi sangat berkabut mendahului Sulam. Makin jauh tubuh Sulam makin samar. Dan sebelum seratus meter jauhnya, Sulam telah raib dalam keremangan pagi berkabut.
5
Dan aku mulai menyesal, mengapa tidak memenuhi permintaan Sulam akan baju dan celana yang layak. Mengapa aku khawatir tentang kebiasaan Sulam yang suka mengotori baju yang kuberikan, atau menukarnya begitu saja dengan sebungkus nasi rames di pasar Wangon. Maka sebenarnya aku tidak cukup mengerti tentang lelaki kerdil yang setiap hari menyusuri jalan raya antara Wangon dan Jatilawang itu. Dengan demikian, aku sungguh tidak layak mengaku sebagai sahabat Sulam.
Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghunjam ke dasar hati. Seorang tukang becak sengaja datang ke rumahku.
“Pak, Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang!”
Bisa jadi tukang becak itu masih berkata banyak. Namun kalimat pertamanya yang kudengar sudah cukup. Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Aku malu, perih. Demikian malu sehingga aku tak berani menjenguk mayat Sulam di Jatilawang meski istriku berkali-kali menyuruhku ke sana. Sulam telah menyindirku dengn cara yang paling sarkastik sehingga aku mengerti bahwa diriku sama sekali tidak lebih baik daripadanya. Atau memang demikianlah keadaan yang sesungguhnya. Karena dalam hati sejak lama aku percaya, setiap hari Tuhan tak pernah jauh dari diri Sulam. Dan aku yang konon telah mencoba bersuci jiwa hampir sebulan lamanya, malah menampik permintaanya.
Rabu, 15 Februari 2012
Benarkah obat liar merusak organ tubuh?
Akhir akhir ini banyak remaja yang menghadapi masalah. Mereka menyelesaikannya dengan jalan pintas. Katanya dengan menggunakan obat atau menghisap ganja dapat menghilangkan problem yang melingkupinya. Mereka tak menyadari jika obat obatan yang dikonsumsi itu membahayakan tubuhnya. Obat liar tanpa ukuran akan menghancurkan organ penting seperti ginjal dan syaraf. Pengaruh negatif ternyata lebih banyak yang dirasakan. Oleh karena itu mari kita hindari penyalah gunaan obat-obatan agar tubuh tetap bugar sehat secara lahir dan batin. Bukankah semboyan negeri kita, bangunlah jiwanya bangunlah badannya.
Senin, 26 Desember 2011
Bima - Torehkan Darah Rakyat di bumi Pertiwi
Tragedi berdarah kembali meledak di Indonesia. Demi membubarkan protes warga yang menduduki Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, aparat rela mengeluarkan peluru tajamnya. Tak ayal, sejumlah nyawa pun melayang. Sedangkan warga lainnya terluka.
Sepertinya, aksi kekerasan masih menjadi "jalan pintas" dan "solusi" untuk menyelesaikan masalah di Negeri ini. Terlebih, rakyat kecil selalu yang menjadi korban kekerasan aparat.
Insiden Bima pun menggugah simpati aktivis Gerakan Indonesia Bersih, Adhie Massardi. Ia pun kemudian memotretnya dalam sebuah puisi. Mari kita simak puisi Adhie Massardi berjudul Bima.
Adhie Massardi
Bima
Inilah Sabtu yang akan dicatat sejarah, sebagai hari terkutuk dan bersimbah darah
Pada siang yang panas menjelang natal, ketika langit hendak memamerkan kedamaian pada bumi di Teluk Sape
Rakyat menangis meratapi nasibnya, masa depan mereka dijarah penguasa tamak
Tapi, siapa mau mendengar ratapan mereka?
Sedang penguasa yang alpa mengurus negara sibuk menghitung dan membagi harta jarahan
Sambil bersulang anggur, mereka saling menegur.
"damai di langit ... "
"damai di kalangan elit .... "
Sementara di bumi, di tempat rakyat hanya bisa mengumpat, sepasukan manusia tak berjiwa menerjang, menendang
dari senjata mereka yang sudah terkokang bermuntahan peluru, mendesing ke segala arah
Lalu, Teluk Sape bersimbah darah
Mesuji bersimbah darah
Papua bersimbah darah
di mana-mana tubuh tergolek tak berdaya, mereka bergelimpangan ditendang pasukan yang mereka biayai
Mereka bergelimpangan diterjang peluru yang mereka beli, para penjaga negara itu sudah berpaling!
Maka dengan pedang telanjang aku torehkan luka di dinding hati
Wahai rezim pembantai ...
Tingkah lakumu yang korup dan tak bermoral sungguh bikin aku semakin mual....
