SEPARUH JIWA PERGI
ditulis
oleh Satria hadi lubis
Saya terharu melihat foto-foto dan video yang beredar di medsos tentang Pak SBY yang sangat sedih kehilangan istri tercintanya, Ibu Ani Yudhoyono. Seakan separuh jiwanya pergi bersama dengan pulangnya ibu Ani ke haribaan-Nya (Allahummaghfirlaha...).
Kejadian serupa juga saya lihat ketika Bapak Habibie ditinggal pergi istrinya, ibu Ainun Habibie. Bahkan beliau sampai membuat buku yang kemudian difilmkan dan menjadi box office beberapa tahun yang lalu untuk mengabadikan kisah cinta sejatinya dengan Ibu Ainun.
Panutan kita, Nabi Muhammad saw juga sangat sedih ketika ditinggalkan istri tercintanya, Khadijah ra. Beliau selalu mengenang kebaikan Khadijah jauh setelah istrinya itu meninggal, sampai-sampai istri beliau yang lain, Aisyah ra menjadi cemburu. "Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dia menyokongku dengan hartanya ketika orang-orang memboikotku. Dan Allah mengaruniakan anak bagiku dari (rahim)-nya. Padahal dengan (istri-istriku) yang lain, aku tak mendapatkannya”(HR. Ahmad), ujar beliau saw mengenang kebaikan Khadijah ra.
Beberapa orang yang saya kenal juga mengalami hal serupa, sangat sedih ketika kehilangan istri atau suaminya. Diantara mereka ada yang tak kuat dengan kesendiriannya. Lalu dalam waktu berdekatan meninggal dunia juga menyusul separuh jiwanya yang telah pergi lebih dulu.
Walau kita mengetahui takdir kematian adalah hal yang pasti dan cepat atau lambat kita akan berpisah dengan pasangan kita, namun jika mengalaminya sendiri belum tentu kita bisa setegar mereka yang belum mengalaminya.
Disini kita bisa mengambil hikmah, betapa penting dan berharganya waktu-waktu yang kita lalui bersama pasangan kita. Seringkali ketika pasangan masih hidup dan ada di sisi kita, yang kita lihat darinya hanya hal yang biasa-biasa saja, yang rutin, bahkan menjemukan.
Bahkan sebagian suami atau istri malah teliti melihat dan MEMBESAR-BESARKAN kekurangan pasangan. Lupa untuk bersyukur dengan kebaikan dan kelebihan pasangannya.
Padahal boleh jadi kekurangannya yang "kecil" itulah yang nanti akan membuat kita kangen ketika suami atau istri kita pergi. Seorang suami mungkin akan kangen dengan kecerewetan istrinya yang selalu mengingatkannya tentang berbagai hal-hal kecil, misalnya. Rumah terasa sepi tanpa suara istrinya yang cerewet yang kini telah tiada.
Sebaliknya, boleh jadi seorang istri akan rindu dengan bau "gas" atau bau badan suaminya yang telah tiada. Yang sewaktu hidupnya selalu dikeluhkannya karena baunya yang luar biasa. Saya pernah mendengar ada seorang istri yang suka tidur sambil memeluk dan menciumi baju suaminya yang telah tiada saking kangennya dengan suaminya.
Akhirnya, kematian adalah pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Sebelum separuh jiwa kita pergi selamanya, mari kita nikmati dan syukuri kebersamaan kita dengan pasangan. Jadilah pecinta sejati yang pandai melihat kelebihan pasangan, bukan kekurangannya.
"Ketidaksempurnaan (kecil) pasangan yang justru membuat ia menjadi sempurna di mata kita".
