Novel karya Pramoedya Ananta Toer menghantam tradisi Jawa yang feodalis
Sebut saja nama Pramoedya Ananta Toer, maka kontroversi akan lahir dengan sendirinya. Pram, demikian ia akrab disapa, memang pribadi yang bersegi-segi. Sejumlah kecaman dan segudang pujian, sejumlah kekesalan dan sejumlah keharuan, kehalusan dan kekeraskepalaan. Banyak suara berbeda, pendapat beragam, dialamatkan kepadanya. Namun satu hal adalah tidak mungkin menghadirkan sejarah sastra Indonesia tanpa menyertakan namanya.
Kemunculannya dalam khasanah sastra Indonesia ditandai oleh cerpen-cerpen dan novel-novelnya. Ketika ia kemudian menerbitkan novel "Keluarga Gerilya", tidak bisa tidak namanya tercantum dalam daftar sastrawan Indonesia terkemuka pada era revolusi kemerdekaan. Dalam rrevolusi kemerdekaan itu pula Pramoedya terlibat aktif bukan hanya sebagai pengarang, melainkan pula sebagai serdadu. Ia kemudian dijebloskan Belanda ke dalam tahanan. Novel Keluarga Gerilya lahir dari pengalamannya menjalani tahanan Belanda. Kelak di kemudian hari ia akan bertemu kembali dengan penjara. Namun, bukan penjara penjajah Belanda melainkan penjara negara Republik Indonesia. Di penjara ini pula kelak lahir novel-novelnya yang menggegerkan, yakni Bumi Manusia.
Novel-novel sejarah karya Pramoedya sebagai novelis sejarah terbesar di Indonesia, karena hingga kini tak banyak sastrawan Indonesia yang menulis novel dengan latar sejarah sebanyak dan seintensif Pramoedya. Pada gilirannya merupakan tantangan bagi ilmu sejarah dan kegiatan penelitian sejarah di Indonesia yang hingga kini belum menemukan hasil sekukuh dan semantap novel novel Pramoedya. Sejarah Indonesia sebagai fakta dan sebagai cerita masih merupakan wilayah yang belum dibuka untuk dipercakapkan dengan kritis dan sungguh-sungguh. Bahasa Indonesia Pramoedya masih terasa kemelayu-melayuan. Namun mengherankan, dengan bahasa Indonesia yang tidak semodern Chairil Anwar, Pramoedya dapat menulis novel tak putus-putus demikian banyaknya dengan tetap memikat dan mencuri hati pembaca.
Bagi kaum muda, Pramoedya bisa dijadikan teladan dalam produktivitas dan api kreativitas yang tak kunjung padam dihantam berbagai prahara. Lewat berbagai tokoh cerpen dan novel-novelnya, kita berhadapan juga dengan tokoh-tokoh yang tak putus dirundung malang, dihantam cobaan, digerus angin sejarah dan kekuasaan, namun selalu tegak bertahan bahkan beberapa di antara mereka dijemput kematian. Dalam kenyataan, sebagian besar tokohnya menyanyikan kecintaaan terhadap negerinya walaupun tak putus-putusnya bertepuk sebelah tangan. -Agus R Sarjono-
(alamat blog: http://wisata-foto.blogspot.com) Sajian berbagai tulisan, kutipan sebagai bahan komunikasi. Dihimpun oleh Agus Ahmad Hidayat-
Jumat, 02 Agustus 2019
Masa kecil Pangeran Diponegoro
Ontowiryo - nama kecil Pangeran Diponegoro
Masa kecil Pangeran Diponegoro yang ditulis ulang oleh Remy Sylado - sastrawan dari Menado, pernah mendapat hadiah sastra dari keluarga Aburizal Bakry
Ontowiryo, anak laki sepuluh tahun nan cakep ini- yang dikenal rakyat sekitar Tegalrejo sebagai Seh Ngabdulrohim dan kelak terkenal antero Nusantara sebagai Pangeran Diponegori-berlaki-lari keder di pematang sawah Mantra, setelah menyeberangi Kali Winongo, menuju ke puri tempat tinggal nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri Sultan Hamengku Buwono I yang biasa disebut Sultan Swargi.
Dari kejauhan Ratu Ageng yang mengasuh Ontowiryo sejak bayi, sudah melihat cucu-cicitnya berlari-lari begitu. Dalam caranya berlari, sang nenek menyimpulkan, bahwa ada hal istimewa yang pasti akan diperkatakan oleh cucunya itu.
Setiba di rumah, Ontowiryo mengempas badan, ndeprok, terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuh. Dan melihat itu, Ratu Ageng tertawa, juga merengut, merasa lucu.
Kata Ratu Ageng,"Kamu kenapa,Wir? Kailmu mana?Kok Kamu terbirit-birit seperti baru melihat setan."
"Memang," sahut Ontowiryo bersemangat untuk meyakinkan nenek buyutnya."Aku memang baru melihat setan,Nek."
Ratu Ageng tertawa. Dalam hatinya berlangsung rasa maklum, bahwa anak-anak seusia Ontowiryo yang baru berusia sepuluh tahun pada 1795 ini, lumrah dibayang-bayangi oleh berbagai fantasi. Oleh karena itu berkata dia mencandai cucunya,"O ya?Kamu melihat setan ya?"
Ontowiryo merasa diremehkan. Katanya tawar namun tetap bersemangat untuk meyakinkan,"Kok Nenek tidak percaya?"
"Tidak," sangkal Ratu Ageng untuk menyenangkan hati Ontowiryo. Dan, kencati begitu, Ratu Ageng menggurauinya. "Tapi setannya seperti apa? Gundul apa gondrong, Wir?"
Merasa terus dicandai. Ontowiryo pun berkata gregetan, "Aku bersungguh-sungguh, Nek."
"Ya, ya, Nenek tahu," kata Ratu Ageng.
Ontowiryo makin serius. "Sungguh, Nek. Aku melihat setan di seberang sungai sana."
Ratu Ageng tertawa lagi, memberi apresiasi terhadap sikap ngotot cucunya. "Ya," katanya. "Makanya tadi kan Nenek bertanya; setanya gundul apa gondrong?"
Jawab Ontowiryo, "Setannya putih. Jangkung. Membawa bedil."
Ratu Ageng tersenyum. Di mengerti. Katanya. "Yang kamu lihat itu pasti orang Belanda."
Ontowiryo menyerana. Dia menggumam. Tak terdengar oleh neneknya.
"Belanda?"
Ontowiryo memang belum pernah mellihat Belanda datang ke rumah neneknya. Tempat tinggal sang nenek jauh dari kraton, pusat kebudayaan, pusat kekuasaan. Ratu Ageng memilih tinggal di luar kraton karena alasan-alasan yang saling bertautan antara lahir dan batin. dan arkian di tempat seperti itulah Ontowiryo diasuh untuk menjadi cerdik dan cendekia serta menjadi satria dan jatmika.
Di usianya yang sekarang Ontowiryo dituntun untuk memahami Quran, menguasai bacaan-bacaan kebudayaan Jawa, primbon, dan suluk, serta kitab-kita kaweruh, tapi sekaligus dilatih untuk mahir melempar lembing, menganggar keris, berpacu dengan kuda. Di mata Ratu Ageng, semua kepandaian itu berurusan dengan kewiraan, dan menjadi sisik meliknya kepemimpinan ketika kelak Ontowiryo menjadi hulubalang yang mengomando perang melawan Belanda.