Tapi akan tiba saatnya rakyat mengumpulkan ranting dari hutan-hutan kerontang
Menumpuknya di lahan gersang karena telah kau hisap habis isinya
dengan amarah berkobar-kobar ranting pun menjadi unggun
Lidah apinya yang besar meliuk-liuk menjilat istana kebohongan, membakar kekuasaanmu sedang kamu hanya bisa merintih, terhina dan perih
Sejarah akan menguburmu dalam kubangan penuh nista
Seperti para penguasa sebelum kamu, yang lalai lagi penuh dusta
Sepertinya, aksi kekerasan masih menjadi "jalan pintas" dan "solusi" untuk menyelesaikan masalah di Negeri ini. Terlebih, rakyat kecil selalu yang menjadi korban kekerasan aparat.
Insiden Bima pun menggugah simpati aktivis Gerakan Indonesia Bersih, Adhie Massardi. Ia pun kemudian memotretnya dalam sebuah puisi. Mari kita simak puisi Adhie Massardi berjudul Bima.
Adhie Massardi
Bima
Inilah Sabtu yang akan dicatat sejarah, sebagai hari terkutuk dan bersimbah darah
Pada siang yang panas menjelang natal, ketika langit hendak memamerkan kedamaian pada bumi di Teluk Sape
Rakyat menangis meratapi nasibnya, masa depan mereka dijarah penguasa tamak
Tapi, siapa mau mendengar ratapan mereka?
Sedang penguasa yang alpa mengurus negara sibuk menghitung dan membagi harta jarahan
Sambil bersulang anggur, mereka saling menegur.
"damai di langit ... "
"damai di kalangan elit .... "
Sementara di bumi, di tempat rakyat hanya bisa mengumpat, sepasukan manusia tak berjiwa menerjang, menendang
dari senjata mereka yang sudah terkokang bermuntahan peluru, mendesing ke segala arah
Lalu, Teluk Sape bersimbah darah
Mesuji bersimbah darah
Papua bersimbah darah
di mana-mana tubuh tergolek tak berdaya, mereka bergelimpangan ditendang pasukan yang mereka biayai
Mereka bergelimpangan diterjang peluru yang mereka beli, para penjaga negara itu sudah berpaling!
Maka dengan pedang telanjang aku torehkan luka di dinding hati
Wahai rezim pembantai ...
Tingkah lakumu yang korup dan tak bermoral sungguh bikin aku semakin mual....
Tapi akan tiba saatnya rakyat mengumpulkan ranting dari hutan-hutan kerontang
Menumpuknya di lahan gersang karena telah kau hisap habis isinya
dengan amarah berkobar-kobar ranting pun menjadi unggun
Lidah apinya yang besar meliuk-liuk menjilat istana kebohongan, membakar kekuasaanmu sedang kamu hanya bisa merintih, terhina dan perih
Sejarah akan menguburmu dalam kubangan penuh nista
Seperti para penguasa sebelum kamu, yang lalai lagi penuh dusta
Selasa, 17 Mei 2011
Cerita Dedektif versus Kekinian
Shinichi Kudo, detektif SMA yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menganalisis kasus kriminal terkenal. Masalah besar dihadapinya ketika mendapati dirinya tiba tiba menjadi anak kecil lagi setelah diberi minum obat misterius yang dilakukan oleh dua anggota organisasi hitam Gin dan Vodka. Dikisahkan Shincihi membawa teman baiknya, Ran kesebuah taman hiburan yang bernama Tropical Land untuk merayakan kemenangan Ran pada Kejuaraan Karate Metropolitan. Dia kemudian tertarik untuk menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan yang terjadi pada kereta Mystery Coaster yang mereka tumpangi. Setelah mereka meninggalkan taman hiburan, Shinichi melihat transaksi mencurigakan antara seorang tak dikenal dengan seorang yang berpakaian hitam di daerah tersembunyi dekat taman hiburan. Dia pun memutuskan untuk meninggalkan Ran yang disuruhnya pulang dan dia diam-diam mendekati tempat transaksi itu. Saat ia berusaha mendengar percakapan antar dua orang itu yang ternyata adalah sebuah pemerasan yang benilai seratus juta yen, dia tidak melihat ada seseorang menyelinap di belakangnya dan berbaju hitam, yang kemudian memukul kepalanya dengan pipa besi dan kemudian memaksnya untuk menelan obat yang masih dalam tahap percobaan. Shinichi pun ditinggalkan begitu saja karena dianggap sudah meninggal. Karena obat ini dikenal sangat ampuh untuk membunuh orang tanpa bekas setelah korban mati. Tetapi Shinchi ternyata tidak meninggal, malahan ia merasa seluruh tubunya sakit dan secara perlahan tubuhnya pun mengecil, sehingga ia tampak seperti anak kecil berusia tujuh tahun. Dengan bingung dan putus asa Shinichi pun lari pulang ke rumah tetangganya dan sekaligus teman dekat keluarganya, yaitu Profesor Agasa. Profesor Agasa yang baik, tetapi seorang ilmuwan yang aneh, menyakinkan dirinya bahwa dia diberikan obat yang membuat dirinya mengecil oleh orang berjubah hitam. Profesor Agasa memberitahu Shinichi agar merahasiakan identitas aslinya, karena jika orang berjubah hitam itu tahu kalau dirinya masih hidup bisa-bisa mereka akan datang kembali dan membunuhnya, sekaligus membunuh orang yang dekat dengannya.