(alamat blog: http://wisata-foto.blogspot.com) Sajian berbagai tulisan, kutipan sebagai bahan komunikasi. Dihimpun oleh Agus Ahmad Hidayat-
Selasa, 11 Juni 2019
Rabu, 22 Mei 2019
Pencermatan Taufik Ismail terhadap Pelaksanaan Pemilihan Umum di Indonesia
Membaca sindiran Taufik Ismail dalam pelaksanaan pemilihan umum di Indonesia melalui puisi
KOTAK SUARA
di sebuah kerajaan dilangsungkan pemilihan
di sebuah pemilihan dilakukan penghitungan
di sebuah penghitungan berlangsung keajaiban
di sebuah keajaiban semua mata ditutupkan
berbagai ilmu diterapkan mentabulasinya
matematika, statistika dan retorika
berbagai aplikasi adalah bukti sofistikasi
komputerisasi, telekomunikasi dan stikerisasi
inilah kisah tentang sebuah pohon misteri
di akarnya ada angka sejuta
naik ke batang jadi setengah juta
terus ke ranting jadi seratus ribu
sampai di puncak tinggal seribu saja
ajaib, kemana menguap itu angka
di akarnya ada angka seribu
naik ke batang jadi seratus ribu
terus ke ranting jadi setengah juta
sampai di puncak jadi sejuta
ajaib, angka-angka beranaknya luar biasa
di dalam kotak suara
angka-angka saling bertanya asal-usul satu dan lainnya
mereka berselisih pendapat, dan berkelahi sesamanya
angka-angka sikut menyikut, pukul-memukul
angka-angka tampar-menampar, gebuk-menggebuk
mereka berkelahi berhari-hari
kotak itu bergoyang ke kanan dan ke kiri
angka-angka capek, tergeletak kini
Sumber :buku Kumpulan Puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia, halaman 12-13, judul Kotak Suara
KOTAK SUARA
di sebuah kerajaan dilangsungkan pemilihan
di sebuah pemilihan dilakukan penghitungan
di sebuah penghitungan berlangsung keajaiban
di sebuah keajaiban semua mata ditutupkan
berbagai ilmu diterapkan mentabulasinya
matematika, statistika dan retorika
berbagai aplikasi adalah bukti sofistikasi
komputerisasi, telekomunikasi dan stikerisasi
inilah kisah tentang sebuah pohon misteri
di akarnya ada angka sejuta
naik ke batang jadi setengah juta
terus ke ranting jadi seratus ribu
sampai di puncak tinggal seribu saja
ajaib, kemana menguap itu angka
di akarnya ada angka seribu
naik ke batang jadi seratus ribu
terus ke ranting jadi setengah juta
sampai di puncak jadi sejuta
ajaib, angka-angka beranaknya luar biasa
di dalam kotak suara
angka-angka saling bertanya asal-usul satu dan lainnya
mereka berselisih pendapat, dan berkelahi sesamanya
angka-angka sikut menyikut, pukul-memukul
angka-angka tampar-menampar, gebuk-menggebuk
mereka berkelahi berhari-hari
kotak itu bergoyang ke kanan dan ke kiri
angka-angka capek, tergeletak kini
Sumber :buku Kumpulan Puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia, halaman 12-13, judul Kotak Suara
Rabu, 15 Mei 2019
Membaca puisi religius
Membandingkan dua karya puisi
Membahas tentang puisi sama halnya dengan membahas tentang bait-bait indah yang ditulis pengarang untuk mengungkapkan perasaannya. Perasaan tersebut dapat berupa ungkapan suka ataupun duka. Sebagai seorang pengarang mampu mengekspresikan dan mengungkapkan makna yang tersembunyi melalui bait-bait yang telah ia tulis. Puisi ditulis seindah mungkin agar seorang pembaca dapat terjerumus ke dalam suasana yang ada dalam setiap barisnya.
Puisi yang indah adalah puisi yang memiliki makna. Begitupun juga puisi yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan terkenal yang ada di Indonesia. Banyak makna yang dapat dipetik dari karya yang mereka tulis. Mungkin sebagian orang awan menghiraukan tulisan puisi-puisi telah diciptakan. Karena sebagian dari mereka yang tidak menyukai sajak ataupun sejenisnya beranggapan bahwa tidak penting untuk membacanya. Namun, jika ditelusuri secara mendalam puisi sangat penting bagi semua kalangan masyarakat baik kalangan muda ataupun tua. Puisi mampu berkontribusi dalam membuat perasaan pembaca menjadi campur aduk.