Selama itu memang dia tahu, karena titurkan secara sekilas, baik oleh ayahnya Sultan Hamengku Buwono tentu saja terutama eyang buyutnya Ratu Ageng garwo Sultan Hamengku Buwono I yang mengasuhnya ini, bahwa Belanda jahat. Sungguh pun begitu dia sendiri belum pernah berhadapan langsung muka dengan muka Belanda, dan mengalami tindakan tindakan yang menyakitkannya.
Baru saja dia kaget melihat Belanda di seberang Kali Winongo. Dan, demi melihat ciri ciri sosok Belanda yang tidak sama dengan ciri ciri sosok bangsanya Jawa - yaitu bahwa Belanda berkulit putih, bertubuh jangkung, berambut pirang, dan bermata biru - maka sertamerta membuat Ontowiryo yang terbilang anak-anak ini, tanpa sengaja berfantasi dengan satu perkataan yang justru menyimpulkan seluruh peta kejahatan. Yakni; setan!
Sama sekali tidak dinyana, bahwa baru terjadi tiga puluh tahun mendatang Ontowiryo benar benar menemukan wujud dari perkataan yang baru diucapkannya di bawah fantasinya, yaitu ketika dalam keputusan perang, dia mengatakan dengan geram; "Belanda, setan!"
Tahun-tahun ke arah sana, ke kurun yang tidak akan mungkin lagi diredam oleh kata kata manis - kata kata yang identik dengan kelicikan Belanda - karena api di dalam sekam pada waktu itu sudah demikian panas, sehingga pasti terjadi perang, jauh jauh sudah disadari Ratu Ageng sebagai saat saat bersiaga bagi cucunya untuk menjadi pemimpin yang memimpin bangsanya Jawa melawan kejahatan Belanda.
Itu sebabnya dua pepandaian, pertama yang berurusan dengan batin, dan kedua yang berurusan dengan zahir, demikian tertib diarahkan oleh Ratu Ageng kepada Ontowiryo.
Ratu Ageng bertanggungjawab pada marhum suaminya Pangeran Mangkubumi yang menjadi Sultan Hamengku Buwono I, karena pengasuhan Ontowiryo dipercayakan kepadanya sejak Pangeran Diponegori ini masih bayi.
Takkan dilupan oleh Ratu Ageng, bahwa menjelang azan magrib, ketika suaminya itu sedang duduk berselonjor di prabayasa, terdengan tangis bayi Ontowiryo di buaian bundanya, R.A.Mangkarawati. Suaranya nyaris meraung. Ibu membuat sang sultan terjaga.
Kata sultan kepada Ratu Ageng, "Diajeng, tangisan bayi itu terdengar seperti miris, lebih risau dari makna yang bisa dipahami dari kata kata tuah yang direka oleh seorang kawindra. Kenapa begitu?"
"Entahlah, suamiku raja."
"Coba, Diajeng, bawa ke sini, aku ingin berkata kata kepadanya."
Ratu Ageng masuk, meminta bayi Ontowiryo dari tangan ibunya, lalu membawanya kepada Sultan Hamengku Buwono I. Ketika Ratu Ageng menggendongnya, alih alih tangis bayi yang nyaris meraung itu, mendadak teduh. Ratu Ageng pun menciumnya sambil berjalan ke depan, membawanya ke tentat duduk suaminya. Dan, sebelum Ratu Ageng berkata apa apa, pas di hadapan duli baginda raja, sekonyong bayi itu tertawa riang, suaranya bulat , kering, lucu.
Sultan sendiri terkesima melihat cicitnya yang sulung dari cucunya Hamengku Buwono III yang asma dalem timurnya Raden Mas Suroyo. Berkata dia sambil mengulurkan kedua rangannya kepada Ratu Ageng agar bayi yang berada di gendongan istrinya itu diserahkan kepadanya, "Aneh, tiba tiba anak ini diam dan malah ketawa lucu begini."
"Ya, suamiku raja," kata Ratu Ageng seraya menyerahkan bayi itu kepada suaminya.
Tapi, aneh ula, gegitu bayi ini pindah tangan dari Ratu Ageng ke tangan sang eyang buyut, mendadak kembali Ontowiryo kecil menangis lagi seperti merauh-raun.
"Lo?"
Sultan tertawa. Lekas lekas dia serahkan bayi itu kembali ke tangan istrinya Ratu Ageng. Bersamaan dengan itu pula Ontowiryo kecil langsung berhenti menangis, berlanjut dengan ketawa yang membuat kakek dan neneknya merasa lucu. Sertamerta Sultan menyimpulkan, bahwa kenyataan ini mesti dianggap sebagai bagian dari isyarat alami akan ketentuan garis takdir yang mesti dijalani dengan tanggungjawab.
Kata sultan kepada Ratu Ageng." Akhirnya harus dikatakan, diajeng-lah yang ditentukan takdir untuk mengasuh Ontowiryo, membesarkannya, dan menjaganya baik baik agar menjadi manusia kamil. sebab, ketahuilah, aku mendapat petunjuk dari rohku sendiri, bahwa bayi itu kelak akan menjadi pemimpin bangsa yang paling dihormati di antara bangsa bangsa antero Nusantara. Dia akan menjadi orang besar yang diteladani pejuang-pejuang kebangsaan, mulai dari prajurit sampai perwira, sebagai lambang pembebab dari segala tekanan, penindasan, dan penjajahan bangsa terhadap bangsa, sesrta penghisapan manusia terhadap manusia. tapi juga, yang penting, menjadi panutan pribadi yang takwa, saleh, alim. Tidak sia-sia namanya adalah Ontowiryo; onto berarti yang terakhir, yang pengujunng, yang pamungkas, dan wiryo berarti keberanian, keberkuasaan, kesaktian, keluhuran jiwa. Aku ingin diajeng terus mengigat-ingat ini. Jangan lupa."
"Tentu, suamiku raja."
Ratu Ageng sadar, janjinya kepada raja, suaminya, adalah sumpah setia seorang istri. Demikian sepanjang hayat dia mesti melakukan semua ikhtiar, yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan Ontowiryo tersebut,
-pembelajaran Bahasa Indonesia SMA-SMK kelas XII- Pelajaran kedua - Cerita Sejarah-
Masa kecil Pangeran Diponegoro yang ditulis ulang oleh Remy Sylado - sastrawan dari Menado, pernah mendapat hadiah sastra dari keluarga Aburizal Bakry
Ontowiryo, anak laki sepuluh tahun nan cakep ini- yang dikenal rakyat sekitar Tegalrejo sebagai Seh Ngabdulrohim dan kelak terkenal antero Nusantara sebagai Pangeran Diponegori-berlaki-lari keder di pematang sawah Mantra, setelah menyeberangi Kali Winongo, menuju ke puri tempat tinggal nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaisuri Sultan Hamengku Buwono I yang biasa disebut Sultan Swargi.
Dari kejauhan Ratu Ageng yang mengasuh Ontowiryo sejak bayi, sudah melihat cucu-cicitnya berlari-lari begitu. Dalam caranya berlari, sang nenek menyimpulkan, bahwa ada hal istimewa yang pasti akan diperkatakan oleh cucunya itu.
Setiba di rumah, Ontowiryo mengempas badan, ndeprok, terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuh. Dan melihat itu, Ratu Ageng tertawa, juga merengut, merasa lucu.