Setelah membaca pengantar tersebut, pikirkan masalah berikut:
1. Temukan pelaku cerita dan sebutkan bagaimana karakternya!
2. Apa yang mendasari Profesor Agasa menyarankan Shinichi merahasiakan identitas aslinya?
3. Konflik apa yang muncul dan pihak manakah yang berkonflik?
Kaitkan dengan peristiwa kekinian di Indonesia!
1. Bagaimana pendapatmu melakukan penyadapan untuk menemukan pelaku kejahatan
2. Bagaimana pendapatmu jika saksi dibunuh oleh pihak tertentu?
3. Bagaimana agar keburukan bisa dihilangkan ?
4. Bagaimana menyelesaikan keburukan di lingkungan sekolah (misalnya: mencontek ketika ulangan, pemerasan sesama pelajar, atau kenakalan dalam berbagai bentuk) yang mungkin terjadi ?
Setelah membaca pengantar tersebut, pikirkan masalah berikut:
1. Temukan pelaku cerita dan sebutkan bagaimana karakternya!
2. Apa yang mendasari Profesor Agasa menyarankan Shinichi merahasiakan identitas aslinya?
3. Konflik apa yang muncul dan pihak manakah yang berkonflik?
Kaitkan dengan peristiwa kekinian di Indonesia!
1. Bagaimana pendapatmu melakukan penyadapan untuk menemukan pelaku kejahatan
2. Bagaimana pendapatmu jika saksi dibunuh oleh pihak tertentu?
3. Bagaimana agar keburukan bisa dihilangkan ?
4. Bagaimana menyelesaikan keburukan di lingkungan sekolah (misalnya: mencontek ketika ulangan, pemerasan sesama pelajar, atau kenakalan dalam berbagai bentuk) yang mungkin terjadi ?
Minggu, 10 April 2011
Surat kepada Ibu Megawati
"Belajar dari anak" begitulah kata bijak. Mengapa kita harus belajar dari anak? Rupanya pada diri seorang anak, ada sikap 'keluguan - kepolosan - keterusterangan' yang semua alamiah adanya. Cobalah kita cermati surat ini! Bagaimana seorang anak bicara tentang cerita yang ia dengar dari bundanya, bagaimana dia bayangkan seorang presiden memiliki baju antipeluru, bagaimana dia khawatir ditangkap gara-gara berkirim surat kepada pejabat negara (presiden), dan juga polos dan lucunya saat mengajak Ibu Megawati jalan agar sehat dan tidak kegemukan. Marilah kita baca surat tersebut. Komentar Anda bisa dikirim via e-mail ke agusahid28@yahoo.com
Kepada yang terhormat
Presiden Republik Indonesia
Megawati
Di Istana
Assalaamualaikum.
Ibu Mega, apa kabar? Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini. Ibu, di kelas badanku paling tinggi. Cita-citaku juga tinggi. Aku mau jadi presiden. Tapi baik. Presiden yang pintar, bisa buat komputer sendiri. Yang tegas sekali. Bisa bicara 10 bahasa. Presiden yang dicintai orang-orang. Kalau meninggal masuk surga.
Ibu sayang, Bunda pernah cerita tentang Umar sahabat Nabi Muhammad. Dia itu pemimpin. Umar suka jalan-jalan ke tempat yang banyak orang miskinnya. Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar. Soalnya Umar menyamar. Umar juga tidak bawa pengawal. Umar jadi tahu kalau ada orang yang kesusahan di negeri dia. Bisa cepat menolong.
Kalau jadi presiden, aku juga mau seperti Umar. Tapi masih lama sekali. Harus sudah tua dan kalau dipilih orang. Jadi aku mengirim surat ini mau mengajak ibu menyamar.