Seperti halnya dengan puisi bertema religi atau keagamaan. Puisi bertemakan agama mampu membangkitkan seorang pembaca dalam mencintai Tuhannya. Seseorang yang menganggap bahwa mencintai hanya bisa dilakukan oleh seseorang kepada kekasihnya saja. Namun, ketika membaca puisi bertema agama mampu mengubah pemikiran seseorang lewat sajak baris demi baris untuk lebih mencintai Tuhannya. Sama halnya dengan puisi Amir Hamzah dan Taufik Ismail yang salah satu puisinya bertema religi. Amir Hamzah dan Taufik Ismail adalah salah satu sastrawan yang berbeda angkatan namun memiliki karya yang luar biasa. Karya mereka mampu mengubah dunia sastra menjadi berwarna dari zaman ke zaman.
Kutipan Puisi Amir Hamzah yang berjudul Padamu Jua yang berbunyi
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dalam lepas
Nanar aku hilang sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Puisi Padamu jua adalah puisi Amir Hamzah yang salah satu puisinya bertema keagamaan atau kecintaan, penasaran, dan kemarahan pada Tuhannya. Karena dalam puisi tersebut mengandung makna bahwa pengarang merasakan perasaan yang banyak secara tersirat pada puisi yang ditulis. Pengarang memiliki perasaan kecintaan pada Tuhannya yang telah melindunginya dari lahir hingga ia hidup di dunia. Namun tidak hanya itu, pengarang juga merasakan perasaan penasaran terhadap Tuhannya. Penasaran akan rupa Tuhannya dan juga penasaran keberadaan Tuhannya yang tidak ia ketahui. Perasaan kemarahan juga ditulis dalam puisi tersebut. Pengarang menulis perasaan kemarahan karena selalu dicengkram. Berbagai perasaan yang dituangkan pengarang ke dalam puisi menggambarkan bahwa sebuah puisi menjadi wadah untuk selalu mengeskpresikan perasaannya yang hendak pengarang utarakan.
Di samping itu, sastrawan terkenal Taufik Ismail juga memiliki segudang karya yang dapat mengharumkan citra dunia sastra. Salah satu puisi milik sastrawan Taufik Ismail yang sama bertema ketuhanan adalah kutipan puisi yang berjudul sajadah panjang.
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar intrupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba
Puisi yang ditulis Taufik Ismail ini adalah salah satu puisi yang bertema ketuhanan. Dalam puisi tersebut penyair menggunakan kata sajadah sebagai judul yang melambangkan bahwa kecintaan kepada Tuhan adalah tunduk dan selalu melaksanakan ibadah. Penyair juga menyinggung tentang kematian dalam puisi tersebut sebagai pengingatnya dan pengingat semua manusia bahwa tanpa Tuhan manusia bukan apa-apa. Kecintaan terhadap Tuhan ditulis penyair baris demi baris untuk menyadarkan manusia bahwa kasih sayang Tuhan lebih berarti dalam hidup manusia. Penyair tidak lupa untuk menuliskan puisi sajadah panjang ini dengan pengalaman yang ada dihidup masyarakat sekitar agar mereka menyadari pentingnya beribadah kepada Tuhan.
Kesamaan puisi Taufik Ismail dan Amir Hamzah sama-sama menjadi renungan bagi semua manusia bahwa kecintaan kepada Tuhan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kecintaan yang terikat bahwa pentingnya mendekatkan diri pada Tuhan adalah cara manusia mencintai Tuhannya. Tuhan yang selalu memberi ruang dan waktu untuk selalu dekat dengan manusia. Hanya seberapa pintar manusia dapat mengatur ruang dan waktu tersebut agar bisa bercengkrama dengan Tuhan. Melalui baris demi baris yang ditulis pengarang dapat menyadarkan manusia dalam bermuhasabah diri. Puisi tema keagamaan selalu memiliki makna yang dalam disetiap bait yang terkandung. Hanya saja sebagian orang awan tidak telaten untuk membaca baris demi baris puisi yang ditulis. Orang awam menganggap untuk membaca puisi dan memaknainya membutuhkan waktu luang. Padahal membaca puisi ataupun menciptakan puisi memberikan ekspresi ketenangan dalam mengungkapkan sebuah perasaan. Baik perasaan senang ataupun duka. Mengagungkan karya sastrawan juga menjadi pokok penting bagi
kehidupan bangsa. Karena sastrawan dapat memberikan karya yang luar biasa yang harus diapresiasikan seluruh generasi untuk terus berkarya.