Kata Ratu Ageng,"Kamu kenapa,Wir? Kailmu mana?Kok Kamu terbirit-birit seperti baru melihat setan."
"Memang," sahut Ontowiryo bersemangat untuk meyakinkan nenek buyutnya."Aku memang baru melihat setan,Nek."
Ratu Ageng tertawa. Dalam hatinya berlangsung rasa maklum, bahwa anak-anak seusia Ontowiryo yang baru berusia sepuluh tahun pada 1795 ini, lumrah dibayang-bayangi oleh berbagai fantasi. Oleh karena itu berkata dia mencandai cucunya,"O ya?Kamu melihat setan ya?"
Ontowiryo merasa diremehkan. Katanya tawar namun tetap bersemangat untuk meyakinkan,"Kok Nenek tidak percaya?"
"Tidak," sangkal Ratu Ageng untuk menyenangkan hati Ontowiryo. Dan, kencati begitu, Ratu Ageng menggurauinya. "Tapi setannya seperti apa? Gundul apa gondrong, Wir?"
Merasa terus dicandai. Ontowiryo pun berkata gregetan, "Aku bersungguh-sungguh, Nek."
"Ya, ya, Nenek tahu," kata Ratu Ageng.
Ontowiryo makin serius. "Sungguh, Nek. Aku melihat setan di seberang sungai sana."
Ratu Ageng tertawa lagi, memberi apresiasi terhadap sikap ngotot cucunya. "Ya," katanya. "Makanya tadi kan Nenek bertanya; setanya gundul apa gondrong?"
Jawab Ontowiryo, "Setannya putih. Jangkung. Membawa bedil."
Ratu Ageng tersenyum. Di mengerti. Katanya. "Yang kamu lihat itu pasti orang Belanda."
Ontowiryo menyerana. Dia menggumam. Tak terdengar oleh neneknya.
"Belanda?"
Ontowiryo memang belum pernah mellihat Belanda datang ke rumah neneknya. Tempat tinggal sang nenek jauh dari kraton, pusat kebudayaan, pusat kekuasaan. Ratu Ageng memilih tinggal di luar kraton karena alasan-alasan yang saling bertautan antara lahir dan batin. dan arkian di tempat seperti itulah Ontowiryo diasuh untuk menjadi cerdik dan cendekia serta menjadi satria dan jatmika.
Di usianya yang sekarang Ontowiryo dituntun untuk memahami Quran, menguasai bacaan-bacaan kebudayaan Jawa, primbon, dan suluk, serta kitab-kita kaweruh, tapi sekaligus dilatih untuk mahir melempar lembing, menganggar keris, berpacu dengan kuda. Di mata Ratu Ageng, semua kepandaian itu berurusan dengan kewiraan, dan menjadi sisik meliknya kepemimpinan ketika kelak Ontowiryo menjadi hulubalang yang mengomando perang melawan Belanda.
Selama itu memang dia tahu, karena titurkan secara sekilas, baik oleh ayahnya Sultan Hamengku Buwono tentu saja terutama eyang buyutnya Ratu Ageng garwo Sultan Hamengku Buwono I yang mengasuhnya ini, bahwa Belanda jahat. Sungguh pun begitu dia sendiri belum pernah berhadapan langsung muka dengan muka Belanda, dan mengalami tindakan tindakan yang menyakitkannya.
Baru saja dia kaget melihat Belanda di seberang Kali Winongo. Dan, demi melihat ciri ciri sosok Belanda yang tidak sama dengan ciri ciri sosok bangsanya Jawa - yaitu bahwa Belanda berkulit putih, bertubuh jangkung, berambut pirang, dan bermata biru - maka sertamerta membuat Ontowiryo yang terbilang anak-anak ini, tanpa sengaja berfantasi dengan satu perkataan yang justru menyimpulkan seluruh peta kejahatan. Yakni; setan!
Sama sekali tidak dinyana, bahwa baru terjadi tiga puluh tahun mendatang Ontowiryo benar benar menemukan wujud dari perkataan yang baru diucapkannya di bawah fantasinya, yaitu ketika dalam keputusan perang, dia mengatakan dengan geram; "Belanda, setan!"
Tahun-tahun ke arah sana, ke kurun yang tidak akan mungkin lagi diredam oleh kata kata manis - kata kata yang identik dengan kelicikan Belanda - karena api di dalam sekam pada waktu itu sudah demikian panas, sehingga pasti terjadi perang, jauh jauh sudah disadari Ratu Ageng sebagai saat saat bersiaga bagi cucunya untuk menjadi pemimpin yang memimpin bangsanya Jawa melawan kejahatan Belanda.
Itu sebabnya dua pepandaian, pertama yang berurusan dengan batin, dan kedua yang berurusan dengan zahir, demikian tertib diarahkan oleh Ratu Ageng kepada Ontowiryo.
Ratu Ageng bertanggungjawab pada marhum suaminya Pangeran Mangkubumi yang menjadi Sultan Hamengku Buwono I, karena pengasuhan Ontowiryo dipercayakan kepadanya sejak Pangeran Diponegori ini masih bayi.
Takkan dilupan oleh Ratu Ageng, bahwa menjelang azan magrib, ketika suaminya itu sedang duduk berselonjor di prabayasa, terdengan tangis bayi Ontowiryo di buaian bundanya, R.A.Mangkarawati. Suaranya nyaris meraung. Ibu membuat sang sultan terjaga.
Kata sultan kepada Ratu Ageng, "Diajeng, tangisan bayi itu terdengar seperti miris, lebih risau dari makna yang bisa dipahami dari kata kata tuah yang direka oleh seorang kawindra. Kenapa begitu?"
"Entahlah, suamiku raja."
"Coba, Diajeng, bawa ke sini, aku ingin berkata kata kepadanya."
Ratu Ageng masuk, meminta bayi Ontowiryo dari tangan ibunya, lalu membawanya kepada Sultan Hamengku Buwono I. Ketika Ratu Ageng menggendongnya, alih alih tangis bayi yang nyaris meraung itu, mendadak teduh. Ratu Ageng pun menciumnya sambil berjalan ke depan, membawanya ke tentat duduk suaminya. Dan, sebelum Ratu Ageng berkata apa apa, pas di hadapan duli baginda raja, sekonyong bayi itu tertawa riang, suaranya bulat , kering, lucu.
Sultan sendiri terkesima melihat cicitnya yang sulung dari cucunya Hamengku Buwono III yang asma dalem timurnya Raden Mas Suroyo. Berkata dia sambil mengulurkan kedua rangannya kepada Ratu Ageng agar bayi yang berada di gendongan istrinya itu diserahkan kepadanya, "Aneh, tiba tiba anak ini diam dan malah ketawa lucu begini."
"Ya, suamiku raja," kata Ratu Ageng seraya menyerahkan bayi itu kepada suaminya.
Tapi, aneh ula, gegitu bayi ini pindah tangan dari Ratu Ageng ke tangan sang eyang buyut, mendadak kembali Ontowiryo kecil menangis lagi seperti merauh-raun.
"Lo?"
Sultan tertawa. Lekas lekas dia serahkan bayi itu kembali ke tangan istrinya Ratu Ageng. Bersamaan dengan itu pula Ontowiryo kecil langsung berhenti menangis, berlanjut dengan ketawa yang membuat kakek dan neneknya merasa lucu. Sertamerta Sultan menyimpulkan, bahwa kenyataan ini mesti dianggap sebagai bagian dari isyarat alami akan ketentuan garis takdir yang mesti dijalani dengan tanggungjawab.