Malam-malam kita bisa pergi ke tempat yang banyak orang miskinnya. Pakai baju robek dan jelek. Muka dibuat kotor. Kita dengar kesusahan rakyat. Terus kita tolong. Tapi ibu jangan bawa pengawal. Jangan bilang-bilang. Kita tidak usah pergi jauh-jauh. Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan. Mereka mengamen mengemis. Tidak ada bapak ibunya. Terus banyak orang jahat minta duit dari anak-anak kecil. Kasihan.
Ibu Presiden, kalau mau, ibu balas surat aku ya. Jangan ketahuan pengawal nanti ibu tidak boleh pergi. Aku yang jaga supaya ibu tidak diganggu orang. Ibu jangan takut. Presiden kan punya baju tidak mempan peluru. Ada kan seperti di film? Pakai saja. Ibu juga bisa kurus kalau jalan kaki terus. Tapi tidak apa. Sehat.
Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin di negara Indonesia. Bisa tahu sendiri tidak usah tunggu laporan karena sering ada korupsi.
Sudah dulu ya. Ibu jangan marah ya. Kalau tidak senang aku jangan dipenjara ya. Terimakasih.
Dari
Abdurahman Faiz
Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur
Abdurahman Faiz, lahir di Jakarta, 15 November 1995. Faiz, begitu panggilannya adalah Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2003. Mengucapkan puisi sejak berumur 3 tahun dan mulai menuliskannya di komputer saat berusia 5 tahun. Dinobatkan sebagai Anak Cerdas Kreatif Indonesia oleh Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia pimpinan Kak Seto pada tahun 2006 dan mendapatkan penghargaan PKS Award untuk kategori Anak Indonesia Berprestasi pada tahun 2007. Kumpulan puisinya sudah diterbitkan menjadi beberapa buku.
Kepada yang terhormat
Presiden Republik Indonesia
Megawati
Di Istana
Assalaamualaikum.
Ibu Mega, apa kabar? Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini. Ibu, di kelas badanku paling tinggi. Cita-citaku juga tinggi. Aku mau jadi presiden. Tapi baik. Presiden yang pintar, bisa buat komputer sendiri. Yang tegas sekali. Bisa bicara 10 bahasa. Presiden yang dicintai orang-orang. Kalau meninggal masuk surga.
Ibu sayang, Bunda pernah cerita tentang Umar sahabat Nabi Muhammad. Dia itu pemimpin. Umar suka jalan-jalan ke tempat yang banyak orang miskinnya. Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar. Soalnya Umar menyamar. Umar juga tidak bawa pengawal. Umar jadi tahu kalau ada orang yang kesusahan di negeri dia. Bisa cepat menolong.
Kalau jadi presiden, aku juga mau seperti Umar. Tapi masih lama sekali. Harus sudah tua dan kalau dipilih orang. Jadi aku mengirim surat ini mau mengajak ibu menyamar.
Malam-malam kita bisa pergi ke tempat yang banyak orang miskinnya. Pakai baju robek dan jelek. Muka dibuat kotor. Kita dengar kesusahan rakyat. Terus kita tolong. Tapi ibu jangan bawa pengawal. Jangan bilang-bilang. Kita tidak usah pergi jauh-jauh. Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan. Mereka mengamen mengemis. Tidak ada bapak ibunya. Terus banyak orang jahat minta duit dari anak-anak kecil. Kasihan.
Ibu Presiden, kalau mau, ibu balas surat aku ya. Jangan ketahuan pengawal nanti ibu tidak boleh pergi. Aku yang jaga supaya ibu tidak diganggu orang. Ibu jangan takut. Presiden kan punya baju tidak mempan peluru. Ada kan seperti di film? Pakai saja. Ibu juga bisa kurus kalau jalan kaki terus. Tapi tidak apa. Sehat.
Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin di negara Indonesia. Bisa tahu sendiri tidak usah tunggu laporan karena sering ada korupsi.
Sudah dulu ya. Ibu jangan marah ya. Kalau tidak senang aku jangan dipenjara ya. Terimakasih.
Dari
Abdurahman Faiz
Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur
Abdurahman Faiz, lahir di Jakarta, 15 November 1995. Faiz, begitu panggilannya adalah Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2003. Mengucapkan puisi sejak berumur 3 tahun dan mulai menuliskannya di komputer saat berusia 5 tahun. Dinobatkan sebagai Anak Cerdas Kreatif Indonesia oleh Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia pimpinan Kak Seto pada tahun 2006 dan mendapatkan penghargaan PKS Award untuk kategori Anak Indonesia Berprestasi pada tahun 2007. Kumpulan puisinya sudah diterbitkan menjadi beberapa buku.
Langganan:
Postingan (Atom)