Selain itu, perbedaan yang tipis antara kedua puisi karangan Taufik Ismail dan Amir Hamzah dapat menjadikan tolak ukur bahwa perbedaan diksi yang digunakan pengarang tidak dapat mempengaruhi persamaan makna yang terkandung dalam puisi yang tulis. Perbedaan zaman dan angkatan juga tidak mempengaruhi keindahan makna yang ada dalam puisi tersebut. Amir hamzah dan Taufik Ismail adalah sastrawan yang lahir dizaman yang berbeda namun karya yang diciptakan sama-sama dapat memberikan peluang bagi pembaca dalam mengintropeksi diri. Sedangkan bagi para penulis pemula juga memberikan wadah agar dapat menciptakan karya yang luar biasa seperti sastrawan terkenal.
Kesamaan dan perbedaan tidak menjadi penghalang dalam menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Zaman tidak menjadi penentu bagi seorang sastrawan dalam mengharumkan citra dunia sastra. Karena menciptakan karya yang luar biasa seperti halnya puisi dapat memberikan makna yang mendalam bagi kehidupan masyarakat dari zaman ke zaman. Karena berkarya tidak memandang dari segi manapun mereka berada.
dikutip dari tulisan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang bernama Iim Khoiria
Membahas tentang puisi sama halnya dengan membahas tentang bait-bait indah yang ditulis pengarang untuk mengungkapkan perasaannya. Perasaan tersebut dapat berupa ungkapan suka ataupun duka. Sebagai seorang pengarang mampu mengekspresikan dan mengungkapkan makna yang tersembunyi melalui bait-bait yang telah ia tulis. Puisi ditulis seindah mungkin agar seorang pembaca dapat terjerumus ke dalam suasana yang ada dalam setiap barisnya.
Puisi yang indah adalah puisi yang memiliki makna. Begitupun juga puisi yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan terkenal yang ada di Indonesia. Banyak makna yang dapat dipetik dari karya yang mereka tulis. Mungkin sebagian orang awan menghiraukan tulisan puisi-puisi telah diciptakan. Karena sebagian dari mereka yang tidak menyukai sajak ataupun sejenisnya beranggapan bahwa tidak penting untuk membacanya. Namun, jika ditelusuri secara mendalam puisi sangat penting bagi semua kalangan masyarakat baik kalangan muda ataupun tua. Puisi mampu berkontribusi dalam membuat perasaan pembaca menjadi campur aduk.
Seperti halnya dengan puisi bertema religi atau keagamaan. Puisi bertemakan agama mampu membangkitkan seorang pembaca dalam mencintai Tuhannya. Seseorang yang menganggap bahwa mencintai hanya bisa dilakukan oleh seseorang kepada kekasihnya saja. Namun, ketika membaca puisi bertema agama mampu mengubah pemikiran seseorang lewat sajak baris demi baris untuk lebih mencintai Tuhannya. Sama halnya dengan puisi Amir Hamzah dan Taufik Ismail yang salah satu puisinya bertema religi. Amir Hamzah dan Taufik Ismail adalah salah satu sastrawan yang berbeda angkatan namun memiliki karya yang luar biasa. Karya mereka mampu mengubah dunia sastra menjadi berwarna dari zaman ke zaman.
Kutipan Puisi Amir Hamzah yang berjudul Padamu Jua yang berbunyi
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dalam lepas
Nanar aku hilang sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Puisi Padamu jua adalah puisi Amir Hamzah yang salah satu puisinya bertema keagamaan atau kecintaan, penasaran, dan kemarahan pada Tuhannya. Karena dalam puisi tersebut mengandung makna bahwa pengarang merasakan perasaan yang banyak secara tersirat pada puisi yang ditulis. Pengarang memiliki perasaan kecintaan pada Tuhannya yang telah melindunginya dari lahir hingga ia hidup di dunia. Namun tidak hanya itu, pengarang juga merasakan perasaan penasaran terhadap Tuhannya. Penasaran akan rupa Tuhannya dan juga penasaran keberadaan Tuhannya yang tidak ia ketahui. Perasaan kemarahan juga ditulis dalam puisi tersebut. Pengarang menulis perasaan kemarahan karena selalu dicengkram. Berbagai perasaan yang dituangkan pengarang ke dalam puisi menggambarkan bahwa sebuah puisi menjadi wadah untuk selalu mengeskpresikan perasaannya yang hendak pengarang utarakan.