Kata sultan kepada Ratu Ageng." Akhirnya harus dikatakan, diajeng-lah yang ditentukan takdir untuk mengasuh Ontowiryo, membesarkannya, dan menjaganya baik baik agar menjadi manusia kamil. sebab, ketahuilah, aku mendapat petunjuk dari rohku sendiri, bahwa bayi itu kelak akan menjadi pemimpin bangsa yang paling dihormati di antara bangsa bangsa antero Nusantara. Dia akan menjadi orang besar yang diteladani pejuang-pejuang kebangsaan, mulai dari prajurit sampai perwira, sebagai lambang pembebab dari segala tekanan, penindasan, dan penjajahan bangsa terhadap bangsa, sesrta penghisapan manusia terhadap manusia. tapi juga, yang penting, menjadi panutan pribadi yang takwa, saleh, alim. Tidak sia-sia namanya adalah Ontowiryo; onto berarti yang terakhir, yang pengujunng, yang pamungkas, dan wiryo berarti keberanian, keberkuasaan, kesaktian, keluhuran jiwa. Aku ingin diajeng terus mengigat-ingat ini. Jangan lupa."
"Tentu, suamiku raja."
Ratu Ageng sadar, janjinya kepada raja, suaminya, adalah sumpah setia seorang istri. Demikian sepanjang hayat dia mesti melakukan semua ikhtiar, yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan Ontowiryo tersebut,
-pembelajaran Bahasa Indonesia SMA-SMK kelas XII- Pelajaran kedua - Cerita Sejarah-
Kamis, 25 Juli 2019
Siswa Lampung yang Akan Mengikuti Program Student Exchange ke AS
Fifi Afiyah Ramadita Hermawan dan Erisa Oksanda; dua Siswa yang Akan Mengikuti Program Student Exchange ke AS
Fifi Afiyah Ramadita Hermawan, siswa SMAN 15 Bandar Lampung dan Erisa Oksanda, siswa SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung merupakan dua siswa asal Lampung yang akan mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat tahun 2019.
Dihubungi reporter Lampung Geh pada Kamis petang (14/3) Erisa bercerita bahwa ada sekitar 80 siswa dari seluruh Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar yang diadakan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ini.
"Dari seluruh Indonesia yang mendaftar ada ribuan, tapi hanya dipilih 80 siswa. Dan alhamdulillah saya dan Fifi dua siswa yang terpilih dari Lampung," ujar pelajar kelas XI SMA Al Azhar 3 Balam itu.
Senada dengan Erisa, Fifi dihubungi di tempat yang berbeda pada Kamis (14/3) mengungkapkan hal serupa, "alhamdulillah, gak nyangka banget bisa terpilih untuk ikut student exchange ke Amerika. Bersyukur banget doa dan usaha Fifi selama ini dikabulkan sama Allah," imbuhnya.
Fifi yang saat ini duduk di bangku kelas XI IPA 1 mengungkapkan bahwa, ini kali pertama salah satu siswa sekolahnya mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri.
Tahap seleksi Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) sendiri sudah mereka ikuti prosesnya mulai dari tahap awal seleksi berkas hingga test wawancara sejak setahun silam.
Dilansir dari laman resmi yesprograms.org, Program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) merupakan program beasiswa penuh yang diberikan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat kepada siswa SMA atau sederajat untuk tinggal dengan keluarga Amerika, dan bersekolah di SMA setempat selama satu tahun.
Program YES ini telah dilaksanakan sejak tahun 2003 silam yang saat ini diikuti oleh 40 negara muslim dunia, dan sudah mengirim lebih dari 700 siswa Indonesia yang kemudian menjadi duta perdamaian dan persahabatan antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Fifi sendiri merupakan salah satu siswa berprestasi SMAN 15 Bandar Lampung peraih ranking 1 kelas dan ranking 3 paralel seangkatannya, selain itu ia juga aktif di organisasi sekolah dan menjabat sebagai wakil ketua OSIS.
Prestasi cemerlang juga dimiliki oleh peserta pertukaran pelajar dari SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung, Erisa yang merupakan ketua English Club sekolahnya kerap kali menjuarai kompetisi story telling dan speech baik di dalam maupun di luar daerah Lampung.
Menanggapi kesempatan untuk berinteraksi dan merasakan langsung kehidupan masyarakat Amerika oleh program YES ini, keduanya mengaku tengah mempersiapkan mental dan perlengkapan pribadi yang akan dibawa untuk tinggal mandiri dan jauh dari orang tua.
"Sejauh ini saya lagi belajar untuk jadi pribadi yang lebih toleran dengan dan lebih peka terhadap lingkungan. Juga terus mendalami kemampuan Bahasa Inggris dengan mengambil kelas di tempat kursus," ujar Erisa.
"Terus mengasah kemampuan bahasa Inggris sudah jelas, karena nanti itu modal utama untuk bisa berinteraksi. Di sisi lain saya juga terus berkomunikasi dan tanya-tanya dengan teman-teman yang sebelumnya sudah mengikuti program ini," kata Fifi.
Fifi juga menyebutkan bahwa beberapa siswa yang berasal dari daerah Indonesia bagian timur yang mengikuti Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study, sudah mulai diberangkatkan ke Benua Paman Sam.
Fifi dan Erisa sendiri, dijadwalkan akan berangkat pada awal Agustus 2019, dan saat ini sedang menunggu pengumuman lokasi yang akan menjadi tempat tinggalnya selama satu tahun di Amerika Serikat itu.
Laporan reporter Lampung Geh Latifah Desti Lustikasari
Editor : M Adita Putra
Fifi Afiyah Ramadita Hermawan, siswa SMAN 15 Bandar Lampung dan Erisa Oksanda, siswa SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung merupakan dua siswa asal Lampung yang akan mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat tahun 2019.
Dihubungi reporter Lampung Geh pada Kamis petang (14/3) Erisa bercerita bahwa ada sekitar 80 siswa dari seluruh Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar yang diadakan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ini.
"Dari seluruh Indonesia yang mendaftar ada ribuan, tapi hanya dipilih 80 siswa. Dan alhamdulillah saya dan Fifi dua siswa yang terpilih dari Lampung," ujar pelajar kelas XI SMA Al Azhar 3 Balam itu.
Senada dengan Erisa, Fifi dihubungi di tempat yang berbeda pada Kamis (14/3) mengungkapkan hal serupa, "alhamdulillah, gak nyangka banget bisa terpilih untuk ikut student exchange ke Amerika. Bersyukur banget doa dan usaha Fifi selama ini dikabulkan sama Allah," imbuhnya.
Fifi yang saat ini duduk di bangku kelas XI IPA 1 mengungkapkan bahwa, ini kali pertama salah satu siswa sekolahnya mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri.
Tahap seleksi Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) sendiri sudah mereka ikuti prosesnya mulai dari tahap awal seleksi berkas hingga test wawancara sejak setahun silam.
Dilansir dari laman resmi yesprograms.org, Program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) merupakan program beasiswa penuh yang diberikan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat kepada siswa SMA atau sederajat untuk tinggal dengan keluarga Amerika, dan bersekolah di SMA setempat selama satu tahun.