Di samping itu, sastrawan terkenal Taufik Ismail juga memiliki segudang karya yang dapat mengharumkan citra dunia sastra. Salah satu puisi milik sastrawan Taufik Ismail yang sama bertema ketuhanan adalah kutipan puisi yang berjudul sajadah panjang.
Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati
Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar intrupsi
Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba
Puisi yang ditulis Taufik Ismail ini adalah salah satu puisi yang bertema ketuhanan. Dalam puisi tersebut penyair menggunakan kata sajadah sebagai judul yang melambangkan bahwa kecintaan kepada Tuhan adalah tunduk dan selalu melaksanakan ibadah. Penyair juga menyinggung tentang kematian dalam puisi tersebut sebagai pengingatnya dan pengingat semua manusia bahwa tanpa Tuhan manusia bukan apa-apa. Kecintaan terhadap Tuhan ditulis penyair baris demi baris untuk menyadarkan manusia bahwa kasih sayang Tuhan lebih berarti dalam hidup manusia. Penyair tidak lupa untuk menuliskan puisi sajadah panjang ini dengan pengalaman yang ada dihidup masyarakat sekitar agar mereka menyadari pentingnya beribadah kepada Tuhan.
Kesamaan puisi Taufik Ismail dan Amir Hamzah sama-sama menjadi renungan bagi semua manusia bahwa kecintaan kepada Tuhan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kecintaan yang terikat bahwa pentingnya mendekatkan diri pada Tuhan adalah cara manusia mencintai Tuhannya. Tuhan yang selalu memberi ruang dan waktu untuk selalu dekat dengan manusia. Hanya seberapa pintar manusia dapat mengatur ruang dan waktu tersebut agar bisa bercengkrama dengan Tuhan. Melalui baris demi baris yang ditulis pengarang dapat menyadarkan manusia dalam bermuhasabah diri. Puisi tema keagamaan selalu memiliki makna yang dalam disetiap bait yang terkandung. Hanya saja sebagian orang awan tidak telaten untuk membaca baris demi baris puisi yang ditulis. Orang awam menganggap untuk membaca puisi dan memaknainya membutuhkan waktu luang. Padahal membaca puisi ataupun menciptakan puisi memberikan ekspresi ketenangan dalam mengungkapkan sebuah perasaan. Baik perasaan senang ataupun duka. Mengagungkan karya sastrawan juga menjadi pokok penting bagi
kehidupan bangsa. Karena sastrawan dapat memberikan karya yang luar biasa yang harus diapresiasikan seluruh generasi untuk terus berkarya.
Selain itu, perbedaan yang tipis antara kedua puisi karangan Taufik Ismail dan Amir Hamzah dapat menjadikan tolak ukur bahwa perbedaan diksi yang digunakan pengarang tidak dapat mempengaruhi persamaan makna yang terkandung dalam puisi yang tulis. Perbedaan zaman dan angkatan juga tidak mempengaruhi keindahan makna yang ada dalam puisi tersebut. Amir hamzah dan Taufik Ismail adalah sastrawan yang lahir dizaman yang berbeda namun karya yang diciptakan sama-sama dapat memberikan peluang bagi pembaca dalam mengintropeksi diri. Sedangkan bagi para penulis pemula juga memberikan wadah agar dapat menciptakan karya yang luar biasa seperti sastrawan terkenal.
Kesamaan dan perbedaan tidak menjadi penghalang dalam menciptakan sebuah karya yang luar biasa. Zaman tidak menjadi penentu bagi seorang sastrawan dalam mengharumkan citra dunia sastra. Karena menciptakan karya yang luar biasa seperti halnya puisi dapat memberikan makna yang mendalam bagi kehidupan masyarakat dari zaman ke zaman. Karena berkarya tidak memandang dari segi manapun mereka berada.
dikutip dari tulisan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang bernama Iim Khoiria
Mari bersatu! Jangan sampai "VOC baru" menjajah Indonesia
Selamat pagi,
Saat ini saya berada di Holand, dan di belakang saya adalah
replika kapal VOC yang dulu pernah
datang ke Indonesia yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen, lalu dijajahlah indonesia 350 tahun, anda tahu hanya 15 kapal yang datang untuk
menguasai Indonesia, mengapa karena kita terpecah belah, karena kita tidak
bersatu, devide et impera. Inilah pelajaran besar! Kalau bangsa kita tidak bersatu, bangsa kita
terpecah belah lagi, maka VOC- VOC dalam
tanda kutip, kompeni-kompeni dalam tanda kutip akan datang kembali menguasai Indonesia,
maka bersatulah, ingatlah pelajaran besar, supaya penjajahan - tidak lagi terjadi kepada bangsa kita. Merdeka
!