Program YES ini telah dilaksanakan sejak tahun 2003 silam yang saat ini diikuti oleh 40 negara muslim dunia, dan sudah mengirim lebih dari 700 siswa Indonesia yang kemudian menjadi duta perdamaian dan persahabatan antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Fifi sendiri merupakan salah satu siswa berprestasi SMAN 15 Bandar Lampung peraih ranking 1 kelas dan ranking 3 paralel seangkatannya, selain itu ia juga aktif di organisasi sekolah dan menjabat sebagai wakil ketua OSIS.
Prestasi cemerlang juga dimiliki oleh peserta pertukaran pelajar dari SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung, Erisa yang merupakan ketua English Club sekolahnya kerap kali menjuarai kompetisi story telling dan speech baik di dalam maupun di luar daerah Lampung.
Menanggapi kesempatan untuk berinteraksi dan merasakan langsung kehidupan masyarakat Amerika oleh program YES ini, keduanya mengaku tengah mempersiapkan mental dan perlengkapan pribadi yang akan dibawa untuk tinggal mandiri dan jauh dari orang tua.
"Sejauh ini saya lagi belajar untuk jadi pribadi yang lebih toleran dengan dan lebih peka terhadap lingkungan. Juga terus mendalami kemampuan Bahasa Inggris dengan mengambil kelas di tempat kursus," ujar Erisa.
"Terus mengasah kemampuan bahasa Inggris sudah jelas, karena nanti itu modal utama untuk bisa berinteraksi. Di sisi lain saya juga terus berkomunikasi dan tanya-tanya dengan teman-teman yang sebelumnya sudah mengikuti program ini," kata Fifi.
Fifi juga menyebutkan bahwa beberapa siswa yang berasal dari daerah Indonesia bagian timur yang mengikuti Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study, sudah mulai diberangkatkan ke Benua Paman Sam.
Fifi dan Erisa sendiri, dijadwalkan akan berangkat pada awal Agustus 2019, dan saat ini sedang menunggu pengumuman lokasi yang akan menjadi tempat tinggalnya selama satu tahun di Amerika Serikat itu.
Laporan reporter Lampung Geh Latifah Desti Lustikasari
Editor : M Adita Putra
Minggu, 21 Juli 2019
Surat Lamaran - sebuah contoh untuk dicermati
Mencermati Sajian Surat Lamaran
Lampung
Utara, 10 Oktober 2016
Hal :
Lamaran pekerjaan
Lampiran : Satu berkas
Yth.
Bagian Personalia PT Sinar Laut
Jalan
Kartini 31 Rawalaut
Bandar
Lampung
Dengan
hormat,
Berdasarkan
iklan harian Lampung Post edisi 2 Oktober 2016 yang menyebutkan bahwa PT Sinar
Laut memerlukan tenaga teknisi mesin fotokopi, maka saya:
nama
|
: Alimudin Syahputra;
|
tempat
dan tanggal lahir
|
: Medan, 21 Februari 1999;
|
alamat
|
: Dusun II Umbul Tempel Desa Sawojajar Kecamatan Kotabumi Utara
Kabupaten Lampung Utara;
|
alamat
surat
|
: Jalan Serma Peturun 25 RT 03 RW 01
Kotabumi, Lampung Utara;
|
mengajukan
lamaran sebagai tenaga teknisi mesin fotokopi pada perusahaan yang Tuan pimpin.
Sebagai
bahan pertimbangan bersama surat ini saya lampirkan:
1)fotokopi
surat tanda taman belajar SLTA;
2)fotokopi
sertifikat pendidikan Teknisi Mesin Cetak media print;
3)surat
keterangan catatan Kepolisian;
4)surat
keterangan kesehatan dari Puskesmas;
5)surat
keterangan tenaga kerja dari Dinas Sosial.
Demikian
surat lamaran saya sampaikan dan terima kasih atas pertimbangan Tuan.
Hormat saya
Alimudin Syahputra
Kompetensi Dasar - Bahasa Indonesia - Kelas XII - SMA
Selamat Belajar Bahasa Indonesia
Inilah Kompetensi Dasar yang akan kita asah, kita latih pada peserta didik SMA kelas XII
Kode awal 3 adalah Pengetahuan, kode awal 4 adalah Keterampilan, ada empat belas butir yang rinciannya sebagai berikut:
Pengetahuan
3.1 Mengidentifikasi isi dan sistematika surat lamaran pekerjaan yang dibaca
3.2 Mengidentifikasi unsur kebahasaan surat lamaran pekerjaan
3.3 Mengidentifikasi informasi, yang mencakup orientasi, rangkaian kejadian yang saling berkaitan, komplikasi dan resolusi, dalam cerita sejarah lisan atau tulis
3.4 Menganalisis kebahasaan cerita atau novel sejarah
3.5 Mengidentifikasi informasi (pendapat, alternatif solusi dan simpulan terhadap suatu isu) dalam teks editorial
3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks editorial
3.7 Menilai isi dua buku fiksi (kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi) dan satu buku pengayaan (nonfiksi) yang dibaca
3.8 Menafsir pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca
3.9 Menganalisis isi dan kebahasaan novel
3.10 Mengevaluasi informasi, baik fakta maupun opini, dalam sebuah artikel yang dibaca
3.11 Menganalisis kebahasaan artikel dan/atau buku ilmiah
3.12 Membandingkan kritik sastra dan esai dari aspek pengetahuan dan pandangan penulis
3.13 Menganalisis sistematika dan kebahasaan kritik dan esai
3.14 Mengidentifikasi nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah buku pengayaan (nonfiksi) dan satu buku drama (fiksi)
Keterampilan
4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
4.1 Menyajikan simpulan sistematika dan unsur-unsur isi surat lamaran baik secara lisan maupun tulis
4.2 Menyusun surat lamaran pekerjaan dengan memerhatikan isi, sistematika dan kebahasaan
4.3 Mengonstruksi nilai-nilai dari informasi cerita sejarah dalamsebuah teks eksplanasi
4.4 Menulis cerita sejarah pribadi dengan memerhatikan kebahasaan
4.5 Menyeleksi ragam informasi sebagai bahan teks editorial baik secara lisan maupun tulis
4.6 Merancang teks editorial dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis
4.7 Menyusun laporan hasil diskusi buku tentang satu topik baik secara lisan maupun tulis
4.8 Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang baik secara lisan maupun tulis
4.9 Merancang novel atau novelet dengan memerhatikan isi dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis
4.10 Menyusun opini dalam bentuk artikel
4.11 Mengonstruksi sebuah artikel dengan memerhatikan fakta dan kebahasaan
4.12 Menyusun kritik dan esai dengan memerhatikan aspek pengetahuan dan pandangan penulis baik secara lisan maupun tulis
4.13 Mengonstruksi sebuah kritik atau esai dengan memerhatikan sistematika dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis
4.14 Menulis refleksi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah buku pengayaan (nonfiksi) dan satu buku drama (fiksi)
Inilah Kompetensi Dasar yang akan kita asah, kita latih pada peserta didik SMA kelas XII
Kode awal 3 adalah Pengetahuan, kode awal 4 adalah Keterampilan, ada empat belas butir yang rinciannya sebagai berikut:
Pengetahuan
3.1 Mengidentifikasi isi dan sistematika surat lamaran pekerjaan yang dibaca
3.2 Mengidentifikasi unsur kebahasaan surat lamaran pekerjaan
3.3 Mengidentifikasi informasi, yang mencakup orientasi, rangkaian kejadian yang saling berkaitan, komplikasi dan resolusi, dalam cerita sejarah lisan atau tulis
3.4 Menganalisis kebahasaan cerita atau novel sejarah
3.5 Mengidentifikasi informasi (pendapat, alternatif solusi dan simpulan terhadap suatu isu) dalam teks editorial
3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks editorial
3.7 Menilai isi dua buku fiksi (kumpulan cerita pendek atau kumpulan puisi) dan satu buku pengayaan (nonfiksi) yang dibaca