Membaca kisah Jan Pieterszoon Coen
Versi lain kematian
Gubernur Jenderal VOC pertama, Jan Pieterszoon Coen.
MAKAM bermarmer merah muda terpuruk di tengah makam-makam
kecil. Beringin raksasa melindunginya dari matahari dan hujan. Helaian daun
kering dan batu-batu hitam memenuhi bagian tengah tempat peristirahatan
terakhir itu. Warga Desa Keramat, Tapos (perbatasan Bogor-Depok) mengenalnya
sebagai makam Nyimas Utari Sanjaya Ningrum.
“Sebenarnya nama beliau adalah Nyimas Utari
Sandijayaningsih,” ujar Ustad Sukandi (42 tahun), tokoh masyarakat Desa
Keramat.
Sukandi mendengar kisah dari orang-orang tua di Desa
Keramat bahwa Nyimas Utari merupakan agen intelijen Kerajaan Mataram. Sultan
Agung Hanyokrokusumo menugaskan dia untuk membunuh Gubernur Jenderal VOC
pertama, Jan Pieterszoon Coen dalam penyerangan kedua Mataram ke Batavia.
“Tugas itu berhasil dia jalani. Leher Coen berhasil
dipenggalnya dengan golok Aceh,” ungkapnya.
Keterangan Sukandi dibenarkan Ki Herman Janutama. Sembari
mengutip Babad Jawa, sejarawan asal Yogyakarta itu menyebut bahwa pemenggalan
kepala Coen merupakan misi rahasia yang sudah lama direncanakan dengan
melibatkan grup intelijen Mataram, Dom Sumuruping Mbanyu (Jarum yang Dimasukan
Air).
“Orang sekarang mungkin akan kaget kalau dikatakan
militer Mataram memilik kesatuan telik sandi sendiri, tapi bagi kami yang akrab
dengan manuskrip-manuskrip tua dan cerita-cerita lisan yang diwariskan dari
generasi ke generasi, hal ini tidak aneh,” ujar Ki Herman.
Infiltrasi telik sandi Mataram ke Batavia sudah dirancang
sejak 1627. Dengan mengerahkan orang-orang Tumenggung Kertiwongso dari Tegal,
komandan kelompok intel Mataram Raden Bagus Wonoboyo membangun basis di wilayah
bantaran Kali Sunter di daerah Tapos. Untuk melengkapi kerja-kerja rahasia
tersebut, Wonoboyo mengirimkan putrinya yang memiliki kemampuan telik sandi
mumpuni, Nyimas Utari, untuk bergabung dengan agen telik sandi asal Samudera
Pasai, Mahmuddin.
“Dia memiliki nama sandi: Wong Agung Aceh. Dia kemudian
menikahi Nyimas Utari,” kata Ki Herman.
Dari Aceh, kedua agen intelijen itu memasuki benteng VOC
di Batavia dengan kamuflase sebagai pebisnis. Mereka memiliki kapal dagang yang
disewa VOC untuk mengangkut meriam dari Madagaskar. Mereka lantas dipercaya
Coen sebagai mitra bisnis VOC. Begitu dekatnya, hingga mereka memiliki akses ke
kastil dan bergaul dengan Eva Ment, isteri Coen, dan anak-anaknya.
Pada 1629, balatentara Mataram menyerbu Batavia. Di
tengah kekacauan dan kepanikan, Nyimas Utari membunuh Eva dan anak-anaknya
dengan racun lewat minuman. Mahmuddin berhasil menyelinap ke ruangan Coen dan
membunuhnya.
“Guna bukti kesuksesan misi mereka ke Sultan Agung,
Nyimas Utari dengan menggunakan golok kepunyaan Mahmuddin memenggal kepala
Coen,” ujar Ki Herman.