3.8 Menafsir pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca
3.9 Menganalisis isi dan kebahasaan novel
3.10 Mengevaluasi informasi, baik fakta maupun opini, dalam sebuah artikel yang dibaca
3.11 Menganalisis kebahasaan artikel dan/atau buku ilmiah
3.12 Membandingkan kritik sastra dan esai dari aspek pengetahuan dan pandangan penulis
3.13 Menganalisis sistematika dan kebahasaan kritik dan esai
3.14 Mengidentifikasi nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah buku pengayaan (nonfiksi) dan satu buku drama (fiksi)
Keterampilan
4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
4.1 Menyajikan simpulan sistematika dan unsur-unsur isi surat lamaran baik secara lisan maupun tulis
4.2 Menyusun surat lamaran pekerjaan dengan memerhatikan isi, sistematika dan kebahasaan
4.3 Mengonstruksi nilai-nilai dari informasi cerita sejarah dalamsebuah teks eksplanasi
4.4 Menulis cerita sejarah pribadi dengan memerhatikan kebahasaan
4.5 Menyeleksi ragam informasi sebagai bahan teks editorial baik secara lisan maupun tulis
4.6 Merancang teks editorial dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis
4.7 Menyusun laporan hasil diskusi buku tentang satu topik baik secara lisan maupun tulis
4.8 Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang baik secara lisan maupun tulis
4.9 Merancang novel atau novelet dengan memerhatikan isi dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis
4.10 Menyusun opini dalam bentuk artikel
4.11 Mengonstruksi sebuah artikel dengan memerhatikan fakta dan kebahasaan
4.12 Menyusun kritik dan esai dengan memerhatikan aspek pengetahuan dan pandangan penulis baik secara lisan maupun tulis
4.13 Mengonstruksi sebuah kritik atau esai dengan memerhatikan sistematika dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis
4.14 Menulis refleksi tentang nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah buku pengayaan (nonfiksi) dan satu buku drama (fiksi)
Kamis, 04 Juli 2019
Mencermati Perilaku Keluarga : Tangga berjenjang menuju kebahagiaan
LIMA TAHAP KEHIDUPAN PERNIKAHAN
Menikah dan hidup berumah tangga telah menjadi salah satu disiplin keilmuan tersendiri yang dikaji dan dipelajari secara sangat luas dan mendalam. Mengamati perilaku pasangan suami istri dalam rentang waktu panjang, sejak awal pernikahan hingga mereka menjadi tua, sebagian di antara mereka bertahan dalam hidup berumah tangga, sebagian lainnya memilih jalan berpisah. Perilaku ini telah mendapat pencermatan tersendiri oleh banyak psikolog dan konselor pernikahan.
Salah satu pakar itu adalah Dawn J Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan marriage and relatonship educator dan coach, yang menyatakan ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan pernikahan, Dawn mengamati kehidupan pernikah berkembang dalam tahapan yang bisa diprediksikan sebelumnya. Namun perubahan dan satu tahap ke tahap berikut tidak memiliki batas waktu yang pasti. Memahami adanya tahapan dalam hidup berumah tangga itu bisa membuat pasangan suami istri melakukan evaluasi bersama dan mengusahakan hal terbaik agar bisa melampaui berbagai tahapan dengan sebaik-baiknya.
Tahap pertama: Romantic Love
Pada tahap ini pasutri sama sama merasakan gelora cinta yang menggebu. Hal ini terjadi di saat awal masa pernikahan, yang banyak disebut orang sebagai bulan madu. Suami dan istri berada dalam suasana kegairahan cinta yang membara, ingin selalu bersama, merasakan ikatan yang sangat kuat di antara mereka, tidak mau ada yang memisahkan mereka. Pasutri selalu ingin melakukan kegiatan bersama sama dalam situasi romantis dan penuh cinta. Makan bersama, olahraga bersama, jalan-jalan, belanja, membersihkan rumah, tidur, bahkan mandi bersama. Mereka berdua seakan menikmati surga dunia yang sangat indah dan serba menyenangkan. Istilah ‘mawaddah’ tepat untuk menggambarkan situasi asmara yang menggebu ini.
Tahap kedua: Dissapointment or Distress
Jika romantic love membuat pasutri serasa berada di atas awan indah maka pada tahap dissapointment ini mereka merasa mulai turun ke bumi. Mulai melihat realitas- realitas hidup yang sesungguhnya dan mulai melihat adanya cela pada pasangan. Saat mengalami tahap romantic love, berbagai kesalahan kecil bahkan tampak sebagai kelucuan yang menggemaskan dan ditertawakan bersama. Berbeda dengan saat memasuki tahap kedua ini.
Pada tahap kedua, pasutri mulai saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa terhadap pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Kadang suami atau istri berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak akibat konflik dengan pasangan ini dengan curhat kepada orang lain. Bahkan kembali menjalin hubungan dengan mantan, atau mencurahkan perhatian ke pekerjaan. Hobi, anak, organisasi, atau hal lain sesuai minat masing- masing. Jika tidak dikelola dengan baik, tahapan ini bisa membawa pasutri ke dalam situasi yang negatif dalam hubungan dengan pasangannya. Beberapa orang yang gagal melalui tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.
Tahap ketiga: knowledge dan awareness
Tahap ketiga ini bercorak dewasa. Ada perenungan dan kesadaran pada diri suami dan istri untuk memiliki kualitas hidup berumah tangga yang lebih baik.
Pasutri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi diri dan pasangannya. Mereka sibuk mencari informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Biasanya mereka lakukan dengan berdiskusi, membaca artikel, meminta kiat -kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seninar- seminar dan bahkan konsultasi perkawinan.
Tahap keempat: transformation
Tahap keempat bercorak kematangan hubungan. Jika pencarian informasi tentang kebahagiaan pernikahan itu berhasil mereka dapatkan maka akan membuat mereka semakin menghayati makna kehidupan berumah tangga. Mulai tumbuh penghormatan dan pemuliaan yang tulus kepada pasangan.
Suami dan istri pada tahap ini akan berusaha melakukan perbuatan yang mampu membahagiakan hati pasangannya. Suami dan istri akan berusaha membuktikan bahwa dirinya adalah sahabat yang tepat bagi pasangannya. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara satu dengan yang lainnya dalam menyikapi perbedaan dan konflik yang terjadi. Saat itu, suami dan istri akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang bahagia.
Tahap kelima: real love
Tahap kelima ini bercorak kesejiwaan antara suami dan istri. Istilah ‘rahmah’ tepat untuk menggambarkan situasi hubungan pasutri pada tahap real love ini.
Pada tahap kelima ini, pasutri akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan. Waktu yang tersisa akan mereka habiskan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. Inilah cinta yang dewasa, cinta yang penuh makna dan kesungguhan jiwa.
Untuk mencapai tahap ini tidaklah sulit, sepanjang ada usaha bersama. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dapatkan bersama pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa usaha dari Anda berdua,” ungkap Dawn.
Sumber: Wonderful Couple, Menjadi Pasangan Paling Bahagia, Cahyadi Takariawan,Penerbit PT Era Adicitra Intermedia, Cetakan keempat, halaman 20-23, diketik ulang oleh Agus Ahmad Hidayat
Menikah dan hidup berumah tangga telah menjadi salah satu disiplin keilmuan tersendiri yang dikaji dan dipelajari secara sangat luas dan mendalam. Mengamati perilaku pasangan suami istri dalam rentang waktu panjang, sejak awal pernikahan hingga mereka menjadi tua, sebagian di antara mereka bertahan dalam hidup berumah tangga, sebagian lainnya memilih jalan berpisah. Perilaku ini telah mendapat pencermatan tersendiri oleh banyak psikolog dan konselor pernikahan.
Salah satu pakar itu adalah Dawn J Lipthrott, LCSW, seorang psikoterapis dan marriage and relatonship educator dan coach, yang menyatakan ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan pernikahan, Dawn mengamati kehidupan pernikah berkembang dalam tahapan yang bisa diprediksikan sebelumnya. Namun perubahan dan satu tahap ke tahap berikut tidak memiliki batas waktu yang pasti. Memahami adanya tahapan dalam hidup berumah tangga itu bisa membuat pasangan suami istri melakukan evaluasi bersama dan mengusahakan hal terbaik agar bisa melampaui berbagai tahapan dengan sebaik-baiknya.
Tahap pertama: Romantic Love
Pada tahap ini pasutri sama sama merasakan gelora cinta yang menggebu. Hal ini terjadi di saat awal masa pernikahan, yang banyak disebut orang sebagai bulan madu. Suami dan istri berada dalam suasana kegairahan cinta yang membara, ingin selalu bersama, merasakan ikatan yang sangat kuat di antara mereka, tidak mau ada yang memisahkan mereka. Pasutri selalu ingin melakukan kegiatan bersama sama dalam situasi romantis dan penuh cinta. Makan bersama, olahraga bersama, jalan-jalan, belanja, membersihkan rumah, tidur, bahkan mandi bersama. Mereka berdua seakan menikmati surga dunia yang sangat indah dan serba menyenangkan. Istilah ‘mawaddah’ tepat untuk menggambarkan situasi asmara yang menggebu ini.
Tahap kedua: Dissapointment or Distress
Jika romantic love membuat pasutri serasa berada di atas awan indah maka pada tahap dissapointment ini mereka merasa mulai turun ke bumi. Mulai melihat realitas- realitas hidup yang sesungguhnya dan mulai melihat adanya cela pada pasangan. Saat mengalami tahap romantic love, berbagai kesalahan kecil bahkan tampak sebagai kelucuan yang menggemaskan dan ditertawakan bersama. Berbeda dengan saat memasuki tahap kedua ini.
Pada tahap kedua, pasutri mulai saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa terhadap pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Kadang suami atau istri berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak akibat konflik dengan pasangan ini dengan curhat kepada orang lain. Bahkan kembali menjalin hubungan dengan mantan, atau mencurahkan perhatian ke pekerjaan. Hobi, anak, organisasi, atau hal lain sesuai minat masing- masing. Jika tidak dikelola dengan baik, tahapan ini bisa membawa pasutri ke dalam situasi yang negatif dalam hubungan dengan pasangannya. Beberapa orang yang gagal melalui tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.
Tahap ketiga: knowledge dan awareness
Tahap ketiga ini bercorak dewasa. Ada perenungan dan kesadaran pada diri suami dan istri untuk memiliki kualitas hidup berumah tangga yang lebih baik.
Pasutri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi diri dan pasangannya. Mereka sibuk mencari informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Biasanya mereka lakukan dengan berdiskusi, membaca artikel, meminta kiat -kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seninar- seminar dan bahkan konsultasi perkawinan.
Tahap keempat: transformation
Tahap keempat bercorak kematangan hubungan. Jika pencarian informasi tentang kebahagiaan pernikahan itu berhasil mereka dapatkan maka akan membuat mereka semakin menghayati makna kehidupan berumah tangga. Mulai tumbuh penghormatan dan pemuliaan yang tulus kepada pasangan.
Suami dan istri pada tahap ini akan berusaha melakukan perbuatan yang mampu membahagiakan hati pasangannya. Suami dan istri akan berusaha membuktikan bahwa dirinya adalah sahabat yang tepat bagi pasangannya. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara satu dengan yang lainnya dalam menyikapi perbedaan dan konflik yang terjadi. Saat itu, suami dan istri akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang bahagia.
Tahap kelima: real love
Tahap kelima ini bercorak kesejiwaan antara suami dan istri. Istilah ‘rahmah’ tepat untuk menggambarkan situasi hubungan pasutri pada tahap real love ini.
Pada tahap kelima ini, pasutri akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan. Waktu yang tersisa akan mereka habiskan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. Inilah cinta yang dewasa, cinta yang penuh makna dan kesungguhan jiwa.
Untuk mencapai tahap ini tidaklah sulit, sepanjang ada usaha bersama. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dapatkan bersama pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa usaha dari Anda berdua,” ungkap Dawn.
Sumber: Wonderful Couple, Menjadi Pasangan Paling Bahagia, Cahyadi Takariawan,Penerbit PT Era Adicitra Intermedia, Cetakan keempat, halaman 20-23, diketik ulang oleh Agus Ahmad Hidayat
Selasa, 18 Juni 2019
Kuda bisa merusak rumah tangga
Konflik Karena Kebohongan
Kebohongan itu tidak akan bisa bertahan lama. Pasti akan terbongkar juga nanti pada waktunya. Sepandai apa pun suami atau istri menyimpan kebohongan, pada saatnya akan ketahuan. Kisah Bagus dan Ayu berikut ini sudah sering kita baca karena sudah banyak di posting di berbagai media. Saya ingin menghadirkannya kembali untuk menjadi pengantar tema bahasan kali ini bahwa seekor kuda bisa merusak kebahagiaan keluarga.
Pada suatu pagi, Bagus tengah duduk bersantai di teras depan rumahnya sambil membaca koran. Tiba-tiba Ayu, istrinya, datang dan memukul kepala Bagus dengan panci. Tentu Bagus kaget dan marah.
Bagus: “Kenapa kamu memukulku?”
Ayu: ”Tadi ada kertas dengan tulisan Julia di saku bajumu.”
Bagus: “Oh, itu waktu nonton pacuan kuda, ada kuda namanya Julia, Indah sekali kudanya. Supaya enggak lupa, aku tulis namanya.”
Ayu : “Aduh, maaf ya, Bang. Aku salah paham.”
Hari berikutnya, saat Bagus sedang menonton TV tiba-tiba Ayu muncul dan kembali memukul Bagus dengan panci.
Bagus: “Kenapa kamu memukulku lagi.”
Ayu : “Tuh kudamu tadi nelepon.”
Nah, tuh, jangan suka bohong ya ... Membohongi kuda saja tercela, apalagi membohongi pasangan kita.
Sebuah kebohongan selalu menuntut adanya kebohongan berikutnya demi menutupi kebohongan yang pertama. Hal seperti ini kalau dituruti tidak akan pernah selesai. Seseorang yang berbohong harus menyediakan diri untuk terus-menerus berbohong agar kebohongannya itu tidak terungkap. Justru karena itulah maka kebohongan pasti ada batasnya. Kebenaran akan terungkap pada masanya karena orang tidak akan bisa konsisten dalam kebohongannya.