Sambil membawa kepala Coen, Mahmuddin dan Nyimas Utari
diloloskan pasukan penyelundup Mataram dari dalam benteng VOC. Namun, saat
pelarian tersebut mereka dihujani tembakan meriam yang menewaskan Nyimas Utari.
Mahmuddin membopong jasad istrinya hingga wilayah Desa Keramat, tempat dia
dimakamkan.
Kepala Coen diambil oleh Wonoboyo. Secara estafet, kepala
itu dibawa lewat jalur Pantai Utara oleh tentara Mataram di bawah komandan
Tumenggung Surotani. Sultan Agung memerintahkan untuk menanam kepala itu di
baris ke-716 tangga menuju makam raja-raja Jawa di Imogiri.
“Hingga kini, para peziarah yang paham cerita ini akan
melangsungkan ritual pengutukan terhadap jiwa Coen dengan cara menginjak-injak
tangga ke-716 seraya mengeluarkan sumpah serapah dari mulut mereka,” ujar Ki
Herman.
Kendati kematian Coen terkesan mendadak, namun secara
resmi kalangan sejarawan Belanda meyakini kematiannya karena penyakit kolera.
Menurut H.J. De Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram, pada 17 September 1629,
Coen masih terlihat segar bugar saat memeriksa kesiapsiagaan tentaranya untuk
mempertahankan Batavia.
“Pada 20 September malam dia mendadak jatuh sakit dan
sekitar jam satu malam dia meninggal dunia,” tulis De Graaf.
Dalam Kisah Betawi Tempo Doeloe: Robin Hood Betawi,
sejarawan Alwi Shahab mengutip versi Belanda yang menyebut jasad Coen kemudian dimakamkan
di Balai Kota (kini Museum Sejarah DKI di Taman Fatahillah) dan kemudian
dipindahkan ke De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Tua Belanda yang kini menjadi
Museum Wayang). Namun, sejarawan Sugiman MD dalam Jakarta dari Tepian Air ke
Kota Proklamasi, meragukan bahwa makam itu berisi jasad Coen.
Terlebih menurut arkeolog Chandrian Attahiyyat, para
arkeolog Belanda memastikan bahwa di makam itu tidak ditemukan jasad berupa
tulang belulang saat mereka melakukan penggalian pada 1939. Supaya
komprehensif, seharusnya penggalian pun dilakukan di Imogiri.
Membaca Puisi karya Amir Hamzah
Bahan bacaan puisi:
Amir Hamzah
PADAMU JUA
Habis kikis
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu - bukan giliranku
Matahari - bukan kawanku.
HANYA SATU
Timbul niat dalam kalbumu:
Terban hujan, ungkai badai
Terendam karam
Runtuh ripuk tamanmu rampak
Manusia kecil lintang pukang
Lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar pokok purba
Teriak riuh redam terbelam
Dalam gagap gempita guruh
Kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi
Terapung naik jung bertudung
Tempat berteduh nuh kekasihmu
Bebas lepas lelang lapang
Ditengah gelisah, swara sentosa
Bersemayam sempana di jemala gembala
Juriat jelita bapaku iberahim
Keturunan intan dua cahaya
Pancaran putera berlainan bonda.
Kini kami bertikai pangkai
Diantara dua, mana mutiara
Jauhari ahli lalai menilai
Lengah langsung melewat abad
Aduh kekasihku
Padaku semua tiada berguna
Hanya satu kutunggu hasrat
Merasa dikau dekat rapat
Serupa musa dipuncak tursina.
Membaca Puisi, menemukan makna dalam puisi
Sutardji Calzoum Bachri
TAPI
aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah !
Oleh :Sutardji Calzoum Bachri
"Memahami Puisi, 1995"
batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu janun
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji ?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh
dengan seribu perawan hati tak jatuh
dengan seribu sibuk sepi tak mati
dengan seribu beringin ingin tak teduh.
Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai
mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai
mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai
mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai.
Kau tahu
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji ?
Amir Hamzah
DOA
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat
naik,
setelah menghalaukan panas terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung
rasa menayang pikir, membawa angan kebawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang
lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap-malam
menyirak kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku
dengan
cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar
gelakku rayu!
Langganan:
Postingan (Atom)