Coba jika kita panjangkan kisah kebohongan Bagus dan Ayu di atas. Ketika Ayu penasaran ingin mengetahui siapa Julia
Ayu: “Siapa itu Julia?”
Bagus: “Sudah aku bilang tadi. Julia adalah nama kuda yang bentuknya sangat indah ( bohong 1 karena Julia adalah nama perempuan). Aku terkagum dengan keelokan kuda tersebut. ( bohong 2, karena memang bukan kuda).”
Ayu: “Memang Julia itu kuda punya siapa?”
Bagus: “Kata temanku, (bohong 3) itu kuda milik keluarga sultan (bohong 4) makanya bagus banget (bohong 5)”
Ayu: “Apa memang Julia sering ikut pacuan kuda?”
Bagus:”Iya ( bohong 6) setiap kali ada lomba pacuan kuda di stadion, Julia selalu diikutkan (bohong 7)”
Ayu : “Berarti sering jadi juara dong.”
Bagus: “Iya (bohong 8), beberapa kali Julia berhasil menjadi juara (bohong 9).”
Dalam suatu kebohongan, ada kebohongan lain yang harus dilakukan demi menutupi kebohongan pertama. Maka ketika Ayu kembali marah di hari kedua, Bagus memiliki pilihan untuk mengakui saja kebohongannya yang kemarin atau menambah kebohongan baru.
Ayu: “Kamu bilang Julia itu nama kuda, tapi tadi menelepon melalui HP-mu.”
Bagus: “Oh, itu Julia yang lain, bukan yang aku ceritakan kemarin (bohong 10)”
Ayu: “ Memang kuda zaman sekarang bisa menelepon ya?”
Bagus : “Sudah aku bilang, ini Julia yang berbeda (bohong 11). Ini teman kerjaku (bohong 12)”
Ayu: “Awas ya Bang, kalau kamu bohong!”
Bagus: “Aku tidak bohong, Dik ( bohong 13). Aku katakan apa adanya (bohong 14)”
Nah jika Bagus bertahan dengan kebohongannya maka ia akan selalu bergelut dengan aneka kebohongan baru agar kebohongan awal tidak terkuak. Tetapi sampai berapa lama Bagus bisa bertahan dalam kebohongan? Pasti tidak lama. Ada masa di mana kebohongan akan terungkap.
Dikutip dari buku berjudul Wonderful Couple – Menjadi Pasangan Paling Bahagia – karya Cahyadi Takariawan, catatan ketiga, Bijak Menyikapi Konflik, halaman 119-122, dikutip ulang oleh Agus Ahmad Hidayat- SMAN 2 Kotabumi Lampung Utara - 18 Juni 2019 -
Kebohongan itu tidak akan bisa bertahan lama. Pasti akan terbongkar juga nanti pada waktunya. Sepandai apa pun suami atau istri menyimpan kebohongan, pada saatnya akan ketahuan. Kisah Bagus dan Ayu berikut ini sudah sering kita baca karena sudah banyak di posting di berbagai media. Saya ingin menghadirkannya kembali untuk menjadi pengantar tema bahasan kali ini bahwa seekor kuda bisa merusak kebahagiaan keluarga.
Pada suatu pagi, Bagus tengah duduk bersantai di teras depan rumahnya sambil membaca koran. Tiba-tiba Ayu, istrinya, datang dan memukul kepala Bagus dengan panci. Tentu Bagus kaget dan marah.
Bagus: “Kenapa kamu memukulku?”
Ayu: ”Tadi ada kertas dengan tulisan Julia di saku bajumu.”
Bagus: “Oh, itu waktu nonton pacuan kuda, ada kuda namanya Julia, Indah sekali kudanya. Supaya enggak lupa, aku tulis namanya.”
Ayu : “Aduh, maaf ya, Bang. Aku salah paham.”
Hari berikutnya, saat Bagus sedang menonton TV tiba-tiba Ayu muncul dan kembali memukul Bagus dengan panci.
Bagus: “Kenapa kamu memukulku lagi.”
Ayu : “Tuh kudamu tadi nelepon.”
Nah, tuh, jangan suka bohong ya ... Membohongi kuda saja tercela, apalagi membohongi pasangan kita.
Sebuah kebohongan selalu menuntut adanya kebohongan berikutnya demi menutupi kebohongan yang pertama. Hal seperti ini kalau dituruti tidak akan pernah selesai. Seseorang yang berbohong harus menyediakan diri untuk terus-menerus berbohong agar kebohongannya itu tidak terungkap. Justru karena itulah maka kebohongan pasti ada batasnya. Kebenaran akan terungkap pada masanya karena orang tidak akan bisa konsisten dalam kebohongannya.
Coba jika kita panjangkan kisah kebohongan Bagus dan Ayu di atas. Ketika Ayu penasaran ingin mengetahui siapa Julia
Ayu: “Siapa itu Julia?”
Bagus: “Sudah aku bilang tadi. Julia adalah nama kuda yang bentuknya sangat indah ( bohong 1 karena Julia adalah nama perempuan). Aku terkagum dengan keelokan kuda tersebut. ( bohong 2, karena memang bukan kuda).”
Ayu: “Memang Julia itu kuda punya siapa?”
Bagus: “Kata temanku, (bohong 3) itu kuda milik keluarga sultan (bohong 4) makanya bagus banget (bohong 5)”
Ayu: “Apa memang Julia sering ikut pacuan kuda?”
Bagus:”Iya ( bohong 6) setiap kali ada lomba pacuan kuda di stadion, Julia selalu diikutkan (bohong 7)”
Ayu : “Berarti sering jadi juara dong.”
Bagus: “Iya (bohong 8), beberapa kali Julia berhasil menjadi juara (bohong 9).”
Dalam suatu kebohongan, ada kebohongan lain yang harus dilakukan demi menutupi kebohongan pertama. Maka ketika Ayu kembali marah di hari kedua, Bagus memiliki pilihan untuk mengakui saja kebohongannya yang kemarin atau menambah kebohongan baru.
Ayu: “Kamu bilang Julia itu nama kuda, tapi tadi menelepon melalui HP-mu.”
Bagus: “Oh, itu Julia yang lain, bukan yang aku ceritakan kemarin (bohong 10)”
Ayu: “ Memang kuda zaman sekarang bisa menelepon ya?”
Bagus : “Sudah aku bilang, ini Julia yang berbeda (bohong 11). Ini teman kerjaku (bohong 12)”
Ayu: “Awas ya Bang, kalau kamu bohong!”
Bagus: “Aku tidak bohong, Dik ( bohong 13). Aku katakan apa adanya (bohong 14)”
Nah jika Bagus bertahan dengan kebohongannya maka ia akan selalu bergelut dengan aneka kebohongan baru agar kebohongan awal tidak terkuak. Tetapi sampai berapa lama Bagus bisa bertahan dalam kebohongan? Pasti tidak lama. Ada masa di mana kebohongan akan terungkap.
Dikutip dari buku berjudul Wonderful Couple – Menjadi Pasangan Paling Bahagia – karya Cahyadi Takariawan, catatan ketiga, Bijak Menyikapi Konflik, halaman 119-122, dikutip ulang oleh Agus Ahmad Hidayat- SMAN 2 Kotabumi Lampung Utara - 18 Juni 2019 -
Langganan:
Postingan (Atom)





